Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Kira-kira


__ADS_3

"Kayanya si Dinda beli gelang gitu deh haha, buat kenang-kenangan ke Kak Iyas kali" bisik Hanifa.


"Wah iya? Harusnya yang mau pindah dong yang ngasih kenang-kenangan mah, bukan yang ditinggalin" kataku.


"Iya bener, ada-ada aja. Liat aja nanti Rain si kak Iyas pake gelangnya gak... Lagian tadi aku sempet pura-pura nelpon depan dia kamu denger kan?" katanya.


"Denger, yang kamu bilang "Lu gila kali naksir cowok orang, lu sadar diri dong dia udah punya cewek dan dia sayang banget sama ceweknya. Lah lu masih aja ngarep. Ngaca dong lu! Bangun lu! Hahahahaha" jelasku.


"Itu aku sengaja drama, dan dia bener-bener merhatiin aku loh" katanya.


"Dia ngerasa kali kalau dia juga naksir cowok orang" kataku.


Setelah selesai di toko Brayberry, kami turun ke lantai 1 untuk membeli bubble tea kesukaan kami. Sementara Andreas masih berada di studio foto lantai 3.


"Rain, coba aja nanti kita diem didepan dan pura-pura gak liat mereka. Terus kak Iyas bakal gimana responnya ke kamu, gimana?" saran Hanifa.


"Iya setuju fa, tapi kalau nanti kak Iyas nyamperin aku terus aku pergi sama dia gimana? Kamu sendirian dong di mobil?" kataku.


"Gapapa santai aja, abis dari sini aku juga langsung pulang ko" jawabnya.


Aku dan Hanifa duduk di depan pintu masuk mall tersebut dan nanti Hanifa akan memberi kode kalau rombongan Andreas datang.


Posisi dudukku membelakangi pintu, sementara Hanifa yang menghadap kesana.


Tak lama kemudian..................


"Rain... ada tuh kak Iyas" kata Hanifa sambil mengedipkan matanya.


"Dia say goodbye loh ke temen-temen kantornya"


"Dia lihat aku rain, dia nyamperin ke sini loh"


Tiba-tiba saja, aku mendengar suara Andreas memanggil kami.


"Dek!!!"


Hanifa pura-pura tidak tahu bahwa sebelumnya kami sudah melihatnya di lantai 3.


"Loh kakak disini juga?" tanya Hanifa.


"Iya, kalian udah selesai?" tanyanya.


"Udah, tapi aku mau pulang sama Hanifa aja deh soalnya kasihan dia sendirian" jawabku.


"Eh gak apa-apa, kamu sama kak Iyas aja nanti aku gampang ko udah biasa ini sama si kutil berdua doang" jelas Hanifa.


"Thanks ya fa udah nganterin Raina kesini, oya ingetin si Dhika dua hari lagi kita ketemuan nanti kakak kasih tau tempatnya" jelasnya.


"Oke siap kak, yaudah aku cabut duluan ya? Rain, gelang yang tadi kita beli pake ya? Byeee" katanya sambil pamit.


"Gelang? Emang tadi kita beli gelang ya? Bukannya cuma beli bandana, jepit sama anting-anting doang" pikirku.


Aaaah gelang, jangan-jangan Hanifa mau ngingetin aku soal gelang yang Dinda beli tadi. Spontan aku melihat tangan Andreas dan dia tidak memakai gelangnya. Hanya saja, aku melihat ada kantung kecil yang dipegangnya.


"Mobil kakak dimana?" tanyaku.


"Parkiran sebrang, yu kesana?" ajaknya.


.......................................


......................................................


Didalam mobil.....


"Kakak mau ngajak kak dhika ketemuan? Dimana?" tanyaku.


"Bukan Dhika doang sih, tapi kita semua. Kamu inget kan si Gian sama Nirwan pernah minta aku untuk ngadain acara sebelum aku pindah ke Palembang? Ya aku mau bikin acara itu aja" jelasnya.


"Berarti pas hari terakhir aku UAS ya?" kataku.


"Iya, biar kamu udah gak perlu belajar lagi aja" jawabnya.


Sesampainya dirumah.....


"Mampir gak?" tanyaku.


"Mampir deh, mau ketemu Ibu sama Recca. Ada kan?" tanyanya.


"Ada ko" jawabku.


Andreaspun masuk dan langsung disambut oleh pelukan Recca yang antusias mendengar suaranya. Ibu yang sedang jaga warung saja, langsung menitipkan warungnya pada mamang.


Aku pamit sebentar untuk mandi dan berganti pakaian, sementara Andreas mungkin mengobrol dengan Ibu diruang tengah atau mengajak Recca bermain di teras belakang.


"Si Dinda itu jadi ngasih gelangnya gak ya ke kak Iyas? Tapi kenapa dia gak langsung pake gelangnya? Terus kotak yang dikantungin itu apa isinya?" pikirku selama mandi.


Setelah selesai mandi, tiba-tiba saja mati lampu dan aku gelagapan mencari pintu keluar. Semampuku, aku memakai pakaian dalam kondisi gelap. Mana lagi, saat itu sudah cukup sore sehingga kalau lampu mati terasa sudah gelap saja.


"Ibuuuu" teriakku.


"Iya mati lampu, sini turun" sahutnya.


Saat hendak keluar, entah apa yang kakiku injak malah aku tergelincir.


"Ibuuuuuu tolong" teriakku karena kaget sekaligus kesakitan saat tergelincir dan kepalaku hampir saja terbentur ke lantai.


Tak lama, Andreas yang datang dan menyalakan senter di ponselnya.


"Ya ampun, kenapa dek?"


"Jatoh, gelap sih jadi aku nginjek apa gitu tadi licin" jawabku.


Dia membangunkanku dan mendudukanku di kursi.


Dia berjongkok untuk melihat kondisi kakiku, saat dia memegangnya untungnya saja tidak sakit hanya lebam sedikit saja. Tapi, kepalaku lumayan pusing mungkin karena kaget dan takut saat aku menahan kepalaku dengan tangan agar tidak terbentur lantai.


"Sakit banget ya?"


"Ini sakit, coba ambilin kaca di meja tuh" kataku.


Benar saja, jidatku juga membiru dan sedikit benjol.


"Aku bilang ke Ibu dulu deh, sekalian mintain obat gosok atau apa yang bisa bikin sakitnya berkurang" katanya.


"Mintain paren kocok aja" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Setelah listrik kembali normal, aku melihat diriku di cermin. Jidatku benjol dan kebiruan, rambutku berantakan karena belum disisir serta kakiku juga tidak enak digerakkan.


"Mau ke Pak Ibun?" tanyanya.


"Emang masih ada?" kataku.


"Ada, sekarang yang buka praktek anaknya. Kalau mau aku telponin sekarang terus kita langsung kesana" jelasnya.


"Gak usahlah, aku urut sendiri juga sembuh. Cuma ini kayanya harus ditutup pake poni deh soalnya malu kalau besok keliatan orang" kataku sambil menunjuk luka di kepalaku.


"Jadi mau ke salon aja?" tanyanya sambil tersenyum.


"Hahahaha kalau ajakan ke salon, aku gak bisa nolak" kataku.


"Yaudah, ayo berangkat. Sekalian cabut ya rambut sambung kamu itu... Aku kurang suka liatnya" katanya.


"Aku kurang pantes ya rambut panjang? Lebih lucuan rambut pendek ya?" tanyaku.


"Iya, lebih singset aja keliatannya kalau rambut pendek dan kan gak usah diiket-iket begitu" jelasnya.


Akupun menuruti kemauannya, aku pikir tidak ada salahnya mengabulkan permintaannya untuk memendekkan kembali rambutku. Apalagi, tinggal beberapa hari dia akan pergi ke Palembang.


Meskipun sebenarnya, aku masih menyukai rambut panjangku. Rasanya aku terlihat lebih dewasa saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah kembali dari salon....


Dia menyadari kekecewaanku saat harus merelakan extentionku dicabut.


"Kamu sedih ya karena rambutnya pendek lagi?" tanyanya.


"Iya, tapi aku gak mau kalau gak nurut sama kakak. Kalau kata kakak rambutku bagus pendek, berarti emang aku lebih bagus pendek. Kakak kan gak mungkin bohong" kataku.


"Iya, aku jujur ko. Kamu lebih cantik rambutnya begini" jawabnya sambil mengelus rambutku.


....................................


................................................


Keesokan harinya di kampus...


"Kata kalian mending dimana ya Andreas bikin acara perpisahan itu?" tanyaku pada Gian dan Hanifa yang duduk didepanku.


"Hmm mending di kosannya, atau di four season haha" jawab Gian.


"Di kosannya udah kemarin sama temen-temen di kosannya, kalau di four season kan kemarin pas perayaan duta kampus" jelasku.


"Dirumah kamu aja Rain, gimana? Kan teras depan kamu luas tuh. Bisalah buat kita berdelapan mah, jadi gak usah beli makanan. Kamu sama Ibu kamu aja yang masak, ntar kita bantuin" saran Hanifa.


"Bener juga ya, lagian Ibu pasti seneng deh kalau ada acara dirumah. Yaudah nanti pulangnya aku bilang dulu ke Ibu deh, mudah-mudahan juga Kak Iyas setuju dirumah aku" jawabku.


Setelah selesai UAS, aku menelpon Ibu dan meminta izin untuk berkumpul dirumah besok hari.


"Iya, kak Iyas kan lusa pindah ke Palembang. Jadi dia mau bikin acara kecil-kecilan gitu buat kita-kita aja ko bu, tapi gatau juga sih dia mau ngajakin temen-temennya yang lain apa engga" kataku.


"Boleh, paling kalau banyak kamu di teras belakang rumah aja biar leluasa. Kalau didepan kan takut ada pembeli ke warung" kata Ibu.


"Iya nanti Ibu yang siapin makanannya, Ibu yang masak deh" kata Ibu.


.....................


.................................


Malam harinya.........


Aku memberitahukan kabar tersebut pada Andreas, awalnya dia sempat menolak karena takut merepotkan Ibu dan Ayah dirumah. Hanya saja aku mencoba meyakinkannya agar menyetujui saranku.


"Ih biar irit, nanti kan masak sendiri beli bahan sendiri. Uangnya gak keluar banyak, emang kakak mau ngajakin berapa orang sih?" tanyaku.


"Ya kalian-kalian aja, paling sama Dhoni sama Lingga kalau mereka bisa" jawabnya.


"Tuhkan, cuma 10 orang loh bisalah ya dirumah aku aja yah?" bujukku.


"Yaudah iya dirumah kamu" katanya pasrah.


"Yaudah, kakak kerumah sekarang. Kita belanja hehehe" pungkasku.


.............................................


.........................................................


Hari itupun tiba....


Pagi harinya, aku merasa sangat tidak karuan. Satu sisi aku senang karena ini adalah hari terakhir UAS, sisi lain aku sedih karena ini juga hari terakhir Andreas di Bandung.


Belum lagi, dirumah juga akan ada acara kumpul-kumpul. Beruntungnya, Ibu dan Ayah mengerti malah menyiapkan banyak sekali makanan dan membantuku merapikan rumah.


Sebelum berangkat ke kampus, perutku sakit sekali sepertinya aku salah makan. Semalam setelah berbelanja dengan Andreas, kami makan bakso bersama dan karena malam itu hujan jadinya aku menambahkan banyak sambal di kuah baksoku untuk menghangatkan tubuh.


"Bu, teteh sakit perut ih. Punya obat gak?" tanyaku pada Ibu yang sedang mempersiapkan sarapan buat kami di dapur.


"Bikin teh pahit aja tuh kasih gula dikit" kata Ibu.


Tanpa sengaja, aku malah menjatuhkan toples gula hingga pecah berserakan di lantai.


"Maaf bu" kataku.


"Kamu ini kenapa sih? Lemes?" tanya Ibu.


"Iya lemes" jawabku.


"Yaudah biar Ibu yang beresin, kamu tunggu didepan nanti Ibu buatin tehnya" kata Ibu.


Akupun duduk di meja makan dan mendapati seekor kucing hitam sedang mencoba masuk kedalam rumah lewat pintu depan.


"Ran, itu usir kucingnya" teriakku.


"Aaah sama teteh aja ah, aku lagi asyik nih" jawab Randy yang ogah-ogahan karena sedang main game.


Akupun mendatangi kucing tersebut, kucingnya mengeong sambil melihat wajahku.


"Laper ya? Kucing laper ya? Bentar ya aku ambilin makanan" kataku.

__ADS_1


Tapi, kucingnya malah terus menatapku dan bersuara makin keras.


"Meow....meow....meow"


Aku takut dan akhirnya malah menaruh kucing tersebut diluar halaman dan langsung menutup pintu.


"Teh serem amat kucingnya" kata Recca.


Iya de serem ya, yaudah yu makan" kataku.


Recca menceritakan padaku, bahwa hari ini dia ada tugas untuk menggambar pemandangan.


"Teteh gak usah ke kampus, mending sama Recca aja dirumah ya?" bujuknnya.


"Teteh kan ada ujian dek, gimana kalau nanti malem ya?" kataku.


"Gak mau ah, mau sekarang soalnya masih pagi suka bagus gambarannya" rengeknya.


Aku merasa bersalah karena tidak bisa membantu Recca, semingguan ini karena sibuk UAS jadinya aku kurang memperhatikan tugas-tugas sekolah Recca. Padahal, Recca sering memintaku membantunya mengerjakan PR tapi aku selalu menolaknya dengan alasan aku hendak belajar untuk ujian.


Belum lagi Randy, berkali-kali aku menolak ajakannya untuk makan nasi goreng dan membeli martabak tengah malam karena mengantuk. Padahal biasanya, sengantuk apapun aku akan selalu pergi bersama Randy.


"Pokoknya nanti abis UAS selesai dan abis galau nganterin kak Iyas ke bandara, aku bakal maen sama Recca dan Randy deh" gumamku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah selesai sarapan....


"Teh, hari ini Ayah anter aja ya? Kebetulan Ayah lagi kosong kerjaan, jadi masuk agak siang" kata Ayah.


"Hmm tapi teteh udah ditungguin Hanifa di depan, tuh kayanya dia baru sampe" kataku.


"Yaudah, nanti Ayah aja yang jemput deh" katanya.


"Nah kalau itu boleh, nanti teteh kabarin deh pas bubaran soalnya cuma dua matkul. Kemungkinan pulangnya masih siang" jelasku.


"Iya kabarin ya?" kata Ayah.


Akupun pamitan pada Ibu dan Ayah, entah kenapa rasanya hari itu berbeda Recca menangis saat melihatku berangkat.


"Ibu, Recca mau belajar sama teteh" rengeknya.


"Maaf ya dek, kalau bukan UAS pasti teteh libur demi kamu" kataku.


"Udah gapapa, Recca lagi rewel aja. Gih kamu berangkat kasian Hanifa nungguin" kata Ibu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah sampai di kampus...


Ujian kali ini cukup mudah, karena mata kuliah Umum saja diantaranya Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Jadi, aku bisa pulang lebih cepat.


Sementara itu, Hanifa ada janji menjemput kak Dhika ke kantornya. Akhirnya, aku memilih untuk menunggu Nunu dan Arika hingga mereka keluar dari kelasnya.


"Aku harus ingetin mereka untuk dateng kerumah jam 5 sore nanti" gumamku.


Selama menunggu didepan kelas A, aku melihat ke arah tangga darurat yang dikelilingi kaca-kaca besar dan bisa melihat keluar.


Langit sangat gelap, padahal itu masih jam 1 siang. Suara gemuruh petir dan kilat yang bersahutan juga terdengar.


"Kayanya mau ujan deh rain" kata Gian yang baru saja keluar dari kelas setelah mengobrol dengan Nirwan.


"Iya gelap banget ya?" kataku.


"Eh nanti aku kerumah kamu pake mobil Hanifa aja, katanya mau pada pake mobil takut hujan. Sekarang aja udah gelap begini" kata Gian.


"Iya, yaudah aku titip pesen deh ke Nunu sama Arika jangan lupa dateng ya?" kataku.


Beruntungnya, aku sudah meminta Ayah menjemputku sejak keluar dari kelas tadi. Ayah sepertinya sudah dijalan menuju kampus.


Sebenarnya, aku heran kenapa hari itu Ayah mau menjemputku jauh-jauh ke kampus. Padahal biasanya kalau Ayah sedang longgar jadwalpun, beliau tidak pernah sampai mau menjemputku.


"Ah jauh teh, Ayah mending bayarin ongkos ojek kamu aja" katanya setiap kali aku memintanya menjemputku saat Hanifa tidak ada.


Setelah Ayah datang, aku memasuki mobilnya dan melihat ada Recca yang ikut menjemputku.


"Ehhh ada anak cantik" kataku.


"Dia rewel mau ikut jemput teteh sekalian jalan-jalan" kata Ayah.


Recca pun seperti sudah berpisah lama denganku, dia langsung memelukku dan bertingkah manja.


"Teh, pulangnya kita menggambar ya?" katanya.


Recca memang libur setiap hari sabtu, jadwal sekolahnya hanya senin sampai hari jumat saja.


Jadi, hampir setiap sabtu aku akan menyempatkan mengajak Recca main atau jalan-jalan.


Setelah hampir masuk ke komplek perumahan, Recca melihat di sebrang jalan ada tukang balon.


"Ayah, mau itu" rengeknya.


"Jangan sayang, susah nyebrangnya. Kalau muter balik lagi nanti lama" jawab Ayah.


Aku yang sedang menelpon Kak Iyas mendengar rengekkan Recca yang memaksa Ayah turun untuk dibelikan balon.


"Kak bentar ya, aku mau beliin balon dulu. Kasian Recca nangis" kataku.


Akupun berinisiatif turun dan menyebrang jalan ramai itu untuk membeli balon yang diinginkan Recca.


Jalanan yang ramai dan termasuk jalur cepat itu, membuatku sedikit kewalahan untuk menyebrang. Belum lagi, aku sedikit trauma karena pernah terserempet motor saat itu.


"Mang, balon warna kuning satu" kataku.


Setelah membeli balon, aku kemudian harus menyebrang lagi.


Tiba-tiba, ada seorang Nenek pengemis yang mendatangiku.


"Neng minta uangnya neng, nenek belum makan" katanya.


Aku memberikan sedikit uangku ke tangannya, dan dia tersenyum lalu berkata "jangan nyebrang disini neng, bahaya jalur cepet. Tuh jalan aja sedikit kedepan minta tolong tukang parkir disebrangin".


Aku berfikiran daripada berjalan kaki terlalu jauh kalau harus meminta tolong pada tukang parkir, lebih baik aku menyebrang di tempat yang sama saja agar lebih dekat ke tempat Ayah parkir.


Hingga tiba-tiba saat aku menyebrang, ada sebuah mobil yang melaju dengan sangat cepat menyalip truk yang sudah berhenti karena melihatku melambaikan tangan untuk memberiku jalan.

__ADS_1


"Brukkkkkkkkkkk!!!!!!!!!".....


Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi....


__ADS_2