Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
sudut pandang Andreas 2


__ADS_3

Pikiranku penat. Aku mau melarikan diri dari rapat bem dulu sore ini.


"Ling tolong wakilin ya! Gue mau tidur cape!" kataku pada Lingga.


Lingga sepertinya memahamiku saat itu. Dia cuma jawab "Take a rest well bro!".


Saat itu agenda rapat adalah pemilihan divisi untuk mahasiswa baru. Aku berpikir bahwa Raina mungkin tidak akan tertarik masuk divisiku, secara dia lebih condong memiliki bakat non akademis. Suaranya bagus, jago menggambar dan gengnya pun pasti meminta Raina masuk ke divisi minat dan bakat.


"Ah ngapain sih mikirin Raina, mau masuk divisi apapun nggak ada hubungannya denganku"...


Selang beberapa saat aku tiba di kosan, aku baca komik dan sesekali melirik layar hape. Mungkin, Lingga akan mengabariku sesuatu.


"Yas, lu nyesel lu ga ngikut rapat ... Parah haha Raina daftar divisi kita nih tapi gue terima jangan ya? Soalnya diminta sama minat bakat juga, kasih jangan nih?" kata Lingga dalam sambungan telponnya.


Aku cuma jawab "terserah kebutuhan tim, lu rapatin aja sama yang lain kalo minat bakat minta Raina emang mereka punya gantinya buat ke divisi kita?"...


"Minat dan bakat malah bilang terserah kita mau pilih siapa, asal Raina dikasih ke divisi mereka aja" jawab Lingga.


"Oh, yaudah gua telpon Dhika sekarang gue aja yang tanya langsung" jawabku sambil menutup telepon.


Diluar dugaanku, Raina memilih divisiku. Divisi paling serius diantara semua divisi yang ada. Kupikir, Raina dan teman-temannya akan sama-sama mendaftar pada divisi minat dan bakat. Tapi, ternyata dia malah mendaftar di divisi pembelajaran...


"Raina, apa ini artinya kamu mau cari tahu perasaan kamu ke aku sejauh apa?" batinku.


Mungkin terdengar aneh saat aku bilang raina mungkin sedang mencari tau sejauh mana perasaannya terhadapku, karena aku juga sama sekali belum bisa menjelaskan perasaanku.

__ADS_1


Tapi, saat itu malam dimana puncak kaderisasi sedang berlangsung. Aku berbicara dengan Raina, mencoba untuk menceritakan kegelisahanku. Bukan untuk memberi makan egoku sendiri, tapi untuk kenyamanan kami berdua. Aku sadar hidup Raina baru dimulai semenjak dia mulai menjadi mahasiswa. Tapi, aku juga mempunyai perasaan yang harus kuperjuangkan.


Selama ini aku cukup mengenal orang-orang di sekelilingku, tapi belum cukup mengenal diriku sendiri.


"Lu sampe kapan mau bohongin diri lu? Lu pikir gua sebagai sahabat lu gak bisa liat, setiap kali nama Raina disebut lu adalah orang yang terlihat paling menahan diri... Lu seolah gak mau orang lain tau kalo lu care ke dia, lu menyimpan ketertarikan sama dia.. Tapi dengan lu bertingkah begitu, justru gua bisa narik kesimpulan kalo lu sebenernya suka sama itu anak. Yas, come on! Gua udah kenal lu dari awal kuliah... Dari kita disuruh-suruh sampe kita bisa nyuruh-nyuruh.. Yas, samperin lah dia lu ngomong baik-baik"...begitu nasihat Dhika padaku.


Saat itu responku masih sama, aku bilang pada Dhika "Gue gak suka pacaran... Gue gak mau pacaran... Sama siapapun itu... Gue juga gak ada perasaan ke dia"...


Bukan aku namanya jika tidak menyelesaikan masalah hari itu juga. Aku memikirkan dalam-dalam perkataan Dhika dan akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti saran Dhika.


Tanpa pikir panjang, aku langsung menemui Raina dan sedikitnya jujur terhadap perasaanku. Aku minta Raina juga jujur pada perasaannya.


Tapi apalah arti semua kejujuran yang sempat kami katakan satu sama lain, sementara kenyataannya kini aku sudah merusak citraku didepan Raina. Aku malah bilang kalau aku dan Praya balikan.


Raina memang bukan tipikal yang akan menceritakan kejadian tersebut ke orang-orang, tapi itu justru yang aku khawatirkan. Dia mungkin akan menyimpannya sendirian, terluka sendirian dan lebih parahnya membenciku sendirian.


"De... Aku minta maaf"....


Beruntungnya, Dhika adalah ketua divisi minat dan bakat. Jadi aku bisa menahan ambisi Dhika untuk membawa Raina masuk ke divisinya.


Aku. : "Halo Dhik"....


Dhika : Yaaa yas lu ngapa kaga ikut rapat?


Aku : Gua agak gak enak badan, gua juga mau beresin komik yang gue pinjem soalnya besok harus udah dibalikin ke kampus..

__ADS_1


Dhika : Ah sebleng lu! Ada perlu apa?


Aku. : Hmmmm... Itu soal pendaftaran dan penerimaan maru di divisi...


Dhika : Oh, iya gua minta sama Lingga buat lepasin. Raina.. Biar dia masuk divisi gua aja soalnya si Arika sama Hanifa udah ada di divisi gue juga... Lu bayangin dah itu anak tiga ada di divisi yang sama hahaha bahagia bangetlah gua..


Aku : Hmm.. Gua gak lepasin Raina... Gua mau dia ada di divisi gua...


Dhika : Hah? Gak salah? Bukannya lu bilang lu gak suka sama dia, lu juga bilang sama Raina kalo lu balikan sama Praya kan? Sekarang kenapa lu mau Raina ada di divisi lu?


Aku : Dhik ayolah, dia kan daftar di divisi gue untuk pilihan pertamanya dan gue sebagai kadiv punya kapasitas buat milih siapa yang gua pertahanin dan gua switch...


Dhika : Lu kan banyak dapat anak baru yang oke, ada Rani, Kayi, Endi, Joko semua anak-anak yang aktif dan terkenal juga loh... Lagian Raina kan juga jadiin divisi gue pilihan keduanya jadi wajar dong gue pertimbangin. Sebagai gantinya lu boleh pilih dari divisi gue buat lu tarik ke elu..


Aku : Oke, gua ngaku Dhik.. Gua mau Raina... Gua akan perjuangin dia..


Dhika : Nah itu jawaban yang gua mau... Oke gua gak akan minta Raina lagi...


(Sialan Dhika, dia minta Raina masuk ke divisinya cuma buat mancing gue untuk jujur ke dia)


Aku : Oke dhik thankyou...


Dhika : Lo berterimakasih ke gue karena gue berhasil bikin lu jujur? Atau karena gue ngikhlasin Raina? Hahaha


Aku : Gue traktir lu makan ntar malem... Lu ke kosan gue ya!

__ADS_1


Dhika : Hahaha siap paketua!!


Aku kemudian mengabari Lingga bahwa dia tidak harus melepaskan Raina ke divisi lain, dan aku juga meminta Lingga memilih satu diantara Rani dan Kayi karena dua orang itu adalah yang paling ambisius dan bisa saja overlap dengan salah satu dari kami. Tentu saja aku juga memikirkan keberlangsungan divisiku kedepan, dan juga aku tidak mau kalo Raina terbebani.


__ADS_2