
Seminggu setelah kepulanganku dari Jogja, Ayah kondisinya semakin membaik. Mungkin seminggu lagi kedepan Ayah akan mulai bekerja lagi. Ibu juga semakin terlihat tenang dan lega, karena aku dan adik-adikku sangat kooperatif membantu pekerjaan Ibu dirumah.
Meski aku dan Randy libur sekolah, kami tetap bangun pagi secara bergantian. Dia akan membantu mencuci pakaian dengan mesin dan menjemurnya, sementara aku akan mencuci piring dan mengepel lantai.
Tepat pukul 9 pagi, aku dan Randy membuka warung grosiran kami. Saat sedang ramai, aku bahkan harus meminta bantuan Randy untuk melayani pembeli.
"Kak, ada kak Andreas tuh!" kata Randy.
Aku sedang sibuk melayani pembeli sehingga tidak begitu mendengar suara motor masuk ke halaman kami.
"Hah? Mana?" tanyaku.
"Itu di depan tuh lagi jalan kesini" jawab Randy.
Ternyata benar, Andreas datang kerumahku dan entah untuk tujuan apa karena bahkan kami tidak membuat janji untuk ketemu hari itu.
"Halo Ren, rajin banget" katanya menyapa Randy.
"Iya kak, hahaha beginilah kalau libur nasibnya" jawab Randy.
"Kakak kesini hahaha ko gak bilang-bilang?" sapaku.
"Iya kebetulan aja tadi nganter si Dhika kebengkel dan lumayan deket kerumah kamu, jadi aku mampir" jelasnya.
"Loh ka Dhika udah balik?" tanyaku.
__ADS_1
"Udah tadi shubuh, katanya ada janji ngajakin geng kamu nginep di villa omnya jadi dia balik" jelas Andreas.
"Hah? Villa omnya? Aku kira si Hanifa yang ngurus" jawabku.
"Ah kaya gak tau si Dhika aja, dia kan obses sama Hanifa pasti dia melakukan segala macam trik hahaha" jawab Andreas.
"Kakak duduk dulu deh disana, aku layanin yang beli dulu sebentar" kataku.
"Engga ah, aku bantuin kamu aja" jawabnya sambil masuk ke warung.
Andreaspun tanpa sungkan membantuku dan Randy, dia membantu kami menghitung dan memasukan uang pendapatan dengan kemampuannya yang taktis.
"Rame banget ya hari ini grosiran kita?" kata Randy.
"Iya teh tadi juga banyak yang mau beli pada kosong barangnya" jawab Randy.
Andreas mendengarkan obrolanku dengan Randy, sambil tertawa seolah tidak menyangka aku akan jadi sekeren ini. Hahahaha...
"Ah lupa haha kakak belum dikasih minum ya?" kataku.
"Gapapa, santai" jawabnya.
"Aku aja yang ambilin deh" kata Randy sambil masuk kedalam rumah.
Andreas menceritakan banyak hal tentang kak Dhika padaku, katanya selama liburan kemarin kak Dhika terus berusaha mendekati Hanifa. Apalagi setelah tahu Hanifa dan pacarnya sedang renggang.
__ADS_1
Akupun bilang bahwa dua hari yang lalu, Hanifa sempat cerita kalau dia malah sudah putus dengan pacarnya Fariz, dia ketahuan berselingkuh oleh temannya Hanifa dengan teman kuliahnya di Surabaya.
"Wah? Mereka udah lama pacaran kan?" tanya Andreas.
"Udah, makanya Hanifa sedih banget sampe nelpon lama banget ke aku" jawabku.
"Yaudah, paling benerlah si Dhika masuk sekarang dan deketin Hanifa gencar-gencaran" katanya.
"Iyasih semoga aja lah Hanifa gak berlarut-larut" jawabku.
"Dek, kamu ikut ke villa nanti?" tanyanya.
"Ikut kayanya, lagian aku udah janji sama mereka mau ikut hahaha kakak juga kan?" kataku.
"Gak janji dek, soalnya aku harus ngolah data dan ada sertijab pkm juga" jelasnya.
"Oh, mulai sibuk lagi ya kak?" tanyaku.
Aku sebenarnya lagi-lagi harus menyembunyikan rasa kecewaku saat itu, karena Andreas mulai kembali disibukkan oleh kegiatan pribadinya.
Meski aku tahu kegiatan itu menunjang karier dan reputasinya, tapi aku belum siap saja kalau harus ditinggal-tinggal lagi.
Beberapa saat kemudian...
"Yaudah aku pamit ya? Nanti aku kabarin kamu deh" katanya sambil berlalu.
__ADS_1