
Mendengar kabar bahwa Praya memakai fotonya yang sedang berdua dengan Andreas menjadi profil socmednya, aku agak menciut. Awalnya aku ingin membuka diri pada Andreas ya setidaknya untuk jadi teman yang lebih dekat. Tapi sepertinya Praya kali ini memang ambil langkah yang tegas.
Mungkin Praya takut kalau Andreas kepincut adik tingkatnya, mengingat Andreas memang paling menarik diantara rekan-rekan lain di Ormawa.
"De, kamu ada tugas peta DAS ya? Gimana udah ngerti? Kalau belum bilang aja ya nanti aku bantu" begitu pesan singkat yang dikirimkan Andreas ketika jam kosongku.
Lalu aku cuma membalas "Aku ngerti ko kayanya" jawabku.
Andreas lalu membalas lagi "Yaudah kalo ada yang gak ngerti atau ada mata kuliah yang deadline tugasnya cepet dan kamu stress bilang aja ya haha".
Bisa-bisanya Andreas berkata begitu, padahal terakhir kami mengobrol harusnya Andreas menjelaskan atau mungkin menanyakan sesuatu padaku.
.
.
..
Setelah perkuliahan selesai....
"Na.... Kita kerjain peta DAS di kosan Nunu yu?" ajak Hanifa.
"Nunu yang di deket SD bawah itu?" tanyaku.
"Iyaa dia punya banyak tinta nanti kita patungan aja buat beli dari dia" sahut Arika.
"Oke ayok!" jawabku.
Sesampainya di kosan Nunu, kami bertiga malah pesen baso depan kosannya Nunu lalu kami makan rame-rame dan tidak lupa "mengkhayal".
Hanifa yang jago desain mengajakku dan Arika untuk buka usaha kecil-kecilan, misalnya jual totebag printing, topi, jaket atau jasa titip barang. "desainnya sederhana aja kek kata mutiara singkat atau mungkin satu ikon gambar yang lagi hits, kita buka official akunnya di instagram terus kita promosi abis-abisan di lingkungan kampus" jelas Hanifa.
"Wah lumayan keknya buat nambah duit jajan" kataku.
"Hmmm boleh-boleh fa!!! Tapi kita bagi tugas dulu mendingan siapa bagian ini itunya" sahut Arika.
"Eh ikutan dong! Aku juga mau dong!" teriak Nunu dari dalam kamar kosnya.
.
.
.
.
Nunu ini salah satu teman dekat baru kami, menurut Hanifa si Nunu ini nyablak dan polos terus mukanya juga lucu bisa naikin mood orang yang melihatnya. Kalau menurut Arika, Nunu ini bisa direkrut karena orangnya berani malu dan gak jaiman terus Nunu juga salah satu yang tidak menyukai geng singkong. (itusih sebenarnya yang paling penting)....
.
.
.
.
Lama kelamaan kami jadi sering kumpul berempat, kami juga sering hang out ke mall kalau kelas beres lebih awal dan sering nonton film baru yang sedang tayang.
Nunu jadi bumbu baru dalam persahabatan kami. Ibarat katanya Hanifa itu ketua yang mengayomi, cantik, banyak bakat dan berani... sementara itu Arika sompral, tanpa ampun dan charming terus kalau Nunu ya cantik menarik sembrono tapi moodbooster...
Mereka bertiga membuat kehidupan kampusku berwarna dan menyenangkan setiap harinya. Yaa meskipun cuma aku dan Nunu yang jomblo saat itu, jadi kalau malam minggu pasti aku hanya akan makan berdua dengan Nunu di kosannya terus kalau sudah jam 9 aku pulang. Berbeda dengan Arika dan Hanifa yang sibuk dengan pacarnya masing-masing.
.
.
.
Awal merintis usaha olshop custombag...
Kami membagi tugas masing-masing dengan kesepakatan bersama.
__ADS_1
Hanifa sebagai designer dan pemegang akun.
Arika sebagai seller dan admin 2.
Aku sebagai pemegang uang dan admin 1.
Nunu sebagai seller dan stocker.
Awal mulanya kami hanya mampu mengumpulkan modal 2 juta dengan patungan 500ribu perorang. Modalnya kami belikan tote canvas polos warna putih dan hitam serta cat warna-warni.
Hanifa sudah menyiapkan beberapa desain menarik yang up to date untuk launching produk pertama kami di instagram.
Diluar dugaan, respon teman-teman seangkatanku sangat tinggi.
Kebanyakan dari mereka memang anak rantau, jadi mereka sangat malas kalau belanja ini itu sendirian ke pasar atau mall dan ditambah lagi mereka belum tau betul tempat-tempat menjual barang yang murah tapi bagus. Berbeda dengan kami berempat, paling banter si Nunu yang agak jauh dari Padalarang tapi masih dekat-dekat Bandunglah.
Kami mendapat total 20pcs PO untuk totebag dan 5pcs untuk topi serta 10pcs untuk buku kampus custom (sejenis binder buat nyatet). "Wah lumayan nih orderannya kayanya bisa balik modal cepet nih" kataku pada mereka bertiga yang sedang asyik menggunting pola gambar. Yaa pola gambarnya kami print dan gunting sendiri lalu kami cat manual karena masing-masing dari kami lumayan mahir melukis meski Nunu harus sedikit dipantau terus menerus karena hasil catnya suka agak ngaco.
"Nu jangan keluar garis dong!" kata Arika. "Iya ih Nu ntar jelek tau!" kata Hanifa.
"Tenang aja sih nanti tinggal rapihin pake cat putih" jawabku.
"Waaah untung ada Raina ya yang bisa berpikir jernih dan netral" sahut Nunu yang berkeringat saking konsentrasinya.
Sontak saja Arika dan Hanifa langsung tertawa keras mendengar jawaban Nunu barusan, menurut mereka kosa kata Nunu selalu terkesan kolot dan so formal.
Hahahaha.... Oya nama olshop kami adalah "Charms custom"... Ide itu muncul dariku, karena aku lupa pernah dengar darimana aku juga lupa, ada orang yang bilang kalau kami ini terlihat charming meskipun agak gesrek...
(Mereka bertiga sih yang gesrek haha akusih nggak)
Kesibukanku dengan usaha kecil-kecilan itu membuatku agak sedikit melupakan Andreas, meskipun sesekali aku berpapasan dengannya di Lobby Fakultas atau bahkan duduk dalam satu meja yang sama di kantin.
Tapi...seperti biasanya aku hanya akan diam dan tidak terlibat obrolan dengannya paling Arika dan Nunu yang akan ikut nimbrung bersama kakak-kakak tingkat, sementara aku dan Hanifa akan diam dan acuh tak acuh.
.
.
.
.
Aku datang terlalu awal dan kuputuskan untuk nongkrong di parkiran, lalu makan permen kapas favoritku. "Na!" kata seseorang dari belakang. "Eh Gian kirain siapa" jawabku.
Akupun menanyakan pada Gian "Ko lewat sini sih" dan katanya memang arah kosan Gian lebih dekat jika berjalan kaki dengan memotong jalan ke parkiran barat kampus dibanding harus keluar dari gerbang utama dulu.
Akupun ikut ke kelas bersama Gian "untung ada kamu jadi aku ada temen, soalnya aku takut kalo terlalu nyubuh dateng ke kelas suka sepi dan agak takut" kataku.
"Takut kenapa?" tanya Gian sambil melirik wajahku.
"Suka masih dikuncilah suka mati liftnya lah ya gitugitulah" jawabku. "Hmmm iyasih" jawabnya.
"Na, kita satu kelompok ya tugas praktek lapangan" kata Gian lagi.
"Lah iya? Aku baru baru hahaha...aku belum liat pembagian kelompoknya yang itu" jawabku.
"Nanti kamu pergi sama siapa ke tempatnya?" tanya Gian lagi.
"Emang boleh bawa kendaraan sendiri?" tanyaku lagi. "Boleh katanya" jawabnya.
"Palingan sama Nunu Gi" jawabku.
..
...
...
Kamipun terus mengobrol sampai tak terasa satu persatu teman kami berdatangan termasuk Kayi yang langsung terlihat muram ketika melihat Gian duduk di sebelahku.
Kayi juga terlihat gelisah saat mendengar Gian satu kelompok lapangan denganku. "Na tenanglah kamu juga bukannya mau sekelompok sama Gian kan? Itu kan dipilih dosen, ya kalo dia gak terima bilang aja sama dosennya langsung lagian emang Gian siapa dia hahaha obses" kata Nunu yang sedari tadi kuceritakan kalau Kayi melirik-lirik kearah kami.
__ADS_1
.
.
.
.
"Gi nanti kita kumpul ya pulang kelas di depan lobby kita bagi-bagi tugas dulu" kataku pada Gian.
"Oh oke chat aja sih kalau ada apa-apa" sahut Gian.
Aku merasa cukup senang satu kelompok dengan Gian, karena Gian termasuk laki-laki yang sangat simpel dan bisa memposisikan diri untuj diajak serius dan bercanda.
Teman sekelompokku saat itu Gian, Rima dan Lisa. Semua anggotaku bukan bagian dari singkong syndrome, jadi aku sih fine aja! Tapi, berbeda dengan Hanifa yang harus disatukan dengan sang empunya syndrome yaitu Rani. HAHAHAHA.
Arika dan Nunu tertawa puas diatas penderitaan panjang Hanifa kali ini. "Duhh ini bakal jadi mimpi buruk yang tidak pernah usai" kata Hanifa saat kami berpisah di lobby untuk kumpul dengan kelompok kami masing-masing.
.
.
.
Disana sudah ada Rima dan Lisa menungguku sementara Gian belum datang.
Aku lalu menelpon Gian langsung "Gi.. Dimana? Aku sama yang lain di lobby depan nih" kataku.
"Eh iya duh bentar ya lagi makan dulu nih" jawab Gian. "Oke kita tunggu ya!" balasku.
Sekitar 10 menit setelahnya, Gian datang dan bergabung bersama kami.
"Gian jadi ketua yah!" kataku.
"Iya iya kan kamu satu-satunya cowo" sahut Lisa.
"Setuju!" kata Rima.
"Okelah boleh" balas Gian.
Kami mengundi untuk pembagian tugas bawa barang-barang seperti termometer kayu, papan dada, dan terpal.
Maklumlah, kali ini tempat praktek kami ada di kaki Gunung didaerah Bandung Selatan.
Jadi, kami harus melakukan persiapan dengan matang.
Pengukuran suhu selama 1x24 jam untuk menguji kembali teori termodinamika part kedua yang sepertinya akan lebih seru dibanding ketika part pertama diawal perkuliahan kami.
Kami juga bagi tugas untuk jaga pos karena masing-masing anggota harus mengamati selama 8jam lamanya. Tapi, karena kami merasa durasi 8jam membosankan jika harus sendiri-sendiri menjaga pos.
Akhirnya kami sepakat untuk bagi tugas berdua-berdua. Rima dan Lisa sementara aku dan Gian.
"Gi.. Kalo aku ngga sama Nunu berangkat kesana pake motor aku aja yu?" kataku pada Gian dalam chat.
"Oh emang gapapa?" balesnya. "Iya gapapa soalnya daripada sendiri mubadzir jok hahaha" balasku.
"Oh oke na nanti kamu kabarin lah ya" katanya.
.
.
.
Aku punya janji untuk mengambil pesanan totebag polos ke sebuah konveksi tapi Arika dan Hanifa harus kumpul dengan kelompoknya untuk tugas praktek, sementara Nunu sedang sakit dan tidak masuk kuliah.
Aku jadi bingung mau minta antar siapa karena kalau aku pergi sendiri sepertinya susah dengan jumlah barang pesanan yang cukup banyak.
Akhirnya, aku minta tolong Gian yang saat itu sedang makan mie ayam dengan Nirwan. "Gi aku mau minta tolong boleh gak?" kataku.
"Boleh Na mau minta tolong apa?" jawabnya.
__ADS_1
"Gini aku mau ngambil totebag ke pabrik lumayan banyak sih, kayanya kalo aku sendiri gak bisa bawanya soalnya aku pake motor" kataku.
Belum selesai aku bicara, Gian langsung beranjak dari tempat duduknya "Ayo...mana kunci motornya?" .....