Kuliah Atau Kuli Ah?

Kuliah Atau Kuli Ah?
Cerita lagi


__ADS_3

Dua hari setelahnya di kampus...


"Harusnya kita libur ya? mabal kek gitu sehari dua hari lagi mah" kata Nunu.


"Iya badan masih pada pegel, capek juga haha padahal seharian kemarin gue cuma tidur doang" jawab Arika.


"Gimana kalau hari ini kita hangout? kemana kek gitu kan kita ada uang kas tuh hahaha hasil bazzar kemarin" ajak Hanifa.


"Boleh tuh fa, emang berapa lagi duitnya?" tanya Nunu.


"Kita kan masing-masing dapet 325 ribu dari bazzar, nah untung yang kemarin-kemarin sebelum bazzar itu dapet 195rb per orang jadi totalnya per orang 520rb. Aku mau bayarin praktikum hidrologi kalian masing-masing 200rb perorang jadi sisa uang kalian di aku 320rb perorang" jelasku.


"Oke sip, kita bisa karaokean atau makan enak" jawab Arika.


"Bisa dua-duanya ka" jawab Hanifa.


"Rain, gimana nih kita produksi lagi totebag kapan?" tanya Nunu.


"Minggu ini ajalah, soalnya stok tinggal 17 pcs lagi belum minggu depan kan ada bazzar lagi" jawabku.


"Iya boleh deh, besok aku telpon orang pabrik ya buat ngorder" kata Hanifa.


Kamipun kembali ke rutinitas sehari-hari kami sebagai mahasiswi tingkat 3, dengan banyak tugas makalah dan kuis dadakan. Ditambah agenda rapat dan kegiatan segudang di BEM.


Hari ini dosen banyak yang tidak hadir langsung ke kelas, karena sedang ada kunjungan ke Yogyakarta. Sementara itu, tugas tetap berjalan lewat email.


Aku dan ketiga sahabatku, mengerjakan tugas di selasar sambil ngemil.


Saat sedang asyik mengerjakan tugas, kulihat Fasya lewat didepanku.


"Sya, ko ada di sini?" tanyaku.


"Hahaha maen ke fakultas tetangga emangnya gak boleh ya?" tanya Fasya.


"Hmm main apa main" ledekku.


Dugaanku saat itu, mungkin Fasya punya kecengan di fakultasku soalnya aku sering melihatnya berkeliaran disekitar selasar.


Fasya akhirnya mendatangiku lalu duduk disebelahku, aku mengenalkan Fasya sebagai teman lesku kepada Nunu dan Arika yang baru pertama kali melihatnya.


"Lagi pada ngapain kalian?" tanya Fasya.


"Nugas, soalnya dosen pada gak dateng" jawabku.


"Hmm, geo tugasnya ngapain sih kebanyakan?" tanya Fasya.


"Ya tergantung mata kuliahnya, bisa teori banget dan bisa praktikal banget kalau geo mah" jelas Hanifa.


"Hmmm tapi seru juga ya kalian banyak ke lapangan gitu, banyak jalan-jalannya" kata Fasya.


"Kamu sendirian kesini? gak ada kerjaan banget haha pasti mau nyamperin cewek ya?" ledekku.


"Iya mau nyamperin cewek, tapi udah berapa hari ini susah banget nemuin dia sekitar sini. Barusan baru ketemu lagi setelah beberapa hari gak ketemu" ceritanya.


"Anak jurusan apa? ciyeee anak MIPA sukanya anak IPS juga ya ternyata?" ledekku.


Fasya hanya tersenyum sambil melihat layar ponselnya.


"Rain, kamu dapet surat cinta berapa kemarin?" tanya Nunu tiba-tiba.


"14 hahaha, kalian berapa?" tanyaku balik.


"Wih banyak, aku turun loh rain taun ini aku cuma dapet 11" jawab Hanifa.


"Karna kamu jadi komdis kali taun ini, taun kemarin kan kamu medis haha jadi mukanya gak sadis kaya sekarang. Aku dapet 7" jawab Nunu.


"Aku dapet 6" jawab Arika.


"Oh jadi kalian ini makhluk dengan banyak penggemar" ledek Fasya.


Tak lama Fasyapun pamit dan sempat mengajakku pulang bersama hari itu, katanya dia mau minta antar ke toko buku untuk membeli beberapa judul novel.


"Aku dapet voucher nih di toko buku, kayanya kepikiran beli beberapa novel deh tapi aku gak tau yang lagi happening apa hmm kamu mau nemenin aku gak rain? nanti kamu boleh beli satu deh" ajaknya.


"Boleh, tapi gak bisa hari ini soalnya aku ada acara sama mereka paling besok. Gimana? tapi kamu tungguin aku sampe pulang ya?" pintaku.

__ADS_1


"Oke, kabarin ya" pungkasnya.


Hari itupun berlalu dengan sangat seru, aku menghabiskan waktu senggangku dengan pergi makan dan nonton bersama Hanuka ke salah satu mall.


Sebelum pulang kerumah, selama perjalanan kami sempat mengobrol di mobil Hanifa.


"Rain, udah berapa hari kamu gak ketemu kak Andreas?" tanya Nunu.


"Terakhir dia kesini pas bazzar itu, adalah dua mingguan yang lalu" jawabku.


"Kangen gak?" tanya Nunu.


"Banget haha, katanya dia baru bisa ke Bandung lagi dua mingguan lagi" jawabku.


"Hmm gimana kalau kamu nemenin aku ke Tangerang? sebenernya aku disuruh nengok Nenek ke Tangerang cuma aku males kalau pake kendaraan umum soalnya ya gitulah lama dijalan. Tapi, ibu aku mana ngizinin kalau aku pergi pake mobil sendirian. Gimana kalau kamu nemenin aku? ya selama disana sih kamu bebaslah ketemu Andreas ntar pas aku mau pulang baru aku jemput. Lumayan kan sabtu minggu ini kita libur" ajak Hanifa.


"Gue ikut dong fa, pulangnya kita ke pantai gimana? lumayan kan photoshoot singkat haha buat stok foto stagram" kata Nunu.


"Gue juga dong, gue mana bisa weekend gak ada kalian" tambah Arika.


"Oke-oke tapi kita harus jualan dulu berarti buat modal liburan singkat nanti, oleh karena itu besok kita jualan mochi dan eskrim duren cup di kampus. Gimana???" saran Hanifa.


"Oke siaaaap!!!!" jawab kami serentak.


Setelah mendengar ajakan Hanifa untuk pergi ke Tangerang, aku langsung antusias dan meminta izin pada Ayah dan Ibu.


"Boleh ya yah? cuma sabtu minggu ko gak lama. Minggu malem aku udah di Bandung lagi" bujukku.


Ayah mengernyitkan dahinya dan memandangi Ibu.


"Gimana bu? izinin jangan? masa anak cewek nyamperin anak cowok sih?" ledek Ayah.


"Aku gak nyamperin kak Andreas ko yah, aku cuma mau nganter Hanifa dan liburan singkat ke Pantai. Kalau ketemu kak Andreas mah sambilan" jelasku.


"Oke, boleh! mau minta uang berapa buat biaya kesana?" tanya Ayah.


"Gak minta, aku punya uang sendiri ko yah" jawabku.


"Bu, anaknya ko punya uang sendiri terus sih. Dia kan kerjaannya kuliah terus tiap harinya pulang sore banget, dapet uang dari mana?" tanya Ayah keheranan.


"Ayah sih kurang perhatian sama anaknya, Raina kan jualan mochi ice cream, duren cup sama totebag gitu bareng Hanifa, Nunu dan Arika. Ya kan teh?" jelas Ibu.


Sesaat sebelum tidur....


"Kamu besok mau kemana?"


"Ke toko buku sama Fasya, nganterin dia beli novel doang ko"


"Berdua doang?"


"Iyalah kan pake motor dia, masa bertiga sih"


"Gak boleh, masa pergi sama cowok berduaan doang. Ajak temen kamu yang lain baru boleh"


"Ih kakak, gak enak aku udah bilang mau kemarin. Masa besok aku batalin gitu aja dengan alasan pacar aku nggak ngizinin sih"


"Ya salah sendiri kenapa baru izin pas udah ngeiyain, dimana-mana tuh kalau izin sebelumnya bukan sesudahnya"


"Abis aku kangen pengen pergi ke toko buku, kakak kan tahu sendiri kalau Hanifa Nunu sama Arika mana mau ke toko buku lama-lama. Makanya pas Fasya ngajakin aku gak nolak, soalnya aku udah lama gak ke toko buku. Coba aja kakak disini, udah aku ajak kakak kesana tiap hari"


"Yaudah, yaudah boleh... tapi jangan lama dan jangan pake acara tambahan"


"Acara tambahan apa?"


"Makan, nonton apalagi ke mall berduaan. Gak boleh!"


Akupun tidur setelah menutup obrolan panjang wajib setiap malamnya dengan Andreas.


Sejauh ini, suaranya masih menjadi suara favoritku. Aku betah mendengarkan suaranya meski harus berlama-lama, kadang kalau aku susah tidur juga aku akan memintanya tetap mengobrol dalam telepon hingga akhirnya aku terlelap.


Pacarku tidak pernah komplain, katanya semalam apapun aku ingin menelponya boleh saja dan dia pasti akan mengangkatnya karena pesan dan telepon dariku memiliki notifikasi khusus di handphonenya. Entah notifikasi khusus apa yang dimaksudnya saat itu, aku tidak tahu.


.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya di kampus...


Tanpa sengaja aku menabrak Kayi yang sedang membawa tumpukan buku paket untuk dibagikan kepada kami. Kali ini, aku tidak berniat membantunya sama sekali. Aku hanya bilang "maaf, aku gak sengaja".


Bukan karena aku tidak kasihan kepadanya, hanya saja aku takut kejadian Rani akan terulang lagi.


"Bagus ya, nabrak orang sampe jatuh cuma minta maaf terus lari gitu aja?" kata Kayi pelan.


Kayi mungkin menyangka aku tidak mendengarnya saat itu, padahal semua kata yang dia keluarkan terdengar sangat jelas di telingaku.


"Aku kan udah bilang maaf, lagian kalau aku bantuin kamu sekarang takutnya malah dibilang cari muka lagi" jawabku sambil menatap tajam ke wajah Kayi.


"Oh gitu, bukannya karena sepi jadi gak bisa pamer berbuat kebaikan ya sama orang?" jawab Kayi sambil meledekku.


Aku berjalan mendekati Kayi, hingga jarak kami hanya berapa centimeter saja saat ini.


"Nah itu kamu tau, kenapa mesti nanya lagi?" kataku.


"Berarti selama ini bener ya kata Rani, kamu cuma cari muka" kata Kayi.


"Iya kan cari duit susah, jadi mending cari muka kan?" balikku meledeknya.


Dia terlihat kesal dengan jawabanku yang tidak seperti biasanya. Aku malah menerima semua tuduhannya dan seolah menantangnya untuk berbuat lebih jahat lagi kepadaku.


Sebenarnya setelah studi keagamaan berakhir, aku sudah berjanji pada kak dhika untuk membereskan masalahku dengan Rani dan Kayi. Tapi saat kupanggil keduanya secara pribadi, mereka malah menolakku mentah-mentah dan bilang bahwa mereka tidak punya waktu untuk mengurusi masalah yang tidak penting.


Makanya, sekarang aku hanya akan membalas keduanya dengan cara yang elegan. Mungkin, aku bisa membuat mereka kehabisan akal untuk menghadapiku.


Selepas perkuliahan selesai....


"Sya aku udah bubaran nih, aku tunggu di parkiran samping fakultas ya" kataku mengirimi Fasya chat di wa.


"Oke-oke, wait aku otw ya" jawab Fasya.


Dalam perjalanan menuju Toko Buku....


"Kamu baru mau belajar baca novel?" tanyaku.


"Iya hahaha, aku penasaran kenapa semua film yang diangkat dari buku pasti penontonnya pada bilang 'lebih rame bukunya daripada filmnya' makanya aku mau belajar baca novel" jelasnya.


"Hmm, tapi emang mayoritas gitu sih. Mungkin karena kalau baca di bukunya, imajinasi pembaca menjadi tidak terbatas dan bebas seliar-liarnya. Tapi kalau sudah dalam bentuk visualisasi film ya pasti membatasi pemikiran orang karena diambil dari satu sudut pandang aja" jelasku.


"Weeey pinter juga nih" ledek Fasya.


Sesampainya di toko buku....


"Aku saranin kamu baca tema-tema sederhana, misal kalau mau cinta ya pure cinta. Horor ya murni horor pun tema lainnya. Baru nanti setelah tahu arah bacaan favorit kamu kemana, kamu bisa beli buku dengan tema yang spesifik" jelasku.


"Kasih 1 aja rekomendasi penulis buku favorit kamu" pintanya.


"Dewi 'dee' Lestari" jawabku.


Sementara Fasya asyik berkeliling, akupun tak lupa mencari novel-novel baru yang terlihat sangat menarik lewat warna-warna pastel di covernya.


Hingga pilihanku jatuh pada novel 'Negeri di Ujung Tanduk' karya Tere Liye....


"Fasya, udah nemu berapa?" tanyaku.


"Dua nih, cariin satu dong tema pure love hahaha yang bombay cengeng gitu gapapa" pintanya.


"Are u serious?" tanyaku memastikan.


"Seriuslah, tolong yaaaaa" pintanya.


Tibalah saat kami membayar barang belanjaan kami...


"Nih aku bayar novel punya aku" kataku sambil memberikan kartu atm ku.


"Gak, aku kan udah bilang kalau kamu boleh milih satu judul buku dan aku yang bakal bayarin" sahut Fasya.


"beneran ya? thank you sya" kataku.


"Thank you juga karena mau nemenin aku cari buku hari ini" jawabnya.

__ADS_1


"Sama-sama sya" jawabku.


"Rain, kamu gak buru-buru kan? gimana kalau habis ini kita makan?" ajak Gian.


__ADS_2