Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#49


__ADS_3

Sky berjalan ke taman bermain sendirian. Hari ini seharusnya ia pergi ke cafe X untuk mengundurkan diri.


Javier memaksa nya tadi malam tanpa sebab apapun. Sky sebenarnya masih ingin bekerja karena di sana ada sahabatnya Liana, apalagi sudah beberapa hari ini Sky tidak masuk kerja. Ia sangat merindukan Liana, sahabatnya.


Tapi bertemu untuk berpisah dengan Liana cukup berat bagi Sky. Apalagi semalam Javier bilang kalau dirinya harus lebih sering berada di mansion.


Ini hari terakhir Sky bisa pergi sendirian karena Javier meminta Athes dan yang lain untuk menemani Sky ketika keluar dari Mansion. Entah apa alasan nya, Sky pun tidak tahu.


Sky menghela nafas, taman bermain sangat ramai hari ini. Banyak orang yang menaiki wahana menyenangkan.


Sky hanya duduk di kursi menikmati pemandangan di depannya. Keluarga kecil yang sibuk berfoto, orang pacaran dan juga mereka yang bermain bersama sahabatnya.


Ah, ingin sekali Sky datang kesini bersama Liana, setidaknya untuk hari perpisahan mereka.


Apa aku suruh Liana datang kesini saja ya.


Sky pun akhirnya menelpon Liana.


"SKYY!!!" teriak Liana dari seberang sana. Sky sedikit menjauhkan ponselnya dengan suara cempreng itu.


"Kenapa kau tidak menelponku!! Kau juga tidak membalas pesanku, Sky!! kau melupakanku setelah menikah dengan om tampan itu!"


"Tidak, Liana sayang ... Aku sibuk."


"Sibuk membuat anak ya?"


"Husshh ... kau ini!" Liana tertawa di seberang sana.


"Aku sedang di taman bermain, bagaimana kalau kau datang kesini ..."


"Kau mau Pak Dimitri memecatku?!"


"Bilang saja kau sakit, apa susahnya."


"Huhh ... padahal kau sendiri yang selalu mengajari ku jangan berbohong. Tapi lihatlah sekarang ..."


Sky cekikikan. "Ayolah ... Sekali tidak apa apa."


"Hmm ... oke deh. Aku kesitu sekarang, tunggu ya."


"Oke, Bye. Hati-hati ya."


"Perhatian sekali Sky ku ini seperti pacar hehehe."


"Cepat Liana!"


"Oke ... oke."


Panggilan pun dimatikan. Sky menunggu Liana dengan mengedarkan pandangannya tak bosan melihat mereka yang menikmati waktu bersama keluarga dan sahabatnya.


Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang. Ia membalik.


"Udah sampai aja, Li ... loh, Carla!" Sky membulatkan mata sementara Carla tersenyum ke arahnya.


"Hallo, pelakor." Carla melambaikan tangan seraya tersenyum. Senyuman itu seperti senyuman meledek.


"Kenapa kau disini?" tanya Sky.

__ADS_1


"Sekaya apapun suamimu ... tapi ini bukan Taman bermain milik Javier De Willson. Jadi aku berhak ada dimana saja!"


Sky menghembuskan nafas hendak pergi karena malas berdebat dengan Carla tapi tangan nya tiba-tiba di tarik.


"Eh ... tunggu-tunggu."


Sky melepaskan cengkraman tangan Carla dengan kasar.


"Begini pelakor ... bagaimana kalau kau temani aku masuk ke rumah hantu itu." Carla menunjuk rumah hantu yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Sky menggeleng. "Aku tidak mau!"


"Ayolah ... aku ingin masuk kesana tapi aku tidak mau sendirian, aku takut."


"Kalau takut jangan masuk kesana!"


"Tapi aku penasaran ... ya ... ya ... temani aku, Sky."


Sky mendengus melihat ke arah rumah hantu itu.


"Aku tidak mau ... aku takut gelap."


"Kau tidak pernah masuk ke rumah hantu, Sky? Kau pikir di sana tidak ada lampu satu pun? kalau gelap bagaimana pengunjung melihat hantu disana ... cih, kau ini bodoh sekali!"


Benar juga. Di sana pasti ada lampu.


"Ayolah cepat!" Carla menarik tangan Sky tidak sabar.


Mereka pun akhirnya membeli dua tiket dan memberikan tiket itu kepada pria yang berjaga di depan pintu masuk.


Sky mengedarkan pandangan nya, baru di luar tapi lumayan gelap juga. Sky meremas tas selendang nya dan menghela nafas beberapa kali.


"Mau naik kereta atau jalan kaki?" tanya pria itu.


"Ke--"


"Jalan kaki saja," seru Carla memotong pembicaraan Sky yang hendak meminta naik kereta agar lebih cepat keluar dari rumah hantu ini.


"Ayo ..."


Sky dan Carla pun masuk, suasana rumah hantu begitu mencengkram dengan lampu remang-remang menempel di dinding.


Mereka saling berpegangan dengan sesekali tubuhnya meloncat kaget kala beberapa hantu menganggu nya.


Mereka lupa kalau mereka musuhan dan pernah bertengkar hebat di depan Javier dan yang lain.


BUGH


"Hah ... rasakan kau setan jelek!" Carla memukul salah satu hantu itu dengan tas nya.


Sementara Sky masih mengedarkan pandangan ke setiap sudut yang hanya di terangi beberapa lampu saja.


"Sky," panggil Carla.


"Iya?"


"Kau berjaga di depan ... aku dari belakang, oke."

__ADS_1


Carla mundur beberapa langkah.


"Eh, tapi kenapa?"


"Kau jaga setan yang di depan ... aku yang di belakang. Kalau tidak seperti ini mereka terus menganggu kita dan kita susah keluar dari sini."


Sky akhirnya mengangguk, memang benar dari tadi setan-setan itu mengagetkan mereka terus menerus.


"Ada setan tidak, Sky?"


"Tidak."


Sky masih melangkah perlahan seraya melihat ke kanan dan ke kiri. Sampai akhirnya.


BRAKH


Carla mendorong tubuh Sky masuk ke salah satu ruangan kosong disana. Ruangan yang tanpa cahaya sedikitpun.


Sky yang terjatuh karena dorongan Carla segera beranjak membuka knop pintu tapi nihil Carla menguncinya.


"Carla ... Carla buka!! Carla ..." Teriak Sky seraya menggedor-gedor pintu dari dalam sana.


Carla menyeringai seraya mengacungkan kunci ruangan itu.


"Rasakan itu!!" Ia pun pergi meninggalkan Sky yang meriaki namanya semakin keras.


Sky terus memainkan knop pintu berusaha agar bisa terbuka. Perlahan ia mulai menangis.


"Carla ... ku mohon buka ..."


Gedoran pintu terakhir begitu lemah. Tubuh kecilnya perlahan merosot sampai akhirnya duduk menyenderkan tubuhnya di pintu dengan memeluk lututnya.


Ia memejamkan mata dengan cairan bening terus keluar.


Oh suara itu ... suara itu datang lagi. Suara perempuan bersenandung pelan menghampirinya.


"Sky ... oh my beautiful Sky ... sayangku ..."


Tubuh Sky gemetar hebat kala kejadian masa kecilnya kembali hadir di tempat gelap seperti sekarang.


Ia menutup kedua telinga dengan tangan nya seraya terus terisak.


"Ku mohon jangan ... jangan ... jangan mendekat ... pergi ... pergi ..."


Ia mulai kesulitan bernafas, jantungnya berdebar cepat dengan ketakutan menyelimuti tubuhnya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.


Tidak ada yang bisa Sky lakukan selain menangis dengan kedua tangan masih menutup kedua telinga nya.


"Sky ... my beautiful Sky ... pergilah ke neraka bersama ibumu!!"


Suara itu masih menganggu pikirannya, tidak ada siapapun di ruangan gelap itu. Tapi Sky selalu merasa ada sosok yang hendak menghampirinya dan itu membuat Sky ketakutan.


"Ku mohon pergi ... ku mohon pergi ... pergi ... PERGII!!" teriak Sky.


Sampai akhirnya, tubuhnya mulai lemas, nafasnya tidak teratur dan Sky Alexander jatuh pingsan karena trauma nya sendiri


Sebelum ia benar-benar tidak sadarkan diri hanya satu nama yang ia sebut. Yaitu ... Javier.

__ADS_1


Entah apa yang akan terjadi kalau saja Javier menyadari Sky tidak ada di mansion.


Bersambung


__ADS_2