
Kami sudah di stasiun menunggu kereta ke Jogjakarta, rombongan dosen sudah tiba terlebih dahulu disana sementara aku, Andreas, ka Maria dan tiga temannya yang lain berangkat bersama.
"Raina dari deket lebih cantik ya?" kata ka Maria sambil melihatku.
Aku tersipu malu sambil bilang terimakasih, lalu kedua teman Andreas yang lain ternyata setingkat lebih tua dari Andreas yakni angkatan 2008. Mereka sedang garap skripsi malah hampir selesai. Namanya Ka Hadi dan Ka Ken, keduanya terlihat sangat dewasa dan ngemong. Sementara yang satu lagi Ka Bram satu angkatan dengan Andreas.
"Kamu mau duduk sebelah mana?" tanya kak Maria sesaat sebelum kami memasuki gerbong.
"Bebas ka hehe, sebelah kakak juga boleh" jawabku.
"Dek, kamu bawa sendal lapangan kan?" tanya kak Ken.
"Bawa kak" jawabku.
Akupun duduk di tengah, diapit oleh kak Maria dan kak Bram. Sementara Andreas karena telat naik untuk menanyakan tiket pulang kami dulu, dia harus duduk di depan kursiku. Beruntunglah tempat duduk kami saling berhadapan, meski dia harus duduk di pinggir.
Aku tersenyum dengan niat meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja meski harus duduk diantara kakak-kakak tingkatku, dia memang terlihat khawatir dan kurang nyaman melihatku duduk disebelah kak Bram. Mungkin jika posisinya disebelah kak Dhika, ekspresinya akan jauh lebih tenang.
"Yas, lu punya cewek cantik diem-diem aja ya? kita sampe gak tau" celetuk ka Ken.
"Haha iya ya parah lu, kenalin kee untung sekarang kita ketemu ya de?" sahut ka Hadi.
Aku hanya tersenyum sambil melirik kearah Andreas.
"Sorry bang, takut lu pada suka kayanya makanya dia kagak bilang-bilang" sahut kak Bram.
Kak Maria menanyakan apakah aku akan tidur atau tidak? Lalu aku bilang "nanti belum ngantuk"...
Perjalanan ke jogja cukup lama, mungkin inilah alasan kenapa Andreas terlihat kecewa saat tidak duduk bersebelahan denganku. Dia takut aku tidak bisa tidur selama perjalanan. Sementara pagi nanti saat sampai, kami harus dikejar deadline masing-masing untuk wawancara, ambil sampel dan sebagainya.
Sejam berlalu....
Kak Bram sudah tertidur pulas dan nyaris menyenderkan kepalanya di bahuku. Andreas melirik dan seolah memintaku untuk pindah kesebelahnya.
"De, ngantuk?" tanyanya.
"Belum, tapi aku mau duduk sebelah kakak" kataku.
Andreaspun bangkit dan melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk yang kosong, karena aku sudah terlihat tidak nyaman dan mulai mengantuk.
Semuanya memang sudah terlelap.... Hanya aku dan Andreas saja yang masih bangun...
Tak lama mungkin dia menemukan kursi yang kosong, hingga akhirnya dia menggendong tasnya dan mengambilkan travel bagku diatas.
"Pindah situ yu? banyak yang kosong" ajaknya sambil menarik lenganku.
Akupun beranjak dan mengikuti langkah Andreas didepanku. Kondisi gerbong kami saat itu tidak penuh dan hanya ada beberapa puluh penumpang saja. Jadi banyak tempat duduk yang kosong.
"Sini tasnya, aku taro di atas sini" katanya sambil mengambil travelbag milikku.
"Kakak sana ah deket jendela, aku takut" kataku.
"Apa yang ditakutin coba?" tanyanya.
__ADS_1
"Pemandangan di malem hari tuh serem" kataku.
Kamipun duduk bersebalahan untuk pertama kalinya dalam transportasi massal, sebelumnya kami hanya naik motor atau mobil berdua saja.
"Maaf ya gara-gara aku telat naik, tadi kamu jadi gak nyaman karna sebelahan sama Bram" katanya.
"Iya gak nyaman soalnya bukan kakak jadi aku gak bisa nyender" jawabku.
"Yaudah tidur gih, udah jam setengah 11 biar aku jagain" katanya.
"Gak mau, aku belum ngantuk ko nanti kalau udah ngantuk juga ketiduran sendiri" jawabku.
AC malam itu sepertinya tidak dimatikan, padahal kan udara malam saja sudah dingin belum angin dari luar yang menyelinap masuk lewat celah-celah gerbong.
Aku agak menggigil menahan dingin yang semakin lama semakin menusuk. Dia melirik kearahku, memegang tanganku dan menggenggamnya.
"Dingin?" tanyanya sambil menarik tanganku.
"Iyahaha, Acnya gak bisa dikecilin ya?" tanyaku.
"Ngaco, emang AC di ruang kampus bisa diatur sama remote hahaha" jawabnya sambil tertawa.
"Kakak juga dingin kan? ngaku deh ini tangan kakak juga dingin" tanyaku.
"Makanya kita harus kaya gini biar sama-sama gak dingin" jawabnya.
Aku tersipu malu karena perlakuan romantisny, baru kali ini dia memperlihatkan sisi manly padaku. Dia bahkan sulit memalingkan pandangannya dariku, katanya dia takut aku melihat-lihat ke arah lain.
"Gak boleh, nanti kamu banyak yang suka" jawabnya sambil mencubit hidungku.
"Kak, tau gak? aku seneng banget bisa pergi berdua sama kakak ya meskipun bukan bener-bener berdua hahaha tapi rasanya kaya gak nyangka aja.. Tau gak dulu tuh yah aku gak suka sama kakak, jutek sok cakep hahaha" kataku.
"Iya, aku tau ko haha pandangan kamu tiap liat aku tuh kek orang jijik dan gak suka banget... Padahal dulu, aku berusaha sebisa aku untuk narik perhatian kamu dengan cara marahin kamu dan jutek ke kamu" jawabnya.
"Kakak suka aku sejak kapan?" tanyaku.
"Sejak kamu SMA itu, aku suka liat kamu gak tau kenapa mungkin ya karena kamu mirip Ibuku. Tapi mungkin aku gak pernah punya alesan kenapa saat itu aku mutusin untuk perjuangin kamu. Satu-satunya alesan ya karena aku jadi diriku sendiri saat aku lagi sama kamu" jelasnya.
"Kak haha dulu aku kan kucel, gak dandan dan ah pokonya gak menarik hahaha bisa-bisanya ngeceng anak SMA macem begitu" jawabku.
"Tapi anak SMA itu original, polos dan berbeda dari yang lain. Aku cuma suka itu" pungkasnya sambil menyentuh pipiku.
Entah ketenangan macam apa yang muncul dalam hatiku, terutama saat dia memperlakukanku special seperti sekarang ini. Rasanya aku mau perjalanan ke jogja lebih lama lagi, asal ada Andreas disebelahku.
Sesekali kami bermain adu jempol dan cham cham cham khas drama korea hahaha, dia berulang kali tertawa karena ulahku. Menurutnya aku terlihat manja dan kekanak-kanakan dan ini sisi lain dari diriku yang baru dia lihat secara langsung.
Aku mulai mengantuk, tapi rasanya sungkan kalau tanpa izin aku langsung menyandarkan kepalaku di pundak Andreas....
"Ka, kalau aku minta 1 hal aja ke kakak boleh gak?" tanyaku.
"Minta apa? bilang aja" jawabnya.
"Bahu kakak aku pinjem ya? aku ngantuk" kataku.
__ADS_1
Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah dia langsung menyenderkan kepalaku di bahunya. Dia juga mengelus rambutku dan kali ini ditambah dengan pelukan hangat.
Tangannya melingkar dibelakangku dan berdiam diatas kepalaku. Seolah dia ingin menjaga kalau-kalau kepalaku bergerak saat tertidur nanti.
Entah pukul berapa waktu itu... saat aku mulai tertidur sambil menggenggam tangannya, aku bahkan tidak ingat bagaimana ekspresi jelekku saat tertidur didepannya. Aku tidak peduli apapun, aku hanya ingin menikmati detik demi detik yang berharga ini bersama Andreas.
Selang beberapa jam mungkin....
Aku terbangun dan melirik jam tanganku.
"Ah masih jam 2, padahal rasanya aku udah tidur lama banget" gumamku.
Andreas ternyata sudah ikut terlelap, mungkin bersamaan denganku tadi. Kakinya ia lipat keatas seperti kedinginan, dan benar saja saat kusentuh kedua kakinya memang dingin.
Akupun mencari kaus kakinya dalam tas ransel miliknya yang dia letakan di bawah kakiku. Kemudian setelah menemukannya,aku memasangkannya. Kedua kaki Andreas mungkin kaku karena harus menahan diri untuk tidak bergerak supaya aku tetap bisa tidur dengan nyaman tadi.
Sesekali aku merapikan rambutnya yang berantakan. Sambil menyadari betapa menariknya wajah pacarku ini, wajah yang menyimpan banyak rahasia.
Wajah yang sulit sekali tersenyum pada orang lain, tapi begitu mudah tersenyum untukku.
Tangan yang lebih sering memukul meja dihadapan yang lain, tapi tangan yang sangat hangat untukku.
Aku mengalihkan pandangan saat dia menyadari bahwa aku sedang menatapnya.
"Tidur, jangan liatin aku terus" katanya.
"Pasang alarm ah takut telat bangun" kataku mengalihkan topik.
"Pasang di hape aku aja nih ambil di saku" gumamnya pelan.
Kebiasaan Andreas memang begitu, meski dalam keadaan sedang tertidur seperti sekarang ini dia masih bisa mendengar dan menjawab pertanyaan dari orang lain.
"Otak kakak emang gak pernah merasakan istirahat kayanya" gumamku.
Akupun keasyikan memainkan ponsel Andreas, aku melihat galerinya dan hampir tidak ada foto lain selain fotoku, Ibunya dan almarhum Bapaknya. Bahkan foto dirinya sendiri saja hanya ada beberapa.
"Aku heran kenapa kaka malah banyak nyimpen foto aku, seniat itu sampe dibuatin folder terpisah begini?" tanyaku.
"Karena kamu cantik sayang kalau gak disimpen fotonya, kalau aku kangen juga kan tinggal liat foto kamu" jawabnya sambil tertidur.
"Ih tidur mah tidur aja sih, kenapa mesti denger dan jawab segala? hahaha" responku sambil tertawa.
Tiba-tiba kepalanya berubah arah dan bersandar di pundakku, aku agak bingung harus merespon bagaimana.
Akhirnya aku jadi salah tingkat dan sulit bergerak.
Pengalaman naik kereta ke Jogja dan sensasi malam harinya ditambah dengan Andreas yang ada disampingku sekarang ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang aku bayangkan sebelumnya...
Aku jadi mempunyai kenangan-kenangan baru bersama Andreas. Dalam hatiku, aku berharap ini adalah awal yang baik untuk kami, entah sejak kapan itu aku mau suatu hari nanti bisa pergi berdua saja dengan Andreas. Tujuannya, kemanapun boleh...
Asal berdua saja....
__ADS_1