Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#137


__ADS_3

Sky menatap Javier dengan tubuh mengigil, bibirnya gemetar dengan tangan memeluk tubuhnya sendiri.


"Turunlah, By ... aku mohon ..." batin Sky.


Ia masih bergeming di halaman mansion Javier, berharap pria itu berubah pikiran untuk tidak menyuruhnya pergi.


Sampai beberapa menit kemudian pun Javier masih enggan untuk turun. Pria itu membiarkan istrinya mengigil di bawah guyuran hujan.


Sky menghela nafas, mengusap wajahnya karena mata nya terasa perih, mungkin air hujan masuk ke mata nya.


Dengan terpaksa, ia melepaskan cincin yang di berikan Javier. Cincin dengan alat pelacak di dalamnya itu ia lemparkan di depan Javier.


Javier hanya menatap cincin yang sudah hilang entah kemana.


Sky pun pergi dari mansion. Semua orang terlihat sedih melihat kepergian Sky.


Pintu gerbang terbuka, beberapa satpam membungkukan badan ke arah nya.


"Tidak perlu ... aku bukan Nyonya kalian lagi," ucap Sky.


Kakinya melangkah, selangkah demi selangkah ia keluar dari halaman mansion. Sky sedikit ragu, karena ketika ia sudah berada di luar mansion itu artinya semuanya selesai sudah.


Sky tidak pernah pacaran, Sky tidak pernah dekat dengan seorang pria. Sampai akhirnya ia di paksa menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai, detik demi detik ia bisa menerima Javier dalam hidupnya. Sampai akhirnya tiba, Javier mengecewakan nya.


Pria pertama di dalam hidupnya berhasil menggores luka yang teramat dalam.


Selangkah lagi, ia keluar dari gerbang. Tapi ia masih sempat menoleh ke belakang, menengadah menatap Javier di balkon. Pria itu benar-benar meminta nya untuk pergi.


Sky menghela nafas. "Dari awal menikah denganmu adalah takdir buruk dalam hidupku," batin Sky.


Dan seketika, gadis itu berlari kencang di bawah guyuran hujan tengah malam pernikahan nya berakhir.


Semua orang terkejut, Sky benar-benar pergi. Gadis itu berlari meninggalkan mansion, semua orang mengikuti pandangan Sky yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan mereka.


Javier mengusap wajahnya kasar kala melihat istrinya sudah hilang dari pandangan nya.


"Maafkan aku, Sky ..." lirihnya.


Sky berlari dan berlari tanpa henti. Seandainya hujan tidak turun, mungkin orang-orang bisa melihat berapa banyak air mata yang ia tumpahkan.


Sesekali ia mengusap wajahnya tapi langkahnya tak henti berlari. Ia berlari dalam tangisan.


Sampai akhirnya ia mematung kala melihat jalanan yang gelap gulita. Hujan masih belum berhenti, petir masih saling menyambar.

__ADS_1


Suasana ini mengingatkan nya kepada tahun dimana ia hampir di bunuh Hanna.


Sky terlihat panik, menoleh ke sana ke mari. Ia menoleh ke belakang, tapi tidak mungkin ia kembali ke sana. Javier sudah membuangnya.


Ia harus berlari ke depan, tapi jujur ia masih takut trauma itu masih ada. Sky menghela nafas beberapa kali.


"Kau pasti bisa ... kau pasti bisa ..." batin Sky berusaha menyemangati dirinya sendiri.


"Sky kau harus pergi ke neraka bersama Ibumu ..."


Deg.


Sky membulatkan mata, suara itu ... suara itu kembali terdengar.


"Sky ... kenapa kau membunuhku ..."


Tubuh Sky gemetar seketika, ia mengedarkan pandangan nya. Tidak ada siapapun di sana, hanya dirinya sendirian.


"Sky kau harus mati sepertiku ..."


Sky menggeleng dengan wajah panik. "Ti-tidak ... tidak ..."


"Sky kau membunuhku ..." Suara Hanna tak henti bersenandung di telinga Sky.


Ia seakan melihat Hanna di depan matanya. Penampilan Hanna yang sama seperti ia lihat di RSJ saat itu. Rambut berantakan, wajah pucat dengan lingkar hitam di bawah mata dan Hanna melotot ke arahnya.


"Pergi Hanna pergi ... pergi ... PERGI!!!"


Dengan langkah tertatih ia menyusuri jalanan yang gelap gulita itu dengan wajah panik dan takut.


Sky seperti orang gila sekarang, berlari tanpa arah tujuan dengan sesekali menoleh ke belakang.


Setiap langkahnya ia berteriak meminta Hanna pergi padahal tidak ada siapapun di sana.


Trauma gadis itu belum sembuh sempurna dan sekarang ia di bebani oleh suami yang meninggalkan nya.


Sky Alexander depresi sekarang, ia berhalusinasi di ikuti oleh Hanna sampai langkah nya enggan berhenti walau sudah sangat kelelahan.


Sampai akhirnya gadis itu berhenti di atas jembatan dengan sungai deras di bawahnya. Ia masih memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar antara takut dan mengigil kedinginan.


Ia menoleh ke kanan ke kiri, memastikan tidak ada Hanna di dekatnya.


Lalu ia menengadah menatap langit yang masih saja belum berhenti menuruni air hujan.

__ADS_1


"Hei langit ... apa kau meledekku? mentang-mentang arti namaku langit, ketika aku bersedih kau malah menurunkan hujan seperti ini!!" teriak Sky.


"Kau meledekku hah?!!" teriaknya lagi.


Na Na Na Na


Suara bersenandung itu kembali terdengar, Sky membulatkan mata.


"Ha-Hanna ... jangan ganggu aku ..."


Suaranya masih terdengar jelas. Sky dengan panik menoleh ke sana kemari.


Nafasnya memburu, dada nya terlihat naik turun. Wajah Sky pucat seketika dan tiba-tiba.


Oeekk ... oeekk..


Ia muntah banyak.


"Kenapa aku sering sekali muntah akhir-akhir ini ..." gumam Sky seraya menepuk-nepuk dada nya.


Ia mengusap mulutnya kasar dengan punggung tangan.


"Cukup ..."


"Sudah cukup ... aku lelah sekarang ..."


"Aku punya batas menghadapi luka ku sendiri dan ini batas terakhirku. Aku menyerah ... aku menyerah ... AKU MENYERAH TUHAN!!"


Sky menengadah memaki-maki langit.


"KAU TERUS SAJA MEMBERIKANKU TAKDIR BURUK. IBUKU MENINGGAL, PAPAH HERRY BUKAN AYAH KANDUNGKU ... MAMA ELSA PEMBUNUH ... HANNA TERUS MENGANGGU KU DAN SEKARANG ... SEKARANG ..." Dada nya terlihat naik turun lagi. Sakit, sangat sakit sampai Sky sulit melanjutkan kalimatnya. Ia mengusap lagi wajahnya, tangisan nya tidak berhenti, hanya saja tidak terlihat karena air hujan.


"SEKARANG ... JAVIER MENINGGALKANKU ..."


"Dia pergi ... dia membenciku tanpa alasan, Tuhan ... hiks .."


"Aku lelah ... bahu ku tidak kuat lagi menanggung semuanya."


Ia menghela nafas berat, menatap aliran sungai deras di bawahnya.


"Aku menyerah Tuhan ... aku lelah ... aku ingin tidur panjang saja ..."


Tidur panjang yang di maksud Sky Alexander adalah bunuh diri. Di tengah malam dengan hujan deras dan petir saling menyambar ia menyerahkan hidupnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2