
Tibalah hari dimana Andreas berulang tahun...
Selepas perkuliahan usai...
"De, kamu bisa dekorin kamar kos Andreas? Hahaha kalau mau sih itu juga. Kuncinya ada di aku sih.. Kebetulan dia ada rapat sama Rema sampe sore banget jadi kayanya kita bisa kasih kejutan ke dia habis maghrib" kata ka Dhika dalam pesan singkatnya.
"Fa, gimana nih? Masa kita masuk ke kosan cowok sih?" kataku.
"Lah gak papalah kan tujuannya baik buat ngehias wkwk lagian kalo sama cowok gak akan bener kali rain. Ya itu sih tergantung kamu wkwk kita sih hayu hayu aja" sahut Nunu yang juga ikut.
"Iya na udah sih kita kesana aja yu? Gak papa sekali-sekali nyenengin komdis galak!" tambah Arika.
"Tunggu deh, emang ada alat buat ngedekornya?" tanya Hanifa.
"Aku bawa sih beberapa di tas, ada balon ada confetti sama crap ya kalo kepake sih pake aja" kataku.
"Ah iya deh tau yang terniat ngasih kejutan pasti udah prepare" kata Hanifa sambil meledek.
Sehari sebelumnya memang aku sudah membeli perlengkapan untuk dekorasi sederhana. Entah kenapa aku punya feeling saja kalau suatu saat pasti peralatan tersebut akan dibutuhkan.
Beruntungnya jaket pesananku juga sudah datang. Aku sudah membungkusnya dengan kertas koran. Kenapa kertas koran? Karena Andreas sangat menyukai sesuatu yang sederhana dan daur ulang.
Berkali-kali, dia memberikan tugas tukar kado kepada angkatanku juga harus dibungkus dengan kertas koran. "Yah untuk nilai nostalgia sih lumayan lah ya" pikirku.
Akhirnya, setelah bertemu dengan Kak Dhika dan Kak Dhoni untuk meminta kunci kosan Andreas kami berempatpun pergi ke kosan Andreas.
Kosan Andreas termasuk kosan elite dengan bangunan tiga lantai. Sudah ada parkiran luas, fasilitas wifi gratis dan juga kamar mandi didalam. Setahuku, kata Arika bekas teman SMAnya yang juga ngekos disitu bilang kalau harga satu kamar perbulannya mencapai 1,5 juta.
Andreas memang bukan dari keluarga sembarangan, tapi dia justru selalu memperlihatkan sisi dirinya yang sederhana. Jaketnya selalu itu-itu lagi, sepatunya juga. Siapa sangka dia ternyata penghuni kosan elite kampus?...
Akupun memimpin langkah untuk membuka pintu kosannya. Teman Andreas yang tinggal disebelah kamarnya, sempat menanyakan maksud kami saat itu.
"Oh ini kak, kita mau kasih kejutan soalnya kak Andreas ulang tahun!" jawabku.
Ketika masuk kekamarnya, betapa terkejutnya kami berempat mendapati kondisi kamar Andreas yang termasuk rapi bagi ukuran kamar kos anak laki-laki. Buku-buku disusun sesuai ukuran, foto-foto keluarga dan angkatan terpajang rapi dengan frame senada dan sepatu yang bersih-bersih juga gantungan baju yang sepertinya baru selesai disetrika.
"Gila rapi banget haha lebih rapi dari kamarku!" kata Hanifa sambil terkagum.
"Rain, aku ramal nanti foto kamu bakalan ada disalah satu frame kosong ini bahahahaha" kata Nunu sambil menunjuk beberapa frame kosong di dinding.
"Iya nu ya hahaha coming soon!" sahut Arika.
Tanpa berlama-lama kamipun menghias kamar Andreas dengan perlengkapan seadanya. Hanifa dan Nunu bertugas meniup balon dan menghiasnya dengan kertas crap sementara aku dan Arika yang menempelkannya di dinding.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, kak Dhika menyusul ke kosan Andreas sembari membawa kue ulang tahun.
"De ini kuenya nanti kamu yang bawa aja gimana?" pintanya.
"Aih kakak ko aku sih?" tanyaku.
"Yaiyalah kamu rain masa kita" sahut mereka bertiga bersemangat.
"Yaudah iya!" pasrahku.
"Eh ka masa kak Andreas gak kita prank dulu sih sebelum kita surprisein?" tanya Hanifa pada kak Dhika.
"Haha tenang nifa, aku udah mancing-mancing tadi bilang kalo Raina kayanya kakinya bermasalah lagi soalnya tadi dia bawa motor sendiri ke kampus terus aku juga udah minta Dhoni buat manas-manasin bilang seolah dia liat Raina cara jalannya makin gak karuan" jelas kak Dhika.
Sontak Arika, Hanifa dan Nunu seolah tertawa puas dengan rencana kak Dhika yang memojokkanku.
"Oke selalu aku ujung-ujungnya:(" gumamku.
"De, kali ini kamu bakal liat langsung gimana respon Andreas saat tahu sesuatu yang buruk terjadi sama kamu" kata Kak Dhika.
Mungkin maksud dari perkataan kak Dhika adalah saat itu, saat dimana Andreas akan memperlihatkan kekhawatiran yang sebenarnya terhadapku. Aku cuma tidak sabar saja, ingin membuat gengsinya sedikit menurun didepan banyak orang. Hahahaha...
"Rain bayangin ya kalo si Rani tau hahaha kita berempat main ke kosan ini, sampe ngasih kejutan juga ke Andreas kaya sekarang haha bisa mampus kamu!" kata Nunu sambil menahan tawanya.
"Lah ngapain takut sama singkong? Haknya Raina dong mau dateng ke kosan siapapun selama si yang punya kosan gak keberatan, lagian makanya jadi cewek jangan mentang-mentang punya jabatan berasa paling deket sendiri sama kakak tingkatnya" gerutu Hanifa.
"Nihyah asal kalian tau aja, selama kerja kelompok kemarin aja dari mau mulai sampe beres si Rani terus aja ngobrolin kak Andreas. "Eh aku udah chat loh sama kak Andreas, eh aku udah pernah liat kosan kak Andreas loh, eh aku nemu akun pathnya loh" wah pokonya semuanya tentang Andreas. Dalam hati sih aku cuma teriak "Woy si Raina malah udah tiga ratus langkah lebih maju dari kamu" hahahaha" cerita Hanifa menggebu-gebu.
"Parah emang tuh si singkong, masa ya dia bilang ke si Jane temen sekelompokku kalau dia sama kak Andreas pernah jalan bareng karena ketemu gak sengaja di mall" tambah Arika.
"Emang iya sih, setahuku si Andreas sempet cerita kalau dia ketemu sama Rani pas lagi mau beli tas carrierl dan yaudah mereka barengan" sahut Kak Dhika.
"Hah Rani bahkan udah pernah nge'mall berdua sama kak Andreas?" batinku.
"Tapi tenang aja de, aku bisa pastiin kalau Rani bukan saingan kamu ko!" ledek Kak Dhika seolah mengerti kecemasanku.
Akupun diminta untuk menelpon kak Andreas seolah sedang membutuhkan bantuannya saat itu.
"Halo kak? Aku ganggu kak? Duhh aku kena masalah dijalan nih!" kataku seolah sedang kesakitan.
"De, kamu dimana sekarang? Kena masalah gimana?" sahutnya.
"Duh sakit ka kaki aku, mana sinyalnya jelek mana handphoneku udah mau mati lagi" jawabku sambil langsung mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Sementara itu dibelakang, ketiga sahabatku mencoba menertawakan kelakuanku barusan.
"Tuhkan liat nih si Andreas langsung chat aku" kata kak Dhika sambil memperlihatkan hapenya kearahku.
"Kak Andreas bilang apa kak?" tanya Hanifa.
"Dhik, lu liat Raina gak atau anak-anak gengnya? Ini barusan Raina kaya mau minta tolong apa gitu.. Tapi keburu mati hapenya, gue telpon ga diangkat" jelas kak Dhika.
"Gila ya seorang Andreas bisa sepeduli itu ternyata" kata Arika keheranan.
"Inisih belum seberapa rik, nanti kita laksanakan rencana berikutnya ya" tambah kak Dhika.
Kak Dhika pun berinisiatif untuk menelpon kak Andreas saat itu.
"Halo yas, gue lagi sama Hanifa Arika sama Nunu nih... Tapi mereka gak ada yang tau juga tuh si Raina kemana katanya tadi dia pamit pulang duluan buru-buru" kata kak Dhika.
"Dia bawa motor sendiri?" tanya Kak Andreas.
"Iya" jawab Kak Dhika singkat.
Tuturururutttttttttt..... Sambungan telepon langsung terputus saat itu juga.
"Tuh denger kan nada bicaranya kalo kita ngomongin masalah Raina? Hahaha dia gak bisa nyembunyiin kekhawatirannya ke kamu lagi de" kata kak Dhika.
Aku juga keheranan, mengapa saat di hadapanku dia malah tetap tanpa ekspresi? Tapi dibelakang aku ternyata dia perhatian kaya gini?
"Halo yas, si Raina nabrak mobil orang sampe baret ternyata .... terus yang punya mobilnya songong sampe si Raina kena marah" kata kak Dhika.
"Ish ish ish kakak sampe segitunya sih bohong" bisikku.
"Kamu diem aja de" isyaratnya sambil menutup mulutku.
"Raina kena marah? Kakinya gimana tapi sekarang? Dia cerita gak sama lu? Dia dimana sekarang?" tanya kak Andreas dengan antusias.
"Kakinya berdarah darah gitu bekas kemarin waktu jatoh sama lu mungkin kena lagi" ngeles ka Dhika.
"Temen-temennya lagi pada mau nyari ko yas!" jawab Kak Dhika.
"Yaudah gue pulang kosan bentar lagi, gue mau ikut bantu juga siapa tau ada yang bisa gue bantu!" kata kak Andreas sambil menutup teleponnya.
"Oke de, sekarang tinggal langkah terakhir hahaha nanti pas sampe kosan pintunya bakal kukunci dari luar dan orang selain kamu harus ada diluar kosan ini... Nanti dari dalem kamu bawa kue deh hahahaha siap ya?"....
"Siap deh" jawabku.
__ADS_1