
"Ibu ... aku mau ice cream." teriak Sky kecil seraya berlari ke dapur.
"Astaga ... anak ibu ini, sudah gembul masih saja suka ice cream," sahut Alexa dengan terkekeh pelan.
Sky cemberut, bukannya mendapat ice cream malah di katai gembul.
"Huhh ... padahal kan pipi Sky engga gembul."
"Yaudah ... yaudah ... bukan Sky yang gembul tapi ibu," sahut Alexa kembali membuat Sky terkekeh.
Sky menangis seraya memeluk dirinya sendiri di atas ranjang kala ingatan dirinya dan Ibunya kembali hadir.
Alexa berlari keluar dari rumah dengan tangisan yang begitu pecah nya. Sky kecil terus memanggil-manggil Alexa tapi perempuan itu tetap pergi melajukan mobilnya.
Hujan begitu lebat di luar, petih saling menyambar, Gadis enam tahun itu hanya termangu sendirian di depan tv. Alexa dan Herry pergi dari rumah meninggalkan nya sendirian.
Ia hanya terisak dengan memegang ice cream vanila di tangan nya. Sesekali suara petir membuat tubuh kecil nya terlonjak kaget sampai akhirnya ia berjalan menuju dapur untuk membuang ice cream yang sudah meleleh.
Ketika di dapur ia mendengar suara perempuan yang sedang berbicara di telpon. Di belakang dapurnya hanyalah halaman luas yang kosong, biasanya Sky akan bermain di sana bersama Alexa.
Perlahan Sky berjalan mengendap-ngendap mendekati pintu dapur yang terhubung dengan halaman belakang. Ia mendekatkan telinganya, suara perempuan itu masih terdengar tapi Sky kecil tidak bisa mendengar jelas apa yang di katakan perempuan itu.
Sampai akhirnya Sky memberanikan diri membuka sedikit pintu dapurnya. Ia mengintip di sana.
"Alexa sudah mati, kau tenang saja aku sudah merusak rem mobil nya. Dia sudah jatuh ke jurang."
"Jangan lupa kirim uang nya malam ini. Huh ... aku tidak bisa pulang karena hujan sangat deras."
"Senang sekali kau mendengar Alexa mati ..."
Sky yang mendengar nama Ibunya melebarkan matanya. Ia hendak pergi untuk mencari Herry dan melaporkan kejahatan perempuan itu tapi kaki kecil nya malah tersandung dan menjatuhkan salah satu pot di dapur.
Perempuan itu berlari dan segera membuka pintu dapur dengan keras.
__ADS_1
Keduanya saling terkejut satu sama lain. Sky segera beranjak dan berlari keluar rumah mencari Herry.
Kaki kecilnya terus melangkah dan melangkah. Nafasnya memburu, sesekali ia menoleh ke belakang melihat perempuan itu terus mengejarnya.
"Ibu ..." lirihnya seraya terisak.
"Ibu tolong ..."
"HEI KAU BERHENTI ANAK KECIL!!"
"BERHENTI ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU SEPERTI IBUMU!!"
Sky kecil terus berlari dan berlari di bawah guyuran hujan dan sambaran petir yang begitu mengelegar.
Sky tidak tahu harus kemana ia pergi sampai akhirnya ia masuk ke sebuah hutan yang gelap.
Dan Sky kecil tertusuk di hutan itu, di malam yang gelap dengan hujan dan petir saling menyambar membuat sebuah trauma yang begitu besar dalam dirinya sampai sekarang.
Sampai detik ini Sky tidak berani memberi tahu Herry apa yang sebenarnya terjadi. Karena perempuan itu mengancam nya akan membunuh Herry jika Ayah nya itu sampai tahu.
Tubuh Sky gemetar seketika, isak tangisnya pecah. Suara itu kembali terdengar. Suara perempuan yang bersenandung ke arahnya.
"Sky ... Oh my beautiful Sky ... kau harus pergi ke neraka bersama ibumu ..."
Sky menutup kedua telinganya dengan tangan gemetar, wajahnya pucat, ia terlihat sangat ketakutan.
"P-pergi ..."
"Sky kau harus pergi bersama Ibumu ..."
"J-jangan ... jangan mendekat ... jangan ..." lirih Sky di tengah-tengah tangisan nya.
Ia hanya sendirian di kamar, bahkan lampu kamar nya menyala. Hanya karena melihat tatto di leher suaminya membuat trauma nya muncul sekalipun di tempat terang seperti sekarang.
__ADS_1
"Pergi ..."
"Pergi ..."
"PERGI ..."
BRAKH
Javier masuk kala mendengar jeritan istrinya.
"Sayang ... Kenapa?" tanya Javier panik dan berusaha mendekati Sky.
Tapi nyatanya gadis itu malah semakin ketakutan melihat suaminya. Ia beringsut menjauhi Javier yang sudah duduk di ranjang.
Sky menatap Javier dengan pandangan kosong dan tubuh yang gemetar. Kedua tangan nya masih menempel di telinga.
"Sayang ..." Javier mengulurkan tangan nya hendak meraih tangan istrinya tapi Sky menepisnya kasar.
"Pergi ..." lirih Sky pelan.
Sekretaris Han masuk dan melihat pemandangan yang tak biasa dari pasangan ini.
"Pergi ..." pinta Sky lagi.
"Sayang ini aku ..." Javier bersikeras untuk menyadarkan istrinya.
"PERGI ... PERGI ... AKU BILANG PERGI ..." Sky meraung-raung seperti orang gila.
Javier hendak mendekat tapi Sekretaris Han menahan nya.
"Dia akan semakin ketakutan kalau kau seperti ini ..."
Javier akhirnya pasrah, ia melangkah keluar dari kamar. Sesekali ia menoleh ke belakang menatap nanar tubuh istrinya yang masih enggan menatap nya.
__ADS_1
Bersambung