Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Sajak Rindu


__ADS_3

Makam yang ditumbuhi rumput hijau ditemani oleh wangi bunga kamboja yang bertebaran terbawa sapuan angin itu, menjadi saksi ketika tetes demi tetes air mata berjatuhan. Tiga orang perempuan dewasa yang terjongkok lesu dengan wajah paling suram sedunia, kini menemui muara rindunya.


"Apa kabar nunu sayang? Kita kangen loh. Maaf ya baru sempet jenguk bertiga karna kita semua mencar-mencar. Tahun ini, Raina pindah ke Bandung Nu.. Jadi, kita bakal sering ketemu berempat. Kamu mau kita bawain bunga apa?"


"Bunga mawar putih atau lily? Ntar tiap jenguk, kita ganti ganti deh bawaan bunganya ya!"...


"Nu, gue tau kita paling sering berdebat dulu. Sekarang gue gak ada temen debat Nu. Jadi dosen yang debat sama mahasiswa ternyata bosen juga. Mending sama lu karna abis itu lu beliin gue maklor di kantin"...


 


Seperti kata Pidi Baiq "Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu"...


Seperti itu pula rasanya menulis banyak sekali sajak tentang kerinduan kepada yang telah hilang, tapi tak pernah terbilang. Sebab dia telah menjelma menjadi bayang. Hanya bisa dikenang.


 


"Habis ini kita ke mall yuk? Ajak aja Izaz sama Chai. Gue mau beliin mereka mainan" kata Arika.


"Wow rich aunty apa rich lecturer nih?" ledek Hanifa.


"Udah-udah, oke kita jemput mereka yuuu rik tapi jangan cuma anaknya dong yang ditraktir. Emaknya juga butuh loh traktiran pake uang Bandung" kataku berniat melerai.

__ADS_1


"Iye iyeee" pungkas Arika sambil kembali menyetir.


---------------------------


Malam harinya dirumah Hanifa....


Ka Iyas dan Ka Dhika sedang asyik ngopi sambil membicarakan sesuatu tentang bisnis di teras belakang. Izaz dan Chai sudah tidur beberapa menit yang lalu.


Sementara Hanifa sedang sibuk scrolling hapenya.


Aku ?? Aku mengantuk sebenarnya, tapi pikiranku sedang melayang mengingat-ingat tawaran Arika tadi sore.


"Mana bisa rik, aku kan cuma S1" keluhku.


"Bisa, nanti aku yang rekomendasiin. Kamu kan cumlaude dulu. Pasti Bu Epon mau" jelas Arika.


Tawaran untuk menjadi asdos sore tadi memang terdengar menggiurkan. Menimbang dari kondisi ekonomi kami yang sedang perlu uang cukup banyak untuk membeli rumah di Bandung.


"Kalo aku punya gaji bulanan, kayanya aku bisa deh bantu untuk keperluan sehari-hari dan pre-school Izaz nanti. Jadi, uang ka Iyas bener-bener diprioritasin untuk beli rumah aja" pikirku.


Semenjak sore tadi, Kak Iyas belum memberi tanggapan setelah mendengar keinginanku untuk menjadi asdos mata kuliah Geografi Masyarakat. Aku gelisah menunggu tanggapannya.

__ADS_1


Sejauh ini, dia tidak pernah mengizinkanku membantunya bekerja di Kebun. Bahkan untuk menjadi asistennya yang hanya bertugas mencatat inventaris alat-alat di kebun.


-------------------


Menjelang tidur....


"Sayang, gimana? Boleh gak? Boleh ya? Aku kan suka mata kuliah itu dari dulu. Ini kaya dream comes true lohhh untuk aku" bujukku sambil memeluk lengan kak Iyas dari samping.


"Izaz sama siapa kalo kamu kerja? Kita juga belum dapet rumah yang cocok, belum pindahan dari Palembang, belum cari dan daftarin pre-school untuk Izaz. Kamu bakalan capek loh Raina" gerutunya.


Aku mengerti ucapannya, apalagi mendengarnya memanggilku hanya dengan sebutan nama seperti tadi. Kak Iyas seolah memberikan isyarat bahwa pembicaraan kami sudah mencapai ujungnya dan tidak ada lagi yang harus diperdebatkan. Dia memang selalu begitu, sekali ya adalah ya begitupun sekali tidak tetap tidak.


"Yaudah, kamu cari aja uang sendiri sampe dapet tuh rumah yang kamu mau. Aku tahu beres aja" pungkasku sambil menjauh dari sisinya.


.......


Malam itu kami habiskan dengan sunyi. Setelah obrolan penuh ambisi kami itu, kami malah memilih untuk sama-sama diam. Hingga keesokan paginya kami harus pamit dari rumah Hanifa dan pulang ke rumah Ayah dan Ibu.


"Ntar kapan-kapan nginep lagi ya na! Chai kesenengan tuh diinepin Izaz" kata Hanifa.


"Iya tantee, nanti Iz ajak Mama nginep kesini lagi yang lamaaaa banget" sahut Iz bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2