
Mereka saling melambaikan tangan satu sama lain dengan tersenyum. Xander merangkul putrinya, yang lain hampir menangis melihat kepergian Sky.
Mereka buru-buru menghapus air mata yang hampir jatuh, memalukan jika mereka menangis di depan orang-orang.
Sekretaris Han menghela nafas. "Semoga dia bahagia dengan Ayah kandungnya."
"Ya, disini hanya luka yang dia punya. Semoga setelah ini tidak akan ada yang menyakiti Sky lagi," sahut Sergio.
"Aku penasaran, apa Javier sudah tahu kalau Sky hamil," pekik Thomas.
"Biarkan saja dia menderita aku muak dengan nya," sahut Sekretaris Han.
Mereka semua pun berbalik hendak pulang setelah Sky hilang dari pandangan mereka. Gadis itu sudah naik pesawat bersama Xander.
"Javier ..." ucap Philip yang melihat Javier berlari dengan penampilan acak-acakan. Keningnya terlihat berdarah.
Wajahnya basah antara peluh keringat dan juga tangisan. Ia terlihat kebingungan melirik ke sana kemari.
Javier mendapati Sekretaris Han dan yang lain. Ia mempercepat langkahnya menghampiri mereka.
"Dimana istriku?" tanya nya dengan panik takut Sky sudah pergi.
"Dimana?!!" tanya nya lagi karena tidak ada yang menjawab satu pun.
"Han dimana dia?"
"Thomas dimana dia?!! apa dia sudah berangkat, dia sudah pergi?" tanya nya menahan isak tangisnya.
"Dia sudah pergi, kau terlambat," sahut Thomas.
Ia menggaruk kepalanya frustasi. "Sky ..." lirihnya.
Javier menabrak mereka semua berlari sekencang mungkin, semoga saja ia masih punya waktu untuk bertemu Sky.
Javier sempat di hadang oleh beberapa petugas bandara tapi ia memukul mereka hingga membuat kericuhan pun terjadi.
Sekretaris Han dan yang lain hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat tingkah Javier.
Javier berlari masuk ke landasan pacu di ikuti beberapa petugas berlari di belakangnya.
"SKY ...."
__ADS_1
"SKY JANGAN SKY ... JANGAN PERGI ..." teriaknya.
Sky sudah di dalam pesawat bersama Xander. Gadis itu duduk di dekat jendela pesawat.
Javier masih berlari untuk mendekati pesawat yang bertuliskan nama Xander di sana. Ia tahu Sky ada di dalam pesawat itu, tapi ia masih harus berlari karena pesawat itu jauh dari jangkauan nya.
Sementara itu di dalam pesawat Sky terlihat termenung, ia tidak mendengar teriakan Javier. Sky hanya melamun dengan tangan mengelus perutnya.
Javier sangat ingin merasakan menjadi sosok seorang Ayah.
Tiba-tiba perkataan Sekretaris Han melintas begitu saja di ingatan nya.
Satu atau dua anak cukup untukku.
Dan itu adalah kalimat dari Javier sendiri. Pria itu menginginkan satu atau dua anak dan sekarang keinginan nya terkabul, Sky mengandung dua anak sekaligus tapi pria itu sudah tidak bersamanya lagi.
"Takdir begitu lucu ya, Javier," batin Sky.
"Kenapa keinginan mu harus tercapai setelah kita tidak bersama ..."
Lalu ia mengingat perkataan Javier, kalau pria itu akan memberitahu nama anaknya jika usia kandungan Sky sudah sembilan bulan.
"Bagaimana dengan nama itu Javier ... ketika usia kandunganku sembilan bulan nanti, apa kau akan memberitahu nama mereka walaupun kau mungkin tidak menemaniku di masa-masa kehamilanku ini ..." lirih Sky.
"SKY!!"
"SKY!!"
Roda pesawat mulai melaju untuk take off. Sky masih duduk termenung.
Javier berlari dengan di ikuti para petugas di belakangnya.
"Jangan sayang ... ku mohon jangan tinggalkan aku," lirihnya.
"Tolong maafkan aku ... tolong jangan pisahkan aku dengan mereka ... aku menunggu kehadiran mereka sayang ... tolong ..."
Pesawat semakin menaikkan kecepetan nya, roda pesawat perlahan masuk dan pesawat pun perlahan naik dan naik.
"SKKKYY!!" Teriak Javier semakin keras melihat pesawat yang mulai lepas landas.
Sky menghela nafas. "Selamat tinggal Javier," lirihnya.
__ADS_1
Ketika ia melihat kebawah, betapa terkejutnya ia melihat Javier berteriak di bawah sana.
Sky tidak dapat mendengar teriakan Javier tapi dari gerakan bibirnya ia tahu Javier memanggilnya. Pria itu duduk bersimpuh seraya menengadah menatap pesawat di atasnya dengan tangis penyesalan.
"Javier ..." lirih Sky dengan mata berkaca-kaca menatap suaminya.
"Sky duduklah yang benar," pekik Xander yang melihat putrinya terus menatap jendela.
Sky bergeming, Xander pun melihat ke luar jendela. Lalu menghela nafas berat.
"SKY!!"
"Jangan bawa anakku pergi sayang ..."
"Maafkan aku ... maafkan aku Sky ... maafkan aku ..." Ia hanya bisa menangis mengingat kesalahnya.
Kenangan dirinya bersama Sky hadir begitu saja di pikiran nya. Ia ingat bagaimana Sky merengek tidak mau makan sayur, ia ingat wajah Sky yang cemberut kala ia memainkan pipi gembul gadis itu, ia ingat bagaimana Sky memanggilnya Hubby untuk pertama kalinya.
Dan ia ingat bagaimana dengan mudahnya ia mengusir Sky dari mansion dan membiarkan gadis itu kedinginan di tengah malam.
Hatinya bagai di tusuk belati nya sendiri. Sakit, mengingat betapa kejamnya ia kepada istri nya sendiri.
Hanya karena di kuasai amarah, Javier menghancurkan pernikahan nya sendiri, melukai istri yang paling ia jaga. Mengecewakan Sky yang begitu baik menerima kekejaman nya sebagai seorang mafia.
Telat, hanya itu yang bisa ia lihat. Karena pesawat sudah terbang semakin tinggi.
Ia terisak bersimpuh di landasan pacu. Beberapa petugas menangkap Javier meminta nya keluar dari area pesawat.
Javier memberontak di sela-sela tangisnya. Di dalam pesawat Sky juga ikut menangis.
"Kau boleh kembali jika kau mau, Sky," ucap Xander.
Sky menghapus air matanya lalu menatap Xander. "Tidak, Dad. Kita sudah saling melukai, aku ingin mengobati lukaku sendiri dan biarkan Javier melakukan hal yang sama ..."
Sky terluka karena Javier memintanya pergi. Dan ia tahu Javier juga terluka karena penyesalan nya.
Kembali bersama di saat sama-sama terluka tidak baik. Karena mereka tidak bisa saling mengobati satu sama lain lagi.
Dan Sky juga butuh waktu untuk, apalagi mengingat malam dimana ia hampir bunuh diri karena Javier mengusirnya tanpa menjelaskan apapun.
Xander hanya bisa mengangguk, ia tahu Sky terlalu sakit untuk menerima Javier sekarang. Semoga putrinya mendapatkan kehidupan yang baik nanti. Entah itu bersama Javier lagi atau tidak.
__ADS_1
Bersambung