
"Iya, aku cemburu sama Dinda. Aku tahu kali, dia tuh suka sama kakak keliatan banget" kataku.
"Yaudah, gak usah dibahas ah. Kamu tenang aja, aku gak suka lirik-lirik yang lain ko" jawabnya.
"Bener ya? oya kak, besok aku mau setor uang dulu ke bank itu uang hasil dagang. Jadi kakak gak usah anterin aku ke kampus soalnya Hanifa mau jemput"7 "kataku.
"Oya udah, sekalian titip nabung boleh gak? masukkin ke rekening kamu aja dulu. Ini buat anggaran kita liburan semester nanti" katanya.
Dia memberikan uang sejumlah 4juta.
"Banyak banget! Uang darimana?" tanyaku kaget.
"Tadinya sih buat ngajakin kamu ke Palembang semesteran ini. Itu juga kalau kamu mau, kalau kamu gak mau ya pake buat pergi ke tempat lain aja" jelasnya.
"Mau ko mau, yaudah besok aku tabungin ya uangnya. Ih tapi kakak belum jawab, ko bisa dapet uang sebanyak ini? bukannya belum waktunya gajian ya?" tanyaku.
"Ini kan hasil penelitian aku baru cair kemarin, lumayan bisa beliin Ibu sesuatu sama bisa nabung buat liburan" jelasnya.
....................
...................
...................
Dua hari setelah aku bertemu dengan Dinda di kantornya, hari ini saat aku diminta belanja oleh Ibu ke supermarket aku juga bertemu dengannya.
"Diantara sekian banyaknya supermarket dekat rumah, kenapa aku malah nyetir motor kesini ya? Padahal coba aja tadi aku gak ada acara beli wedang ronde dulu, mungkin aku belanjanya gak akan disini" gerutuku dalam hati.
Aku pergi sendirian malam itu, Randy tidak mau mengantar karena sedang cedera kaki.
Dia ada didepanku dan sedang berbelanja dengan seorang perempuan, mungkin temannya.
"Iyahaha, gue udah ngeceng satu temen kantor cakep dan pinter banget orangnya. Gue pancing terus gue pepet, eh taunya udah punya cewek"
"Yah, masa lu nyerah sih haha bukannya zaman sekarang lagi hype ya jadi orang ketiga?"
"Iyasih, kalau buat cowok kaya gitu kayanya gue rela jadi yang kedua"
"Nah tuh, emang cakep banget orangnya?"
"Cakep banget, tinggi bersih dan ya pinter lah. Mukanya emang jutek dan dingin sih tapi sebenarnya baik"
"Terus ceweknya lu udah pernah ketemu?"
"Udah sekali, cantik sih emang tapi kan takdir gak ada yang tau ya hahaha"
Aku mendengar obrolan mereka dalam jarak kurang dari 20 meter, suara temannya yang cempreng dan suara Dinda yang agak keras terkesan menarik perhatian pengunjung supermarket di koridor itu.
"Mereka gak malu ya curhat sambil belanja? Dengan suara yang gak bisa dibilang pelan begitu lagi" gumamku.
.....
...........
Setelah sampai dirumah .....
"Cewek yang kemarin sore baru kenal Andreas itu, udah berani bicarain takdir? Sampe rela jadi yang kedua? Parah sih Rain" kata Hanifa.
"Ya kan? Mana waktu yang dihabisin Kak Iyas lebih banyak sama dia dibanding sama aku. Mungkin gak sih kak Iyas berpaling dan ngelirik tuh cewek?" tanyaku.
"Kalau diliat dari seleranya kak Iyas sih, kayanya tuh cewek bukan termasuk radarnya" jawab Hanifa.
"Tapi tetep aja aku kepikiran" kataku.
"Ya wajarlah Rain, tapi ya gak usah berlebihan hahaha kamu kaya gak tau Kak Iyas aja. Dia bukan tipekal cowok yang begitu lah, orang juga mikir lagi deketin dia mah. Mukanya jutek begitu, emangnya kak Dhika hahaha" jelasnya.
"Iyasih haha, oya kak Dhika kapan ke Bandung? Udah lama banget ya?" tanyaku.
"Hari sabtu ini katanya" jawab Hanifa.
"Waaah tiga hari lagi dong, akhirnya bisa melepas kangen" ledekku.
"Iya pokoknya nanti kita double date, eh bukan quartrop date eh apa sih istilah date empat couple langsung itu?" tanya Hanifa.
"Mana tau ah, yaudah ah ya aku ngantuk. See u besok ya fa!" pungkasku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya di kampus....
Aku dan Hanifa datang lebih pagi untuk menitip-nitipkan barang dagangan kami ke reseller dan warung-warung di sekitar kampus.
"Udah ah, tinggal nanti yang ambil hasilnya Nunu sama Arika" kata Hanifa.
Kondisi parkiran mobil saat itu masih sangat sepi.
"Mau ngelancarin bawa mobil ga?" tanya Hanifa.
"Mau, emang gak apa-apa disini?" kataku.
"Gapapa, lumayan kan bisa sampe ujung terus balik lagi terus muter-muter. Nih bawa!" katanya.
Akupun mengambil alih kendali dan menyetir si kutil dalam waktu yang cukup lama.
"Lumayan, udah gak ada kesalahan dan kayanya kamu juga udah gak tegang" kata Hanifa.
Setelah cukup belajar mengemudi, aku dan Hanifa malah sibuk main game masak-masak yang baru kami download beberapa hari yang lalu itu.
Ketika sedang serius bermain, ada suara dedaunan yang sedang disapu oleh Pak Darsi yang terdengar jelas ditelingaku. Sehingga membuatku konsentrasiku buyar.
"Pak, pagi banget nyapunya" teriak Hanifa.
"Eh neng, iya nih habis kalau agak siang daunnya udah berserakan kemana-mana" jawabnya.
"Pak, sarapan bareng yu?" ajakku.
"Ah gak bisa neng, soalnya bapak suka dipantau sama satpam masa lagi jam kerja malah sarapan" jawabnya.
"Rain, kasih aja uang buat sarapannya" bisik Hanifa.
Saat aku memberikan uang tersebut, kulihat ada dua orang bertubuh besar yang sepertinya sedang menguntit mobil seseorang.
Mereka terlihat mencurigakan, malah cenderung terlihat seperti pembobol mobil.
"Pak, itu liat deh dua orang yang pake jaket kulit sebelah kanan. Itu mobil mereka yang ada disana?" bisikku.
"Bukan neng, itu mah mobil dosen" jawabnya.
__ADS_1
"Lah mereka ngapain dong?" tanyaku.
"Jangan-jangan mau maling spion atau nguntit kali neng" jawabnya.
Akupun memberi kode pada Hanifa untuk keluar dari dalam mobilnya.
"Fa, matahari terbit ada dua kelinci yang sedang cari makan tapi mereka salah jalan" kataku.
Hanifa langsung melihat ke sebelah kirinya dan mengerti sinyal yang kukirimkan.
Dia malah tiba-tiba bermain peran.
"Pak, saya tau ya bapak gak punya uang tapi bapak gak boleh dong ngambil-ngambil barang yang bukan hak bapa" teriak Hanifa memarahi Pak Darsi.
"Saya tau ya, bapak tuh pegawai bersih-bersih yang merangkap pengutil. Bapak kan yang ngambilin helm-helm dan spion mobil" teriaknya lagi.
"Bapak gak tau ya kalau sekarang semua sudut parkiran ini udah dikasih cctv. Tuh disana, disana dan disana. Bahkan ya bapak saya yang dosen juga udah disuruh pasang cctv di mobilnya jadi hari ini kalau masih ada yang maling pasti besok ketahuan" teriakku.
Kedua laki-laki itu terlihat menahan langkahnya dan mendengarkan perkataan kami.
Hanifa langsung mendatangi kedua orang tersebut.
Hanifa berpura-pura menelpon seseorang.
"Yang, mobil papa yang mana sih? Ini aku udah sampe di parkiran tapi belum nemu mobil kamu padahal dari tadi udah nyari. Oh ini yang, udah udah ketemu" katanya sambil berhenti dimobil yang sedang menjadi target 2 orang laki-laki tadi.
Keduanya pun seolah pura-pura tidak terlihat oleh kami, mereka dengan halusnya pergi menjauh.
"Pak Darsih, ayo sana kejar foto plat motornya" teriak Hanifa.
"Siap neng" jawabnya.
.........
...............
...........
Tak lama kemudian...
"Keseringan gauh sama Pak Darsi jadi begini ya kita?" tanya Hanifa.
"Iya kalau diitung-itung ada kali 3 komplotan yang udah kita tangkep secara gak sengaja" jawabku.
Sebenarnya, sudah berulang kali aku melaporkan kejadian ini pada pihak keamanan kampus tapi tanggapannya selalu begitu.
"Ya akan kami tindak lanjuti"
Besoknya hanya akan ada banner panjang bertuliskan "Pastikan kunci ganda kendaraan dan simpan helm di penitipan! Segala bentuk kehilangan bukan tanggung jawab kami"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Hari ini kelas cuma satu ya, selebihnya kita hanya diminta mengerjakan tugas secara mandiri di web biasa. Jadi tolong dipantau!" kata Agung menjelaskan.
"Lah dosen pada kemana?" tanya Roby.
"Sedang ada acara untuk pemilihan dekan fakultas" jawab Agung.
Aku tidak senang meski kami akan pulang lebih siang dari seharusnya, aku lebih suka belajar bertatap muka langsung karena tidak akan ada tugas berwaktu disana. Tidak seperti saat kami harus belajar jarak jauh, kebanyakan kami akan diminta mengerjakan tugas yang jumlahnya banyak dalam waktu yang dibatasi.
"Bagus dong, mama kamu kapan dateng?" tanyaku.
"Semalem, dadakan sih cuma sendirian juga gak sama Papa. Oya Mama titip salam buat kamu dan katanya ngajakin kita liburan ke wates kalau dapet libur agak lama" jelasnya.
"Salamin balik ya? Pokoknya harus deh kalau soal liburan itumah haha" jawabku.
........
........
.........
Hanifa sudah pulang duluan, Nunu dan Arika juga katanya punya janji dengan pacarnya masing-masing. Sementara aku masih sibuk berburu wifi gratis di lobby fakultas.
Sampai Andreas tiba-tiba menelponku.
"Raina, aku jemput kamu ke kampus ya sekarang?" katanya.
Andreas terdengar terengah-engah dan seperti sedang ketakutan.
"Hah? Kakak gak kerja emang? Mau apa? Ada apa?" tanyaku.
"Nanti aku cerita disana, aku harus ketemu kamu dulu pokoknya. Tungguin ya" jawabnya sambil langsung menutup sambungan telpon.
Akupun berjalan ke arah gerbang utama, supaya bisa bertemu dengan Andreas lebih cepat.
"Kenapa ya dia nelpon aku kaya panik banget barusan? Ini juga belum jam istirahat kan? Kenapa dia bisa ke kampus?" pikirku.
.......
.........
............
Tak lama, mobilnya memasuki gate dan aku langsung melambaikan tanganku.
"Kak!!!"....
Dia memajukan mobilnya dan memarkirkannya di pinggir. Lalu dia keluar dan berlari ke arahku.
Wajahnya terlihat merah, matanya juga dan tangannya bergetar.
Dia langsung memelukku dan menangis. Kali ini suaranya sangat jelas.
"Kak, kenapa?" ....
"Ibu aku dek.." bisiknya
"Ibu kenapa kak?"
"Ibu meninggal"....
....
.....
Saat itu langit yang sangat cerah tiba-tiba seperti runtuh dan menimpaku..
__ADS_1
Melihat orang yang sangat kusayangi kehilangan separuh jiwanya...
Melihat orang yang sangat kusayangi terlihat begitu lemah dan tak berdaya...
"Kakak dapet kabar darimana? Ibu .... ibu....
"Barusan orang rumah telpon aku, katanya Ibu pingsan dan drop tapi begitu dibawa kerumah sakit Ibu udah nggak ada" katanya dengan suara dan tubuh yang bergetar.
"Yaudah aku ikut kakak" ....
"Aku harus ke Palembang, gak tau untuk waktu berapa lama. Aku mau kamu jaga diri kamu disini! Jangan nakal, jangan pulang kemaleman dan makan yang bener ya?" katanya sambil memegang pipiku.
"Yaudah.... aku mau ikut"
"Jangan sayang, aku disana pasti lama. Aku gak tau sampe kapan. Kamu kan disini banyak kegiatan, banyak hal yang harus kamu kerjain dan kamu gak bisa tinggalin. Kamu harus pastiin kamu hidup dengan baik ya?".....
"Kakak ngomong apa sih? Kakak gak akan balik lagi emang? Kenapa harus ngomong gini sih? Pokoknya aku mau ikut kakak ke Palembang, gak mau tau"
Air matanya mengalir sangat deras, pertama kali sejak mengenalnya aku baru melihat dia menangis sejadi ini.
"Kamu harus tunggu aku, kamu inget kan permintaan aku? Tunggu aku sebentar lagi. Aku gak akan ingkar janji" ....
"Kak, aku mau ikut!!!!!!" kataku membentaknya...
Dia seolah mengabaikan perkataanku dan akhirnya berkata.
"Aku pergi ya? Kamu jaga diri kamu baik-baik"
......
......
......
Setelah mengatakan hal itu, dia kembali ke mobilnya dan meninggalkanku sendirian tanpa mendengar penjelasanku.
Dia bahkan tidak tahu, hari ini aku libur dan tidak ada kelas. Bahkan dia tidak memintaku ikut menemaninya pulang.
.....
.....
Selama beberapa detik, aku tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa berdiam diri.
Aku hanya melihat mobil Andreas memutar balik dengan sangat cepat dan meninggalkan gate tanpa berhenti untuk melihatku sedikitpun...
......
......
.......
Penjaga gate saat itu menghampiriku.
"Neng gapapa?" tanyanya.
Aku tidak menjawab dan langsung berjalan menuju fakultas.
Akhirnya, aku menelpon Nunu lalu menceritakan kejadian barusan sambil berusaha menahan tangis.
"Rain, kamu dimana sekarang? Kita samperin kamu ya?"...
"Aku di gate utama, nu aku mau susul kak Iyas gimanapun caranya...
"Iya-iya tenang dulu, kita pikirin gimana caranya nanti ya biar kamu bisa nyusul kesana"
....
.....
....
Saat Nunu dan yang lainnya datang, aku hanya bisa mematung dan tak melakukan apapun.
Nunu memelukku dan tidak berkata apa-apa seperti yang biasa dia lakukan.
"Saat seseorang sedih, bukan nasihat atau saran yang dia perlukan. Dia hanya perlu didengar dan dipeluk"....
"Nu, aku mau susul dia ke Palembang"
"Iya, iya, barusan aku nelpon Hanifa dan minta dia kasih tau kak Dhika. Kita tunggu sampe kak Dhika nelpon ya? dia pasti tahu detail alamat rumahnya kak Iyas dan bisa bantu kamu kesana" jelas Nunu.
"Iya rain, tunggu sebentar aja baru setelah itu kamu bisa susul kak Iyas" kata Gian menenangkanku.
"Arika juga lagi kerumah kamu sama Nirwan, mereka mau ngasih tau orang tua kamu dan ambil beberapa baju ganti buat kamu" jelas Nunu.
"Iya nu, makasih ya"....
...........
...........
...........
*Pertama kalinya dalam hidupku, aku membenci suara dedaunan kering...
Suara yang tanpa ampun mengganggu telingaku saat kamu mengatakan banyak hal kepadaku....
Saat air matamu jatuh dan membasahi tanganku....
Saat kedua mata kita beradu bukan untuk saling rayu...
Pertama kalinya juga dalam hidupku, aku membenci langit yang begitu cerahnya...
Karena membiarkanmu bersedih dan menangis seperti itu...
Kamu kehilangan seseorang paling berharga di hidupmu...
Dengan tegar kamu masih sempat datang kepadaku hanya untuk mencium keningku....
Dengan kuat, kamu masih bisa bertemu denganku meski dengan sekujur tubuhmu yang bergetar itu.
Aku paling benci melihatmu marah...
Tapi rasanya lebih baik melihatmu marah sekarang...
Daripada harus melihatmu sedih dan menangis sedalam itu....
Tidak apa-apa kamu marah saja....
Asal jangan menangis seperti yang tadi kulihat*...
__ADS_1
................
................