
Sekali lagi, kebodohan Sekretaris Han adalah tidak menanyakan nama Kakak Kara yang sebenarnya.
Tapi seandainya ia tahu lebih dulu siapa Kakaknya Kara tetap saja ia sudah terlanjur salah kepada Keenan dari awal mereka bertemu.
Sekarang apa yang harus ia lakukan. Sekretaris Han duduk di depan Keenan, Keenan menyeruput wine di tangan nya seraya tersenyum kecut. Ia meneliti pakaian Sekretaris Han, lihatlah pria yang hendak mendekati adiknya ini datang memakai baju yang ia belikan tadi karena jebakan botol nama itu.
"Pakaianmu bagus, Han," seru Keenan menyimpan kembali wine di meja.
Sekretaris Han berdehem kikuk, jangan sampai Kara tahu baju yang ia kenakan memakai uang Kakaknya sendiri.
"Pasti harga nya sangat mahal," sambungnya.
Sekretaris Han tidak mampu menjawab ia mengambil wine di meja untuk menghilangkan kegugupan nya, lalu pria itu menyimpan kembali wine setelah di minum setengah dan menghela nafas.
Kara yang bingung hanya bisa menatap mereka berdua bergantian. Yang di pikiran nya Sekretaris Han gugup bertemu pertama kali dengan sang Kakak.
"Han, tidak perlu gugup. Kakak ku baik," ucap Kara.
Lagi-lagi Keenan tersenyum kecut, baru kali ini ia bisa duduk bersama Sekretaris Han dan pria itu lebih banyak diam. Biasanya dirinya selalu di jadikan sasaran empuk bullyan Sekretaris Han dan anak Yakuza yang lain.
"Iya aku baik, Han. Sangat ba-ik."
"T-tidak aku tidak gugup," sahut Sekretaris Han seraya tersenyum tipis.
Padahal di bawah meja ia memainkan jari-jemarinya di atas paha, bukan hanya gugup ia sedang memikirkan kedepan nya bagaimana nasibnya dengan Kara. Kenapa harus si kep*rat ini yang menjadi Kakak nya Kara.
"Oh iya, kita belum berkenalan secara resmi." Keenan mengulurkan tangan nya.
"Aku Keenan, Kakak yang paling di sayangi adiknya. Iya kan, Kar?" Keenan menekan kata di sayangi kepada Sekretaris Han.
__ADS_1
Kara mengangguk lalu memeluk lengan Keenan dengan tersenyum. "Iya, dia Kakak terbaikku."
Sekretaris Han menelan saliva nya susah payah. Yang paling di sayangi dan Kakak terbaik, seolah-olah kalimat itu sebuah peringatan keras dari Keenan kalau adiknya tidak akan menjadi miliknya tanpa restu dari Keenan.
Keenan menggoyang-goyangkan lengan nya, karena Sekretaris Han belum juga berjabatan tangan.
Sampai akhirnya perlahan tangan Sekretaris Han menjabat tangan Keenan. "Aku, Han."
Keenan tersenyum ke arah Sekretaris Han. Dan tentu saja, itu senyuman terpaksa dan tidak tulus sama sekali.
Bahkan Keenan terlihat mencengkram tangan Sekretaris Han yang berjabat tangan dengan nya.
Sekretaris Han menghela nafas lalu berusaha sebisa mungkin melepaskan tangan nya. Mereka pun saling melempar senyum satu sama lain setelah jabatan tangan nya terlepas.
"Oh iya, Han ini seorang Sekretaris juga loh Kak. Dia bekerja di De Willson group dan atasan nya juga teman kecilku dulu."
"Javier?" tanya Keenan.
"Tentu saja," sahut Keenan. "Dia awal dari pembullyan ku," gumam Keenan sangat pelan seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
Seandainya Javier tidak menikah dengan Sky mana mungkin ia bisa terbully oleh Sekretaris Han dan yang lain.
"Dan apa kau tidak sadar kalau Javier itu menantu Xander?" tanya Keenan kepada Kara.
"Benarkah?" Kara melebarkan matanya.
"Kemarin dia ada di pesta itu," sahut Keenan.
"Ah tapi aku tidak melihatnya kemarin karena sibuk makan hihi."
__ADS_1
"Kalau begitu kalian sudah saling kenal seharusnya, bukan? kenapa berkenalan lagi?"
Keenan menatap tajam Sekretaris Han. "Dia kan pacarmu, aku harus berkenalan sebagai calon kakak ipar. Bukan begitu, Han?" Keenan menaikkan satu alisnya dan tersenyum miring.
Sekretaris Han kembali berdehem. "Ya, kau benar."
"Aku senang kau bertemu dengan, Han. Dia pria baik."
Sekretaris Han menatap Keenan, apa ia tidak salah dengar Keenan memujinya.
Keenan menoleh ke arah Kara.
"Kau tau, Kar. Tadi aku bertemu dengan pria yang menjebakku di mall, dia memintaku membayar semua belanjaan yang dia beli.
"Benarkah? kenapa dia seperti itu?" tanya Kara melebarkan matanya.
"Aku tidak tau kenapa ada pria yang seperti itu, Kar. Bahkan dia bertemu denganku memakai baju yang aku belikan."
Sekretaris Han mengambil wine yang sisa setengah dan meneguknya sampai habis lalu menghela nafas mendengarkan sindiran Keenan. Ia pikir tadi Keenan memujinya, nyatanya malah menyindir dirinya sendiri.
"Huhh ... tidak tau malu sekali pria itu!"
"Kau tidak boleh bertemu dengan pria seperti itu," sambung Keenan.
"Tidak akan, Kak. Han tidak seperti itu." Kara menoleh ke arah Sekretaris Han dengan tersenyum.
Sekretaris Han hanya bisa tersenyum tipis saja.
"Sudah-sudah mengobrolnya, kita makan dulu saja." Kara mengangkat tangan nya meminta menu kepada pelayan.
__ADS_1
Mereka pun makan bersama dengan suasana sedikit canggung. Bahkan Sekretaris Han lebih sering menunduk dari pada melihat mata Keenan.
Bersambung