
Kakak!!!!!!!!!
Andreas ada didepan rumahku, dengan tiba-tiba berbalik dan tersenyum setelah aku membukakan pintunya.
"Hai, maaf ya aku telat dateng" katanya.
"Kakak ko udah pulang? Ini kan baru 8 hari liburannya???" tanyaku keheranan.
"Aku gak enak hati kalau gak ketemu kamu langsung" jawabnya sambil merangkulku.
"Maaf ya de, aku telat dan maaf karena aku gak ada di samping kamu pas kamu nangis" katanya.
Mendengar permintaan maaf darinya, aku hanya bisa menangis. Memikirkan betapa sulitnya 7 hari kebelakang yang kulalui tanpa bisa bercerita sedikitpun padanya.
Aku memeluknya seperti sudah tak berjumpa bertahun-tahun lamanya. Pelukan inilah yang paling aku butuhkan saat-saat kemarin, suara inilah yang mampu membuatku merasa tidak sendirian lagi.
"Nangis aja, lepasin semuanya jangan ada yang ditahan biar kamu lega" bisiknya sambil mengelus rambutku.
"Aku seneng kakak disini, untuk alasan apapun. Aku seneng kakak ada didepan aku sekarang. Bahkan kalau ini cuma mimpi, aku mau tidur lebih lama lagi supaya bangunnya nanti aja pas aku udah gak punya beban lagi" kataku.
"Hari ini aku bakalan nemenin kamu, kemanapun kamu gimanapun kamu dan apapun yang kamu rasain. Aku harus jadi orang pertama yang bisa kamu andelin, jangan ngerasa kamu cukup kuat untuk hadapin ini sendirian. Manusia hakikatnya butuh orang lain dalam hidupnya, dan kamu punya aku, Hanifa, Nunu, Arika dan yang lainnya. Terutama aku, yang lainnya kayanya kamu gak terlalu butuh kan?" tanyanya dengan akhir yang sedikit meledekku.
"Oh, bisa-bisanya ya pede disaat-saat kaya gini?" balasku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Haha, habis aku bingung gimana cara bikin kamu ketawa disaat-saat melow kaya gini? Oya, kaki kamu gimana? Yang luka kaki sebelah mana?" tanyanya.
"Kiri, bekas keseleo waktu di mall sama waktu jatoh di kebun teh sama kakak lukanya di kaki ini lagi" jawabku sambil menunjuk luka di kakiku.
"Kamu yakin gak perlu diperiksa? Ini udah tiga kali loh kaki kiri kamu cedera gitu?" responnya sambil berjongkok dan melihat lutut kiriku yang diperban.
"Ini luka kecil doang kali, bajret bajret dikit nanti juga kering dan sembuh ko" jawabku.
Akupun mengajak dia masuk ke rumah, dan kami duduk di sofa ruang tamu sambil membuka isi tasnya.
"Kamu tau gak? Aku dadakan pulang dan untung aja ada temenku yang mau ganti jadwal pesawat sama aku, jadi aku bisa berangkat pagi dari Palembang" katanya bercerita.
"Kakak kenapa pulang sih? Kalo cuma buat nemenin aku kayanya berlebihan" jawabku.
"Aku pulang karena pertama emang kepikiran kamu, kepikiran Ayah kamu dan lagi semalem ketua jurusan nelpon aku. Beliau minta aku untuk bantu penelitiannya buat tugas akhir profesor. Akhirnya, aku jelasin ke Ibu dan Ibu izinin aku balik kesini lagi. Oya, Ibu nitip ini buat kamu dan Ibu juga titip salam sama doain Ayah kamu semoga cepet sembuh katanya" ....
"Aku mau ngomong sama Ibu kakak di telpon tapi nanti ya kalau aku udah pikirin mateng-mateng obrolannya mau gimana terus bilangin sama Ibu makasih pokoknya makasih yang terbesar karena udah izinin Kakak balik ke Bandung lebih cepet" kataku.
"Kamu kaya mau nentuin judul skripsi tau gak? Pake mikirin mateng-mateng segala.. Oya, kita kerumah sakit yu jenguk Ayah kamu?" ajaknya.
"Ayo, aku ganti celana panjang dulu deh. Oya kakak mau minum dulu gak? Sampe kelupaan nawarin minum" tanyaku.
"Gak usah, sana ganti baju dulu kebetulan tadi aku pinjem mobil anak sebelah kamar soalnya hujan pas mau kesini. Untung aku telpon ade kamu dulu, nanya kamu lagi dimana haha jadi aku gak sok tau langsung kerumah sakit" ceritanya.
"Lah kirain aku, kakak tadi naik taksi online kesini soalnya gak ada kedengeran suara motor sih" kataku.
__ADS_1
Akupun bergegas ke kamar untuk berganti pakaian.
Di perjalanan....
"Kamu janji kan sama aku kalau kita bakal terbuka satu sama lain, mau tentang hal apapun itu?" tanyanya sambil melirikku.
"Iya aku salah, maaf aku gak cerita masalah aku kemarin ke kakak soalnya itu kan waktunya pas banget sama waktu kakak mau balik ke Palembang. Aku gak mau kakak kepikiran dan jadinya aku malah ngebebanin" jawabku.
"Tapi aku lebih ngerasa terbebani saat aku gak tahu apa yang terjadi sama kamu sampe kamu lama bales chat, gak angkat-angkat telpon dari aku dan sampe aku harus nanya sama Hanifa. Kamu bayangin deh, aku pacar kamu tapi aku gak tahu apa yang kamu lagi pikirin dan malah cari info dari sahabat kamu" jelasnya.
"Iya...maaf" jawabku kehabisan kata-kata.
"Aku maafin tapi dengan satu syarat" katanya.
"Syarat apa?" tanyaku serius.
"Jujur sama aku, uang tabungan kamu untuk semesteran depan yang kepake untuk bantu biaya Ayah kamu di rumah sakit berapa?" tanyanya.
"Emangnya kenapa? Kakak ko nanyain itu?" jawabku malah balik bertanya.
Aku heran saja, kenapa dia sampai berpikiran sejauh itu tentang uang tabunganku yang terpakai. Memang sih, sebelum liburan aku sempat cerita padanya kalau aku sedang menabung untuk membayar uang kuliahku sendiri dari hasil kerjaku berjualan online.
"Apa mungkin dia masih inget kali ya cerita itu?" pikirku.
"Woy, ko diem? Aku nanya serius loh" katanya.
__ADS_1
"Habis semua" jawabku.