Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
A day before


__ADS_3

Keesokan harinya....


Aku dan ketiga sahabatku baru saja selesai menghitung uang hasil penjualan hari ini. Sesaat setelah para reseller menyetorkannya pada kami.


Setelah mencatat dan membagi hasil, kami berangkat menuju outlet Rainfa. Disana kami sudah ditunggu oleh Kak Iyas dan Kak Dhika serta teman-teman fotografer yang akan memotret kami untuk katalog Rainfa bulan depan.


Sesampainya disana, aku dan sahabat-sahabatku diminta mengganti pakaian kami dengan beberapa baju yang direkomendasikan oleh karyawan perempuan di Rainfa untuk pemotretan.


Nunu yang saat itu kurang suka dengan perpaduan bajunya, meminta Selvy untuk menukarkan salah satu jaket parasit yang berwarna biru tua dengan warna lain.


"Tuker dong, terlalu gelap nih di kamera" kata Nunu.


"Gak bisa kak, maaf itu sudah disesuaikan oleh kami dengan melihat merknya" jawab Selvy.


"Ya masa gak ada warna lain sih di merk yang sama?" gerutu Nunu.


"Yang baru datang itu saja kak, sama beberapa warna lain tapi tidak ada ukuran kecil" jawabnya lagi.


Akupun mendengar perselisihan mereka dan meminta Selvy mengecek kembali barang tersebut. Aku tahu bahwa Nunu akan bersikeras mencari warna lain karena memang Nunu tidak menyukai warna biru tua.


"Yaudah tolong cariin lagi dong, kalau udah dicari gak ada ya udah gak apa-apa nanti kita tukeran aja Nu" kataku.


Selvypun pergi dan mencari dua rekan kerjanya untuk meminta tolong dicarikan jaket yang bermerk sama tapi dengan warna yang berbeda.


Aku melihat raut kekesalan di wajah Selvy saat Nunu bersikeras memintanya mengganti warna jaket yang akan dia kenakan.


Tak lama, Kak Iyas datang dan menghampiriku yang baru saja keluar kamar ganti dan sedang menyisir rambut didepan cermin.


"Siapa dulu yang mau difoto?" tanyanya.


"Engga tahu, terserah" jawabku.


"Lah kenapa mukanya kesel gitu?" tanyanya.


"Itu karyawan kakak, si selvy masa si Nunu gak mau pake jaket warna itu dipaksa dan katanya gak ada lagi stok. Masa iya semerk datangnya sama semua warnanya?" gerutuku.


"Emang Nunu kebagian warna apa?" tanyanya.


"Biru tua, mana gelap-gelap lagi semua nuansanya. Iyasih outdoor tapi kan harusnya disesuaikan dong sama siapa yang jadi modelnya" kataku.


Sebenarnya, aku tidak masalah dengan warna jaket yang kukenakan. Aku hanya kurang suka dengan ekspresi Selvy yang terkesan menolak permintaan tolong dariku tadi.


Padahal tugasnya kan memang untuk mencarikan pakaian yang sesuai untuk kami.


"Banyak ko warnanya. Dari satu merk ada kali 7 sampai 8 warna" jawab kak Iyas.


Akupun berjalan menuju gudang stok, dan mendengarkan pembicaraan para karyawan Rainfa didalam.


"Bete gue, cewek si bos sok banget! Pake nyuruh-nyuruh segala. Bos juga bukan" kata Selvy.


"Ya namanya juga anak kuliahan, sok semua kali. Padahal mereka begitu masih pake uang orang tua" jawab Listi.


"Hahaha sepakat gue sama kalian, kebanyakan emang begitu sok dan gengsinya tinggi" sahut Liani.


Aku mendengarkan ocehan mereka tentangku dan Nunu.


Hingga mereka sepertinya sudah selesai mencari barang dan aku bergegas pergi.


"Nu, udahlah nanti kita tukeran aja ya kalau warna jaket yang diambil mereka gak cocok di kamu. Soalnya kata Kak Iyas emang baru sedikit yang dateng" kataku pada Nunu.


"Oh yaudah" jawabnya.


Aku berbohong pada Nunu agar urusan tidak panjang, bisa kumaklumi bahwa Nunu ingin yang terbaik untuk photoshootnya karena ini juga demi bisnis kak Iyas dan kak Dhika. Tapi, aku juga malas kalau harus berdebat dengan karyawannya lagi.


Mengingat bahwa mereka baru saja bekerja di Rainfa. Aku ingin mereka merasa nyaman dan tidak terbebani.


"Sorry ya tadi aku bawel" kataku pada Selvy yang baru saja memberikan jaket barunya kepada Nunu.


"Nah ini sih cocok kayanya warnanya" teriak Nunu kegirangan.


Selvy hanya tersenyum dan pergi dari tempat kami berkumpul saat itu.


Hanifa yang menyadari kegelisahanku, mendekatiku dan berbisik. "Kenapa rain? Mereka pasti bikin ulah ya?".


"Gak ko, malah aku yang bikin ulah. Tadi aku rewel minta Selvy nyariin jaket warna lain buat Nunu makanya dia kesel" kataku.


Setelah selesai bersiap, kami segera mendatangi fotografer yang sedang mempersiapkan setnya.


"Grup dulu baru nanti satu-satu ya?" katanya.


"Oke" jawab kami serentak.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah pemotretan selesai, Nunu dan Hanifa heboh melihat hasilnya sambil memilih foto-foto yang bagus untuk dikirimkan ke ponsel mereka masing-masing. Sementara aku dan Arika membantu Kak Dhika yang sedang mengatur patung pajangan.


Kak Iyas sedang sibuk berdiskusi dengan kepala tokonya, mungkin ada hal yang harus dipastikan sebelum launching dua jam yang akan datang.


Aku merasa hari ini aku harus membiarkannya bekerja dengan fokus, biasanya kalau ada aku didekatnya dia akan sulit untuk konsentrasi. Maka dari itu, sedari tadi aku menjaga jarak dengannya. Sesekali dia akan melirik kearahku dan tersenyum.


Hingga launching dilaksanakan, semua teman-temannya datang. Temannya di BMKG, teman-teman alumninya di kampus dan beberapa teman UKM basketnya.


Kak Iyas dan kak Dhika memang hebat, mereka bisa membuat jalan mereka sendiri. Disaat kebanyakan orang yang baru lulus akan memilih kerja kantoran, mereka malah ingin mandiri dan membuat bisnis sendiri. Sambil menjadi dosen pengganti dan sesekali mengikuti penelitian untuk mendapat tambahan pemasukan.


Hingga nyaris malam, aku dan sahabat-sahabatku masih di Rainfa. Kami mengobrol dengan banyak sekali kakak alumni yang hadir serta beberapa teman angkatan kami yang datang untuk memburu diskon 20-30% dihari soft launching.

__ADS_1


Setelah puas mengobrol, Hanuka mengajakku pulang bersama.


"Pulang bareng aku yu? Kayanya kak Dhika sama kak Iyas sibuk banget deh takutnya kamu kemaleman sampe rumah" ajak Hanifa.


"Iya ayo, aku pamit dulu ya sama Kak Iyas. Tungguin di mobil aja" kataku.


Aku mencari kak Iyas yang ternyata sedang ikut melayani pembeli dan mengecek beberapa pekerjaan karyawannya di meja kasir. Tadinya, aku ingin pamit


Tapi, melihat banyaknya orang yang mengantri membuatku enggan. Mungkin lebih baik aku mengabarinya di telepon saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di perjalanan pulang....


Hanifa bercerita bahwa tadi dia pamit pada kak Dhika yang sedang sibuk menata barang. Sementara aku bilang bahwa aku tidak sempat pamit pada Kak Iyas karena antrian yang mengular di meja kasir.


"Telpon lah" kata Hanifa.


"Nanti aja ah pas dirumah, lagian takutnya dia masih ngeladenin pembeli" jawabku.


Sesampainya dirumah ketika aku hendak merebahkan diriku di kursi teras depan, kak Iyas menelponku.


"Kamu dimana? Udah pulang ko gak bilang? Gak pamit lagi" tanyanya.


"Maaf, tadi aku pamit ko cuma kakak lagi sibuk di kasir jadinya aku pulang aja" jawabku.


"Yaudah nanti pulang dari sini, aku kerumah ya" katanya.


"Jangan, kakak pasti capek kan? Mending kakak tidur aja istirahat" kataku.


Dia bersikeras ingin bertemu denganku, mungkin saja dia tidak enak hati karena tidak bisa mengantarkanku pulang. Padahal seharian ini aku ada di outlet untuk membantu pemotretan dan menata display barangnya.


Benar saja, dia datang kerumah hampir tengah malam. Wajahnya terlihat kelelahan dan suntuk. Aku membuatkannya segelas teh hangat dan mengambilkan beberapa cemilan.


"Minum nih, kakak udah makan?" tanyaku.


"Belum, gak sempet inget makan" jawabnya.


"Ya ampun, yaudah aku buatin makan ya? Seadanya di kulkas gapapa kan?" tanyaku.


"Gapapa" jawabnya pasrah.


Setelah itu kulihat dia makan dengan lahapnya, sambil melirik kearahku beberapa kali karena malu. Sepertinya dia merasa lapar sejak tadi, melihat caranya menyuapkan nasi sesendok penuh kedalam mulutnya.


"Pelan-pelan dong" kataku.


"Enak makanannya, kamu jago juga buat nasi goreng" katanya.


"Telornya makan dong" kataku.


"Iya nanti terakhir, part yang paling aku tunggu" jawabnya.


Sesaat dia menyadari tangannya kotor, aku melihat ekspresi wajahnya yang lucu dan canggung saat menyadari bahwa dia sudah menghabiskan satu piring penuh nasi goreng.


"Sini kepala kamu" katanya.


"Mau apa?" tanyaku.


"Deketin aja sini" jawabnya.


Aku mendekatkan kepalaku ke wajahnya dan ternyata dia hendak menyatukan kepala kami. Jidat kami beradu dan dia tertawa.


"Kenapa sih geje?" gerutuku.


"Ih, itutuh karena tangan aku kotor jadi aku gak bisa meluk kamu" jelasnya.


...........................


....................................


Tiga hari berlalu.....


Hari terakhir di Bandung sebelum berangkat ke Bali untuk kuliah lapangan tahap terakhir esok harinya.


Aku dan ketiga sahabatku janjian untuk berbelanja keperluan di mall biasa.


Aku menunggu jemputan Hanifa di teras sambil mendengarkan musik dari ponselku.


Hingga tak lama kemudian, Hanifa datang dan membunyikan klakson si kutil tiga kali.


"Bu, teteh berangkat ya" kataku pamit pada Ibu yang sedang menjaga grosir.


"Iya hati-hati, jangan pulang malem ya?" sahut Ibu.


Kami berbelanja hingga lupa waktu, padahal belanjaan kami tidak terlalu banyak. Hanya saja kami senang berkeliling dan melihat-lihat.


Setelah puas berkeliling, kami berempat makan dan membicarakan pembagian kamar hotel.


Aku tidak sekamar dengan siapapun diantara ketiga sahabatku itu. Nunu beruntung bisa sekamar dengan Hanifa, Arika juga setidaknya sekamar dengan Rima dan Iria. Sementara aku, malah sekamar dengan Rani. Memang sih ada Ega disana, tapi aku tidak nyaman saat mengetahui Rani akan berada di ruangan yang sama denganku selama seminggu penuh.


"Sabar rain, disana kan pasti Ega sama kamu terus. Dia juga gak suka sama Rani kan?" kata Nunu.


"Iyasih, tapi tetep aja aku ngerasa gak nyaman" jawabku.


"Kalau dia ngapa-ngapain kamu, kabarin aja kita secepatnya" sahut Hanifa.

__ADS_1


Ketika sudah pukul 3 sore, kami memutuskan untuk pulang untuk packing.


Hanifa mengantarkanku hingga depan rumah.


"Besok aku dijemput kak Dhika, kamu juga dianterin kak Iyas kan?" tanya Hanifa.


"Iya, aku dianter kak Iyas ko" jawabku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya....


Aku sedang packing dikamar dibantu oleh Randy dan Recca. Mereka berdua sudah menuliskan list oleh-oleh yang katanya harus aku belikan sebelum pulang ke Bandung.


"Jangan lupa ya teh" bujuk Recca sambil memelukku.


Ketika hampir selesai, aku mendengar suara klakson mobil didepan rumah.


"Kak Iyas tuh" teriak Randy.


Akupun turun dan meminta Randy membereskan sisanya.


"Hai" teriaknya.


Aku memeluknya karena seharian ini kami tidak saling mengirimkan pesan sama sekali satu sama lain.


"Aku kangen" kataku.


"Ayo belanja buat besok?" ajaknya.


"Udah sayang, tadi siang aku belanja sama Hanuka" jawabku.


"Lah ko gak bilang?" tanyanya.


Aku menjelaskan bahwa tidak enak rasanya saat harus memintanya mengantarkan aku untuk belanja keperluan besok. Dia sedang sangat sibuk mengurus ini itu di tokonya. Maka dari itu, aku berharap dia tidak marah.


"Yaudah, aku mau liat packingan kamu" katanya.


Aku mengajaknya ke kamarku untuk melihat hasil packinganku yang sangat rapi karena dibantu oleh Randy.


"Bagus juga, rapi dan beneran cuma bawa dua tas doang?" tanyanya.


"Iya beneran, soalnya aku gak mau ribet" jawabku.


Dia meledekku dan tidak menyangka bahwa aku akan belajar dari pengalaman dua kuliah lapangan sebelumnya. Dimana aku kehilangan beberapa barangku karena kurang teliti.


"Yaudah ini buat kalian jajan, anggap aja ini apresiasi karena kalian udah bantuin teteh kalian packing" kata nya sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada Randy dan Recca.


"Ih banyak banget kak" jawab Randy.


"Udah gak apa-apa, sisanya ditabung ya? Gih Ran ajakin Recca jajan" katanya.


Saat kami hanya tinggal berdua saja, aku lagi-lagi memeluknya. Menyadari bahwa seminggu kedepan kami akan terpisah sementara waktu.


"Manja deh tiap mau kuliah lapangan" katanya.


"Kan nanti kita gak ketemunya lama, 9hari kali ada" kataku.


"Ah iya perjalanan aja dua hari ya? Belum kegiatannya seminggu" jawabnya yang baru menyadari durasi kuliah lapangan terakhirku yang akan berlangsung cukup lama itu.


"Iya makanya aku mau manja-manjaan dulu" kataku.


"Yaudah peluk aja yang lama?" katanya.


Tak lama sambil tetap memegang tanganku, dia membuka dompetnya didepanku.


"Kamu perlu berapa buat seminggu disana?" tanyanya.


"Apasih aku punya uang sendiri kali, nanti juga pasti Ayah kasih" jawabku.


Sebenarnya, aku hanya memiliki sisa uang 200ribu setelah belanja keperluan tadi siang. Uang tabunganku juga kupakai untuk membayar uang transport dan perjalanan.


Tapi, mana mungkin aku meminta uang padanya. Dia masih pacarku bukan suami yang bisa kapan saja kupintai uang.


Uang yang dia berikan dari wasiat Ibu belum berani kupakai sedikitpun, rencananya uang itu akan kusimpan untuk tabungan pernikahanku.


Bagaimanapun, tujuan Ibu memberikan perhiasan tersebut pasti untuk itu kan?


"Jangan gitu dong, jangan minta ke Ayah juga. Aku kan udah bilang sekarang kamu punya aku. Kalau kamu ada keperluan ya tinggal bilang ke aku" katanya.


"Aku malu masa minta sama kakak" jawabku.


"Ya ganti aja nanti pas kamu punya uang, anggap aja aku pinjemin" jawabnya.


Akupun menjelaskan padanya bahwa sisa uangku tinggal sedikit. Dia memberikanku lima lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Ini buat pegangan, kalau kamu mau belanja pake aja kartu debit ini. Isinya ada sekitar satu jutaan lebih. Siapa tau kan kamu mau beliin oleh-oleh buat orang rumah?" katanya.


Aku mengembalikan kartunya karena merasa lima ratus ribu sudah lebih dari cukup untukku. Tapi dia bersikeras memberikannya dengan alasan karena aku akan langsung melanjutkan liburan ke Lombok.


"Ke Lombok tuh nyebrang pulau pake kapal sekitaran 100ribuan, belum disana nginep kan pasti sehari dua hari? Cari aja penginapan yang murah dan nyaman. Kalau kurang uang kabarin aku" katanya.


Aku memeluknya dan meminta maaf karena sudah banyak menyusahkannya selama ini. Bagaimanapun sudah banyak sekali uang yang dia keluarkan untuk membiayaiku. Mulai dari uang perawatan dan lain-lainnya.

__ADS_1


"Maaf ya, aku gak bisa kasih lebih. Soalnya aku kan kemarin baru ngemodalin toko" katanya.


"Ini udah lebih dari cukup tau kak" jawabku.


__ADS_2