Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#12


__ADS_3

"Lepaskan aku! Menjijikan!" Javier memberontak kala sekretaris Han memapah dirinya di anak tangga. Lengan kekarnya melingkar di leher sekretaris Han sementara satu tangan Sekretaris Han melingkar di pinggang Javier.


Menurut Javier itu menjijikan untuk dilakukan oleh sesama kelamin.


"Anda baik baik saja tuan?" Tanya pak Liam yang melihat Javier berjalan tertatih di tangga.


"Kekerasan dalam rumah tangga," jawab sekretaris Han menahan tawanya sampai kedua pipinya sedikit mengembung, oh ayolah kalau saja yang disampingnya itu bukan Tuan Javier De Willson sudah pasti tawanya meledak.


Javier mendelik tajam ke arah Sekretaris Han membuat sekretaris Han mendehem kikuk dengan tatapan Javier.


"Nyawamu tinggal tiga." Sekretaris Han menghembuskan nafas pasrah.


Dan diam diam Pak Liam pun tersenyum tipis kala melihat tuan nya menuruni anak tangga dengan memegang aset berharganya itu.


Javier menghela nafas setelah berhasil menuruni anak tangga, rasa sakitnya perlahan hilang. Sial, Sky menendangnya cukup keras, hampir saja dirinya dibuat tak bisa berjalan. Ia akan menghukumnya nanti.


"Tuan bagaimana rasanya? apa burungmu pingsan? atau mati?" goda Sekretaris Han.


"Sudah kuat, siap untuk bertempur ketika pulang nanti!!" ucapnya sambil melangkah pergi dari mansion meninggalkan Sekretaris Han dan Pak Liam yang kini tertawa terang terangan.


"Ah, kau dalam bahaya nona, burungnya sudah siap bertempur sekarang." batin sekretaris Han.


Tentu saja Sekretaris Han mengkhawatirkan Sky, bukankah semua orang mengerti maksud dari burung yang siap bertempur.


"Sedang apa kau disini?" tanya Javier melihat Carla duduk santai di ruang tamunya yang luas.


Carla bangkit dari duduknya. "Aku ingin bicara."


"Besok saja, aku harus pergi sekarang."


Javier memanggil pak Liam.


"Pak Liam tutup semua pintu dan jendela mansion ini. Jangan biarkan Sky keluar," perintah Javier.


"Baik Tuan."


"Dan jangan biarkan Carla masuk ke mansion ini lagi tanpa seijinku!"


"Baik Tuan."


Carla terkesiap dengan ucapan Javier.


"Tunggu ... apa maksudmu ... kenapa aku tidak boleh disini tapi gadis itu ... gadis kecil itu ..."


Tak ada gunanya Carla berbicara Javier sudah lebih dulu pergi dari mansion bersama Sekretaris Han.


Carla menggeram kesal dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Silahkan keluar nyonya," ucap Pak Liam.


"Berani sekali dia mengusirku!"


Dengan kesal Carla pun pergi dari mansion.


***


"Mamaaa ... aku mau berangkat sekolah ... mana sarapannya ..." teriak Aleza yang duduk dimeja makan yang kosong.


Sementara Aliandra dengan santai nya meminum segelas air putih. Stok susu di kulkas habis dan Elsa lupa tidak membelinya.

__ADS_1


"Mamaaaa ..." teriak Aleza kembali dengan kesal.


"Sebentar!!" jawab Elsa tak kalah berteriak.


Herry menuruni anak tangga menghampiri meja makan yang sebentar lagi entah akan kacau karena apa lagi.


Semenjak kepergian Sky, meja makan berubah menjadi meja perang.


Setiap sarapan, makan siang dan makan malam selalu menjadi awal dari terjadinya pertengkaran.


Elsa selalu salah memasak, terkadang masakannya keasinan, terkadang kemanisan sampai terkadang hambar tanpa rasa sedikitpun.


Dan itu berhasil membuat Herry dan Aleza kesal sampai harus menunggu Elsa mengulang masakan untuk kesekian kalinya. Sementara Aliandra, dia satu satunya anak yang paling santai di rumah itu. Setiap pertengkaran terjadi ia akan memfokuskan pikirannya untuk bermain game alih alih mendengarkan pertengkaran yang membuat kupingnya seakan hampir pecah.


Elsa datang membawa piring ditangannya dengan tersenyum percaya diri.


"Sarapan pagi ini ... roti selai strawberry."


Ekspetasi Aleza terlalu tinggi, mendengar Elsa berjalan membawa roti selai strawberry, yang ada dipikirannya roti yang enak dan manis tapi ternyata yang datang malah.


Roti selai gosong.


Aleza menyenderkan punggungnya dikursi dengan lemah dan kecewa. Sudah menunggu lama tetap saja makanan yang datang selalu mengecewakan.


Herry menggelengkan kepala. Aliandra hanya menarik sudut bibirnya tersenyum.


"K-kenapa?" tanya Elsa melihat ketiga orang yang tiba tiba hening memandang roti yang ia bawa.


Aliandra mengambil satu roti memakannya. Aleza menaikkan satu alisnya.


"Kau serius memakannya?"


Yang dimaksud bukan coklat tapi roti hitam karena gosong.


Aleza menatap Aliandra dengan tatapan aneh. Bagaimana mungkin roti gosong itu ia bilang enak. Adiknya memang aneh, sangat aneh.


"Itu bukan coklat, itu strawberry," ucap Elsa.


"Oh kupikir pakai dua selai. Coklat dan strawberry."


Elsa berdecih. "Cih ... okee ... okee ... mama gagal lagi ..." ucap Elsa mengangkat kedua tangannya di udara.


"Tapi coba saja ayahmu ini mau mendaftarkan mama les memasak semua ini engga akan terjadi," lanjut Elsa yang kini menatap Herry.


"Apa kau tahu berapa biaya les memasak? kau mengeluarkan uang puluhan ribu untuk kita makan saja masih komplen!" jawab Herry.


"Lihatlah Sky, dia pintar memasak dengan sendirinya," Lanjut Herry.


"Sky lagi ... Sky lagi ... kau sudah membuang dia, ingat itu!"


Aliandra tak mau mendengar perdebatan kedua orang tuanya lagi, ia memutuskan bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan. Aleza pun mengikuti Aliandra. Bodo amat soal perut kelaparan, makanan kantin sekolahnya jauh lebih enak.


Tahun ini tahun terakhir mereka bersekolah, Aliandra ingin menjadi dokter selepas lulus sekolah, sementara Aleza ingin menjadi model terkenal.


***


"Sepertinya ukurannya memang seperti ini."


"Ini masih rapat."

__ADS_1


"Sepertinya dia tidak melakukan apapun denganku."


"Tidak ada yang sakit sama sekali. Atau memang rasanya tidak sakit."


"Tunggu ... seharusnya ada darah bukan? tapi tadi pagi sepertinya tidak ada."


Sky terus membatin dalam hati di dalam selimut. Ya, ia duduk di ranjang dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya. Ia memeriksa Vagin* dan selangkang*n nya.


Sesekali ia bergerak ke kanan ke kiri memeriksa apa ada bagian bawahnya yang sakit atau tidak.


Sengaja tidak memeriksa di kamar mandi karena ia takut Javier menyimpan cctv disana , dikamar pun bisa saja ada cctv bukan.


Menutupi seluruh tubuh dengan selimut tebal menurutnya sangat benar, sekalipun ada cctv bagian tubuhnya tidak akan terekspos dengan jelas.


Sky melakukan itu karena curiga dengan isi perjanjian yang sudah diganti oleh Javier. lelaki itu memang curang, ia harus lebih berhati hati.


Sky membuka selimutnya dengan mendengus kasar.


"Kenapa menyedihkan sekali hidupku ini," keluh Sky.


"Siapapun tolong kasih tau aku bagaimana caranya bebas dari iblis sial*n itu!" teriaknya karena ia tiba tiba emosi mendadak.


Sky mulai mengeluarkan suara seperti orang menangis, tapi tak ada air mata sama sekali saat ini. Ini hanya bentuk lelahnya saja.


"Jamal sial*n.. dasar bab*... kepar*t ... bajing*n!!" teriak Sky dengan penuh emosi di atas ranjang.


Sky mengambil guling disampingnya dan memukuli guling itu seolah olah guling itu adalah wajah yang paling ia benci. Wajah Javier.


Ia terus memaki dan memukuli guling yang tidak bersalah itu. "Jamal ... om tua ... om bab*... kurang ajar ... f*ck ... Jamal ... f*ck ..."


Tanpa Sky tahu, seseorang yang sedang berada di dalam pesawat sedang memperhatikan dirinya lewat ponsel yang terhubung dengan cctv di kamarnya.


Javier. Ya, Javier benar benar memasang cctv di kamarnya, ia tertawa kala melihat Sky memukuli guling dengan penuh amarah.


"Kau benar benar tertawa karena nona Sky tuan," batin Sekretaris Han yang duduk berhadapan dengan Javier.


.


.


.


.


(Plis kasih tahu Sky namanya Javier bukan Jamal... apalagi jamaludin) 😭


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak biar aku semangat nulisnya ya hehe ❤️


.


.


.


.

__ADS_1


maaf kalau masih ada typo


__ADS_2