
Liana berkeliling mencari Sky di taman bermain sesekali ia menelpon sahabatnya itu. Aktif tapi tidak di jawab.
"Dimana sih!" Liana kesal sendiri setelah berkeliling beberapa kali. Ia masih saja tidak menemukan Sky Alexander.
Liana berfikir kalau Sky mungkin sudah pulang, ia pun kembali pulang.
Sore hari Javier kembali ke mansion setelah meeting bersama beberapa orang di perusahaan.
Pak Liam dan beberapa pelayan menyambutnya di depan. Tapi kali ini Pak Liam terlihat cemas.
"Tuan ..." mereka membungkukan badan.
"Sky sudah pulang?"
"Nyo-Nyonya belum kembali sedari pagi, Tuan ..."
Javier membulatkan mata, ia sudah mewanti-wanti Sky untuk jangan keluar terlalu lama. Tapi lihatlah gadis itu sekarang ... entah ada dimana.
Javier berlari masuk ke mobil dengan panik. Ia membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Sekretaris Han hanya melihat mobil yang keluar di bawa Javier. Ia menghela nafas semoga Sky baik-baik saja.
Ketika ia hendak masuk mansion tak sengaja ia melihat Athes and the geng di halaman. Dengan cepat sekretaris Han menghampiri mereka.
"Bukan kah kalian ditugaskan untuk menjaga Nyonya, Sky?"
"Nyonya Sky sendiri yang meminta kami untuk tidak mengikutinya, Sekretaris Han," ucap Aiden dengan menunduk.
Sekretaris Han mendengus kasar. "Bersiap-siap lah mungkin sebentar lagi kalian bertemu malaikat maut!" Sekretaris Han melengos begitu saja setelah mengatakan itu.
Mereka semua kompak mendongak dengan terkejut.
"Malaikat maut lagi ... malaikat maut lagi ... Tidak ada ancaman lain selain itu," ujar Nicholas menatap kepergian Sekretaris Han.
"Selain malaikat maut ada malaikat yang lain," ujar Sergio.
"Malaikat apa?" tanya Jonathan.
__ADS_1
"Malaikat kubur," hardik Sergio membuat mereka menghembuskan nafas.
"Huh ... ku pikir malaikat penjaga pintu surga," sahut Aiden.
"Kau pikir malaikat pintu surga mau bertemu anak buah mafia seperti kita? Aku yakin dia pasti mengunci bahkan mengembok pintu surga agar tidak dimasuki manusia seperti kita," Kini Samuel yang berkomentar.
"Gampang. Kalau di kunci dobrak saja atau tembak saja malaikat pintu surga itu!" ujar Jonathan.
Athes menoyor kepala Jonathan.
"Diamlah kalian ini! sudah tahu nyawa kita di ujung tanduk masih saja bisa bercanda!!" pekik Athes kesal.
Nicholas juga kesal sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sekretaris Han menelpon Thomas di dalam mansion meminta pria itu untuk menyadap cctv yang menuju ke arah taman bermain.
Dan di perjalanan Javier mencengkram setir mobil dengan kuat membuat urat-urat di tangannya terlihat.
Ia begitu panik, cemas dan ketakutan memikirkan Sky, apalagi semalam baru saja Javier memimpikan Sky yang dibawa oleh pemimpin Mudork. Ketakutannya semakin bertambah. Haruskah ia mengurung Sky di mansion nanti.
Javier tak perduli ia hanya ingin cepat sampai di taman bermain itu.
Sampai akhirnya ia sampai di taman bermain dan membanting setir dengan cepat untuk parkir sampai mobil depannya menubruk tihang disana.
Ia berlari keluar dari mobil tapi satpam disana menghadangnya.
"Maaf ... Taman bermain sudah tutup, silahkan kembali besok."
"Aku ingin mencari istriku ... Dia belum pulang."
"Ma'af Tuan ... tidak ada pengunjung lagi disini. Semua pengunjung sudah pulang. Kami sudah memeriksanya."
"Aku ingin memeriksa nya lagi!" Javier hendak masuk tapi Satpam itu mengulurkan tangan menghalangi Javier.
Javier mendengus kesal, ia menatap tajam satpam itu. Satpam itu sempat merinding dengan tatapan Javier apalagi melihat tubuh tinggi dan besar pria di depannya ini. Tapi satpam itu berusaha tenang dan tetap melakukan tugasnya untuk tidak membiarkan orang sembarangan masuk setelah tutup.
"Sekali lagi maaf Tuan tid--" Ia menggantung kalimatnya kala Javier menodongkan pistol ke arahnya.
__ADS_1
Ia berbicara dengan penuh penekanan dan kemarahan.
"Buka gerbangnya atau kau mati!!"
Satpam itu menghela nafas, ia tidak percaya pistol yang dibawa Javier itu asli. Pasti itu hanya pistol mainan.
"Maaf, Tuan. Saya sudah bilang saya tidak bisa membi--"
DOR
Tubuh Satpam itu terlonjak seketika kala Javier menembak pistol nya ke atas sebagai peringatan kalau Javier tidak main-main dan pistol yang dibawa nya asli bukan mainan.
Ia segera membuka gerbang dengan gemetar hebat membiarkan Javier masuk.
Javier berlari mencari ke segala arah di taman bermain. Ia terus berteriak memanggil Sky. Tidak ada jawaban sama sekali.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan itu dari Thomas.
"Rumah hantu," ucap Thomas yang berhasil menyadap cctv di taman bermain itu.
Javier mematikan panggilan nya dan segera berlari ke Rumah Hantu.
Dari luar suasana sudah gelap bahkan pintu sudah terkunci alhasil.
BRAKH.
Ya, di dobrak saja mau bagaimana lagi. Javier pun berteriak memanggil Sky dengan suasana rumah hantu yang hanya di terangi lampu kecil di dinding.
Ia mengusap kasar wajahnya kala istrinya itu belum juga di temukan.
Sampai akhirnya Javier melihat ruangan yang tertutup. Ia berlari ke ruangan itu dan kembali menendang keras pintu sampai terbuka.
"SKY!!!" teriak Javier begitu panik melihat istrinya tak sadarkan diri.
Bersambung
(Sambil nungguin bab selanjutnya mampir dulu ke cerita baru aku yuk. Judulnya KARENA ALCOHOL. Mohon vote dan coment ya, terimakasih)
__ADS_1