Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#181


__ADS_3

Maxime menekuk wajahnya seraya menghadap tembok, ia hendak melipat tangan nya di dada tapi Javier menghentikan nya.


"Tangan di samping!" ucap Javier dingin.


Maxime mendengus dengan memanyunkan bibirnya. "Huhhh ..."


Javier berdiri di belakang anaknya seraya melipat tangan di dada.


"Kau tau apa salahmu?"


"Aku melempar Luci ke meja makan, Dad," sahut Maxime.


"Siapa itu Luci?"


"Belutku."


Javier menghela nafas. Maxime suka sekali menamai binatang di sekitarnya, bahkan sekecil semut saja dia panggil Ciba. Entah darimana ide nama itu muncul.


"Itu belut dan kau berteriak ular. Mengagetkan semua orang Maxime. Kau tidak boleh seperti itu."


"Huhh ... Luci kan ingin bermain juga, Dad."


"Kapan kau akan berhenti nakal Maxime?"


"Kalau aku mendapatkan Glory," sahut Maxime.


"Apalagi itu Glory?" tanya Javier yang mulai bingung dengan nama-nama binatang yang di sebutkan anaknya.


"Singa, aku ingin bayi singa, Dad."


Javier mengusap wajahnya kasar. "Astagaaa!!"


Kalau di beri bayi Singa, Javier yakin Maxime akan semakin berulah.


"Dad akan membelikanmu kucing, oke."


"Noooo ... itu untuk pelempuan,"


"Dad akan pikirkan nanti. Sekarang diam di situ jangan kemana-mana."


Sementara itu Tessa dan Miwa sedang mendandani Jonathan dan Sergio di lantai bawah.


"Tolongg ..." suara Jonathan bergetar karena tidak bisa lepas dari dua cengkraman gadis kecil di depan nya.


"Tidak bisakah kalian membantu kami," gumam Sergio kepada Athes dan yang lain. Mereka duduk santai di sofa seraya menertawakan Jonathan dan Sergio.


"Uncle Jon cantik," ucap Miwa.


"Hei aku ini perempuan," sahut Jonathan.

__ADS_1


"Uncle mau pakai ini? Tessa menawari eyeshadow di tangan nya.


Sergio menggeleng. "Tidak tidak ... jangan pakai itu."


"Oh mauu, okee..."


"Hei, aku bilang tidak!" Sergio setengah berteriak tapi Tessa segera merias wajah Sergio dengan eyeshadow di tangan nya.


Javier menuruni anak tangga menghampiri Xander yang duduk menonton Miwa dan Tessa merias Jonathan dan Aiden.


"Aku harus kembali ke Negaraku, kami sudah terlalu lama di sini dan aku harus kembali mengurusi perusahaan yang sudah lama aku tinggalkan," ucap Javier seraya duduk di samping Xander.


Xander menghela nafas. "Sebenarnya aku ingin kalian semua tinggal di sini saja."


"Ikutlah bersama kami," tutur Javier.


"Aku hanya bisa menginap beberapa hari saja di mansion mu. Negara itu terlalu menyakitkan untukku," sahut Xander mengingat Negara M adalah pertemuan dan perpisahan untuknya dan Alexa.


"Kau harus melupakan mantan kekasihmu itu."


"Tidak mungkin aku melupakan Ibu dari anakku."


Javier tertawa ketus. "Aku tidak menyangka kau begitu setia Ayah mertua."


"Mencintai seseorang sekali saja sudah cukup untukku," sahut Xander lalu beranjak meninggalkan Javier yang menggelengkan kepala dengan ucapan Ayah mertua nya itu.


Javier berdecak, belum lima menit anak itu di hukum sudah keluar kamar saja.


Dan Arsen juga keluar dari kamarnya, Arsen berlari ke luar manson. Maxime yang melihat itu segera turun dari tangga untuk menyusul Arsen.


"Hati-hati." Javier sedikit berteriak melihat anaknya menuruni anak tangga dengan langkah yang cepat.


"Ulah apa lagi yang akan mereka lakukan," ucap Nicholas melihat Maxime lari tergesa-gesa menyusul Arsen.


Sky yang sedari tadi di dapur menghampiri Javier.


"Kita pulang kapan, By?" tanya Sky.


"Kemungkinan besok sayang," sahut Javier.


"Apa Dad ikut?"


"Ya, dia akan menginap untuk beberapa hari."


Sky mengangguk. "Baguslah, aku sudah rindu suasana mansion mu."


"Aku juga rindu tempat membuat Maxime dan Miwa," sahut Javier seraya memeluk istrinya.


"Heii!!" Sky mencubit perut suaminya.

__ADS_1


Sementara itu Kara baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.


"Tadi pagi kau baru selesai mandi, sekarang mandi lagi," ucap Sky.


"Aku ingin selalu terlihat cantik," sahut Kara.


"Cih, aku yakin bukan itu alasan nya," sambung Javier.


"Pasti Han menerkam mu siang-siang begini, iya kan?"


Kara berdecak. "Sembarangan!"


"Kalau sembarangan tutupi bekas merah di lehermu itu," sahut Javier membuat Kara membulatkan mata lalu meraba lehernya sendiri.


Sementara Sky menahan tawa nya. "Rajin sekali pasutri ini ..."


Maxime dan Arsen kembali masuk ke mansion dengan tubuh kotor, kedua anak laki-laki itu baru saja main tanah di halaman depan.


"Astagaa Arsen ... kau ini kenapa lagi?" teriak Kara.


Semua mata tertuju ke arah Maxime dan Arsen.


Arsen menunjukan sesuatu di tangan nya. "Aku mencali mam untuk Dudu."


"Ya, aku juga." Maxime juga menunjukan sesuatu di tangan nya.


Dan itu adalah cacing tanah. Kara bergidik, ia geli melihat cacing yang bergerak-gerak di tangan dua bocil itu.


"Cacing untuk apa lagi?" tanya Javier.


"Untuk Dudu, Dad," sahut Maxime.


"Siapa lagi Dudu?"


"Ikan di akualium," sahut Javier membuat semua orang mendengus seraya menggeleng.


Keenan baru saja masuk ke mansion setelah mengurus pekerjaan di kantor. Ia melangkah seraya bersiul santai.


Dua bocil itu membalik ke arah Keenan. "Uncle Keenan."


Keenan menghentikan langkahnya lalu menatap mereka berdua. "Ada apa?"


Seketika cacing itu di lempar ke arah Keenan membuat pria itu berteriak jijik.


"Wuahahaha." Maxime dan Arsen tertawa terpingkal-pingkal melihat Keenan terus menggeliat membuang cacing yang sempat menempel di bajunya.


Athes and the geng ikut tertawa. Sementara para orang tua hanya bisa menghembuskan nafas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2