
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di penginapan...
"Rain, olah dulu aja data atau ketik ke komputer soalnya takut kertasnya kececer ntar susah" pinta Aji.
"Iya ji, aku ketik nanti habis mandi ya soalnya gak enak lengket abis tadi main air" kataku.
"Iya rain, bareng yu mandinya haha aku takut nih tadi serem banget liat dari luar kamar mandi umumnya" kata Risa.
"Iya ayok!" jawabku.
Aku dan teman-teman perempuan di kelompokku pun menuju kama, didalam kulihat Kayi sedang menyisir rambutnya dan sudah selesai mandi.
Kayi memang pulang lebih dulu ke penginapan karena tragedi tergelincir ke sungai tadi.
"Kay, kamu udah makan?" tanyaku.
"Liat lah emang si Nunu udah bagiin makanannya apa didepan? Kan belum! Pake nanya" jawab Kayi ketus.
"Idih biasa aja dong lu kay, Raina kan nanya baik-baik" sahut Risa membelaku.
"Sssst udah-udah yu mandi, keburu keduluan kelompok lain" kataku.
Saat hendak menuju kamar mandi, kulihat kelompok Hanifa dan Nunu juga sudah kembali dan sedang istirahat didepan penginapan.
"Rain, udah nyampe dari tadi?" tanya Hanifa.
"Belum lama sih, baru mau mandi nih" jawabku.
"Nu konsumsi udah sampe mana? Awas telat, kasihan kan pada laper abis kerja" kata Risa.
"Udah hampir nyampe ko katanya, paling bentaran lagi sa" jelas Nunu.
Aku dan Risapun segera menuju kamar mandi umum.
"Sa, beneran serem loh hahaha di pojokan sepi hawanya beda ya?" kataku.
"Beneran kan serem? Gimana malemnya coba. Aku gak akan banyak minum ah biar gak beser" jawabnya.
"Hahaha kenapa kita dapet kamar mandinya sebelah sini sih? Bukan yang sebelah sana kan lebih terang" tanyaku.
"Kata Nirwan sih... Hmmm ah udahlah nanti aku cerita di kamar aja jangan disini" sahut Risa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
****************************************
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam harinya....
Aku, Aji dan Setya berkumpul diruang tengah untuk mengetik laporan dan mengolah data hasil penelitian.
Sementara kelompok lainnya ada yang menyebar di teras dan didepan kamar masing-masing.
Tiba-tiba saja saat aku sedang asyik mengetik, kudengar suara teriakan perempuan keras sekali dari arah kamar mandi.
"Eh siapa tuh yang teriak?" tanyaku.
"Ih kaya suara temen kita, samperin yu Set" ajak Aji.
Aku memanggil Nirwan, Roby dan Hasan serta Gian yang sedang bekerja juga untuk menyusul Aji dan Setya ke kamar mandi umum sebelah penginapan ini.
Sementara karena waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, teman-teman perempuan yang lain diminta menunggu di kamar.
"Rain, ikut aja nanti kalau itu bener temen kita terus dia kenapa-napa didalam kamar mandi kan anak cowok gak mungkin dobrak terus masuk" kata Roby.
Akupun mengikuti Roby dan yang lain dari belakang sambil menyalakan senter yang selalu kutaruh di saku jaketku.
"Raina mau kemana?" tanya kak Lingga yang sedang diluar kamarnya.
"Itu kak, ada suara teriakan cewek di kamar mandi panjang sebelah sini" jawabku.
"Yaudah aku ikut siapa tau ada apa-apa" kata kak Lingga.
Sesampainya disana, suara teriakannya menghilang dan seolah tidak ada jejak manusia disana. Semua lampu bilik kamar mandinya mati dan tidak ada suara keran air menyala.
"Loh mana katanya ada teriakan? Orang semua lampunya mati ko, ini juga udah jam 11 ngapain ada yang ke kamar mandi sini. Tadi kan aku udah bilang, lewat jam 9 kalau mau kencing di kamar mandi dalem aja cuma paling antri" jelas Roby.
"Tapi beneran tad ada suara cewek teriak" jelas Aji.
"Iya beneran, gue Raina sama Aji tadi di ruang tengah dan kedengeran banget" kata Setya.
"Gue juga di teras denger ko" kata Hasan.
"Eh bentar-bentar, itu ko pintu bilik pojok ketutup ya? Kayanya ada orang didalem deh" kata kak Lingga.
Aku hanya mengamati saja dan mendengarkan obrolan para laki-laki itu.
"Rain, ketuk gih tanya siapa gitu?" kata Hasan.
"Iya rain, gak enak kan kalo cowok yang nanya" sahut Aji.
__ADS_1
Kak Linggapun menemaniku dari belakang, karena aku bukan penakut rasanya langkahku menuju bilik pojok itu biasa saja. Tidak berat ataupun tidak terbebani. Hanya saja karena lantainya agak licin, aku harus berhati-hati.
"Tok...tok...tok"
"Maaf mba lagi apa ya? Kenapa teriak? Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku.
Perempuan dalam bilik itupun tidak menjawab, tapi terdengar suara seperti orang terbangun dari posisi duduk menuju berdiri.
"Ada orang hey"bisikku memberikan isyarat pada yang lain.
Tak lama pintu bilik itupun terbuka, kak Lingga masuk dan melihatnya.
Betapa kagetnya aku dan kak Lingga, saat melihat didalam tidak ada orang.
"Hah gak ada orang? Udah jelas-jelas tadi ada yang berdiri dan ada yang buka pintu ini dari dalem" kataku.
Aji dan teman-teman yang lain melihat arah jendela bilik yang terbuka.
"Itu kayanya cewek yang tadi kabur deh lewat situ" kata Hasan.
"Liat-liat sana kejar siapa tau maling" kata Roby.
Kak Lingga melarangku ikut dan memintaku untuk pulang ke penginapan bersamanya.
Hingga saat kami baru keluar dari pintu pemandian umum itu, ada seorang perempuan menarik tanganku.
"Hahahahahahahahaha hahahahahahaha kamana geulis?" tanyanya sambil berteriak.
(Hahahahaha mau kemana cantik?)
"Maaf ibu siapa? Kenapa malem-malem gini ada disini?" tanyaku.
"Nungguan maneh tatadi lila, hayu urang balik!geus waktuna urang neangan duit"
(Nungguin kamu dari tadi lama, ayo kita pulang! Sudah waktunya kita mencari uang)
Aku ketakutan saat menyadari bahwa Ibu ini tidak memakai alas kaki dan rambutnya sangat berantakan, bau badannya juga menyengat.
"Orang stress kali tuh" teriak Roby.
Kak Lingga hendak menarik tanganku tapi Ibu itu secepat kilat memeluk tubuhku dari belakang. Tangannya mencekik leherku.
"Kak Lingga aku takut!!!" teriakku.
Gian langsung maju dan mencoba untuk berbicara dengan Ibu itu.
"Bu punten nya, ieu mah sanes rerencangan Ibu. Ieu mah rerencangan abi nuju aya tugas kuliah didieu. Lepaskeun nya bu karunya" kata Gian.
(Bu maaf ya, ini bukan temen Ibu tapi temen saya. Lagi ada tugas kuliah disini. Lepasin bu kasihan)
"Hahaha maruk urang bodo hah? Ieu mah si euis sakitu geulisna baturan urang! Tukang neang duit jeung urang duaan dihandap ka bandar-bandar bener teu is hahahahaha" jawab si Ibu sambil melihatku.
"Lamun baturan urang dicekek atuh bu karunya teu bisaeun nafas, sok geura lepaskeun" kata Gian.
(Kalau memang teman jangan dicekik dong Bu. Cepey lepasin)
"Hahaha kumaha urang weh, maneh saha nitah-nitah urang?" teriak si Ibu sambil terus memegang leherku.
(Hahaha terserah saya aja, kamu siapa berani menyuruh saya?)
Ibu tersebut menarik-narik rambutku dan kukunya yang panjang menancap di tanganku sepertinya dia sedang dalam emosi yang labil.
Semakin aku berusaha melepaskan diriku, semakin keras dia memegang leherku dan melukainya dengan kuku-kukunya.
Kak Lingga mencoba menenangkanku dan memintaku berpura-pura sebagai temannya agar dia melunak dan tidak kasar kepadaku.
"Rain, upit upit aid. Umak arup-arup idaj namet aid raib aid kiab amas umak!" teriak kak Lingga.
(Rain, tipu-tipu dia. Kamu pura-pura jadi teman dia biar dia baik sama kamu)
Aku ingat kejadian saat kak Andreas memberikanku nasihat,
"Kalau kamu ke lapangan untuk tugas, kamu harus siap dengan segala hal yang mungkin terjadi disana. Kalau ada orang jahat, orang stress kamu harus bisa ngatasin kaya Dhika sam a aku waktu itu kita pernah dicegat ODGJ (orang dgn gangguan jiwa) terus karena kita susah komunikasi akhirnya aku sama dia pake bahasa terbalik untuk bisa nipu dan kabur dari dia"...
"Muhun, abi Euis hayu urang neangan duit bisi kaburu beakeun ku batur. Sok atuh lepaskeun gancang urangna, nyeri maenya kabaturan sorangan jahat kieu" kataku berusaha untuk tetap tenang.
(Iya saya Euis, ayo kita cari uang sebel kehabisan sama orang lain. Cepat lepasin saya, sakit masa sama temen sendiri jahat begini)
Tidak kusangka, Ibu tersebut langsung melepaskanku. Aku segera bersembunyi dibalik punggung Gian.
"Tenang Rain, kamu udah aman" kata Gian.
Ibu itu marah saat aku berlari menjauh darinya, dia terus-terusan mengejarku.
Tapi beruntungnya, teman-teman lelakiku yang lain berhasil mengepung Ibu tersebut dan setelah Hasan memanggil warga desa yang kebetulan sedang ronda ternyata menurut warga desa Ibu tersebut adalah ODGJ yang kabur dari rumahnya.
Setelah semua teratasi, aku merasa seluruh badanku kehilangan keseimbangan. Saat aku hendak terjatuh, Kak Lingga menahan tubuhku dan memintaku untuk bersedia digendong olehnya.
"Gapapa aku gendong ke dalem, kamu pasti lemes kan? Kita harus cepet obatin leher kamu" katanya.
Roby, Hasan dan yang lainnya segera berlarian mengambil kotak p3k dan memintaku segera diobati.
"Udah gak apa-apa, ini cuma luka kecil ko" kataku.
"Rain, tapi itu luka cakaran loh pasti perih meskipun lukanya kecil. Kepala kamu juga pasti sakit kan ditarik-tarik tadi?" kata Nirwan.
__ADS_1
Saat sedang diobati, Hanifa Nunu dan Arika berlarian dari dalam menuju kearahku.
"Rain, kamu gak apa-apa kan?" teriak ketiganya.
"Ssst jangan teriak udah malem, kasihan yang lain udah pada tidur. Hahaha aku gak apa-apa ko tenang aja" kataku.
Mereka membantuku membuka jaket dan memeriksa tanganku.
"Rain sampe ijo begini dong! Dia pasti megang kamu keras banget" kata Nunu.
"Iya nu keras sampe Raina sesek nafas tadi" jawab Gian.
Kak Lingga mendatangiku dan segera memberikanku obat di luka-luka kecil yang ada dileherku.
"Maaf, tapi lebih efektif pake salep ini daripada di plesterin satu-satu" katanya.
Kak Doni juga ikut keluar dari kamarnya dan melihat keadaanku.
"Dek...dek... Kasihan banget sih kamu, saking cantiknya orang stress aja seneng" ledek kak Doni.
"Lu udah ngabarin Andreas Ling?" tanya kak Doni.
"Udah, barusan gue udah telpon dia. Bahaya kalau kita gak ngasih tau dia langsung, bisa ngamuk dia kalau tahu si Raina begini" jawab kak Lingga.
"Kalian berdua kasih tau Kak Iyas soal ini?" tanyaku.
"Ya gimana lagi, demi kelangsungan persahabatan kita dek. Kamu tahu sendiri pacar kamu gimana? Bisa dimarahin tiga hari tiga malem kita kalau telat cerita tentang kejadian ini" jawab kak Lingga.
Setelah aku merasa enakan, semua teman-temanku bubar dan bergegas tidur karena besok pagi harus segera bersiap ke Situ.
"Ayo rain, aku anter sampe depan kamar" kata Arika.
Nunu dan Hanifa juga ikut mengantarku. Mereka terlihat sangat mengkhawatirkanku.
"Haha udah aku gak apa-apa ko, cuma masih agak takut aja. Bayangin deh aku kaya di film horor gitu barusan" kataku.
"Gak lucu Raina, gimana kalau orang itu bawa senjata tajam? Terus terjadi sesuatu sama kamu? Aku gak bisa bayangin" kata Hanifa.
"Iya Rain, lagian kamu sih jangan ikut-ikutan ah lain kali mah. Diem aja di kamar kan takut. Denger suara teriak bukannya jerit ketakutan malah disamperin aneh kamu" kata Arika.
"Hmmm sayang-sayangku hahaha makasih ya udah selalu khawatirin aku? Udah gih kalian ke kamar masing-masing. Tidur!" kataku.
"Kamu juga ya Rain, minum obat batuk aja kalau masih keinget kejadian barusan biar bisa nyenyak tidurnya" kata Nunu
Teori Nunu: Obat batuk bisa buat mengantuk.
Di kamar, kulihat semua anggota kelompokku sudah tidur nyenyak. Hanya Kayi yang masih bangun dan langsung menyadari kehadiranku.
"Iket rambut kamu sampe atas pas tidur! Takutnya luka-lukanya kegores rambut nanti sakit!" kata Kayi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***************************************
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan paginya....
Pembicaraan tentang kejadian semalam menjadi hot topic di antara semua teman-temanku. Mereka mendatangiku dan menanyakan kronologinya serta ingin melihat secara langsung luka-luka yang ada di tubuhku.
"Udah aku gapapa ko, beneran hahaha lagi apes aja semalem" kataku.
Setelah sarapan dan bersiap-siap, kamipun memulai lagi penelitian kami hari itu.
Kak Lingga dan kak Dhika meminta kami untuk tidak berjauhan satu sama lain.
"Kayanya bakal turun hujan, jadi jangan lupa bawa ponco senter dan lainnya yang mungkin kalian butuhkan! Terus kita kasih kalian waktu sampe jam 12 siang. Setelah itu kita diskusi dan kalian bisa pulang sebelum jam 3" jelas kak Dhika.
"Pak Rohmat bakal kontrol kita gak kak?" tanya Roby.
"Iya, nanti diskusi beliau yang pimpin. Mungkin baru sampai disini sekitar jam 1an" jawab kak Doni.
Sesaat sebelum aku pergi meninggalkan penginapan, kak Lingga meminta waktuku sebentar.
"Dek, kamu matiin hape kamu ya?" tanyanya.
"Iya, abis belum mau cerita ke kak Andreas hahaha"7 jawabku.
"Pantes aja, dia terus-terusan nelpon aku. Nih sekarang aja nelpon. Angkat dulu gih sebentar aja biar dia tenang dan hape aku gak berisik lagi" pinta kak Lingga.
"Yaudah sini aku angkat dulu" kataku.
"Halo kak, maaf hape aku belum aku nyalain soalnya aku suka susah fokus kalo hape nyala" kataku.
"Kamu baik-baik aja kan? Semalem kenapa bisa kamu ikut keluar segala sih?" tanyanya.
"Intinya aku lagi apes aja, tapi aku gak apa-apa ko" jawabku.
"Gak apa-apa? Leher kamu luka, kamu dicekik terus dijambak-jambak gitu kamu bilang gak apa-apa?" katanya.
"Beneran, udah diobatin ko. Gak usah khawatir ya?" pintaku.
"Selalu kaya gini, emang gak ada yang bisa bikin kamu aman selain aku" katanya memuji dirinya sendiri.
"Iya, makanya kesini dong. Jagain aku!" kataku pelan.
__ADS_1
((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))
((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))((()))