
"Ka Ndre... kamu suka ya sama maru itu?" tanya Praya saat kami bertemu saat rapat divisi di pelataran fakultas.
"Enggak.." jawabku singkat.
"Kalau kamu bilang enggak dengan tempo secepat ini, itu tandanya iya kan?" jawab Praya seolah mengelak jawabanku.
Akupun tidak menjawab lagi... Aku hanya mengambil sikap seolah pertanyaan terakhir yang Praya ajukan padaku tidak pernah kudengar sama sekali.
Aku biasanya tidak pernah memperdulikan siapapun yang berniat mengetahui perasaanku, karena jawabanku selalu jujur. Tapi, kali ini saat aku menjawab pertanyaan yang diberikan Praya rasanya itu bukan jawaban paling jujur. Mungkin aku mencoba mengelak, atau mungkin aku justru jujur dalam arti yang berbeda?
Aku merasa penat, akhirnya aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kosan dan memilih bermain game online di depan perpustakaan, alasannya karena jaringan internet disana sangat cepat dan lancar. Saat sedang asyik bermain, aku bertemu dengan salah satu Dosenku yang baru saja keluar dari sana.
"Andreas, tolong ya kamu bantu Lies memeriksa hasil kuis mahasiswa baru di perkuliahan desa kota saya soalnya saya harus keluar kota besok dan tolong sekalian dimasukkan ya ke web nilai untuk di update"
Dosen tersebut adalah dosenku sekaligus dosen di tingkat baru. Sementara Lies adalah teman sekelasku..entah karena nilaiku dan Lies yang konsisten di perkuliahannya, dosen tersebutpun sering meminta aku dan Lies untuk mengisi jam perkuliahannya jika dia memiliki kesibukan lain diluar kampus. Mungkin istilahnya sebagai "asisten dosen".
Tak lama aku menelpon Lies dan memintanya datang ke perpustakaan untuk membawa lembaran kuis mahasiswa baru yang akan kami periksa nantinya.
"Halo Lies, tadi Pak Dosen minta saya bantuin kamu periksa kuis anak 2011 kan? Gimana kalo periksanya di perpus aja, kamu kesini biar pas update nilai gampang juga kan disini sinyalnya kenceng" kataku.
"Oke yas, aku otw" jawab Lies.
Selang beberapa menit Liespun datang membawa map berisi lembaran kuis yang baru saja dikerjakan mahasiswa angkatannya Raina itu.
"Kamu mau periksa kelas A atau B?" tanya Lies.
"Kelas B aja" jawabku.
Alasanku memilih memeriksa lembar kuis kelas B hanya satu yaitu karena Raina ada dikelas B. Aku mau tahu, apa Raina juga pintar dalam perkuliahan.
Tak lama aku menemukan lembar kuis milik Arika yang ternyata cukup baik hasilnya, Hanifa yang juga terbilang pintar saat menjawab soal essay dan juga Nunu yang singkat tapi padat dan berisi jawabannya.
"Mereka lumayan juga nilainya" kataku.
"Nilai siapa yas yang lumayan?" tanya Lies penasaran.
"Itu anak maru yang berempat itu..." jawabku.
"Ah... Mereka yang jadi inceran si Dhika? Hahaha" ledek Lies.
Lembar kuis Rainapun akhirnya ada ditanganku sekarang, tulisan tangan Raina rapi dan teratur. Aku nyaman sekali membacanya, jawaban Raina juga bukan yang teoritis atau textbook sekali karena ternyata bahasa yang Raina gunakan adalah bahasa sederhana.
Semua jawaban Raina komplit, seperti di soal diminta sebutkan lima syarat ruang terbuka hijau... Ketika kubaca dan kuhitung, Raina selalu mengerjakan sesuai perintah di setiap soal yang tertera. Bahkan sejauh ini hanya tiga orang yang mendapatkan nilai sebagus itu. Satu diantaranya adalah Raina.
__ADS_1
Aku tidak mau serta merta memberikan nilai sesuai pandanganku, aku meminta Lies untuk memeriksa lagi hasil penilaianku. Beruntungnya, Lies setuju dengan semua nilai yang kuberikan pada setiap lembar pengerjaan.
"Aku sepakat ko kamu kasih nilai segitu ke mereka!" kata Lies.
"Oke kalo gitu tinggal kita update aja nih" jawabku sambil membuka situs nilai online kampus.
Aku dan Liespun mengisi tabel penilaian mid semester untuk mata kuliah desa kota. Tapi, sembari menginput nilai maru yang tadi ternyata aku juga bisa melihat nilai maru dalam mata kuliah yang lain. Aku melihat rata-rata nilai adik tingkatku bagus, kebanyakan dari mereka tidak ada yang memperoleh B-.
"Wow lumayan keren ya" kata Lies terheran-heran.
"Iya haha yang tahun ini kayanya paling ningkat deh haha beda sama angkatan kita, seingatku dulu aku dapet C mata kuliah ini" jawabku.
"Ohya? Aku sih B haha bener sih dulu susah banget ya mau dapet B di mid semester haha" sahut Lies.
Selepas mengerjakan tugas dari Dosen, kami berduapun pulang ke kosan masing-masing.
Malam harinya, aku kangen Ibu. Aku memutuskan untuk menelpon dan menanyakan keadaannya.
Ibu : Halo bang, gimana di Bandung sehat?
Aku : Sehat bu alhamdulillah... Ibu gimana?
Ibu : Sehat juga bang, Ibu sekarang kan banyak yang jagain semenjak sepupumu tinggal sama Ibu jadi Ibu diantar terus ke pasar, ke dokter ah pokonya Ibu baik bang.
Ibu : Loh kenapa bang?
Aku : Aku kan jadi asdos kemarin-kemarin, alhamdulillah dapet uang sendiri pun bulan lalu aku ikut lomba debat dan menjadi relawan PON alhamdulillah bisa buat bayar kosan dan uang makan selama sebulan kedepan..
(Ibu terdengar tidak meresponku, diujung telepon kudengar suara Ibu mulai serak seperti menahan tangis)
Ibu : Bang, Ibu kan minta kamu untuk fokus belajar fokus kuliahnya jangan sambil cari uang gitu, Ibu gamau abang kecapean terus sakit. Abang kan jauh dari Ibu, kalo abang sakit disana siapa yang rawat? Kalau urusan biaya kan Ibu masih sanggup bang, hasil kebun karet juga katering lumayan masih bisa biayain abang sampe S2 insyaallah...
(Mendengar perkataan Ibu barusan, hatiku terenyuh. Betapa Ibu masih mengkhawatirkan anaknya yang sudah bujang ini, betapa Ibu khawatir anaknya akan sakit karena kecapean...)
Aku : Gak papa bu, aku kuat ko! Ibu yang harus banyak istirahat jangan terlalu banyak kerja apalagi ngurusin kebun karet, minta Om Agung aja yang urus. Ibu kan udah gak muda lagi, kalo aku kan masih muda.
Ibupun tertawa dan menyadari ledekanku.
Ibu : Yaudah kalo ada perlu apa-apa atau uangnya kurang, abang telpon Ibu ya!
Obrolan Ibu dan anak yang terpisah jarak antar pulaupun berakhir dengan pesan dan nasihat Ibu agar aku menjaga pola makan dan tidurku.
Beberapa minggu berlalu.
__ADS_1
Aku diminta menjadi pendamping kelompok pada kuliah lapangan pengamatan suhu di kelas mahasiswa baru. Tentu tidak hanya aku sendiri tapi juga tiga temanku yang lain yaitu Dhika, Dhoni dan Lingga. Alasan Pak Dosen meminta kami mungkin karena kami paling mengenal kawasan pengamatan itu, maklum selama dua tahun terakhir ini setiap ada kuliah lapangan aku dan ketiga temanku itu pasti menjadi tim survey.
Aku dan Dhika pun bersedia, sementara Lingga dan Doni menolak karena ada kegiatan REMA di luar kampus. Akhirnya tim pendampingpun berubah, Zaky dan Arsil menjadi anggota baru yang akan menemaniku dan Dhika selama mendampingi adik tingkat kami pengamatan disana.
Tempo hari sebelum keberangkatan ke lokasi pengamatan, aku mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Katanya "Gian dan Raina berpacaran". Aku dan ketiga temanku kaget bukan main.
"Raina kan pendiem ya? Ko bisa cepet banget mutusin buat pacaran? Sama temen sekelasnya lagi" kata Lingga.
"Ya lu pikir aja maru cantik kaya Raina mana mungkin lama ngejomblo, tuh anak cowo baru juga normal kali pada tau mana anak yang cantik mana yang engga" sahut Doni.
"Iya bener! lagian kan dua temennya si Arika sama Hanifa juga udah punya pacar haha wajar kalo Raina nyusul" tambah Dhika.
Mendengar keributan mereka membicarakan Raina cs bukan membuatku tertarik. Aku justru malah tidak suka dan tidak menyangka bahwa anak perempuan yang selama ini kurasa "berbeda" ternyata "sama saja" bahkan dia bisa dengan mudahnya jatuh pada teman sekelasnya sendiri yang baru dia kenal beberapa bulan belakangan ini.
"Yas haha lu oke brader?" tanya Lingga.
"Apa maksud lu nanya gitu?" sahutku.
"Siapa tau lu sakit hati kan ternyata inceran lu diambil orang! Hahaha" jawab Lingga meledekku.
"Alah yas tenang aja selama belum ada kebenarannya yaudah lu jangan mundur kalo lu ketemu doi tanya aja langsung bener apa engga doi udah punya cowo hahaha" sahut Dhika bersemangat.
Untuk apa aku repot-repot? Toh itu bukan urusanku. Mau bersama siapapun Raina, ya itu hak dia. Aku tidak punya kepentingan.
Tak disangka setelah pagi harinya aku dan teman-temanku membicarakan Raina, siang harinya saat aku hendak meminjam kabel di ruang panel depan laboratorium jurusan, aku berpapasan dengan Raina.
Bibirku sebenarnya enggan mengeluarkan pertanyaan atau bahkan sekedar sapaan. Aku hanya mau diam dan menghindari kontak mata dengannya.
Tiba-tiba saat aku melihat wajahnya lagi, aku seperti didorong dari dalam untuk menanyakan hal yang Dhika sarankan tadi pagi. Akhirnya, kata itu keluar begitu saja dariku tanpa kusadari.
"Dek, kamu sama Gian sekarang?"....
Jawabannya, kalian pasti sudah bisa menebaknya sendiri "Iya kak awalnya sih kita temenan aja terus gak tau gimana jadi deket dan ya gitu"....
Aku enggan mengingat jawaban dari Raina, hanya saja otakku seperti terus menerus memutar rekamannya.
Entah bisikkan setan darimana, tiba-tiba aku malah menjawab bahwa aku memang bersama Praya juga saat itu.
"What the ****? Kenapa aku bilang aku balikan sama Praya sih?" gerutuku dalam hati.
Ini respon tiba-tiba yang paling tidak kuinginkan dan terkesan mengecewakan. Bagaimana bisa aku bilang begitu pada Raina? Raina kan bisa saja berpikir bahwa aku juga sama seperti lelaki kebanyakan.
Tunggu-tunggu... Apa baru saja aku memikirkan Raina? Mengapa sudut pandangku seperti ini sekarang?
__ADS_1