Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Pengakuan Andreas..


__ADS_3

Pentas malam api unggun dimulai, aku dan kelompokku berada di urutan ke 2 sebagai penampil.


"Na, suara kamu harus kenceng ya!" kata Joko. Setelah kelompok pertama tampil dengan Drama "Kade risa sih!" (dalam bahasa sunda berarti awas risa tuh plesetan dari kaderisasi) yang membuat hampir semua yang hadir tertawa, tibalah giliran kelompokku yang tampil.


"Hatiku sedih... Hatiku gundah... Tak ingin pergi berpisah...


Hatiku bertanya... Hatiku curiga... Mungkinkah ku temui kebahagiaan seperti disini..." suaraku membuka awal penampilan kami.


Aku mencoba bernyanyi sebaik mungkin, agar semua yang hadir mendapat pesan dari drama musikal yang kami tampilkan malam itu.


Kami mempertontonkan adegan demi adegan yang kami alami selama masa ospek, dari awal kami keluar dari SMA dan diberitakan diterima di Perguruan Tinggi sampai kepada kaderisasi puncak ini.


Bagaimana kami berproses dari anak siswa menjadi mahasiswa, dari anak remaja menjadi dewasa, dari banyak tidak paham menjadi sangat paham.


Bagaimana orangtua kami berkorban waktu, uang dan keringat untuk menyekolahkan kami. Semua yang kami tampilkan malam itu, membuat suasana hening sejenak.


Beberapa dari temanku juga tak kuasa menahan tangis saat adegan seorang anak desa pamit kepada kedua orang tuanya untuk berangkat kuliah ke kota.


Kami semua benar-benar mengalami hal itu, skenario dan settingan lagu yang aku buat saat itu benar-benar berhasil!!!. Kami mendapat tepuk tangan sambil berdiri dari semua yang hadir malam itu.


"Na selamat ya suara kamu bagus! Asli!" kata Gian yang mendatangiku saat pesta api unggun selesai.


"Makasih yan! Kamu juga tadi bagus ko dramanya" jawabku.


"Aku yakin kelompok kamu menang di awarding besok" katanya. "Hahaha aamien ya!" sahutku.


Hari ini sudah kesekian kalinya aku mengobrol dengan Gian, aku sama sekali tidak merasakan canggung seperti ketika aku mengobrol dengan teman laki-laki yang lain.


.


.


.


Keesokan paginya....


Kami diminta mencari 10 bendera kuning yang sudah disebar di wilayah hutan lindung itu, kami diminta pergi secara berkelompok dan menuliskan jurnal perjalanan kami secara lengkap dan rinci seperti biasanya.


Aku pergi dengan perasaan semangat karena ini akhir dari penyiksaan batin yang harus kuselesaikan dengan teman-teman. Kami menyusuri hutan lindung dengan membawa peralatan camping kami, seperti kompas, GPS dan lainnya.


Kami diminta menuliskan titik koordinat yang tepat di tempat kami menemukan bendera kuning tersebut kemudian setelahnya kami juga harus melihat kemana arah matahari dari tempat kami menemukan bendera itu.


"Aaaah capenyaaa!!!" kataku saat akhirnya kelompok kami sudah menemukan bendera kuning berjumlah 10 buah itu.

__ADS_1


"Sekarang jam berapa ya?" tanya Putra.


"Mana tau Put lagian kan kita semua gak boleh pakai jam tangan jadi kita mana ada yang tahu ini jam berapa" jawab Rara.


"Kalau dilihat dari ketinggian matahari sekarang yang belum tepat diatas kepala kita, kayanya ini sekitar jam 10 deh terus suhu disini juga masih 21 derajat celcius ini pasti belum tengah hari"kataku menjelaskan...


"Yaudah kita buruan balik ke tenda deh aku gak sabar mau beresin semua ini!" kata Lisa.


Setelah semua tugas kami selesai, kami memutuskan untuk kembali ke camp dan yaa ternyata kelompok kami adalah kelompok pertama yang sampai disana.


"Kalian udah beres?" tanya Andreas.


"Udah kak" jawab Joko.


Saat itu meskipun Joko yang menjawab pertanyaannya, namun mata Andreas malah melihat ke arahku dan lagi-lagi aku menghindar sebisaku.


"Na, kamu beneran gak ada apa-apa sama Andreas?" tanya Rara.


"Wasting time banget si ra nanyain hal yang sama berulang kali begitu!" jawabku.


"Eh tapi cuma orang yang pacaran aja yang punya alasan buat saling gak sapa, diem-dieman dan so acuh kaya kalian barusan" jawabnya.


"Ehh orang pacaran??????? Diem-dieman?" batinku.


Tiap Andreas mendapat kesempatan bicara didepan misalnya, aku hanya akan bertatapan mata lurus ke depan tapi bukan ke arah wajahnya lalu sesekali aku akan memalingkan muka ketika Andreas melihat ke arahku.


Kebanyakan Maru akan dimarahi jika melakukan hal demikian, tapi tidak denganku karena sudah berkali-kali aku buang muka saat dia bicara dan memandangku saja dia tidak pernah mengeluarkan respon apapun seperti mengomeliku misalnya.


Semua kelompok sudah datang dari tugas pencariannya, aku dan kelompokku malah sudah beres mandi dan bersih-bersih juga menyiapkan makan siang. Kelompok yang lain diberikan waktu 1 jam untuk keperluan pribadi dan 30 menit untuk menyiapkan makanan.


"Raina!!! Pulang dari sini nginep dirumahku yu aku gak ada orang dirumah soalnya pada pergi" kata Arika. "Hanifa juga diajak kan?" tanyaku.


"Hanifa udah mau ko Na tinggal kamu nih" jawabnya.


"Okeee fix lagian besok kan libur kuliah hehe paling aku nyusul ya!" kataku.


"Iya santai Hanifa juga mau pulang kerumah dulu ko, kalian barengan aja sih katanya Hanifa mau bawa mobil juga" jelas Arika.


"Oke!" kataku. "Akhirnya penyiksaan ini akan segera berakhir beberapa jam lagi dan aku bisa hangout sama dua sahabatku" .....


Setelah semuanya selesai, akhirnya kami diminta membereskan tenda dan bersiap-siap untuk pulang namun sebelumnya kami harus berkumpul di lapangan untuk awarding. Yaa kelompokku sesuai prediksi memenangkan kategori "Best Performance" dan Joko si ketua kelompokku memenangkan kategori "Best Leader" karena berhasil membawa kami dijalan yang benar saat tugas pencarian bendera kuning. Hahahaha...


.

__ADS_1


.


.


Sesampainya di kampus....


Andreas mendatangiku setelah kami turun dari mobil.


"Dek, kakak ada perlu sama kamu" katanya.


"Hmm ada apa kak?" tanyaku.


"Bisa ikut kakak sebentar kesana?" tanyanya sambil menunjuk ke arah parkiran.


Kami pun mengobrol di parkiran karena Andreas sepertinya tidak mau teman-temanku atau teman-temannya mendengar pembicaraan kami..


Andreas : Kamu beneran diemin aku selama di camp?


Raina : Diemin gimana sih?


Andreas : Kamu gak jawab pertanyaan aku, selalu anggota kelompok kamu yang lain yang jawab. Hari ini juga kamu buang muka saat aku mau nyapa kamu duluan


...


Raina : Perasaan kakak aja kali..


Andreas : Kalau ini cuman perasaan aku doang, kenapa terjadi berkali-kali???


Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan sekaligus penyataan Andreas yang terakhir. Entah kenapa lidahku kelu dan tidak menemukan jawaban apapun untuk pertanyaan yang satu itu. Andreas lalu melihat dalam-dalam kedua bola mataku, jarak Andreas semakin dekat dan jantungku semakin tidak menentu detaknya.


"Aku cuma gamau orang berspekulasi berlebihan, aku mau Kakak jaga jarak dari aku. Ini semua demi kelangsungan hidup aku dikelas! Kakak bahkan tau bukan satu dua orang yang ngeceng Kakak dan itu juga adalah maru-maru yang punya pengaruh lumayan di angkatanku, sekarang gimana respon mereka kalau ternyata Kakak deket sama aku?" jelasku.


"Sejak awal aku nganterin kamu di pengenalan jurusan saat hari pertama kamu menginjakan kaki kamu di kampus, aku udah interest sama kamu dan aku ngerasa semakin nyaman saat kita ngobrol berdua dan semuanya semakin buat aku bingung saat aku nganterin kamu pulang. Aku jadi kayak orang gila yang mati-matian minta Lingga tukar posisi sama aku, saat itu aku udah janji nganter Praya tapi aku lebih pingin nganterin kamu pulang!! Sepanjang perjalanan hati aku gak karuan dan aku ngerasa selalu pingin deket sama kamu padahal saat itu kamu ada diatas motorku! Aku nanya sama diri aku sendiri, perasaan macam apa ini? Tapi sampe hari ini aku masih gak tau jawabannya" katanya sambil menatapku penuh curiga.


"Kak boleh gak aku minta satu hal sama kakak? Tolong kasih aku ruang untuk nemuin jati diri aku dulu, untuk nikmatin proses aku sebagai maru di kampus dan juga untuk jagain aku dari mereka yang gak suka kakak deket sama aku" kataku memelas.


"Na aku janji bakal jagain kamu!" katanya.


"Kalau gitu kasih aku waktu untuk mikirin semuanya, kakak juga harus ada waktu untuk mikir seberapa jauhnya perasaan kakak ke aku. Aku cuma takut yang sekarang kita rasain ini cuma sementara" kataku.


"Tapi kamu beneran harus mikirin ini! Kamu harus cari tau perasaan kamu ke aku gimana na.. Kamu harus kasih tau aku secepatnya kalau kamu udah menemukan jawabannya".....


Andreas lalu meninggalkanku di parkiran sendiri, dia pamit untuk kembali ke teman-temannya dan melanjutkan rapat evaluasi. Hari itu, aku seperti tidak tahu cara menghadapi laki-laki.

__ADS_1


Aku tidak tahu cara menatap matanya, menjawab pertanyaannya bahkan merespon perhatiannya. Ketika aku kehabisan akal dan salah tingkah begini, dapat kutarik kesimpulan bahwa "Aku juga menyukai Andreas!".....


__ADS_2