Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#117


__ADS_3

Setelah semuanya selesai Javier kembali ke mobil.


"By ..."


"Sayang tidak apa-apa?" tanya nya kemudian meraup wajah istrinya dengan panik.


Ia menggerakan wajah Sky mencoba mencari mungkin saja ada luka di wajah istrinya.


"Apa ada yang sakit?" tanya Javier, ia menekan-nekan tubuh Sky yang masih di baluti kostum badut, bisa saja ada lebam di tubuhnya.


Dan ternyata istrinya tidak merasa kesakitan.


"Aku baik-baik saja, By," sahut Sky.


Javier mengangguk lega, lalu menarik sitbealt ke tubuh istrinya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, ia marah dengan orang yang berani menyentuh istrinya. Walaupun preman itu sudah mati, tetap saja kekesalan nya belum hilang.


Sky hanya diam, apalagi melihat raut wajah suaminya. Kenapa menyeramkan sekali, sudahlah dia diam saja.


Javier membawa Sky kembali ke mansion. Ketika sampai di depan, Pak Liam dan yang lain menyambutnya di depan.


Pria itu membuka pintu mobil dengan kasar dan menutupnya dengan keras membuat tubuh Sky terhentak kaget. Apa suaminya marah dengan nya sekarang.


Javier mengitari mobil membuka pintu dan menggendong tubuh Sky.


Pak Liam dan yang lain membungkukan badan tapi seketika mereka bingung melihat raut wajah Javier yang terlihat begitu marah dan lagi, kenapa Nyonya nya memakai kostum badut, mereka pun semakin bingung.


Javier membawa Sky ke kamar mandi. Sebelumnya ia sudah menyuruh Pak Liam untuk menyiapkan perlengkapan mandi di kamarnya.


Pria itu membantu Sky membuka kostum badutnya dan juga membuka bajunya di kamar mandi.


"Masuk." pinta Javier agar Sky masuk ke bath up.


Sky menurut saja apalagi ekspresi Javier masih datar.


Pria itu memandikan istrinya dalam hening, menyabuni Sky, menggosok setiap inci tubuh istrinya, mengeramasi dan membantunya membasuh wajah Sky denga sabun muka, bagian ini ia gosok lembut tapi agak sedikit lama karena ia melihat para pria itu memegang pipi istrinya.


Tidak ada yang boleh memegang pipi gembul Sky selain dirinya. Dan sekarang ia harus membersihkan jejak tangan para preman sial*n itu.

__ADS_1


Setelah selesai Javier memakaikan bath robe ke tubuh istrinya dan kembali menggendongnya lalu mendudukan Sky di meja rias.


Sekarang ia sedang mengeringkan rambut Sky lalu menyatok rambut panjang istrinya.


"Selesai," ucap Javier.


Ia pun memeluk tubuh Sky dari belakang. "Kau baik-baik saja hm?" tanya nya, padahal di mobil tadi ia sudah menanyakan hal itu.


Sky mengangguk. "Aku baik-baik saja, By ... tapi kenapa aku harus mandi."


"Tangan mereka kotor, aku tidak suka mereka menyentuh mu."


Sky tersenyum tipis. "Maaf aku tidak bilang dulu tadi."


"Lain kali kau harus izin, jangan pergi sembarangan seperti itu lagi," sahut Javier.


Sky mengangguk. "Iya, By ..."


Javier mempererat pelukan nya. Sekarang Sky bisa melihat dari cermin di depan raut wajah suaminya berubah menjadi tenang seperti biasa lagi. Beda dengan tadi yang seperti kerasukan setan.


"Oh iya, ada kabar baru tentang Hanna," ucap Javier.


Javier mengangguk. "Dia pelayan wanita yang kemungkinan penyebab kematian Ibumu."


Sky mencoba mengingat-ngingat, sepertinya nama itu tidak asing baginya. Ia seakan pernah mendengarnya. Sementara Javier masih diam memeluk istrinya dengan sesekali menciumnya .


"Hanna sedang di hukum di Rumah Sakit Jiwa di desa X. Jangan menangis lagi anak kecil, Paman akan mencari tahu kenapa dia membunuh Ibumu."


Segelintir ingatan itu muncul tiba-tiba di ingatan Sky. Ya, dia ingat paman yang memberikan kalung bintang itu yang memberitahu dirinya kalau Hanna ada di Rumah Sakit Jiwa.


Tapi sampai detik ini Sky tidak tahu dimana paman itu padahal Paman itu sudah berjanji akan mencari tahu soal kematian Ibunya.


"Ada apa sayang?" tanya Javier yang melihat istrinya tiba-tiba melamun.


"A-aku tahu dimana Hanna ..."


Javier menaikkan satu alisnya bingung, kenapa Sky bisa tahu soal itu.

__ADS_1


"Kau tahu?" tanya Javier memastikan.


Sky mengangguk. "Paman itu mengirimnya ke Rumah Sakit Jiwa di desa X."


"Hanna ada di Rumah Sakit Jiwa, Ayah mu yang mengirimnya kesana."


Javier semakin bingung, kenapa perkataan Sky sama dengan perkataan Sekretaris Han. Apa mungkin Paman yang di maksud Sky adalah Ataric, Ayahnya sendiri.


"Ikut aku sayang."


Javier menggenggam tangan Sky membawanya ke depan pintu kulkas lagi.


Ia kembali membawa Sky masuk ke ruangan favoritnya dan Ataric dulu.


Untuk memastikan semuanya Javier berniat memperlihatkan foto Ataric kepada Sky.


Mereka pun sudah berdiri di depan pigura besar yang di tutupi kain putih.


Ada dua pigura di sana. Javier menarik kain putih yang pertama.


"Dia Andreas De Willson, Kakek ku," ucap Javier.


Sky menatap pemimpin pertama Yakuza itu. Foto pria paruh baya dengan rambut yang sudah sedikit memutih. Di foto itu Andreas tidak tersenyum sama sekali, terlihat sekali aura kejam nya.


"Dia sangat tegas," ucap Javier. "Lebih tegas dari Ayahku. Tapi dia yang membuat peraturan wanita dan anak kecil tidak boleh di bunuh."


"Dan ini ..." Javier menarik kain putih di pigura kedua.


"Ataric De Willson, Ayahku ..."


Sky melebarkan matanya seketika, ia terkejut sampai mundur beberapa langkah seraya menutup mulutnya.


Ya, itu dia. Paman yang memberikan nya kalung bintang dan Paman yang mengajarinya membuat nasi goreng yang lezat.


Pantas saja saat itu Javier bilang nasi goreng yang di buat Sky mirip rasanya dengan yang di buat Ataric. Ternyata paman itu adalah mertua nya sendiri.


Ah, dia sudah salah paham dengan Ayah suaminya. Ia pikir Ayah Javier yang menjadi dalang dari pembunuhan Ibunya hanya karena melihat tatto di leher Hanna sama dengan tatto lambang Yakuza.

__ADS_1


Sky tidak tahu kalau Paman yang membantu nya saat kecil seorang pemimpin Yakuza. Yang dia tahu paman itu orang biasa sepertinya.


Bersambung


__ADS_2