Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Malam sastra II


__ADS_3

Para penampil satu persatu mempertontonkan kebolehannya, ada teater dari UKM pecinta sastra, live perkusi dari jurusan seni musik dan tinggal menunggu acara inti dari sastraisme dan penampil akhir yang paling ditunggu-tunggu. Band lokal kenamaan.


Sesaat sebelum acara puncak, aku dan Irish sempat kelelahan dan kehabisan suara karena terus menerus berteriak hampir selama satu jam lamanya. Belum lagi kami juga harus melakukan sesi foto dan wawancara dengan berbagai media lokal yang datang malam itu.


Saat diberikan istirahat selama satu jam dan bergantian membawakan acara dengan host yang lain, aku mendatangi sahabat-sahabatku yang sedang duduk dan mengobrol dengan serunya.


"Haiiiiii" .....


"Rain, suara kamu mau serak ya?" tanya Hanifa.


"Iyahaha serak banget malah, tadi udah minum jahe hangat masih gini aja" kataku.


Mereka memuji penampilanku, katanya suaraku lantang dan aku terlihat cantik.


Akupun duduk disamping Kak Iyas. Dia melihat kakiku sepertinya ingin memastikan bahwa kakiku baik-baik saja setelah tragedi di video tadi. Belum lagi, sepanjang acara aku melihatnya memperhatikan sepatu heelsku yang cukup tinggi ini.


"Pegel ya? Buka dulu deh nyeker" katanya sambil membukakan sepatuku.


Aku memegang tangannya untuk melepaskan ketegangan yang menjadi beban selama aku di panggung tadi.


"Serius deh, aku pas tegang tadi pinginnya meluk kakak" kataku.


"Bukannya meluk Nicko?" katanya sambil tertawa.


"Hahaha cemburu ya sama kak Nicko?" ledekku.


Entah kenapa, aku senang saat melihat ekspresi wajah Kak Iyas yang terkesan cemburu ketika aku menyebut nama Kak Nicko didepannya.


Meski sebenarnya, Kak Iyas masih menang telak dari kak Nicko. Pacarku masih lebih baik segala-galanya.


"Rain, si kak Nicko itu dari deket cakep banget ga?" tanya Nunu.


"Ya gitulah, biasa aja sih cuma emang menarik soalnya bersih banget" jawabku.


"Duh kalian cuco tau gak pas video itu" sahut Hasan.


Kak Iyas menjitak kepala Hasan dan terlihat tidak suka pada perkataan Hasan meskipun dia sambil tertawa.


"Hahaha sorry ka, lagian si Raina mana bisa berpaling dari lu. Lu lebih ganteng kali dari dia" kata Hasan.


"Yas yas.... Nasib punya cewek kaya Raina ya? Banyak banget saingannya" ledek kak Dhika.


Saat sedang mengobrol dengan mereka, kak Nicko tiba-tiba datang mencariku dan membawakan segelas air.


"Dek, ini lemon tea biar suaranya gak serak. Minum dulu" katanya.


Aku melihat ekspresi Kak Iyas disebelahku dan memegang pipinya.


"Iya kak, makasih ya" kataku.


Kak Nicko pun pergi dan membuat suasana menjadi gaduh. Semua teman-temanku yang datang menyurakiku sekaligus meledek Kak Iyas.


"Gak apa-apa kan aku minum?" tanyaku.


Dia mengambil gelasnya dan meminumnya sampai habis tanpa sisa.


Ekspresi wajahnya jadi suram dan berubah drastis.


"Gue cabut ya dhik, gue lupa ada urusan" katanya sambil berlari.


Aku mengejarnya, sambil bertelanjang kaki. Aku tahu mungkin dia marah atau tidak suka dengan sikapku yang mengambil segelas lemon tea pemberian Kak Nicko tadi.


"Kak, jangan marah dong. Kak mau kemana?" teriakku.


Dia berlari kearah parkiran yang gelap, aku mati-matian mengejarnya hingga tak terasa telapak kakiku sakit mungkin kakiku menginjak sesuatu.


Saat aku berteriak, dia baru berhenti dan berbalik kearahku.


"Kaki aku sakit, kakak mau kemana sih?" tanyaku.


Dia membangunkanku dan menggendongku untuk masuk ke mobilnya.


Aku menyalakan senter di ponselku dan berusaha melihat luka di kakiku. Kak Iyas menahan tanganku dan membiarkan dia yang melakukannya.


"Ngapain sih ngejar-ngejar segala? Kan jadi luka begini" katanya.


"Ya kakak kenapa pergi gitu aja? Ada urusan apa sih? Marah sama aku ya?" gerutuku.


"Pertama karena aku mau ngambil bunga, kedua emang aku kesel karena si Nicko itu berani-beraninya ngasih kamu minuman depan aku" jawabnya.


"Bunga? Bunga buat siapa?" tanyaku.


"Buat kamulah, buat siapa lagi? meski udah gak mood ngasihnya" jawabnya.


Aku melihat sebuke bunga di kursi belakangnya,


bunga lily kesukaanku.


"Ayo foto dulu yu, fotoin aku lagi megang bunga dari kakak terus kita foto berdua" ajakku untuk memperbaiki suasana hatinya yang berantakan.


"Luka kamu dulu aku obatin" gerutunya.


"Alah nanti aja dirumah, aku kan harus ngehost lagi. Ayo ah foto dulu" bujukku.


Kami mengambil foto selfie berdua didalam mobil, dia juga mengambil foto pribadiku sedang mencium bunga darinya.

__ADS_1


"Aku posting ya di stagram, biar orang pada tahu kalau pacar aku romantis" kataku.


Dia tersenyum dan mencubit pipiku.


Baguslah, setidaknya suasana hatinya membaik dan dia bisa tersenyum lagi. Aku yang salah, tidak seharusnya aku menerima pemberian kak Nicko dihadapannya meskipun itu hanya segelas lemon tea.


"Maaf ya kalau kakak sakit hati" kataku.


"Gak ko, aku aja yang terlalu sensitif. Rasa-rasanya aku gak rela aja kalau ada orang lain yang merhatiin kamu" jelasnya.


Setelah lukaku diberi sedikit obat merah dan plester kecil, dia menggendongku di punggungnya.


"Yu aku gendong kesana" ajaknya.


Di jalan, dia sempat menanyakan dan terlihat khawatir tentang rekaman siaranku di ruangan angker itu yang akan dilaksanakan sekitar pukul 10 malam nanti.


"Kakak masuk aja, Irish juga bawa pacarnya ko ke ruangan soalnya kan serem kalau pulang malem" kataku.


"Iya, nanti aku ngintilin kamu terus" jawabnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di tribun, teman-temanku terlihat kaget setelah menyadari Kak Iyas menggendongku dari arah parkiran.


"Hmmm sosweetnya, tapi alay gak sih mereka?" ledek Kak Dhika yang disambut dengan tertawaan yang lain.


"Nih Rain sepatunya, cepet pake udah ditungguin Irish tuh" kata Nunu.


"Yaudah ya, aku balik kesana dulu. Doain ya semuanya" kataku.


Acarapun terus berlanjut, aku sebenarnya sudah cukup kelelahan karena terus menerus berteriak dan menjaga mood penonton agar terus bersemangat.


Hingga akhirnya, acarapun selesai....


Tibalah saatnya, aku dan Irish melakukan rekaman siaran untuk diputar esok hari.


Kak Iyas menepati janjinya, dia mendatangi backstage dan menemuiku.


Kak Nicko bahkan mengajaknya berkenalan, begitu juga kak Abbi.


"Oh Kak Andreas ini pacar kamu" kata Kak Abi.


"Iya kita udah jalan dua tahun" jawabku.


Ternyata, kak Abbi dan Kak Nicko sudah mengenal kak Iyas sejak dulu. Mereka satu UKM basket. Kak Iyas adalah senior mereka.


"Ayo rain, kita ke ruangan" ajak Irish yang juga datang bersama pacarnya.


Ekspresi kak Abbi saat itu berubah suram, terlihat sekali raut kekecewaan di wajahnya saat tahu Irish ternyata sudah memiliki pacar.


Kak Iyas menuntun jalanku, karena dia tahu sedari tadi aku menahan sakit dikakiku selama berdiri di panggung.


"Kenapa gak gendong aku lagi?" ledekku.


"Berat sayang" jawabnya.


Selama siaran, kulihat Kak Iyas dan pacarnya Irish Kak Jeje terlihat akrab. Mereka berdua mengobrol dengan santainya.


Rekamanpun selesai, aku dan Irish diperbolehkan pulang.


Beruntungnya aku bisa menjadi bagian dari duta kampus, dimana aku bisa bergabung menjadi host dengan para penyiar radio lokal ternama.


Meski rasanya sangat menantang membuatku cukup kesulitan saat harus terus berbicara didepan banyak orang.


Sebelum itu, aku dan Irish harus mematikan semua alat elektronik di ruangan. Memastikan bahwa tidak ada satupun yang menyala. Membereskan ruangan dan memasukkan stand banner ke dalam gudang.


Kak Iyas dan Kak Jeje membantu kami.


Setelah selesai, semua orang sudah pulang dan hanya tinggal kami berempat diruangan.


Hingga akhirnya kami keluar dari ruangan siaran untuk pulang.


"Gak serem ya lewat lorong ini kalau banyakan" kataku.


"Oh jadi kamu sama takutnya kaya Irish" sahut kak Jeje.


"Iya nih si Raina juga udah parno duluan lewat sini, tapi dulu pas gue masih mahasiswa disini emang nih lorong terkenal banget seremnya" jawab Kak Iyas.


"Tuhkan, aku gak bohong. Emang bener gedung ini tuh khusunya lorong ini, nyeremin tau. Bayangin deh pas tadi aku sama Raina siaran terus kalian gak ada, terus kita kebelet terus gak ada yang anter ke kamar mandinya. Ihhhh serem aja pokoknya" kata Irish.


"Iya bener, kalau ada yang nemenin kan tenang ya rish?" sahutku.


Kamipun sampai didepan lorong itu, ya benar hanya kami berempat.


Kak Iyas menarik tanganku dan mendekatkan jarak kami berdua. Begitupun Irish dan Kak Jeje.


Memang bulu kudukku merinding saat melintasi lorongnya, mungkin karena suasana sudah sangat sepi dan lampu-lampu sekertariat BEM masing-masing jurusan kebanyakan sudah dimatikan.


"Jangan liat kemana-mana, pandangannya lurus aja kedepan" kata kak Iyas.


Padahal, saat itu ujung mataku menangkap sebuah objek berwarna merah di belakang kami saat aku menoleh ke belakang.


Beruntungnya, Kak Iyas dengan spontan mengalihkan fokus pandanganku kedepan.


Hingga kami tiba di parkiran dan berpisah dengan Irish dan Jeje disana....

__ADS_1


"Ahhhh akhirnya bisa buka heels" kataku lega.


"Pake sandal jepit yang ada di kursi belakang aja" katanya.


Setibanya dirumah.....


"Makasih ya buat hari ini" kataku.


"Sama-sama, kamu istirahat ya langsung tidur" katanya.


Sesaat sebelum keluar dari mobilnya, aku mengambil bunga pemberiannya dan mengambil kesempatan untuk mencium pipinya lalu berlari kedalam.


"Bye kak, i love you!" teriakku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya dikampus....


"Kak Raina" teriak Erik memanggilku.


Dia terlihat kesusahan membawa gulungan kertas kalkir dan beberapa ensiklopedia.


"Mau kemana rik? Itu ko banyak banget kalkirnya" tanyaku.


"Mau ke kelas, ini titipan anak-anak" jawabnya.


Aku membantu Erik membawa barang-barang menuju kelasnya, kebetulan kelasku saat itu juga bersebelahan dengannya.


Di lift, teman-teman seangkatan Erik terlihat heboh saat tahu bahwa aku yang membantu Erik mengangkat buku-buku itu.


"Kak, saya aja yang bantuin" kata salah satu teman Erik.


"Gak usah nanggung" jawabku.


Sesampainya dikelas maru, aku melihat mereka sedang membicarakan sesuatu.


"Pokoknya kita cari tempat yang bagus buat foto-foto" teriak Rosa si sekertaris angkatan.


Aku yang mendengarnya, langsung paham bahwa mereka pasti sedang membicarakan kuliah lapangan tahap 1.


Tanpa bermaksud mengganggu dan ikut campur, aku menyela obrolan mereka.


"Ade-ade, menurut pengalaman aku kuliah lapangan tahap 1 justru yang paling berat. Kalian banyak sekali tuntutan disana, itu juga jadi pengalaman pertama kalian bekerja sebagai tim untuk menyelenggarakan perjalanan sekaligus penelitian. Hmm anggap saja itu tour. Saran aku, kalian justru pilih wilayah kajian yang bisa relate sama mata kuliah yang sudah kalian ambil di dua semester ini" jelasku.


"Tuh denger, aku udah bilang kak ke mereka kalau kita harus cari sekitaran jawa barat dulu dan jangan yang mahal biaya perjalanannya" sahut Hans.


"Oke, kemana coba? Aku tanya?" sahut Rosa.


"Ya makanya itu tujuan diskusi kalian sekarang, pilih 10 besar tujuan dengan suara terbanyak lalu setelah itu kerucutkan" kataku.


Mereka terlihat sama seperti angkatanku ketika akan berangkat kuliah lapangan untuk pertama kalinya dulu, kami banyak sekali berdebat dan sampai perang dingin saat terjadi perbedaan pendapat.


"Yaudah ya, aku pamit. Semangat adek-adek!" kataku.


"Kak makasih ya" teriak Erik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di kelas, angkatanku terlihat lebih santai saat berdiskusi tentang tujuan kuliah lapangan terakhir kami.


Kebanyakan hanya ikut-ikutan pada diskusi Nirwan, Agung, Aji dan Gian yang mengkoordinir kami.


"Fix ya Bali? Oke setelah ini kita open rekrut buat kepanitiaan. Tugasnya aku serahin ke Hanifa sama Rima ya" kata Agung.


Rasanya, aku sangat bersemangat menyambut kuliah lapangan terakhir kami. Kemanapun tujuannya, aku yakin akan sangat seru nantinya.


Tidak terasa hampir tiga tahun sudah aku dan teman-temanku yang lain tumbuh bersama di jurusan ini. Ditempa banyak hal dan melewati banyak rintangan. Semuanya bukan hanya materi semata tapi juga keringat dan bahkan darah.


"Rain, ayo dong gabung. Kamu mau daftar divisi mana?" teriak Hanifa memecah lamunanku.


"Aku mau coba jadi tim lapangan, boleh gak yah?" jawabku.


Gian dan Agung terlihat kaget, belum lagi ketiga sahabatku yang mendengarnya.


"Gak salah? duta kampus mau jadi tim lapangan? nanti kerepotan loh" kata Gian.


Sebenarnya, aku hanya ingin masuk ke divisi yang belum pernah aku ikuti sebelumnya. Di kuliah lapangan tahap 1, aku jadi bagian dokumentasi. Kuliah lapangan tahap 2, aku jadi bagian peralatan. Tidak ada salahnya kan, aku daftar menjadi bagian lapangan kali ini.


"Lapangan cuma bisa buat cowok Rain, pikirin yang lain" kata Aji.


"Lah apa dong ya?" kataku.


Mendengar Arika yang masuk ke peralatan dan Nunu yang tetap di konsumsi, aku jadi harus memilih yang lain selain dua bagian itu. Alasannya, agar kami bisa terpecah belah. Bukan apa-apa, pada kebanyakan kasus saat salah dua dari kami bersatu dalam divisi yang sama. Kami bukannya bekerja dengan baik di tim tapi malah kebanyakan bercanda.


"Yaudah deh, aku dokumentasi aja lagi" kataku.


"Asyik, kan enak kalau Raina dokumentasi nanti kuliah lapangan kita bisa-bisa masuk artikel kampus" kata Nunu.


"Promoin ya rain, siapa tau kan dapat suntikan dana dari rektor" kata Nirwan.


Posisiku sekarang sebagai duta kampus, memang sedikit banyak mempengaruhi koneksi ku dengan gedung utama. Aku mendapat akses keluar masuk lebih mudah untuk menemui pejabat universitas. Malah kalau ada urusan mendadak seperti kunjungan ke kampus lain dan audiensi mahasiswa, aku pasti diikutsertakan.


"Yaudah, siapin aja proposalnya. Siapa tau bisa aku ajuin ke kampus" kataku.

__ADS_1


"Yeay!!!!" teriak yang lain kegirangan.


__ADS_2