
Javier bangkit dari duduknya mencengkram tangan Elsa dengan kuat dan hendak menyeret perempuan itu keluar dari rumah.
"Lepaskan aku!!" teriak Elsa.
"Kau harus mendapatkan hukuman!!"
"Tidak, aku tidak mau!!"
Elsa terus memberontak berusaha melepaskan cengkraman tangan Javier.
"Lepaskan Elsa, Javier!!" Herry berusaha membantu istrinya.
"Mama ..." Aleza dan Aliandra pun menghampiri mereka.
"Lepaskan Ibuku!! lepaskan!!" Aleza memukul-mukul lengan Javier. Javier menghela nafas, pukulan apa itu seperti di gigit anak semut.
"Byy ..." Sky memegang tangan Javier yang satunya.
"Sudahlah, tidak perlu melakukan itu," lanjut Sky.
"Dia harus satu ruangan bersama Hanna," pekik Javier.
"Aku tidak mau lepaskan!!" teriak Elsa.
"By, ini sudah berlalu. Aku lelah tidak mau memperpanjang masalah ini lagi," hardik Sky.
"Kau ..." Javier menatap tajam Elsa. "Ikut denganku atau aku lapor polisi!!"
Elsa melebarkan matanya. "Apa maksudmu? Sayang tolong aku, kenapa kau diam saja!!" ucap Elsa menatap kesal Herry.
Herry tidak tahu harus apa, walau bagaimanapun Elsa tetap salah karena menghilangkan nyawa Alexa.
"Aku tidak akan mengurungmu lebih dari satu tahun," ucap Javier.
"Tapi jika kau tertangkap polisi, kau akan di hukum lebih dari tiga tahun. Kau pilih mana?!"
"Ikut saja dengan nya," ujar Philip. "Kau hanya di simpan di RSJ tidak masuk penjara."
"Javier hanya ingin kau satu ruangan dengan suruhanmu," ucap Thomas.
Javier ingin Elsa melihat segila apa Hanna di RSJ. Wajah dan tingkahnya menyeramkan, Elsa harus melihat itu. Setidaknya itu hukuman untuk Elsa.
Elsa bergeming sesaat, menentukan pilihan. Ia tidak mau masuk penjara, alhasil ia dengan pasrah nya ikut dengan Javier.
"Baik, aku ikut denganmu."
__ADS_1
"Maaa ..." Aleza menggelengkan kepala.
"Bod*h, kau tidak tahu saja Hanna seperti apa sekarang," batin Sekretaris Han.
"Hubungan kita semua selesai. Kalian sudah jelas bukan bagian keluarga dari istriku. Mulai sekarang tidak perlu menganggu istriku lagi, kalau sampai aku melihat kalian menyentuh istriku sedikit saja ... akan ku pastikan kalian mati!!"
Javier menarik tangan Sky keluar dari rumah itu tapi Aliandra memanggilnya.
"Kakak ..."
Langkah mereka terhenti dan membalik menatap Aliandra yang terlihat sedih akan kepergian Sky.
"Al ..."
Aliandra berlari memeluk Sky, ia menangis dalam pelukan Kakaknya, walaupun bukan Kakak kandung.
"Jadi kita tidak satu Ayah dan tidak satu Ibu juga," ucap Aliandra di sela-sela tangisnya.
Pletak
"Akkhh!!" Aliandra melepaskan pelukan nya karena baru saja Javier menyentil keningnya. Ia mengusap keningnya yang perih.
"Jangan menangis kau ini laki-laki!!"
Sky meraup kedua pipi Aliandra. "Kau ingat, Kakak pernah menyuruhmu untuk tinggal di rumah baru. Bagaimana?"
"Iya, aku mau, Kak. Aku akan keluar dari rumah ini," ujar Aliandra.
"Aliandra," panggil Herry dengan penuh penekanan.
"Hadapi aku kalau kau melarang anak ini keluar dari rumah!!" pekik Javier dengan tatapan tajam .
Herry hanya menghela nafas, Javier kembali membawa istrinya. Sementara Elsa sudah menjadi urusan Sekretaris Han dan yang lain.
Di sepanjang jalan Sky hanya diam, tak banyak bicara. Ia hanya menatap jalanan yang ramai.
"Sayang bagaimana kalau kita pergi ke mall?"
Sky menggeleng.
"Ke taman?"
Sky menggeleng lagi.
"Membuat olaf?"
__ADS_1
Sky menoleh sembari menaikan satu alisnya. "Olaf?"
Javier mengangguk. "Sekarang musim salju di negara M. Bagaimana kita membuat olaf di sana."
Sky tersenyum. "Benarkah?"
Javier ikut tersenyum seraya mengelus puncak kepala istrinya, akhirnya Sky tersenyum juga.
"Iya sayang ... kita pergi besok."
Sky mengangguk dengan semangat lalu membuka jendela mobil yang kebetulan mereka sudah dekat ke mansion.
Jalanan menuju mansion memang melewati kebun teh yang luas dengan udara yang sejuk, apalagi hari ini rintik hujan turun.
Sky menghirup udara dalam-dalam. Berusaha menenangkan pikiran nya yang rumit.
Kematian Ibunya dan kenyataan kalau dia bukan anak dari Herry cukup membuat pikiran gadis ini terbebani.
Beruntunglah ada Javier yang setidaknya bisa mengangkat sedikit beban di hidupnya.
Mereka pun sampai di mansion, Sky masuk ke kamarnya.
Ia membersihkan diri terlebih dulu di kamar mandi lalu merebahkan dirinya di ranjang.
Siang ini Sky hanya ingin meringkuk di atas ranjang saja. Tidak mau melakukan apapun lagi.
Sampai Javier menghampiri istrinya itu lalu memeluknya dari belakang.
"Kau baik-baik saja?"
Sky mengangguk pelan.
"Jangan terlalu memikirkan seseorang yang bukan lagi bagian dari hidupmu."
Sky tersenyum tipis, itu adalah kata-kata andalan Javier De Willson.
Pria itu pernah mengatakan hal yang sama ketika Sky bertanya, apa Javier sudah melupakan Zivania atau belum.
Melihat Sky tersenyum tipis Javier menggoda istrinya dengan mendusel-dusel di leher istrinya.
Sampai mengangkat bahu nya berusaha menutupi lehernya. "Itu geli ..."
Javier terkekeh. "Benarkah?"
Dan pria itu malah semakin menggoda Sky, menghujani nya dengan ciuman, memeluknya sampai tangan kekarnya masuk dengan nakal ke dalam baju Sky.
__ADS_1
Ia menggelitik perut Sky, mereka tertawa dan bercanda sampai berakhir dengan berc*nta.
Bersambung