Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#187


__ADS_3

Javier, Sekretaris Han, Philip, Thomas, Xander dan Athes and the geng berada di suatu ruangan untuk membahas pria yang menghampiri Maxime dan Miwa di depan gerbang.


Mereka tampak serius sekarang.


"Aku menemukan markas nya, dari cctv di jalanan," ucap Thomas.


"Kalau begitu kita serang saja sekarang," ucap Jonathan dengan semangat menggebu-gebu.


"Tidak bisa," potong Javier.


"Mereka sudah merencanakan segala nya, cctv jalanan tidak mereka rusak di saat pria itu datang ke sini, itu artinya mereka sedang berusaha memancing kita agar datang ke tempatnya," lanjut Javier dengan raut wajah serius menatap semua orang.


"Ya, kau benar," sambung Xander.


"Tapi kita kan punya si kakek tua ini," ucap Aiden menunjuk Xander dengan dagu nya.


"Sopan kalau bicara!" pekik Xander.


"Dia benar, kau sudah tua." Philip ikut mengolok-ngolok.


"Sudah tua masih saja belum menikah," ucap Samuel.


Sekretaris Han memukul-mukul meja pelan. "Sssttt ... bisakah kalian tau situasi, masih saja seperti orang gila."


Tok ... tok ... tok


"Masuk," ucap Sekretaris Han.


Keenan pun masuk dengan membawa nampan berisi wine dan beberapa cemilan. Dia turun derajat dari Sekretaris menjadi pelayan di mansion Javier. Lagi pula Keenan hanya Sekretaris biasa yang tidak terlalu hebat dalam hal bela diri, dia hanya bekerja untuk Sky bukan Antraxs.


"Hai Kakak ipar." Sekretaris Han dengan tersenyum melambaikan tangan ke arah Keenan membuat Keenan berdecak kesal dan menyimpan nampan nya di meja.


"Itu lah kenapa ketika jadi laki-laki tidak boleh setengah-setengah. Kalau tidak bisa bela diri hebat ya jadi pelayan," sindir Sergio dengan tertawa ketus.


Keenan mendelik. "Diam kau!!"


"Ini daerah Yakuza, kau lah yang seharusnya diam!!" ketus Samuel.


"Sebelum menyerang bagaimana kita tes kejiwaan dulu, untuk mewaraskan semua anak buah mu ini," sindir Xander sembari menatap Javier.

__ADS_1


"Ya, aku setuju. Aku juga sudah muak," sahut Javier pelan.


"Beruntunglah aku tidak ikut menyerang jadi masih di anggap waras," ucap Keenan pelan seraya menyusun gelas wine itu di meja.


Athes and the geng hanya bisa berdecak dengan ucapan Keenan.


"Jadi bagaimana?" potong Thomas mengalihkan pembicaraan tidak penting ini.


"Mereka lah yang harus masuk perangkap kita," ucap Xander.


"Pancing sebagian anak buah mudork untuk datang ke mansion ketiga ku, biar Yakuza yang mengurus dan anak buah Antraxs menyerang yang tersisa di markas mereka."


Mereka mengangguk menyetujui.


"Tapi siapa yang akan menjaga mansion ini?" tanya Athes menoleh ke arah mereka satu persatu.


Dan spontan mereka semua melirik ke arah Keenan yang berdiri di samping Javier, spontan mereka menghembuskan nafas lalu menggelengkan kepala. Mana mungkin Keenan bisa di andalkan.


Sementara Javier juga tidak bisa ada di sini, karena mereka pasti lebih banyak datang ke mansion ketiga nanti.


"Aku mengkhawatirkan istriku," ucap Thomas.


"Aku juga," sahut Sekretaris Han.


"Apa kau yakin?" tanya Philip.


"Tentu saja," sahut Javier menoleh ke arah Philip seraya menaikkan satu alisnya.


*


"Wooaahhhhh ..." Maxime terpukau dengan kehadiran dua bayi singa di mansion nya. Mata nya membulat sempurna, ia duduk di lantai menatap anak dua singa itu.


"Untukku, Dad?"


Javier mengangguk sementara Sky mendengus karena ia tidak setuju memberikan anak singa untuk Maxime, apalagi merawatnya sampai dewasa.


Sekretaris Han pun datang bersama Arsen, Arsen segera berlari menghampiri Maxime.


"Alsennnn ... gloly ... lihat," teriak Maxime melihat Arsen berlari ke arahnya.

__ADS_1


"Wooaaahhh ..." Arsen pun ikut terpukau apalagi dua bayi singa itu merangkak ke arah mereka.


Kara datang membawa Miwa dan Tessa. Kedua bocil perempuan itu membawa Bubu, dua anak kucing yang mereka gendong.


Mereka berlari menghampiri Maxime dan Arsen.


"Max kenapa beli Gloly? Max engga sayang lagi ama Bubu?" tanya Tessa seraya mengelus anak kucing di pelukan nya.


"Sayang," sahut Maxime. "Tapi Bubu jadi makanan Gloly nanti."


Miwa dan Tessa menekuk wajahnya mendengar ucapan Maxime sampai mempererat pelukan anak kucing itu, tidak terima Maxime akan membiarkan Bubu menjadi santapan Glory ketika besar nanti.


Sementara yang lain hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Maxime.


"Lihat, anakmu lebih mirip psychopath," bisik Sekretaris Han.


"Dan anakmu akan ketularan virus psychopath dari anakku," sahut Javier membuat Sekretaris Han terdiam dan berdecak.


Sky berjongkok di dekat Maxime dan mengelus puncak kepala putra nya.


"Kau harus berjanji merawat mereka dengan baik dan jangan biarkan mereka memakan kita semua, mengerti?"


Maxime mengangguk. "Ya Mom, Gloly engga akan mam Mommy sama Daddy. Gloly nanti makan uncle Jon saja."


"Hei, uncle Jonathan itu manusia."


"Noooo ... Meleka kecebong, Mom."


Dan tepat ketika Maxime membicarakan Jonathan dengan Sky, Athes datang bersama yang lain, niatnya untuk melihat Glory. Eh malah di sebut kecebong.


"Lihat, anak itu berani sekali bilang kita kecebong," bisik Aiden kepada Jonathan.


Jonathan mendengus. "Beruntung sekali dia lahir dari anak pemimpin Yakuza, kalau manusia normal sudah aku bunuh saja dia itu," sahut Jonathan pelan.


"Tunggu dia besar sedikit, dia yang akan membunuhmu!!" ucap Javier menatap tajam Jonathan, walaupun sudah berusaha berbicara pelan si*l nya Javier tetap masih bisa mendengar.


Spontan Athes and the geng menelan saliva nya susah payah seraya mendempet satu sama lain.


"Siapa nama yang satu nya lagi?" tanya Javier kini beralih menatap Maxime.

__ADS_1


"Gloly sama gely, Dad." sahut Maxime mendongak ke arah Javier.


Bersambung


__ADS_2