
Malam hari di homestay....
Aku dan Kak Iyas sedang asyik main uno, sambil mencoreng wajah kami masing-masing dengan bedak.
Lalu tiba-tiba, aku mendengar suara gendang ditabuh. Suaranya sangat pelan tapi membuat bulu kudukku merinding.
Aku memeluk Andreas sambil membenamkan kepalaku ke dadanya.
"Gak apa-apa, itu ritual menjelang besok" katanya.
"Masa semalem ini? Udah gitu ada bau-bau kemenyan lagi" kataku.
"Kasihan, padahal kemarin pas banyakan kesini kita gak ngalamin apa-apa. Tapi pas berdua sama kamu malah pas suasananya sakral kaya gini" katanya sambil mengelus rambutku.
Aku memegang tangannya seerat mungkin, hingga suara itu menghilang dan detak jantungku agak tenang.
"Kak, besok pagi jam berapa perang tomatnya?" tanyaku.
"Harusnya sih jam 8an, pas matahari bergerak" jawabnya.
"Mereka punya perhitungan sendiri sampe harus nunggu matahari bergerak?" tanyaku.
"Iya, gak bisa sembarangan lah orang mereka aja kalau ada anak yang mau kuliah dan harus keluar dari desa ada perhitungannya sendiri" jawabnya.
Aku juga diceritakan banyak sekali kejadian, bahwa di desa adat ini segala sesuatu yang jatuh ke tanah tidak boleh diambil atau bahkan hanya untuk digeserkan saja tidak boleh. Misal, ada ranting pohon yang jatuh atau sekedar dedaunan kering. Semua akan dibiarkan begitu saja hingga alam dengan sendirinya menggerakan benda-benda tersebut kembali ke asalnya
"Ini kan sebelah sungai begini kak, mereka sering kena limpahan air gak sih? Kalau lagi meluap atau hujan gak berhenti-henti" tanyaku.
"Gak pernah, disini gak pernah ada air meluap. Sederas apapun hujannya. Ya mungkin itu rahmat karena mereka warga disini, sedemikian mencintai alamnya" jelasnya.
Kak Iyas memintaku untuk segera tidur, tapi aku malah penasaran dan mengajaknya melihat acara malam menjelang panen raya tomat.
Meski jantungku berdegup sangat tidak karuan, tapi aku sadar bahwa ini adalah bagian dari adat istiadat dan kebudayaan di negaraku. Aku harus mengenalnya bahkan melestarikannya.
"Gak boleh pake alas kaki loh, gapapa?" tanyanya saat kami hendak memasuki wilayah adat.
"Iya gapapa, tapi aman kan?" tanyaku.
"Ya amanlah, asal kamu pikirannya gak kemana-mana. Fokus saja!" jawabnya.
Aku terus menerus menggenggam tangan Kak Iyas, bahkan telapak tanganku berkeringatpun aku tidak melepaskannya. Sesekali dia akan mengelap tanganku dengan sisi jaketnya.
Acara yang dilaksanakan seperti pada umumnya upacara adat, ada yang memberikan persembahan sebagai tanda syukur atas berkah panen raya. Ada juga yang membacakan beberapa sajak berisi puji-pujian dalam bahasa sunda. Suasananya sangat sakral dan membuat bulu kudukku merinding.
Kak Iyas terlihat biasa saja, dia malah sangat tenang selama mengikuti acara.
"Kamu bisa loh skripsi disini, kalau kamu beneran suka terjun ke masyarakat. Menurutku, kehidupan masyarakat di desa adat lebih layak buat dijadiin judul penelitian. Pertama karena ruang lingkupnya jelas dan tidak terlalu luas. Kedua karena kamu sudah ada bayangan sedikit tentang daerahnya" katanya berbisik di telingaku.
"Liat nanti aja, kalau kakak mau nemenin selama nyari data sih aku mau-mau aja" kataku.
"Iyalah aku temenin" jawabnya.
Acara selesai sekitar pukul 10 malam, setelahnya Pak Kadat meminta kami berdua untuk ikut ziarah ke makam leluhur desa.
"Iya boleh pak, nanti kita ikut" jawab Kak Iyas.
Aku mencubit perutnya, kesal karena dia langsung mengiyakan ajakan Pak Kadat tanpa menanyakan pendapatku terlebih dahulu.
"Takut" bisikku.
"Kan banyakan, gak usah takut. Lagian momen kaya gini cuma terjadi setahun sekali loh, kita harusnya bersyukur" jawabnya.
Pada akhirnya, kami berduapun ikut karena tidak enak pada Pak Kadat yang menunggui kami hingga turun dari rumah adat.
Sepanjang perjalanan menuju makam leluhur adat, aku melihat banyak sekali sumur-sumur air. Pepohonan yang disakralkan dan diberi pagar dari kayu serta rumah-rumah yang seragam.
"Rumahnya pada sama semua ya bentuknya?" gumamku.
Saat itu, Pak Kadat yang berjalan didepan kami tiba-tiba berhenti.
"Iya,sama semua karena kami punya paham kalau sekaya apapun manusia di muka bumi ini pada dasarnya mereka sederajat.Yang membedakan hanya ilmu pengetahuan dan amal yang mereka perbuat selama hidupnya saja" jelas Pak Kadat.
Aku terpaku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi,keheranan dengan penjelasan Pak Kadat yang bisa dengan spontannya menjawab pertanyaan yang kukatakan dalam hati beberapa detik yang lalu itu.
"Pak Kadat bisa tahu loh isi pikiran orang yang murni dan punya tujuan baik" bisik Kak Iyas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di makam.....
Aku merasakan ketenangan yang sangat nyata, badanku jadi ringan dan seperti tidak menghiraukan kondisi kakiku yang sudah kotor karena berjalan tanpa alas kaki selama hampir lima menit lamanya.
Wangi bunga kantil, kenanga dan segala macam bunga memanjakan hidungku. Angin yang bertiup juga seolah menerbangkan keringat-keringat yang sedari tadi membasahi leher dan kepalaku.
"Silahkan untuk berdoa didepan makam, sebagai tanda penghormatan. Mudah-mudahan bisa diamini oleh para leluhur dan membawa kemudahan" kata Pak Kadat.
Setelahnya, Pak Kadat duduk dan memberi kami nasihat.
__ADS_1
"Anak-anak muda seperti kalian, langkahnya panjang dan berani. Kalian bisa kesana kemari tanpa memikirkan biaya, perhitungan akal sehat dan tanpa kompromi. Di pundak kalianlah nanti negeri ini menyimpan asanya. Alam sudah mulai tua dan rapuh, kita terkadang lupa mengajaknya bicara. Menanyakan keluh kesahnya dan membantunya untuk sembuh. Bapak selaku yang sudah tua, menitipkan banyak sekali harapan agar generasi seperti kalian bisa lebih mencintai alam dan menjadikannya kawan. Kalian suka naik gunung ya silahkan, tapi ingat gunung juga memiliki perasaan sama seperti kalian. Kalian suka ke pantai dan main di laut ya silahkan, tapi ingat kalau laut itu tetap dalam meski dari jauh terlihat tenang" jelas beliau.
Banyak kata kiasan bermakna cabang yang kudengar dari penjelasan Pak Kadat, beliau terlihat ingin memberikan kami petuah hidup yang harus kami tanamkan seawal mungkin sebelum kami turun ke masyarakat.
"Anak perempuan ini, hatinya tulus sekali. Banyak kekhawatiran yang muncul didalamnya tapi dia sangat murni dan memperhatikan orang banyak. Semoga kamu sehat-sehat ya dan bisa mampir kembali saat ada acara adat" kata Pak Kadat sambil melihatku.
Aku tersenyum dan mengangguk sebagai tanda terimakasih atas pujian yang beliau berikan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sesampainya di homestay....
Kak Iyas mengambilkan seember air yang ia timba sendiri dari sumur, memintaku duduk di tangga kayu dan mengangkat kedua kakiku.
"Sini aku bersihin" katanya.
"Aku bisa sendiri ko" jawabku.
"Udah sama aku aja nanti tangan kamu kotor" katanya.
Kak Iyas memang sangat perhatian, dia bahkan mau membersihkan kakiku tanpa merasa jijik.
"Ada yang luka gak? Atau perih gitu?" tanyanya.
"Ada kegores-gores ranting pohon sedikit" jawabku.
"Yaudah nanti diobatin di kamar aja ya?" jawabnya.
Aku langsung merebahkan diriku diatas ranjang, sementara Kak Iyas duduk di depan televisi tabung yang sudah tua.
"Tv nya nyala?" tanyaku.
"Nyala tapi runyam, maklumlah disini kan tower sinyal juga baru dibangun beberapa tahun yang lalu" jawabnya.
Tiba-tiba dia beranjak dan mengambil kotak p3k punyaku, memintaku memperlihatkan telapak kakiku yang luka.
"Tau bakal kaya gini, kamu mending gak usah ikut. Pasti pada perih ya?" tanyanya.
"Gak ko, aku justru seneng bisa ikut. Kak beneran loh ini pengalaman pertama aku ikut upacara adat sesakral itu" kataku.
"Rame kan? Awalnya aja kamu ketakutan banget, padahal kamu belum tau aja serunya dimana" jawabnya.
"Kayanya aku masukin desa ini ke list pertimbangan buat judul skripsiku deh" kataku.
"Baguslah, mulai semester ini memang kamu harus udah punya target buat judul seminar proposal. Biar semester 7 nanti kamu cuma tinggal KKN dan PKL aja" jelasnya.
"Tidur gih di kasur, aku di bawah aja gelar karpet" katanya.
"Loh gapapa di kasur aja, kita kan gak ngapa-ngapain" kataku.
"Eh sssst, setan itu bisa masuk dari mana aja. Mending kita menjaga diri hahahaha" jawabnya sambil tertawa.
"Yaudah, tapi aku mau makan mie dulu laper" kataku.
"Ah iya pantesan sepanjang jalan, perut aku juga bunyi ternyata kita belum makan ya?" katanya.
Kamipun menyeduh mie instan dan segelas kopi yang kami minum berdua. Rasanya malam ini berjalan sangat sempurna, aku dan Kak Iyas mendapat banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Membaca cara alam memperbaiki dirinya sendiri dan melihat betapa kayanya kebudayaan di negri ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya.....
Kak Iyas membangunkanku dan menyuruhku segera mandi untuk bersiap ke balai desa. Aku bersemangat dan bergegas merapikan kasur sebelum masuk ke kamar mandi.
Setelah itu, kami sarapan dengan memakan roti yang kami bawa serta dua gelas susu hangat.
"Jangan kekenyangan makannya, disana nanti juga banyak makanan" katanya sambil mengelap coklat di bibirku.
Setibanya di balai desa, sudah banyak sekali warga yang datang sambil membawa banyak sekali keranjang berisi tomat dan beberapa ada yang membawa tumpeng serta nampan berisi banyak kue-kue tradisional.
"Neng cantik, gabung sama istri bapak saja tuh yang sedang menghias tumpeng" kata Pak Kadat.
Akupun menurut dan bergabung bersama banyak Ibu-ibu dari desa yang sedang mengatur tumpeng dan membuat untaian dari bunga-bunga dan buah-buahan.
Perang tomatpun berlangsung dengan sangat ramai, warga desa yang dibagi menjadi dua regu sangat bersemangat dan bersuka cita.
Baju dan celana yang kukenakan sudah sangat penuh dengan cairan dari buah tomat yang dilemparkan oleh anak-anak desa. Mereka terus menerus mengejarku dan memintaku ikut bermain dengan mereka.
"Udahan ah jangan lari-larian terus, ntar kakinya sakit lagi" teriak Kak Iyas.
Aku meninggalkan anak-anak tersebut dan duduk disamping kak Iyas yang sedang memakan kue-kue basah buatan Ibu-ibu desa.
"Euh budak leutik keneh geus apal kanu geulis mah, tos heula neng geura barang emam heula" kata Ibu Kadat.
(Euh anak masih kecil udah tahu aja sama yang cantik, udah dulu neng makan dulu)
"Seru loh kak" kataku.
__ADS_1
"Iya sayang, tapi jangan kecapean ya?" katanya.
Kak Iyas merapikan rambutku yang berantakan dan kotor. Aku juga mengelap tangannya yang basah karena terkena pecahan dari tomat-tomat yang dilempar.
"Kita pulang ya abis ini?" ajaknya.
"Oke tapi kita harus kenyang dulu" jawabku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat aku selesai mandi, Kak Iyas malah tidur dan terlihat kelelahan.
Ponselnya terus berbunyi, aku takut dia akan terbangun karena suara ponselnya. Akhirnya aku ambil dan kulihat ada panggilan dari Tante Dewi.
Tante menanyakan tentang keadaan Kak Iyas dan memintanya untuk pulang menghadiri rapat dengan perusahaan yang selama ini membeli hasil kebunnya.
"Suruh Iyas pulanglah, sehari dua hari aja. Soalnya Iyas harus tahu kondisi di kebun gimana dan ada rapat juga sama perusahaan partner" kata Tante.
"Iya tan, nanti Raina bujuk kak Iyas biar pulang ya" jawabku.
"Pulanglah sama kamu kesini, dia pasti mau. Lagian om punya voucher tiket gratis dari kantornya buat ke Bandung, kalian tinggal beli tiket perginya aja" kata Tante.
Setelah tante menutup teleponnya, aku mencoba membangunkan Kak Iyas.
Aku menarik-narik bulu matanya yang panjang dan memainkan telinganya. Dia menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya.
"Jam 11, masih mau tidur?" tanyaku.
"Gaklah, aku mau mandi" jawabnya sambil beranjak.
Selama dia mandi, aku merapikan tasku dan menyapu lantai kamar serta merapikan tempat tidur. Beruntunglah kami Pak Kadat tidak mampir dan tidak mengetahui kalau kami menginap dalam satu kamar.
Meskipun sebenarnya, kami tidak melakukan apa-apa. Rasanya aku tidak enak saja kalau ketahuan Pak Kadat.
Kami berpamitan ke Balai sekaligus memberikan plakat yang dititipkan oleh Pak Yana, berfoto bersama dan berjanji akan kembali ke desa lain kali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dalam perjalanan pulang, aku meminta Kak Iyas berhenti disamping kebun teh.
"Turun dulu yu sebentar, kita foto berdua" ajakku.
"Gak usahlah ya, nanti kita kena macet dibawah" jawabnya.
Aku merengek dan memintanya tetap menghentikan mobil di dekat perkebunan teh tersebut.
"Ih dasar kalau udah ada maunya pasti harus diturutin langsung" gerutunya sambil menuruti keinginanku.
"Hahaha, gitu dong!" jawabku.
Aku yang kerepotan membawa kamera dan ponsel di kedua tanganku, memintanya menolongku dan membukakan sabuk pengaman yang masih terpasang.
Tanpa kusadari, kedua mata kami beradu pandangan.
"Ayo bukain tolong dong" kataku.
Dia malah menatap mataku dalam-dalam, sambil tersenyum dengan ekspresi nakal.
"Kayanya aku gak bisa ngelewatin kesempatan ini" katanya.
"Kesempatan apa?" tanyaku.
Dia mengambil kamera dan ponsel di kedua tanganku, meletakannya di depan dan menahan kedua tanganku.
Wajahnya mendekat ke wajahku dan membuat detak jantungku berpacu dengan sangat cepat.
Bodohnya, aku malah memejamkan mataku saat itu.
Hingga kurasakan, dia mencium bibirku dengan sangat pelan.
Semuanya terjadi begitu saja, tanpa kusadari betapa dekatnya jarak wajah kami satu sama lain.
"Masih mau turun?" tanyanya dengan ekspresi meledek.
"Gak usah, maju aja" jawabku kesal.
Dia mengelus rambutku dan terlihat bangga karena sudah membuatku takluk saat itu.
"Kamu banyak makan buah ya tadi?" tanyanya.
"Kenapa emang?" tanyaku.
"Soalnya gak kering" jawabnya sambil tertawa.
Akupun memukul kakinya dan mencubit perutnya dengan keras, hingga dia berteriak meminta ampun.
__ADS_1
"Ya udah ampun-ampun, aku kan bercanda" teriaknya.