Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Nasihat Gian.


__ADS_3

Aku pikir mahasiswa jurusanku sangat akrab dengan tukang urut, saking akrabnya bahkan hampir setiap bulan aku mampir.


Kakiku sebenarnya tidak seberapa sakit, hanya saja karena kondisiku harus fit sebelum berangkat Kulap jadi aku harus mau dipijit.


"Rain, udah enakan jalannya?" tanya Hanifa.


"Mayanlah" jawabku sambil berusaha menggerak-gerakan kakiku setelah selesai dipijit.


Kamipun berniat pergi makan di salah satu warung tegal yang paling enak di daerah tersebut, letaknya sebelah terminal. Tempatnya sangat ramai, apalagi saat jam makan siang.


Orang yang datang dari berbagai kalangan, dari yang jalan kaki hingga bermobil. Hanuka sangat antusias dan kalap saat mencium wangi masakan yang tersaji disana.


Kondisi kakiku yang masih agak kaku, membuatku kesulitan menerobos gerombolan bapak-bapak kantoran yang sedang antri mengambil piring.


"Sini dibelakang aku diem, nanti aku yang ambilin" kata Gian sambil berdiri didepanku.


"Eh gapapa?" tanyaku merasa tidak nyaman.


"Gak papa santai" jawabnya sambil tersenyum kecil.


Hanuka dan Nirwan sudah berada di barisan depan, entah bagaimana cara mereka menerobos. Aku dan Gian dengan sabarnya mengantri tanpa mengeluh sedikitpun.

__ADS_1


"Gi, aku mau sayur, suir sama tempe orek" kataku sambil melihat-lihat banyaknya hidangan.


Gian terlihat kesusahan membawa dua piring sekaligus dan mengambil hidangan demi hidangan.


Sambil mengikuti gerakan langkah Gian, aku melihat punggungnya dari belakang. Kurasa Gian agak kurus sekarang, badannya yang awalnya bagus dan cukup berisi sepertinya sudah hilang.


"Kamu kurusan gi?" celetukku.


"Hahaha iya ilang 4kg gatau kemana" jawabnya sambil melirikku.


"Galau kali kamu hahaha Kayi ya?" ledekku.


"Kayi lagi kayi lagi" pasrahnya.


"Bu itungin piring ini sama piring itu ya" kataku sambil menunjuk piring yang dipegang Gian.


"Duh kalau liat yang pacaran suka inget masa muda" celetuk Ibu kasir.


"Ah bu ini bukan pacar saya, saya mah jomblo" jawab Gian.


"Loh padahal cocok kalian, satu mukanya dingin yang satu mukanya anget" jelas Ibu Kasir.

__ADS_1


"Ibu masa muka dibilang dingin sama anget kaya teh manis aja" jawabku.


"Hahaha becanda neng, jadi 38rb neng sama minumnya gak?" tanya Bu Kasir.


"Ya bu, teh tawar anget aja" jawab kami berdua kompak.


Aku dan Gianpun mencari tempat duduk Nirwan dan Hanuka, tapi karena tempat sangat ramai dan berisik membuat kami susah menemukan mereka. Akhirnya, kami memutuskan untuk makan diluar ruangan tepatnya didekat tempat parkir mobil sambil duduk di emperan.


"Gapapa makan disini?" tanya Gian dengan sedikit rasa tak nyaman.


"Gapapa haha enak disini ada anginnya" jawabku.


Selama makan, Gian sempat menceritakan banyak hal yang tidak kuketahui. Tentang bagaimana hubungannya dengan Kayi dan Rani yang merenggang hanya karena Gian menolak perasaan Kayi dan Rani ikut-ikutan marah.


Aku cuma mencoba menjadi pendengar yang baik saja, sesekali aku melihat Gian malu dan sungkan bercerita padaku. Tapi aku meyakinkan Gian bahwa berbagi cerita bisa mengurangi beban meski hanya sedikit saja.


"Kamu sama Andreas gimana?" tanya Gian mengalihkan topik.


"Baik ko, gak ada yang perlu dikhawatirkan hahaha" jawabku dengan entengnya.


"Setahuku Rani bukan cewek yang gampang nyerah, dia pengagum sejati Andreas dan akan selalu begitu sampai Andreas sendiri yang bilang bahwa dia gak suka ke Rani mungkin Rani gak akan pernah sadar posisinya" jelas Gian.

__ADS_1


"Maksud kamu, aku harus minta Andreas nolak Rani sebelum Rani bilang dia suka ke Andreas? hahaha lucu kamu gi" jawabku.


"Ya aku cuma ngasih tau kamu, air yang gak ada riaknya sama sekali bukan berarti dia ada di laut dangkal kan. Semakin diam justru dia semakin dalam" kata Gian.


__ADS_2