
Aku masih penasaran dengan perasaan Raina yang sebenarnya kepadaku, hanya saja aku masih segan menanyakan padanya secara langsung.
Saat petir membuat obrolanku dengannya terhenti, saat petir membuat suara teriakannya keluar.
Dia memegang tanganku saking kagetnya, aku cuma menahan tawaku karena ekspresinya yang kekanak-kanakan.
"Kak, ayo ah ke pos keburu ujannya gede kasian Gian sama Ka Dhika disana" gerutunya sambil merengek.
Akupun menuruti keinginannya, meski sebenarnya aku khawatir Raina akan kehujanan dan basah kuyup. "De, kamu emang beda" batinku
Sampailah kami di Pos pengamatan. Aku bergegas mengajak Dhika untuk ke pos berikutnya.
Di pos selanjutnya, aku masih memikirkan Raina. Sedikit.... Membayangkan kalau saja tadi aku bisa menanyakan tentang catatan itu, membayangkan apa yang akan dikatakan Raina padaku.
"Woy ngelamun lu?" teriak Dhika mengagetkanku.
"Lu parah ya lu gimana kalo gua jantungan?" sahutku.
"Lu bener-bener lagi jatuh cinta? Hahaha baru sekarang gua liat lu ngelamunlah, senyum sendirilah pokonya lu jadi gak kaya biasa" kata Dhika.
"Perasaan lu doang kali?" gerutuku.
"Gua bersyukur hidup lu gak datar-datar banget semenjak ada tuh dede gemesh... Gue sih berharap lu sama Raina bisa jadi" jelas Dhika.
"Jadi apa?" tanyaku dengan nada naik.
"Jadi seperti yang engkau minta hahaha" jawab Dhika malah bernyanyi.
Aku melihat sosok Dhika sebagai satu-satunya yang paham cara memperlakukanku. Dhika sangat frontal dalam hal dan waktu tertentu, tapi dia akan menjadi sangat diam saat dia memang bersalah.
__ADS_1
Malam semakin larut dan kudapati Gian sedang duduk sendiri didepan basecamp anak perempuan. Aku sengaja lewat didepannya, "kira-kira ini anak bakal nanya ga yak ke gue?" tanyaku dalam hati.
"Kak, mau kemana?" teriaknya
"Ey lu disini de?" tanyaku sok akrab.
Akupun duduk di sebelah Gian dan kami mengobrol seperti Kakak dan adik tingkatnya.
"Kak, lu ganteng juga dari deket haha" katanya terdengar meledek.
"Bisa aja lu!" jawabku.
Aku berniat menanyakan kepada Gian tentang hubungannya dengan Raina. Tapi, aku agak sungkan karena bisa jadi itu malah merusak suasana akrab yang sedang aku bangun diantara kami.
Berulang kali, Gian hanya menanyakan gimana caranya bisa menjadi asissten dosen dan hal-hal lain terkait perkuliahan. "Dia sepertinya punya kapasitas juga" gumamku.
Aku kemudian berfikir kembali, susah sepertinya memiliki waktu senggang hanya berdua saja dengan Gian.. maka tanpa pikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk menanyakan hubungannya dengan Raina.
Gian terlihat memainkan hapenya, sepertinya ada yang mengirimkan pesan dan yah ternyata itu Raina... Aku bisa melihat dari profil picturenya. Gian lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.
"Haha iya kita pacaran kak! Ya abis gimana lagi gua suka sih sama Raina haha dia kan cantik, baik, menarik lagi" jawabnya.
(Gian, sayangnya gue udah tau kalo lu sama Raina cuma pura-pura pacaran buat lindungin Raina dari gosip. Kenapa lu malah bohong dan bilang kalo lu sama Raina itu pacaran?)
"Oh, sejak kapan?" tanyaku lagi.
"Gue lupa tanggalnya haha" jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Dari gesturenya saja, aku sudah bisa menyimpulkan bahwa Lian sedang berbohong. "Apa gunanya sih lu bohong de? Lu mau manas-manasin gue?" tanyaku dalam hati.
__ADS_1
"Parahlu tanggal jadian sama Raina, bisa lu lupain haha" jawabku sambil membuang muka.
"Kak, lu suka sama Raina?" tanya Gian dengan ekspresi serius.
"Hmm ya normal kan gue suka cewek cantik? Haha meskipun itu cewek orang!" kataku datar.
Gian terlihat tidak nyaman dengan jawabanku. Tapi sebenarnya itu hanya jawaban isengku untuk melihat bagaimana respon Gian.
"Gian, gua mau nanya dong! Ini gue nemu catetan dari buku maru. Tapi ko isinya kaya curhatan ya? Gue gatau ini tulisan siapa, kira-kira lu tau gak ya?" tanyaku.
Aku mengeluarkan kertas yang kutaruh dibalik case hapeku, meski sebenarnya aku tahu itu tulisan tangan Raina. Tapi, ya aku mau lihat saja Gian akan berbohong lagi atau jujur kali ini.
"Hmm tulisan siapa ya? Gak pernah liat haha" jawabnya.
"Yah padahal gue nyangka lu bakal tau de, gue pikir lu tau ini tulisan siapa. Haha gue juga penasaran siapa kakak tingkat yang dimaksud si cewek ini? Karena beruntung banget rasanya disukai sama cewek se'care ini hahaha" kataku.
(Mana mungkin lu gatau tulisan tangannya Raina? Lu bohong lagi ke gue de? Bahkan gue aja langsung tau tulisan tangan Raina, masa elu yang ngaku-ngaku pacarnya gak inget?)
"Yaudah, nanti gue bakal tanya deh ke anak lain siapa tau ada yang inget ini tulisan siapa haha" kataku.
"Emang tujuan kakak apaan? Sampe nyari tau itu tulisan siapa?" tanya Gian.
"Yaa siapa tau itu buat gue kan? Hahaha" kataku sambil tertawa.
"De, gue titip Raina ya?"...
"Eh...nitip?"
"Iya, dia maru favorit gue! Dia asli dan gak pura-pura" jawabku.
__ADS_1
Saat aku sedang keenakan mengobrol dengan Gian, tiba-tiba Raina datang dan bergabung bersama kami. Wajah Raina masih terlihat suram, mungkin dia mengantuk. Matanya terlihat sedikit membengkak, tapi justru menambah kesan menarik Raina buatku. Dia semakin terlihat seperti anak kecil. Rambutnya dikuncir agak keatas, dia mengenakan sweater berwarna peach dan celana training berwarna abu muda.
"De, kamu emang lucu!"....