
Sky berjalan ke ruang bawah tanah mencari teman yang bisa di ajak bicara. Tapi baru saja hendak masuk lift ponselnya berbunyi.
"Kembali ke kamar atau aku akan mengurungmu di kamar seharian!!"
Sky menghembuskan nafas, belum lima menit ia keluar Javier sudah bangun saja. Alhasil ia kembali lagi ke kamar. Dan ketika membuka pintu tubuh Sky terlonjak kaget kala suaminya berdiri dengan bersedekap dada.
"U-udah bangun, By ..."
Javier menatap datar seraya menggelengkan kepala.
"Berani sekali meninggalkanku sendirian di kamar."
"Kau tadi tidur, By. Aku yang sendirian," sahut Sky mengerucutkan bibirnya.
Bukan marah Javier malah terkekeh melihat istrinya seperti itu. Ia mendekat dan memeluk tubuh istrinya.
"Maaf sayang ... aku pikir tadi kau juga tidur."
Javier langsung menggendong tubuh istrinya dan menidurkan nya lagi di ranjang.
Pria itu menyelimuti tubuh mereka berdua. Javier menatap wajah istrinya dengan menopang kepala dengan satu tangan nya.
Jari-jemarinya tak henti menelusuri wajah istrinya dengan lembut.
"Sayang ..."
"Iya?"
"Ceritakan apapun tentangmu. Aku belum pernah mendengar kau bercerita tentang masa kecilmu."
Sky tampak berfikir. "Aku cerita tentang apa ya ..."
Javier tersenyum miring. "Apa saja sayang."
"Oh iya, tunggu." Sky beranjak dari kasur membuat Javier berdecak kesal.
"Mau kemana lagi sayang?"
"Sebentar, aku sedang mencari sesuatu ---Nahh ketemu ..."
Sky kembali masuk ke selimut bersama Javier dan ia memperlihatkan kalung dengan bentuk bintang yang ia bawa dari tas nya.
"Dari siapa itu?!" tanya Javier sewot.
Sky menghela nafas melihat suaminya yang sewot duluan.
"Ini dari seseorang. Dia memberikanku ini ketika aku masih kecil. Bagus kan?"
"Siapa? si Herry laknat?" tanya Javier.
Sky berdecak. "Bukan."
__ADS_1
"Lalu?"
"Dari Paman yang aku lupa namanya. Dia bilang, langit akan lebih cantik dengan bintang dan bintang akan lebih cantik jika bersama bulan."
Javier masih setia mendengarkan dengan jari-jemarinya bermain di wajah Sky.
"Dan aku tanya, siapa bulan nya? apa itu paman?"
"Dan dia jawab, bukan. Paman bilang, bulan nya seseorang yang nantinya akan menjadi orang yang paling aku cintai. Dan sepertinya kau bulan nya, By ..."
Javier menaikkan satu alisnya tersenyum mendengar pengakuan istrinya.
"Benarkah?" tanya Javier yang langsung memeluk dan menciumi istrinya saking senangnya dengan kalimat itu.
Sky mengangguk. "Dan Zivania petir nya, By." lanjut Sky di ikuti tawa nya.
"Kau ini suka sekali membiarkan petir di sekitar kita."
"Aku merasa puas melihat Zivania kepanasan hahaha ..."
Javier hanya menggeleng melihat istrinya itu.
"Lalu anak kita apa nanti sayang?" tanya Javier.
"Matahari," jawab Sky.
"Kenapa matahari?" tanya Javier.
"Ahhh ... gemas nya ..." Javier langsung memeluk erat tubuh istrinya dan menghujani nya dengan ciuman.
Keduanya tertawa di balik selimut. Kalau saja Sky tidak datang bulan sudah pasti gadis itu akan di terkam.
Setelah beberapa menit kemudian keduanya kembali hening, Javier sesekali masih menciumi istrinya sementara Sky masih memainkan kalung bintang nya.
"Sayang ... bagaimana kalau kita mandi bareng?"
"Aku baru mandi tadi pagi," sahut Sky.
"Mandi lagi saja ..." rengek Javier.
"Ah aku lupa, aku sedang datang bulan tidak bisa mandi denganmu."
"Huhh ... menyebalkan sekali datang bulan mu itu, menghalangi kita berduaan saja."
Sky terkekeh. "Sabar, By."
"Yasudah aku mandi sendiri saja." Javier beranjak dari kasur seraya bersiul melangkah mendekati lemari.
Pria itu sedang memilih baju yang akan di kenakan. Tapi sebelumnya ia membuka bajunya dulu dan melemparnya ke tempat pakaian kotor.
Sky menyipitkan matanya kala melihat sesuatu di leher belakang suaminya. Ia perlahan beranjak dari kasur mendekati Javier yang masih sibuk memilih baju.
__ADS_1
"I-itu ..."
"Ya sayang?" tanya Javier berbalik kala mendengar Sky bergumam sendirian.
"Boleh aku lihat tatto di leher belakangmu?" tanya Sky yang penasaran.
"Tatto?" Sky mengangguk.
Dan Javier pun kembali berbalik, Sky menghela nafas berat. Semoga saja bukan tatto yang sama yang ada di pikiran nya.
Dan ketika melihatnya Sky langsung melebarkan matanya. Ia mundur perlahan dengan rasa takut menjauhi suaminya sendiri.
Tubuhnya gemetar dan ia berusaha menghela nafas untuk menenangkan dirinya sendiri. Matanya sudah berkaca-kaca. Hatinya tiba-tiba begitu sakit.
Javier membalik dan mendapati Sky yang terus mundur dengan wajah merah menahan tangis.
"Sayang ... kenapa?"
Sky langsung mengulurkan tangan nya.
"J-jangan mendekat ..." Sky kembali menghela nafas beberapa kali.
"Sayang hei ... kau kenapa?"
"Jawab pertanyaan ku ... tatto apa di lehermu?" tanya Sky.
"Ini lambang Yakuza ..."
Nafas Sky terasa tercekat mendengarnya. "Apa semua anak buahmu mempunyai tatto itu?"
Javier mengangguk.
"Bagaimana dengan orang biasa? apa mereka boleh membuat tatto seperti itu?"
"Tidak sayang ... tatto ini hanya milik Yakuza sebagai lambang dari bagian Yakuza. Tidak ada yang boleh membuat tatto ini sembarangan."
"Apa semua anak buahmu hanya mengikuti semua perintahmu? Apa itu berlaku untuk para pemimpin sebelumnya?" tanya Sky.
Javier mengangguk. "Iya, tidak ada yang bergerak tanpa perintah aku, Ayahku dan Kakek ku."
Sky melebarkan mata mendengar itu dan akhirnya air mata pun lolos begitu saja.
"Sayang ..." Javier hendak mendekati Sky tapi Sky berteriak.
"BERHENTI!!" nafas gadis itu tidak teratur, ia menangis dengan tubuh gemetar.
"Sayang ... kau kenapa ..." Javier terlihat sangat panik.
"I-itu artinya ... A-ayahmu yang menyuruh seseorang me-membunuh aku dan Ibuku h-hari itu. Iya kan?"
Bersambung
__ADS_1