
"Aku ingin bertemu dengan Tuanmu," ucap Xander yang kini berdiri di depan gerbang mansion De Willson.
"Maaf, Tuan. Apa sebelumnya sudah membuat janji?"
"Belum," sahut Xander. "Kau tidak perlu banyak bertanya, buka saja pintunya!!"
"Tuan tapi --"
DOR
"Akkhh!!"
Ia menembak satu satpam itu di kaki nya sampai terjatuh. Dan suara tembakan dari Xander mengundang perhatian Javier yang sedang duduk sendirian di sofa setelah berjibaku dengan Sekretaris Han.
Sekretaris Han dan yang lain sudah tidak ada di mansion. Entah kemana mereka pergi, yang jelas mereka semua meninggalkan Javier sendirian.
Javier berlari ke teras mansion dan membulatkan matanya kala melihat Xander berdiri di depan gerbang dengan seringai kejam di wajahnya.
Xander melambaikan tangan ke arah Javier. "Hallo Mr De Willson," teriaknya.
Javier mengepalkan tangan nya dengan rahang yang mengeras. Ia menatap tajam ke arah Xander.
Pintu gerbang pun di buka oleh satpam yang lain. Xander berjalan masuk dengan kedua tanga di saku, ia berjalan santai menghampiri Javier.
Sampai mereka berdiri berhadapan satu sama lain. Javier menggertak kan giginya marah sementara Xander masih tersenyum.
"Ayo kita bicara Mr De Willson." Xander melengos masuk begitu saja.
Xander kembali berbalik melihat Javier masih bergeming di tempat.
"Kau tidak mau tahu keadaan istrimu? atau mungkin kau penasaran dengan kematian Ayahmu?"
"Kau tidak bisa membunuhku Javier, karena Sky sudah tahu aku Ayah kandungnya ..."
Ia kembali berjalan dan duduk di sofa. Mau tak mau Javier pun ikut duduk di sofa.
Xander menyimpan amplop di meja. "Surat dari Sky ... aku tidak memaksamu untuk membacanya!!"
Xander menyalakan rokok, mengisap nya dalam-dalam dan menghembuskan nya ke udara. Ia duduk santai seraya mengedarkan pandangan ke mansion yang sudah lama tidak ia kunjungi lagi.
"Mansion ini tidak berubah."
__ADS_1
"Cepat katakan apa alasan mu membunuh Ayahku kepar*t!!" geram Javier dengan tangan mengepal.
"Tenang lah ... kita bicara santai saja disini."
"Kau ingat, dulu kau sangat membantah menjadi pemimpin Yakuza ... kau dan Han lebih suka hidup normal, sekolah dan main game."
"Kau sibuk dengan duniamu sendiri ... sampai tidak tahu Ayahmu sakit keras."
Javier membulatkan mata mendengar hal itu. "Apa maksudmu?!!"
"Ataric terkena kanker, Ayahmu memintaku untuk mendidikmu menjadi seorang mafia. Aku selalu menolak karena aku tidak mau memaksamu memimpin dunia hitam seperti Yakuza."
"Sampai akhirnya Ataric memintaku menembaknya."
"Xander, tidak ada pilihan lain. Aku harus membuat Javier menjadi pria yang kuat, karena masih ada mudork yang menjadi musuhku ... suatu saat nanti mudork pasti akan mengincar Javier."
"Aku tidak bisa, At!! aku tidak akan pernah membunuhmu!!"
"Kau tidak membunuhku ... kau membantuku, Xander!!"
"Kau sudah menganggap Javier seperti anakmu sendiri, bukan?" lanjut Ataric.
"At ..."
"Aku mohon!! aku sudah tidak kuat lagi!! tubuhku sakit semua ... sekalipun kau tidak menembakku, aku akan tetap mati sebentar lagi."
"At jangan gila!!" bentak Xander.
Mereka mendengar suara langkah kaki menghampiri kamar Ataric.
"Itu pasti Javier, cepat bunuh aku di hadapan nya, buat dia punya dendam besar kepadamu agar dia mau belajar bela diri!!" Ataric terus memohon di hadapan Xander.
Xander berdecak. "Tidak, aku tidak mau!!"
Ataric mengambil pistol di celana nya, memaksa Xander memegang pistol itu. Xander memberontak tapi Ataric terus memaksanya.
"Cepat, Xander!!"
"Tidak!!"
Ataric dengan tergesa-gesa memaksa Xander memegang pistol itu karena semakin mendengar langkah kaki Javier yang mendekat.
__ADS_1
Tepat ketika Javier membuka pintu.
DOR
Xander melebarkan matanya, ia hanya memegang pistol nya tapi tidak menarik pelatuknya sama sekali. Ataric lah yang menembak dirinya sendiri.
"DADDDD!!" teriak Javier.
Nafas Javier naik turun mendengar penjelasan Xander. Ia kalang kabut sendiri.
"Ataric hanya ingin kau menjadi seorang pemimpin. Anak dari seorang mafia tidak ada yang hidup normal. Kau harus bersahabat dengan benda-benda tajam," ucap Xander.
"Kau terlalu mendahulukan kemarahanmu Javier ... sampai kau lupa, seharusnya yang harus kau cari itu aku, bukan mengusir sky yang tidak tahu apapun."
"LALU KENAPA KAU TIDAK MUNCUL DARI AWAL?!!" teriak Javier dengan amarah dan penyesalan menggebu di dalam dirinya.
"Seandainya bukan Sky istrimu aku akan muncul di hadapanmu jauh lebih cepat, mungkin aku akan datang setelah kau berhasil membunuh Lucas, tapi nyatanya aku tidak bisa, karena putriku ada di tanganmu aku ingin melihat seberapa besar cintamu untuk putriku ... dan ternyata kau malah menyakitinya."
"Seharusnya jika kau benar-benar mencintai Sky, tidak perduli dia anak siapa kau akan menerimanya ... kau tidak akan meninggalkan nya, Javier."
"Dia terbiasa hidup normal bersama Alexa dan Herry. Apa menurutmu mudah untuk Sky menerima identitasmu sebagai seorang mafia? Tidak, Javier ... aku yakin putriku butuh waktu untuk menerima semuanya."
Javier memijat-mijat keningnya seraya terisak. "Sky ..." panggilnya dengan gemetar.
"Seandainya kau saat itu mau menuruti Ayahmu untuk belajar bela diri sebagai seorang pemimpin Yakuza, Ayahmu tidak akan mati dengan cara seperti itu dan tidak akan terjadi salah paham di antara kita semua."
Penjelasan dari Xander bagai hantaman batu yang keras untuk Javier. Sakit, kecewa dan menyesal menguasai tubuhnya sekarang.
"Aku harus pergi ..."
"Dimana Sky?" tanya Javier.
"Baca saja surat itu, kau akan tahu dimana dia."
Xander beranjak dan pergi dari mansion. Meninggalkan Javier yang termenung sendirian karena kesalahan nya memilih mengusir istrinya sendiri.
*
*
Bersambung
__ADS_1