Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Menjelang ke lapangan


__ADS_3

Hari ini, aku melakukan rapat akhir bersama seluruh panitia kuliah lapangan tahap akhir. Kami janji berkumpul di ruang serba guna jurusan. Aku dan ketiga sahabatku datang sangat pagi, alasannya karena kami berempat harus mengantarkankan banyak pesanan mochi dan donat ke banyak reseller kami di kampus.


Nunu dan Hanifa pergi mengantar ke fakultas sastra, sementara aku dan Arika ke fakultas ekonomi dan bisnis.


Setelah semua pesanan diantar, kami kembali ke fakultas kami dan menunggu teman yang lain berdatangan di lobby.


Sambil menunggu, aku dan Nunu sibuk membicarakan baju kuliah lapangan yang akan dibagikan nanti siang. Baju itu diproduksi oleh kami berempat. Bajunya berwarna biru tua dengan sedikit aksen awan putih dibawahnya. Digambar langsung desainnya oleh Hanifa.


"Nanti disana kita samain yu celananya atau sepatunya" kata Nunu antusias.


"Lu mau senam apa mau kuliah lapangan sih? Pake harus samaan sepatu atau celana segala" ledek Arika.


"Helooo, kita tuh mau ke bali kali dan kayanya bagus kalau seragaman buat foto bareng di tanah lot" teriak Nunu.


"Iyasih nu lucu, tapi malu gak sih masa seragaman sepatu?" kataku.


"Tau lu, ada-ada aja ide lu. Udahlah jadi diri sendiri aja disana. Lu mau pake dress bunga-bunga kek topi pantai segede gaban kek terserah. Tapi jangan ajak-ajak kita" kata Hanifa.


Nunu tertawa malu karena ide konyolnya yang tidak kami gubris. Dia menyadari bahwa banyak alternatif lain untuk terlihat bagus di kamera, selain dari harus memakai pakaian yang sejenis.


"Yaudah kalau gitu, tas kita harus sama. Gak mau tau!" gerutunya sambil cemberut.


Nunu memang menjadi yang paling antusias di kuliah lapangan terakhir ini, dia sangat terobsesi dengan tanah lot dan kintamani.


Sampai-sampai setiap harinya, dia akan melakukan research tentang tempat-tempat itu hingga pada aktivitas dan mitos yang muncul disana. Setelah itu dia akan mengirimkan capture hasil temuannya kepada kami di roomchat.


Tak lama kemudian, Aji dan yang lainnya datang.


"Ayo ah ke RSG?" ajaknya pada kami.


Setibanya di RSG kami membereskan kursi dan meja di ruangan supaya tidak terlalu berdesakan saat semua panitia sudah masuk nanti.


Rapat pun dimulai....


Nirwan meminta setiap divisi untuk melaporkan sejauh mana perkembangan kerja mereka. Mulai dari tim acara, konsumsi, dokumentasi, peralatan dan lapangan.


Setelah semua laporan dijelaskan, kami diminta menyusun rundown final dan plan B kalau-kalau nanti di lapangan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Kita kan disana pake travel, tapi divisi acara jangan mau diatur sama travel. Kita yang ngatur travelnya, kita harus tau durasi dan target perjalanan tiap harinya supaya semua wilayah kajian terdatangi" kata Gian.


"Plan B juga bukan buat menakut-nakuti atau apa, ini sebagai solusi dadakan kalau nanti ternyata lokasi tujuan kita tutup atau tidak bisa dikunjungi" tambah Aji.


Tujuan utama kami memang menjelajah pulau Bali. Kami akan menginap di hotel sekitaran jimbaran dan selama seminggu penuh akan mendatangi banyak sekali destinasi wisata yang bersifat komersial dan non komersial.


"Aku gak sabar pingin cepet berangkat" kata Arika.


"Aku juga keknya seru ya?" jawabku.


"Eh gimana kalau nanti kita jangan pulang dulu sama rombongan? Kita main dulu yu? Nyebrang dikit kan Lombok tuh? Gimana mau ya?" ajak Hanifa dengan antusiasnya.


"Baru aja gue mau nyaranin fa, lagian kan lebih murah jatuhnya kalau kita lombok nyebrang doang dari Bali. Kapan lagi coba kita bisa ke Lombok ya? Gue setuju" kata Nunu.


"Aku juga" jawabku dan Arika serempak.


Memang ini menjadi salah satu waktu kami untuk mengambil jeda istirahat, sebelum kami bertarung habis-habisan di semester tujuh untuk mengejar target seminar proposal dan KKN.


Setelah rapat selesai, kami diperbolehkan berkumpul dengan masing-masing divisi kalau-kalau perlu diskusi tambahan.


"Aneh ya kampus hari minggu gini jadi berasa eksklusif?" kataku.


"Hooh, kosong banget ya tadi parkiran" jawab Hanifa.


"Habis ini pada mau kemana?" tanyaku.


"Aku sama Gian mau ada janji bayar dp buat konsumsi hari pertama ke bakery" jawab Nunu.


"Gue juga mau fiksasi tiket pesawat sama Agung" jawab Hanifa.


"Gue sih udah gak ada tugas, cuma gue mau nganter Nirwan buat kerumah Kajur katanya mau bahas soal siapa aja dosen yang ikut ke Bali nanti" jawab Arika.


Aku, Nunu dan Hanifa tersenyum dan meledek penjelasan Arika barusan. Rasanya kami senang saja saat Arika dan Nirwan sudah kembali dekat.


"Kamu mau kemana Rain?" tanya Nunu.


"Aku, tugas aku sih udah beres semua. Stand banner,spanduk dan yang lainnya juga udah siap. Kayanya aku mau ke toko Kak Iyas deh" jawabku.


"Yaudah aku anterin ya? Sekalian aku mau ketemu kak Dhika dulu" jawab Hanifa.


Toko pakaian dan peralatan outdoor yang dijalankan Kak Iyas dan Kak Dhika memang akan soft opening besok. Mereka berdua sangat sibuk mempersiapkan semuanya. Hampir tiga hari ini juga aku kesulitan untuk bertemu dengan keduanya karena mereka lebih sering menginap di toko.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesampainya di toko, kulihat semua persiapannya sudah selesai. Mereka juga sudah memiliki tiga orang karyawan yang ketiganya ini adalah perempuan. Sementara masih mencari tiga orang lagi karyawan laki-laki.

__ADS_1


Aku melihat nama brand sekaligus nama outlet yang masih tertutup kain itu dari refleksi kaca. Tidak kusangka, nama brandnya akan diambil dari gabungan namaku dan Hanifa.


"RAINFA"


Mereka berdua memang sengaja menggabungkan namaku dan Hanifa sebagai nama brand mereka. Kami berdua juga diminta menjadi model dadakan dari edisi pertama pakaian outdoor yang akan mereka produksi bulan depan.


"Punya pacar menarik ya kenapa gak dimanfaatin jadi model aja, kan bisa gratis" kata Kak Dhika.


"Ih gak gratis tahu, kalian harus kasih kita biaya buat liburan ke Lombok" kata Hanifa.


"Hah lombok? Bukannya kalian mau ke bali?" tanya Kak Iyas.


"Iya, terus kita mau langsung ke Lombok nyebrang biar sekalian liburan" jawabku.


"Hmmm bener sih, lebih murah jatohnya. Gimana yas lu izinin Raina gak?" tanya Kak Dhika.


"Nanti aku pikir dulu ya sayang, soalnya kamu kan beda sama Hanifa. Kamu baru aja habis kecelakaan parah. Kalau gak ada aku disana rasanya gak tenang juga" jawab Kak Iyas.


Aku cemberut mendengar jawaban Kak Iyas, kalau dia sudah bilang akan memikirkan hal ini terlebih dahulu itu sama saja dia tidak mengijinkanku pergi.


Keputusan Kak Iyas itu mutlak dan tidak bisa dirubah.


"Ih kak, izinin dong Raina masa gak boleh sih? Nanti kita gak seru kalau gak ada dia. Lagian aku janji ko Raina bakalan aman dan aku bakalan jagain dia disana" bujuk Hanifa.


"Iya fa, nanti aku pikirin dulu intinya lah" jawab Kak Iyas sambil memegang kepalaku.


Hanifa pamit untuk pergi dengan Agung, sementara kak Dhika sedang mengecek barang yang datang bersama karyawan baru mereka.


Aku yang agak kesal mencoba untuk duduk dan mengabaikan kak Iyas.


Dia sadar dengan perubahan sikapku, hingga akhirnya dia ikut duduk disampingku.


"Jangan cemberut dong" katanya.


"Siapa yang cemberut sih? Orang aku lagi liatin orderan di stagram" jawabku.


"Bohong, kamu kesel kan karena aku belum ngijinin kamu ikut ke Lombok?" tanyanya.


"Iya" jawabku ketus.


"Aku lagi mikirin gimana caranya biar aku bisa ikut sama kalian ke Lombok, bukannya aku gak ngizinin kamu. Aku bolehin ko kamu pergi" jelasnya.


"Beneran? Kakak gak masalah aku langsung ke Lombok?" tanyaku kegirangan.


"Gak masalah, cuma kalau aku gak nyusul gak apa-apa kan? Tadinya aku takut kalau kamu ngarep aku ikut" katanya.


"Hmmm nah itu masalahnya, aku kan mau ikut penelitian jadi kayanya aku bakalan sibuk nyiapin instrumen" jawabnya.


Setelah berdebat dan kembali berdamai, aku memutuskan untuk menunggunya hingga selesai mengurus persiapan tokonya itu.


Kak Iyas hanya tinggal meminta kepala tokonya untuk mengatur segala persiapan hingga final.


Aku sangat salut melihatnya serius menggarap bisnis ini, meski awalnya dia dan kak Dhika terkesan sembunyi-sembunyi padaku saat merencanakan awal bisnisnya. Tapi, setelah hasilnya nampak aku sangat puas.


Kak Iyas memang tidak pernah setengah-setengah saat menjalankan sesuatu.


"Kenalan dulu gih sama karyawan aku" katanya.


"Ih malu lagian ngapain?" kataku.


"Biar mereka kenal lah kalau tiap nanti kamu mampir" jawabnya.


Karyawan Kak Iyas dan Kak Dhika memang terlihat cantik dan menarik. Aku berani bertaruh, kak Dhikalah yang sudah melakukan seleksi dan memilih ketiganya untuk bekerja disini.


"Ini Selvy, Liani dan Listiana" kata kak Dhika mengenalkan mereka padaku.


"Mereka seumuran kamu loh" kata Kak Iyas.


"Oh ya haloo, aku Raina" kataku.


"Dia ibu negara ya, calon istrinya Andreas" kata kak Dhika sambil menyikut tanganku.


"Yaudah ah, aku pamit deh yah kalau kalian masih lama disini. Soalnya mau packing orderan, sekarang kan orderannya di rumah aku disimpennya" kataku.


Kak Iyas menahan tanganku dan mengajakku pergi makan. Aku menurut saja dan mengikutinya.


Didalam mobilnya, dia memintaku melakukan pemotretan besok. Menurutnya semakin cepat semakin baik supaya nantinya aku lebih fokus mempersiapkan kuliah lapanganku yang hanya tinggal seminggu lagi itu.


"Paling malem kalau besok, sekalian kakak soft opening kan?" kataku.


"Iya, ajakin si Hanifa Nunu dan Arika juga ya?" pintanya.


Sesampainya di tempat makan, aku mengusulkan saran padanya.


"Kayanya bakal seru kalau di tempat kakak ada coffe sama breadshop gitu, jadi sekalian bisa nongkrong-nongkrong" kataku.

__ADS_1


"Iya aku juga udah mikirin itu, lagi ngajuin partnership juga ko ke Coffeholic dan mudah-mudahan acc ya" jelasnya.


Setelah selesai makan, dia mengantarkan aku kerumah.


Sebelum turun dari mobilnya, dia mencium keningku dan memintaku mendoakan kelancaran bisnisnya.


"Iya, aku doain ko. Kakak jangan kecapean ya dan jangan lupa makan" kataku.


"Iya sayang, kamu kabarin aku ya kalau mau kemana-mana" katanya.


"Iya sayangkuuu" jawabku sambil meledek kekhawatirannya yang berlebihan itu.


"Ish manyun aja cantik" baliknya merayuku.


Setibanya dirumah, aku melihat Ibu sedang berkumpul dengan teman arisan kompleknya. Salah satu yang ada disana adalah mamanya Fasya.


"Eh Raina baru pulang ya?" tanya mamanya Fasya.


"Iya tan" jawabku.


Mamanya Fasya memperlakukanku seperti biasa, dia belum tahu saja kelakuan minus anaknya yang sudah banyak menyusahkanku.


"Fasya ko gak pernah cerita lagi ya soal kamu? Padahal awal-awal ketemu kamu lagi hampir tiap hari minta aku kesini buat liatin Raina dan minta dideketin" katanya pada Ibuku.


Aku tersenyum saja lalu pamit naik ke kamarku.


Saat ku cek ponselku yang sedari tadi bergetar, ternyata ada panggilan masuk dari Arika. Akupun menelponnya balik.


"Kenapa rik?" tanyaku.


"Nirwan nembak aku lagi rain, senengnya" jawab Arika.


"Waaah ikut seneng deh, selamat ya" kataku.


Akhirnya, Arika tidak akan menjadi satu-satunya jomblo di tim kami. Setidaknya dia bisa kembali dengan Nirwan, seseorang yang memang masih sangat ia sukai itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam harinya....


Kak Iyas mampir kerumah dan membawa martabak kesukaan Randy.


Mereka berdua mengobrol sambil main catur di teras belakang rumah. Sementara aku hanya menjadi penonton dan sesekali diacuhkan.


"Tau gak? Aku belum setrika baju loh buat besok" bisik Kak Iyas.


"Ih, kenapa gak bilang dari tadi sih? Tau gitu tadi aku minta kunci kosannya terus aku yang setrikain" gerutuku.


"Maaf, aku beneran lupa" jawabnya.


"Yaudah ayo pulang" ajakku sambil menarik tangannya.


Dia tertawa karena tingkahnya yang ceroboh dan membuatku marah. Randy juga ikut menertawakan kemarahanku.


"Ran, jangan diabisin martabaknya" teriakku.


Sesampainya di kosan, kamarnya terlihat sangat berantakan. Sudah tiga hari ini memang aku tidak pernah datang untuk mampir karena kami sibuk satu sama lain.


"Kakak mandi aja sana, aku yang beresin ini semua" kataku.


"Ih jangan marah dong nanti tambah cantik loh" katanya menggodaku.


Aku melemparnya dengan pakaian kotornya yang berserakan diatas kasurnya sambil berteriak


"Mandi gak kalau gak aku bakar nih bajunya"....


Selama dia mandi, aku membereskan pakaian kotornya dan mengantarkannya ke laundry terdekat di sebelah kosannya. Meminta si petugas laundry untuk menyelesaikannya dalam waktu dua hari alias express agar tidak memakan banyak waktu.


Setelahnya, aku merapikan kamarnya dan menyetrika pakaiannya untuk dipakai besok di acara soft opening outletnya Rainfa.


"Duh kaya bukan kamar aku" katanya sesaat setelah keluar dari kamar mandi.


"Awas ya kalau nanti masih berantakan kaya tadi, aku marah loh" gerutuku.


Setelah selesai membereskan kamar dan menyetrika bajunya, dia memintaku duduk dan mendengarkan ceritanya.


"Mau cerita apa sih? serius banget kayanya" tanyaku.


"Habis selesai kuliah lapangan terus sepulangnya aku dari penelitian. Kita rencanain acara tunangan yuk?" jelasnya.


Aku heran dan sontak memasang wajah kagetku saat itu juga. Lalu dia memelukku tubuhku sambil berkata "Aku cuma mau nunjukin keseriusan aku sama Ayah kamu, entah kenapa dua malam ini aku mimpi buruk terus. Disana kaya ada yang mau misahin kita. Aku jadi parno".


Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya yang lucu. Tidak kusangka seorang Andreas bisa merasakan ketakutan hanya karena mimpi buruk.

__ADS_1


"Dek, beneran loh ini. Aku mau kita adain acara pertunangan" katanya.


__ADS_2