Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#189


__ADS_3

Javier melajukan motornya dengan cepat membelah jalanan yang sepi, di sekelilingnya hanya di penuhi pepohonan yang menjulang tinggi.


Ia tidak melewati jalanan yang sama seperti sebelumnya, Javier tidak mau anak buah mudork di depan melihatnya, ia memutuskan mengambil jalan lain yang bisa langsung masuk dari belakang markas Mudork.


Sesampai nya di sana, suara tembakan dan pukulan saling bertautan dari halaman depan, ia mengendap-ngendap melirik ke kanan kiri, perlahan membuka pintu belakang.


Javier menghela nafas panjang dengan nafas terengah-engah kala berhasil masuk ke dalam markas. Ia melihat sebuah anak tangga, itu pasti jalan menuju ruangan.


Ada sebuah lemari di sana, Javier bersembunyi di belakang lemari itu kala mendengar suara langkah kaki berjalan turun.


"Jav ..." panggil seseorang pelan.


"Hey kepar*t!!" panggilnya lagi.


Javier celengak-celinguk sampai mata nya mendapati Xander yang sedang bersembunyi di bawah anak tangga.


Xander memberi kode untuk segera naik, Javier mengangguk dan mereka pun jalan mengendap-ngendap selepas memastikan tidak ada lagi orang yang hendak turun tangga.


Xander yang berada di belakang Javier sesekali waspada dengan mengecek ke belakang, siapa tau ada musuh di belakang mereka yang tiba-tiba menembak.


Selangkah demi selangkah mereka berjalan perlahan dengan jantung berdebar tapi mereka berusaha tetap tenang.


Javier tetap membidikkan pistolnya ke depan, ada banyak ruangan di sana. Entah ruangan mana yang ada Sandic di dalamnya.


Javier berdiri di ruangan pertama sebelah kiri dan Xander berdiri di ruangan pertama sebelah kanan.


BRAKH


Mereka berdua menendang pintu seraya bersiap-siap menembak, tapi ternyata dua ruangan itu kosong.


Mereka pun mencoba ke ruangan di sampingnya, lagi-lagi ruangan itu juga kosong, keduanya mendengus. Si*l nya lagi, kenapa banyak sekali pintu di lorong itu.


"Dimana dia?" ucap Xander dengan kesal.


Sementara itu di sebuah ruangan Sandic menggeram kesal kala melihat di cctv anak buahnya banyak yang mati.


Ia semakin uring-uringan kala melihat Javier dan Xander berada di sekitar markas nya.

__ADS_1


Tidak ada cara lain, ia harus membawa seseorang yang akan membuat Javier kalah.


Sandic membuka pintu kamar di ruangan itu, ada seorang perempuan yang termenung di atas kasur dengan tatapan kosong. Ia hanya memeluk tubuhnya sendiri dengan rambut terurai berantakan.


"Kemari kau!!" Sandic dengan tergesa-gesa menarik tangan perempuan itu.


"Tidak ... lepaskan aku ... aku tidak mau!!" Perempuan itu memberontak memukul-mukul tangan Sandic yang mencengkram kuat pergelangan tangan nya.


"Lepaskan!! lepaskan!!"


"RANIA!!" teriak Sandic begitu kerasnya membuat si perempuan diam tak berkutik seraya tubuh gemetar ketakutan.


Xander dan Javier mendongak ke atas plafon ruangan itu, mereka tidak salah dengar. Suara itu dari atas sana.


"Cepat!"


Dengan langkah tergesa-gesa keduanya membuka semua ruangan untuk mencari jalan ke atas atap tersebut.


Mereka yakin di atas sana bukan hanya atap biasa, tapi ada sebuah ruangan.


Dan benar, di ruangan paling ujung ada anak tangga mengarah ke atap.


Sementara di ruangan itu Sandic menatap tajam Rania.


"Anakmu ada di sini!!" ucapnya dengan penuh penekanan dan amarah besar sampai mencengkram tangan Rania dengan kuat.


"J-Javier ..." ucap Rania terbata menatap Sandic tak percaya apa yang di katakan pria di depan nya ini.


"Ikut dan menurutlah jika kau ingin anakmu tetap hidup!!"


BRAKHH


Javier dan Xander mendobrak pintu kamar tersebut dan Javier begitu terbelalak melihat perempuan paruh baya yang selama ini ia cari berada di depan matanya.


"J-Javier ..." panggil Rania dengan mata berkaca-kaca.


Sontak Javier menurunkan senapan nya, Rania dan Javier saling menatap dalam seakan tak percaya mereka kembali bertemu.

__ADS_1


"Mom ..." lirih Javier pelan.


Sandic yang melihat Xander menarik pelatuk ke arahnya segera melingkarkan lengan nya di leher Rania dengan kuat sampai membuat perempuan itu kesulitan bernafas.


"Berani kau menembakku, aku bunuh dia!!"


"J-Javier ..."


"Jadi selama ini kau yang menculik Ibuku sial*n!!" teriak Javier dengan amarah menggebu-gebu di dalam dirinya.


"Jangan terpancing!" peringat Xander kepada Javier dengan berbisik pelan.


"Apapun yang terjadi kau harus tetap tenang!" lanjut Xander.


Sandic tertawa kecut. "Tidak mungkin aku menculik adikku sendiri!"


Javier maupun Xander melebarkan matanya. Benarkah? Benarkah Rania adik Sandic.


"Tapi perempuan ini sangat bod*h!! aku menyuruhnya masuk ke hidup Ataric untuk membunuh pria itu, dia malah mencintai Ataric dan melahirkan keturunan yang baru!! kalau bukan adikku dia sudah mati dari dulu!!"


"Momm ..." lirih Javier, mata nya terlihat meminta penjelasan kepada sang Ibu.


Javier kembali menoleh tajam ke arah Sandic dan segera menodongkan pisau, tak mau kalah Sandic pun menodongkan pisau ke kepala Rania.


"Aku masih punya waktu walaupun satu detik untuk membunuh Ibumu Javier!! kalau kau berani menembakku, kau akan kehilangan Ibumu untuk selamanya!! aku sudah tidak perduli lagi dia adikku atau bukan!!"


"Le-lepaskan ..." lirih Rania, wajahnya merah karena oksigen tidak dapat masuk sempurna.


"Lepaskan Ibuku!!" geram Javier.


"Kau harus menggantikan Ibumu jika ingin dia selamat," ucap Sandic seraya seringai tajam.


Ada apa ini, yang Javier tahu Ibunya sedari dulu sering kali bepergian dengan alasan shopping atau berkumpul dengan teman nya lalu pergi tanpa alasan yang jelas meninggalkan Javier selepas kematian Ataric.


"Aku tidak percaya kalau Ibuku adikmu," sahut Javier.


"Dia memang adikku," sahut Sandic dengan tersenyum miring lalu mengeratkan tangan yang melingkar di leher Rania dengan kuat membuat Rania mengerang kesakitan dan berbicara dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Dia adik yang tidak tau diri dan malah jatuh cinta dengan musuhku sendiri!!"


Bersambung


__ADS_2