Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Pelaku


__ADS_3

Pelaku penabrak lari ternyata seorang laki-laki seumuran denganku. Perawakannya besar dan dia terlihat seperti seseorang yang kaya dan terawat.


Giginya berkawat dan kulitnya juga putih. Aku bahkan tidak percaya bahwa dia adalah orang yang menabrak Raina.


Setelah aku melihat wajahnya, rasanya aku sangat bisa menjadi tega. Dia masih segar, sehat dan muda. Bagaimana bisa dia memilih pekerjaan yang tidak berkah seperti menjadi pencuri kendaraan?


"Maaf mas, saya gak sengaja nabrak istri mas. Kalau saya tahu istri mas cantik, yang ada saya kawinin bukannya saya tabrak" kata si pelaku.


Aku hampir saja memukulnya, tapi sayangnya dia berada di jeruji besi yang membuat langkahku terbatas.


"Pelaku juga merupakan buronan di wilayah asalnya dengan tuduhan yang sama yaitu tabrak lari dan pencurian kendaraan" kata Pak Polisi yang ternyata bernama Pak Bram itu.


"Silahkan saja proses sesuai hukum yang berlaku pak, saya tidak akan melakukan tuntutan karena pelaku juga sudah banyak kasusnya" kataku.


Tiba-tiba saja, saat aku hendak pergi meninggalkan sel tahanan. Pelaku itu mengedipkan matanya kearahku.


Akupun menanyakan status tersangka tersebut pada Pak Bram, beliau bilang tersangka memiliki kecenderungan perilaku yang menyimpang.


Saat hendak keluar dari kantor polisi, ponselku berbunyi.


"Kak, buruan kesini ada Fasya diluar. Raina kaya takut" kata Nunu dalam voicenotenya.


Aku segera meninggalkan kantor polisi dan memacu mobilku secepat mungkin menuju rumah sakit.


Meski sebenarnya aku tahu, dirumah sakit sudah ada Hanifa, Nunu dan Arika serta Dhika yang menungguinya. Tapi, aku khawatir saja dan belum tenang kalau belum melihat langsung keadaannya.


Terlebih, aku tahu bahwa Fasya pasti datang dengan alasan yang buruk.


"Dhik,.....


"Lu tenang, ada gue disini. Gue bakal maju kalau si Fasya berulah. Dia juga kan kenal gue" kata Dhika memotong obrolanku.


"Yaudah gue minta tolong, bentar lagi gue sampe ko" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya dirumah sakit.....


Fasya sudah tidak ada, dan aku langsung menanyakan apa alasan Fasya datang dan mengunjungi Raina.


"Bahkan temen kita aja, gak ada yang tau kan kalau Raina dirawat karena kecelakaan" kata Hanifa..


"Tapi tadi si Fasya bilang, kebetulan dia lagi dirumah sakit ini dan liat kalian barengan bertiga tanpa Raina. Jadi, Fasya berkesimpulan kalau Raina yang lagi dirawat disini" kata Dhika.


"Tapi, kenapa tadi si Fasya bilang kalau Raina emang selalu gagal kalau nyebrang" kata Nunu keheranan.


Aku segera mungkin, mengejar Fasya yang pasti masih ada di sekitar rumah sakit. Kalau benar, Fasya tahu tentang kejadian Raina yang tertabrak mobil saat menyebrang. Aku bisa saja menaruh curigaku padanya.


Akupun menemukan Fasya, dia sedang menelpon seseorang di dekat lobby.


Aku menguntitnya dan menguping pembicaraannya.


"Gue beneran gak tahu kalau Raina bakal separah ini. Gue pikir dia cuma rawat sehari atau dua hari. Gue bener-bener gak tau" ....


Aku tidak tahu maksud dari pembicaraannya apa, tapi aku benar-benar curiga pada Fasya.


"Siapa yang lu ajak ngomong barusan" tanyaku sambil berdiri dihadapan Fasya.


Dia terlihat kaget dan kebingungan.


"Guuuuuu.....e....... gak ngomong sama siapa-siapa ko" jawabnya.


Aku mengambil paksa ponselnya, mendengarkan percakapan yang masih tersambung itu.


"Pokoknya ini murni salah lu, gue jadi ketangkep. Coba kalau lu bayar hutang lu ke gue dan gak ada acara lari-lari dari gue. Mungkin gue gak akan nabrak tuh cewe kemarin"......


Kini aku paham kenapa Fasya terlihat kaget dan kebingungan barusan, dia memang ada dibalik alasan kecelakaannya Raina.


"Gue bayar hutang dia ke lu, tapi lu harus cerita peristiwa detailnya ke gue kaya apa" kataku pada seseorang dalam telpon itu.


Dia langsung mengenali suaraku, dia adalah orang yang tadi kulihat di kantor polisi.


Setelah mendengar ceritanya, aku melempar ponsel Fasya kebawah.


"Sorry gak sengaja jatoh, lu ambil dah tuh hape lu! Habis ini mungkin lu gak bisa main hape lagi. Tunggu aja dan liat gue bakal lakuin apa" kataku.


Fasya mengejarku yang berlari menjauhinya, dia sekarang tahu dengan siapa dia berhadapan.


"Kak, lu dengerin dulu gue kak. Gue sama sekali gak ada maksud nyelakain Raina. Gue panik saat gue dikejar sama dia, gue gak bisa bayar utang" kata Fasya.

__ADS_1


"Gimanapun, gue tetep gak abis pikir kenapa lu bisa kenal sama sindikat kaya gitu" kataku.


"Gue gak tau dia sindikat, dia buronan. Gue sama sekali gak tau kak" katanya.


"Kalau gitu, sekarang juga lu ikut gue ke kamar Raina. Lu ngaku disana, lu minta maaf sama dia dan lu janji kalau lu gak akan pernah muncul depan dia lagi" kataku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Fasyapun menurut, dia mengikuti langkahku untuk menemui Raina.


.............................................


"Maaf Rain, aku sama sekali gak ada maksud buat jahatin kamu sampe kaya gini. Aku gak tau kenapa, semuanya bisa kebetulan begitu..."


Fasya menjelaskan semuanya pada Raina, dan Raina terlihat masih ketakutan saat melihat Fasya.


Tangannya bahkan tidak mau melepaskan tanganku sebentarpun.


"Aku gak mau liat muka kamu, anggap aja kita gak pernah ngalamin ini. Aku gak mau juga punya masalah sama kamu. Jangan pernah liatin muka kamu lagi depan aku, sekarang kamu pergi" kata Raina.


Aku ingat betul, kejadian terakhir saat Fasya menarik tangan Raina hingga dia kesakitan. Tubuh Raina bergetar dan sangat ketakutan.


Dia benar-benar tidak mau bertemu dengan Fasya lagi.


Raina bahkan memalingkan wajahnya dan memelukku tanpa mau melihat wajah Fasya lebih lama lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sore harinya, Ibu dan Recca datang membawakan banyak makanan kesukaan Raina. Sementara aku mengambil waktu untuk pulang ke kosan sebentar.


"Bu, Iyas pulang dulu ya? Kebetulan Iyas juga mau ke laundry nganterin baju cucian udah banyak" kataku.


"Daripada ke laundry mending kamu bawa cuciannya kerumah, Randy juga lagi nyuci baju dirumah. Kalian bisa barengan dan bisa selesei lebih cepet" kata Ibu.


"Iya kak, bener kata Ibu. Lagian kan harusnya ke laundry itu tugas aku. Sekarang aku yang minta tolong Randy deh, buat bantuin kakak" katanya.


"Iya udah boleh, aku kerumah kamu aja. Yaudah bu Iyas pamit sebentar ya. Oya, Ayah juga mau kesini katanya udah deket. Kalau ada apa-apa kabarin Iyas aja" jawabku.


................................................


Sesampainya dirumah Raina dan setelah mengambil cucian di kosan.....


"Wih maaf ya Ran jadi ngerepotin" kataku.


"Gakusah sungkan kak, nyucinya pake mesin ini haaha" jawab Randy.


Randy ternyata benar-benar mencucikan pakaian kotorku, dia malah terlihat sangat mahir saat mencuci baju dan mengeringkannya. Belum lagi, dia harus bulak balik grosir untuk melayani pembeli.


Aku salut pada kerja sama dalam keluarga ini, semuanya saling bahu membahu untuk membersihkan rumah, berjualan dan menggantikan tugas satu sama lain.


"Kak, denger-denger gak jadi ya balik ke Palembang?" tanya Randy.


"Iya ran, gak jadi soalnya ya khawatirlah sama teteh kamu" jawabku.


"Teteh emang lagi banyak banget diuji tau kak, ya tapi salut aja sih soalnya teteh bisa bertahan dengan semua kesibukannya" kata Randy.


"Iya Ran, nasib jadi mahasiswi serba bisa ya begitu" jawabku.


Randy memintaku untuk menjaga tetehnya dengan baik, menurut Randy tetehnya adalah kakak terbaik di dunia.


"Dulu pas kecil, kita masih susah banget. Ayah gak bisa kasih kita makanan enak. Jadi, tiap Ayah beli ayam goreng cuma satu. Teteh pasti bilang kalau dia gak suka ayam. Biar ayamnya dikasihin ke aku. Beruntungnya sekarang, Recca sama aku gak ngalamin apa yang teteh alamin dulu" kata Randy bercerita.


"Belum lagi, dulu teteh sering ngalah sama aku. Sepatu kita berdua udah sama-sama rusak, tapi teteh gak pernah minta ganti sepatu baru. Dia malah selalu minta Ayah beli sepatu aku aja. Padahal kondisi sepatu dia lebih rusak. Makanya, aku sayang banget sama teteh. Meskipun sekarang dia galak, tapi dia tuh aslinya lembut dan penyayang"......


Aku menyimak cerita Randy dan memahami betapa Randy sangat menyayangi Raina.


Sesekali, Randy akan juga akan terlihat menahan tangisannya. Membayangkan bahwa kemarin adalah saat terakhirnya bisa melihat tetehnya di dunia ini.


Masih jelas di ingatanku, Randy tertunduk dan sangat lesu saat mendengar kabar dari dokter bahwa Raina kekurangan darah.


"Udahlah ran, semua udah lewat kan? Kedepannya kak Iyas janji akan jagain teteh kamu lebih baik lagi" kataku.


Randy memelukku, seperti seorang adik kandung yang menghormati kakaknya.


Pelukan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya....


Seumur hidupku, aku hanya sendirian. Bangun dan pergi tidur sendirian. Makan dirumah tanpa ada keributan seperti disini.


Aku benar-benar tidak punya pengalaman semanis yang dialami Raina, Randy dan Recca dirumah ini.


Sekarang, aku tahu apa alasan Tuhan mempertemukanku dengan Raina dan keluarganya.

__ADS_1


Raina dan keluarganya bak api unggun yang tetap bisa menyala di tengah-tengah hutan rimba yang liar dan dingin. Akulah rimbanya, akulah yang dingin dan beku itu. Aku merasakan sendiri kehangatan yang terpancar dari keluarga ini.


"Ran, kamu punya ide gak? Kira-kira kakak buka bisnis apa ya?" tanyaku.


"Hmmm kuliner sih yang lagi hype mah, tapi ya tergantung passion kakak" jawabnya.


Aku dan Randypun tanpa sadar membicarakan banyak hal tentang rencana bisnis dan semuanya.


Randy ternyata sangat bisa diajak berdiskusi dan mengobrol seperti orang dewasa.


"Ran, kira-kira sekitaran sini ada kosan gak ya? Kayanya seru deh kalau pindah deket sini. Bisa lebih deket ke Raina dan bisa numpang makan enak" kataku sambil tertawa.


"Hahahaha, ada kalau gak salah soalnya kan dibelakang ada stikes gitu jadi ada kos-kosan khusus mahasiswa juga kayanya" jawab Randy.


"Cariin lah Ran hahahaha mau gak?" bujukku.


"Gak usah disuruh juga aku cariin secepatnya kak" jawabnya.


Menjelang malam, aku kembali kerumah sakit dan meminta Randy untuk menyimpan pakaian keringku karena aku tidak sempat pulang ke kosan lagi.


Ayah dan Ibu juga sudah menelpon, bahkan mereka bersikeras ingin menunggui Raina dirumah sakit. Tapi, aku melarang karena Raina sudah menceritakan kebiasaan anggota keluarganya setiap malam. Aku jadi tidak tega, dan lagi aku tidak mau melewatkan satu malampun tanpa menunggui Raina.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya.......


"Kak, aku udah bisa duduk loh terus aku juga bisa berdiri sebentar terus aku juga udah bisa .....


"Jangan banyak ngejelasin dulu, kamu istirahat aja dulu. Jangan dipaksain gerak berlebihan, nanti kalau badan kamu udah enakan bener juga bisa ngelakuin semuanya" kataku memotong perkataannya.


"Tapi aku bosen disini, aku mau pulang pokoknya dia hari lagi aku mau pulang. Aku mau dirawat dirumah, aku mau tidur dikamarku. Aku gak mau jadi pasien yang gak bisa ngapa-ngapain" katanya sambil menangis.


Aku jadi merasa bersalah karena tidak mau mendengar harapannya untuk segera pulang dan dirawat dirumah.


"Iya-iya, besok kita belajar jalan ya? Terus kalau hasil periksa dari dokter udah bagus dan kamu diizinin pulang, yaudah kita pulang" kataku menetralkan suasana.


Dia berhenti menangis dan menarik tanganku.


Memelukku dan berkata:


"Kalau aku udah pulang, kakak kan bisa segera berangkat ke Palembang. Kakak bisa kerja di perkebunan dan ngelanjutin bisnis keluarga disana. Kakak gak akan jadiin aku alasan lagi untuk gak berangkat kesana".....


Aku mendiamkannya dan tak membantah perkataannya saat itu. Meskipun sebenarnya aku sangat ingin menceritakan rencanaku untuk pindah ke dekat rumahnya, membangun bisnis di Bandung dan melanjutkan kuliah s2-ku disini.


"Maaf ya, nanti biar semuanya jadi kejutan aja buat kamu" batinku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua hari setelahnya .....


Perkembangan Raina sangat baik...


Dia sudah bisa berjalan meski sangat pelan dan belum seperti biasanya, kepalanya sudah tidak pusing dan dia diperbolehkan mandi.


Raina sangat senang dengan keputusan dokter yang mengizinkannya pulang dua hari lagi.


"Waaaah pokoknya, aku seneng banget bisa cepet pulang" katanya.


"Iya syukur ya, tapi dirumah kamu juga harus istirahat total. Kalau bisa jangan dulu tidur dikamar atas, biar kalau mau makan atau ngapa-ngapain gak perlu turun dan capek" kataku.


Kemarin, Randy memberitahuku bahwa ada kosan yang kosong dan cukup besar untuk bisa kutempati dengan Dhika.


Ya Dhika, dia juga mau memulai studi s2nya bersamaan denganku. Makanya dia sudah pindah kosan ke Bandung, secara kebetulan aku mengajaknya pindah bersamaku. Dia sangat setuju.


Randy bilang, dia akan mengurus kepindahanku hingga selesai. Jadi, aku tetap bisa fokus menjaga Raina dirumah sakit. Selebihnya hanya Randy dan aku yang tahu, tempat kosan baruku yang hanya berjarak 5 menit kerumah Raina.


"Yas, lu udah bilang sama Raina kalau kita pindah kosan ke daerah situ?" tanya Dhika.


"Belum lah, lu jangan dulu bilang ya? ini kan kejutan buat Raina" jawabku.


"Aaah siap, yaudah gue mau bantu si Randy deh beresin barang dan ngangkut-ngangkut ke kosan baru" kata Dhika.


"Iya gih, sorry ya gue nyuruh. Jangan dulu cerita ke siapa-siapa lah intinya" kataku.


"Siap, yaudah cabut ya" pamit Dhika.


Akupun kembali keruangan Raina dan mendapatinya sedang berdiri dan menyisir rambutnya. Dia sangat bersemangat menuju kepulangannya.


"Dek, udah istirahat dulu" kataku.


"Satu sisi aku seneng banget bisa pulang kerumah, tapi sisi lain aku sedih karena gak bisa ditemenin kakak semaleman lagi kaya disini" katanya.

__ADS_1


__ADS_2