Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Nunu dan Gian...


__ADS_3

Setelah memiliki banyak tanggung jawab baru untuk menjalankan amanah sebagai duta kampus, aku menjadi semakin produktif.


Dengan sedikitnya waktu yang kumilik untuk bermain atau menghibur diri, membuatku justru semakin dewasa membagi waktu.


Hampir seminggu aku bertugas menjadi duta kampus, keliling kampus tetangga kesana kemari, kunjungan ke kantor wali kota dan kegiatan lainnya.


Hari ini, aku juga sibuk di balai untuk membicarakan program kerja satu tahun kedepan bersama Irish dan pembina duta kampus sebut saja namanya Bu Nanda. Nama panjangnya Rananda, dosen sastra Jepang yang sangat berkelas. Cantik, terlihat sangat muda dan elegant.


"Oke Raina, Irish untuk sementara kegiatan kalian itu dulu rumuskan program kerja dan setelah selesai semester 5 nanti kalian akan dibimbing untuk menjadi penyiar radio kampus dan host saat MOS kampus nanti" jelas Bu Nanda.


"Baik bu" jawabku dan Irish.


Aku dan Irishpun berpisah didepan fakultas Irish,...


Hingga saat aku kembali ke jurusan, aku melihat Nunu dan Gian sedang bertengkar.


Hanifa dan Arika tidak ada disana. "mereka kemana ya?" gumamku.


Akupun tidak mau mencampuri urusan mereka dan segera kembali ke kelas.


"Dek, aku baru diizinkan berhenti akhir bulan ini sampe tutup buku. Sekitar 18hari lagi lah" kata Andreas dalam chatnya.


"Yaudah, selama 18hari itu ayo kita main ke banyak tempat?" balasku.


"letsgo!!" jawabnya.


Tak lama kemudian, Hanifa datang dan duduk disebelahku.


"Fa, tau gak sih Nunu sama Gian berantem kenapa?" tanyaku.


"Berantem? Kapan? Setauku mereka baik-baik aja" jawab Hanifa.


"Oh mungkin aku salah liat kaliya tadi, soalnya aku pikir tadi mereka lagi berantem" jelasku.


Kelaspun dimulai....


Saat itu mata kuliah Pedesaan dari Pak Yana...


"Saat ini kondisi desa-desa di Indonesia sedang disorot dunia terutama desa-desa budaya atau desa-desa adat. Salah satu alasannya karena kearifan lokal masyarakat yang masih mempertahankan peraturan leluhur mereka. Dengan tidak merubah sedikitpun bentuk rumah dan fungsi ruangannya" jelas Pak Yana.


Aku melihat betapa banyak desa wisata yang ditampilkan oleh Pak Yana di layar, terlihat sangat bersih dan indah untuk dikunjungi.


Salah satu desa yang menarik sekali adalah Desa Adat Panglipuran di Bali...


Mataku tidak berkedip melihat tampilan desanya yang bersih dan sangat rapi. Bentuk-bentuk atapnya yang seragam, penempatan pohonnya yang sejajar dan isi ruangan-ruangannya yang memiliki fungsi masing-masing.


"Gian bagus ya desanya?" tanyaku pada Gian yang duduk di sebelah kiriku.


"Hmmm gak apa-apa ko Rain" jawabnya.


Dugaanku benar, sepertinya Gian dan Nunu sedang ada masalah. Buktinya, Gian tidak memperhatikan dosen dan tidak fokus bahkan pada pertanyaan yang aku ajukan barusan.


"Eh kamu nanya apa Rain?" katanya buru-buru meralat jawabannya barusan.


"Engga jadi" jawabku.


Akupun berniat menanyakannya langsung pada Nunu, mungkin setelah pulang kuliah nanti aku akan mampir ke kosan Nunu sambil menggunting bahan canvas yang baru saja dikirim orang pabrik.


"Fa, pulangnya gunting bahan yu? Sama sekalian packing orderan yang udah beres" ajakku.


"Dikosan Nunu? Yah, aku ada janji sama ade aku. Dia minta anter beli barang soalnya" jawab Hanifa.


"Kalo si Arika bisa gak ya?" tanyaku.


"Arika kan sama Nirwan survey buat penelitian kita sama assistennya Pak Yana" jelasnya.


Akupun baru sadar bahwa kegiatan penelitian sudah menungguku, sementara disatu sisi aku khawatir pada Nunu.


"Hmm yaudah aku ke kosan Nunu sendiri ajalah, sambil nunggu kak Iyas jemput" kataku.


"Gapapa rain? Maaf ya pasti nanti kerjaannya beres berdua deh sama kamu dan Nunu" kata Hanifa.


"Gapapa mumpung aku lagi kosong" jawabku.


Setelah kelas selesai, aku meminta waktu pada Gian untuk mengobrol berdua dengannya.


"Gi, sebentar aja aku mau ngomong" kataku.


"Iya rain, ada masalah apa?" tanyanya.


"Maaf banget, tapi ini soal kamu sama Nunu... Kalian ada masalah ya? Tadi aku liat kalian berantem" tanyaku.


"Engga ko, cuma salah paham tapi Nunu masih belum ngerti" jawabnya.


"Hmm kamu gak mau minta tolong aku gitu?" tanyaku.


Gianpun menceritakan duduk permasalahannya, semalam Gian menemani Kayi ke sebuah festival jepang. Gian sudah bilang dan izin pada Nunu, tapi Nunu tidak mengizinkan. Namun kenyataannya Gian malah tetap pergi dengan alasan Kayi sudah membeli tiketnya.


Nunu tidak terima dengan kebohongan Gian. Akhirnya, Gian merasa Nunu berlebihan soal Kayi dan mereka berdebat soal itu.


"Yaelah kamu, kenapa juga mesti pergi sih? Nunu kan marah juga pasti karena dia kecewa kamu gak nurut sama dia" kataku.

__ADS_1


"Tapi rain, Kayi itu kemarin juga ada perlu sama aku buat ngobrolin sesuatu" jelasnya.


"Sesuatu apa? Rahasia juga?" tanyaku.


"Bukan rain, tentang dia minjem uang buat bayar semesterannya ke aku" jawab Gian.


Aku terdiam mendengar jawaban Gian. Tidak menyangka bahwa Gian masih mau menolong Kayi sebegitunya.


"Di festival juga dia gak lama cuma ngasih tiket masuk ke aku dan dia langsung bantu temennya anak bahasa jepang buat jualan. Sisanya aku keliling-keliling sendiri" jelas Gian.


Aku mengerti letak kesalahpahaman mereka. Bisa saja mereka saling marah hanya karena keduanya tidak mau menjelaskan atau mendengarkan satu sama lain.


Gian malas menjelaskan detailnya dan Nunu malas menanyakan kejadian yang sebenarnya. Mereka berdua saling menyimpulkan satu sama lain.


"Yaudah deh, aku coba jelasin ke Nunu nanti ya" kataku.


Akupun segera pergi ke kantin untuk menemui Irish dan meminta beberapa foto saat final duta kampus untuk kukoleksi secara pribadi.


Di kantin, semua mahasiswa mengenali kami.


"Rish, aku kemarin ikut nonton kampanye kamu loh tentang bullying di youtube kampus"


"Rain, aku udah donasi buat panti asuhan yang kamu rekomendasiin di stagram kamu"


Semua hal-hal baik yang baru saja aku dengar dari teman-teman baruku, membuatku sadar bahwa pergerakanku kini tidak hanya untuk diriku sendiri tapi juga diikuti oleh orang lain.


Senang rasanya saat bisa memberikan dampak positif bagi banyak orang, terlebih aku bisa memberikan dampak nyata setelah terpilihnya aku menjadi duta kampus.


"Ini filenya Rain, kamu bawa aja flashdisknya tapi besok kamu balikin ya? Soalnya ada file tugas yang harus diprint" kata Irish.


"Eh kamu masih lama gak? Kalau masih, mending aku salin aja dulu filenya ke laptopku jadi flashdisknya bisa kamu bawa lagi" kataku.


"Nah yaudah gitu aja, sini duduk aku tungguin. Mau pesen makan atau minum gak?" tanya Irish.


"Hmm bolehdeh, jus jeruk" kataku.


.....................


.................................


Setelah selesai menyalin file, aku dan Irish berpisah. Irish pulang ke kosannya di sebelah barat perpustakaan, sementara aku pergi ke kosan Nunu.


"Nu, udah balik kan?" tanyaku dalam telepon.


"Iya udah ko, kenapa Rain?" jawabnya.


"Aku ke kosan kamu ya, packing orderan. Mau nitip makanan gak?" kataku.


Nunu memang benar-benar galau, buktinya dia yang biasanya sangat senang saat ditawari makanan bisa menjadi tidak bersemangat dan berkata dia sedang tidak nafsu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah sampai di kosan Nunu...


Nunu sedang packing orderan sendirian sambil mendengar dan mengeraskan lagu dari ponselnya.


"Wey galau ya? Mojok sambil ngelamun, dengerin lagu galau lagi" teriakku.


"Hahaha gak ko, lagi ngadem aja di pojokan" katanya.


Akupun memancing Nunu dengan menceritakan kekhawatirkanku tentang kepindahan Andreas.


"Nu, 18 hari lagi kak Iyas beneran berhenti kerja dan pindah ke Palembang" kataku.


"18 hari? Secepet itu? Pasti kamu kesini buat ngegalau juga kan" ledeknya.


"Engga sih, aku gak galau mungkin aku cuma terlalu perasa aja soalnya udah takut duluan" jawabku.


"Takut LDRan? Hahaha wajar sih, kalian kan gak bisa dipisahin satu sama lain" katanya.


"Iya, kaya kamu sama Gian juga kan lengket" kataku.


Ekspresi wajah Nunu tiba-tiba saja berubah, dia malah terlihat tidak senang saat aku menyebut nama Gian didepannya.


Lalu, dia mengambil ponselnya dan memperlihatkan history chatnya dengan Gian padaku.


"Nih liat, Gian baru aja bohongin aku" kata Nunu.


Aku membaca history chat mereka dan benar saja dugaanku, mereka berdua memang tidak ada yang mau menjadi pendengar dan keduanya lebih senang berbicara satu sama lain.


"Nu, inu urusan Kayi? Kamu emang gak suka dia jalan sama Kayi atau karena Gian bohong sama kamu?" tanyaku.


"Kalau urusan jalan sama Kayi sih aku gapapa, tapi masalahnya Gian bohong. Dia bilang gak akan pergi berdua sama Kayi, tapi nyatanya hari itu semua temen kosan Gian ada dikosannya. Jadi Gian gak bisa ngelak dari aku dong?" jelas Nunu.


"Nu, aku tahu sih kalau dibohongin tuh udah masalah yang serius dalam suatu hubungan. Tapi, kamu udah tau belum alasan Gian ketemu berdua sama Kayi di festival?" tanyaku.


"Aku gak peduli, yang jelas kalau dia bohong ya dengan alasan apapun tetep dia yang salah" gerutu Nunu.

__ADS_1


"Nu, jelaslah Gian pergi berdua. Gian itu justru baik karena nggak ngajak temennya, orang Gian ketemu sama Kayi tuh karena Kayi ada perlu sama Gian. Kayi mau minjem uang buat bayar semesteran, kayi inget kalau Gian suka sama hal yang berbau jepang dan kebetulan Kayi lagi kerja bantuin temennya jualan di festival itu. Makanya, Kayi ajak Gian kesana" jelasku.


Nunu terlihat mendengarkan ceritaku dengan seksama, dia seperti mencerna satu demi satu kata yang keluar dari bibirku.


"Kenapa kamu tau na?" tanya Nunu.


"Taulah, orang Gian tadi cerita ke aku. Maaf ya Nu sebenernya aku liat kalian berantem sebelum lanjut kelas tadi, terus pas belajar si Gian ngelamun dan keliatan gak fokus. Aku tanya A dia jawab B pokoknya kaya bukan Gian banget" kataku.


"Ohya? Terus-terus?" tanyanya.


"Yaudah aku tanyain deh kejadian sebenarnya gimana. Terus aku janji sama Gian mau bantu jelasin ini ke kamu" kataku.


Nunu langsung menelpon Gian saat itu juga, kudengar Nunu meminta Gian datang ke kosannya.


"Gimana nu?" tanyaku.


Nunu mencubit kedua pipiku dan berterimakasih.


"Rain, thankyou banget karena kamu udah jelasin ke aku. Hampir aja Rain aku mau labrak si Kayi, terus hampir juga aku marahin Gian" katanya.


"Iya sama-sama, sebenernya sih tujuan aku kesini yang utamanya itu nu hahaha" jelasku.


"Kesel, aku emang gini kurangnya gak mau dengerin. Gian juga gak inisiatif jelasin jadinya kita malah kemakan emosi dua-duanya" kata Nunu.


Tak lama, Gian datang dan mereka berdua sudah langsung akur satu sama lainnya.


"Woy, jangan mesra-mesraan depan aku dong" gerutuku saat melihat Gian dan Nunu bermanja-manjaan.


"Hahaha thankyou ya Rain, udah bantuin aku" kata Gian.


"Iya sama-sama, oya si Kayi kenapa bisa sampe minta pinjem uang semesteran sama kamu gi?" tanyaku.


Gianpun menceritakan semuanya, kalau Kayi tidak sengaja memakai uang semesterannya untuk mengembalikan uang yang dia pinjam dari Rani beberapa bulan sebelum hubungan mereka renggang.


"si Rani tiba-tiba nagih, padahal si Kayi gak pernah merasa minjem uang. Itusih Rani bilangnya traktiran dan si Rani gak pernah itung-itungan pas mereka masih sahabatan deket. Eh sekarang setelah jauhan malah minta si Kayi bayar" jelas Gian.


"si Rani tuh beban idupnya apa aja sih? Sampe demen banget cari masalah sama orang" kata Nunu.


"Ada-ada aja ya, kasian juga si kayi. Mana dia bilang kalau Ayahnya lagi sakit kan?" tanyaku.


"Iya rain, dan bulan ini juga dia gak dikirim uang. Kondisinya kemarin aku untung ada tabungan, jadi bisa nolong sedikit. Cuma ya kasian aja, dia sehari-hari darimana coba" kata Gian.


Aku dan Nunupun berinisiatif untuk melakukan patungan dan menolong Kayi. Mengingat kami sudah punya usaha sendiri dan memiliki penghasilan lumayan bulan ini.


Aku langsung mengabari Hanifa dan Arika, mereka berdua setuju untuk membantu Kayi segera.


"Yaudah rain, kita patungan 200 aja perorang gimana?" tanya Nunu.


"Iya nu boleh, tapi gimana ya kalau aku rekomendasiin Kayi buat dapet bantuan ke founder penggalangan dana yang aku lagi kampanyein itu?" kataku.


"Nah bagus tuh Rain, aku setuju" jawab Nunu.


"Tapi masalahnya si Kayi marah atau tersinggung gak ya?" tanyaku.


Nunu dan Gianpun terdiam dan tidak dapat menjawab pertanyaanku.


"Yaudah, aku kasih kalian berdua tugas deh. Kamu nu sama Gian, besok harus ngobrol sama Kayi. Gimanapun caranya, kalian harus ngulik dari Kayi" kataku.


"Okedeh, kalau untuk bantu Kayi sih gak masalah. Asal jangan berhubungan sama si Rani aja" jawab Nunu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah urusan di kosan Nunu selesai, aku menelpon Andreas dan memintanya menjemputku.


"Aku baru keluar nih, langsung ke kosan Nunu aja jadinya?" tanyanya.


"Iya, aku nunggu di kosan Nunu aja. Kakak hati-hati ya" kataku.


Tak lama Andreas datang...


"Kamu lagi jadi obat nyamuk ya?" ledek Andreas saat melihatku duduk di depan kosan Nunu sendirian dan mereka didalam.


"Hahaha, iya nih jadi obat nyamuk" jawabku.


Nunu dan Gian menyapa Andreas dan memintanya membuat farewell party sebelum kepindahannya ke Palembang.


"Iya nanti deh, pasti bikin ko kecil-kecilan lah di kosan ya?" katanya.


Setelah itu, akupun pamit pulang pada Nunu..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Didalam mobil, aku menceritakan masalah yang terjadi antara Gian dan Nunu padanya. Dia hanya tertawa dan berkata bahwa aku dan Nunu memiliki kesamaan sifat saat cemburu yakni tidak mau mendengarkan penjelasan orang terlebih dahulu serta gengsi bertanya duluan.

__ADS_1


Lalu, aku juga menceritakan kondisi Kayi. Dia malah bilang "Yaudah, aku ikut patungan deh. Gimanapun kan si Kayi adik tingkat aku, kalau aku bisa bantu ya kenapa engga"...


__ADS_2