Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#93


__ADS_3

Mereka semua duduk lesehan di lantai dengan muka lelah dan berkeringat.


Empat puluh sembilan anak buah Javier masih lengkap. Hanya terlihat goresan kecil di wajah mereka.


Sergio mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Ia mengambil minuman kaleng dan meneguknya dengan cepat membuat yang lain menoleh ke arahnya.


"K-kau? kenapa bisa bawa minum?" tanya Philip.


Sekretaris Han yang melihat itu hanya menggelengkan kepala, bisa-bisanya Sergio menyiapkan minum di tasnya.


"Aku tahu pasti aku akan kelelahan, jadi aku bawa minum saja," sahut Sergio.


"Ketika kau berperang yang harus kau siapkan itu peti kematian bukan minuman," pekik Thomas.


"Karena aku percaya aku pasti berhasil, jadi minuman yang aku siapkan bukan peti!!"


Thomas hanya bisa menggelengkan kepala.


"Dasar bod*h kau Sergio," hardik Philip. "Bagi aku minuman nya." Philip mengulurkan tangan nya, sementara Sergio berdecak kesal. Sudah mengatai nya bod*h tapi minta minuman.


Sergio pun melempar minuman kaleng nya ke arah Philip.


"Apa Tuan Javier baik-baik saja?" tanya Jonathan yang menyadarkan mereka semua.


Mereka saling melirik satu sama lain, baru ingat kalau Javier masih belum turun dari lantai atas.


Mereka pun segera beranjak dari lantai atas tapi tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.


Mereka langsung membidikkan semua pistol ke arah tangga.


Mereka melirik satu sama lain. Karena mendengar bukan satu langkah kaki saja.


"Siapa itu?!!" tanya Sekretaris Han.


Mereka mulai menarik pelatuk dan.


"Ini aku sial*n!!" ujar Javier seraya menyeret Lucas.


Tangan Lucas di ikat ke belakang, wajahnya penuh bekas pukulan dan Javier menyeret Lucas dengan memegang kerah baju belakangnya.


Athes and the geng melirik satu sama lain mereka tidak mengenal Lucas jadi mereka bertanya-tanya kenapa Javier menyeret pria itu.


Thomas dan Philip juga kebingungan. Hanya Sekretaris Han yang mengenal Lucas.


"Kenapa dia ada di sini?!" tanya Sekretaris Han.


Javier mendorong tubuh Lucas ketika ada di anak tangga terakhir.


"Dia anak pemimpin mudork."

__ADS_1


Semua orang melebarkan matanya.


"Dan bod*hnya dia tidak punya skill bertarung tapi memancing kita datang ke sini!!" lanjut Javier.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Thomas.


Javier tersenyum miring ke arah Lucas dengan kedua tangan di saku.


Mereka melakukan video call dengan pemimpin mudork di laptop setelah beberapa kali mendesak Lucas untuk menghubungi Ayahnya.


Javier duduk santai di samping Lucas dengan tangan merangkul pria itu.


Dan ketika si tua Mudork mengangkat panggilan nya dia begitu terbelalak melihat ana kedua nya bersama Javier.


"Lucas!!" teriaknya.


Javier melambaikan tangan ke arah pria tua itu. "Hallo, namaku Javier. Ini kali pertama kita berbicara, bukan?"


Sementara anak buah nya yang lain diam memperhatikan.


Ayahnya begitu terbelalak melihat Lucas dengan wajah penuh luka dan tangan terikat.


"ADA APA INI SIAL*N?!! KENAPA KAU MENGIKAT ANAKKU?!!" Teriak nya.


Javier mengehela nafas. "Seharusnya kau tanyakan dengan si bod*h ini. Dia yang mengundang kami datang ke sini tapi dia sendiri yang tertangkap. Bukankah itu hal konyol!!


"Lepaskan anakku Javier!!" teriak Pria itu.


"Jadi namamu Sandic O'Conner," ucap Javier setelah melihat kartu kecil di tangan nya.


"Tuan Sandic." Javier tersenyum ke arah laptop.


"Anakmu tidak punya skill dalam bertarung. Kenapa kau biarkan dia memanggil kami ke sini?!"


"Kau bod*h Lucas!! Kau bod*h!! KAU BODOH!!" teriak Sandic geram dan penuh amarah.


Javier hanya tersenyum miring melihat Ayah yang kesal dengan anaknya sendiri.


"Kau yang bod*h, Dad!!" teriak Lucas. "Mau sampai kapan kau diam dengan kematian Kakak ku!!"


"Kau terus menerus mengulur waktu membalaskan dendam kematian Kakak ku!!"


"Aku sedang menyusun rencana sial*n!!"


"HAHAHAH!!" Javier tertawa keras melihat perdebatan mereka.


Lucas memang pintar dalam hal berbisnis tapi dia tidak di didik untuk menjadi penerus mudork, itulah alasan Sandic tidak terlalu memaksa Lucas untuk belajar bela diri.


Karena penerus mudork akan di turunkan kepada Alton Sandric O'Conner. Alton yang seharusnya menjadi penerus mudork mati terbunuh di tangan Ataric dan Sandic sangat marah akan hal itu.

__ADS_1


Melawan De Willson tidak mudah untuk Sandic, itulah kenapa ia banyak menyusun rencana. Karena Sandic tahu kemampuan Javier sama persis dengan Ayahnya.


Tapi ide bod*h Lucas membuat semuanya jadi berantakan. Bahkan hari dimana dua anak buah mudork datang ke mansion Javier itu karena perintah Lucas bukan Sandic.


"Haruskah aku membawa popcorn untuk menonton perdebatan kalian?" ujar Javier.


"Kau benar-benar gegabah Lucas!!" geram Sandic.


Javier merogoh pistol di saku nya dan mengarahkan nya ke kepala Lucas.


Sandic berteriak marah. "JAVIEERRR!!"


Javier tersenyum. "Setelah ini baru kau, bagaimana?"


"Sampai kau berani menembak anakku, tidak ada ampun untukmu sial*n!!"


Javier terkekeh. "Aku tidak membutuhkan ampunan mu, Tuan Sandic!!" dan.


DOR


"LUCAASSSS!!!" Teriak Sandic kala melihat anaknya di tembak oleh Javier.


Anak buah yang lain memalingkan wajahnya kala melihat kepala Lucas tertembak.


Javier tersenyum, memasukan kembali pistol nya dan berjalan keluar di ikuti anak buahnya yang lain.


"LUCASSS, TIDAKKK!!"


"KEMBALI KAU JAVIER, AKU AKAN MEMBUNUHMU SIAL*N!!"


Sandic terus meneriaki anaknya di laptop kala melihat Lucas sudah tak bernyawa. Pria paruh baya itu pun menangis sekaligus marah di waktu bersamaan.


Setelah beberapa langkah menjauhi bangunan tua itu, Javier mengeluarkan remot kecil dari saku dan menekan nya sampai.


DUAARRR


Bangunan tua itu meledak menjadi puing-puing kecil. Semua mayat hangus terbakar di dalam sana.


Ponsel Javier bergetar dan ia segera membuka nya.


Semua anak buahnya terhenti kala melihat Javier diam mematung melihat ke arah ponsel.


"Apa ada masalah lain?" tanya Sekretaris Han.


Javier mengangguk membuat semua saling menatap bingung. Masalah apa lagi sekarang.


"Apa?" tanya Sekretaris Han.


"Sky ..."

__ADS_1


Mereka semua melebarkan mata, ada apa dengan Sky Alexander sampai membuat Javier menatap ponsel seperti itu.


Bersambung


__ADS_2