
Javier membawa Sky ke kamar. Mereka duduk di sofa, Javier meneliti seluruh tubuh istrinya. Meraup wajah Sky dengan kedua tangan menggerakan ke kanan dan ke kiri.
"Ada yang terluka, sayang?" tanya nya dengan panik.
Sky menggeleng. "Tidak, by. Aku baik-baik saja."
Javier menghembuskan nafas. "Aku tidak akan mengizinkan mu menemui Herry lagi."
"Dia Ayahku."
"Bukan. Tidak ada Ayah yang tega menyiksa putri nya sendri. Dia orang tua laknat!!" kesal Javier.
"Tapi bagaimana dengan Aliandra?"
"Aliandra?" Javier menaikkan satu alisnya.
Sky mengangguk.
"Bagaimana kalau dia tinggal di mansion ini juga?"
Sky dengan cepat menggeleng. "Tidak, dia masih sekolah dan di sini banyak sekali orang. Aku takut dia datang ke sini dan menjadi pemalas, apalagi kalau Aliandra berteman dengan Athes dan yang lain."
"Ah iya sayang, benar juga. Adikmu akan gila jika berteman dengan mereka."
Dan lagi, Aliandra manusia normal seperti yang lain. Dia sekolah dan punya cita-cita, seandainya masuk mansion dan melihat orang-orang di mansion saling membunuh dengan mudah seperti yang terjadi kepada anak buah mudork, Javier takut akan menganggu konsentrasi belajar adik istrinya itu.
"Suruh saja dia keluar dari rumah Herry. Aku akan mencarikan rumah yang dekat dengan sekolahnya."
"Dan aku bisa main ke rumah Aliandra setiap hari kalau begitu," sahut Sky senang.
Javier mengangguk. "Iya, kau boleh. Asal bersamaku."
Tok tok tok
"Tunggu sebentar sayang." Javier beranjak dari sofa untuk membuka pintu.
"Kapan kita ke markas mudork?" tanya Thomas.
__ADS_1
"Nanti malam," sahut Javier.
"Apa ada cctv di sana?" tanya Javier.
"Tidak ada. Kita sedikit kesulitan karena tidak ada cctv di sana."
"Itu artinya kau dan Philip ikut menyerang."
Thomas berusaha menyadap cctv di daerah markas mudork dan ternyata di daerah itu tidak ada cctv sama sekali yang menyusahkan mereka mengendalikan penyerangan kali ini.
"Aku butuh empat puluh orang anak buah ku yang lain."
"Aku akan memberitahu mereka."
Javier mengangguk dan kembali menutup pintu kamar.
Mereka akan melakukan penyerangan langsung ke markas mudork. Itu sebabnya Javier membawa anak buah lebih banyak di banding saat di hotel dulu. Karena sudah pasti di markas mereka akan banyak anak buah mudork yang lain.
Javier kembali duduk di samping Sky yang sedang menonton tv.
"Ada apa, By?"
Sky hanya mengangguk-ngangguk. "Ohh ..."
Javier membawa Sky ke pelukan nya, menenggelamkan kepala gadis itu ke dada bidang miliknya seraya mengelus kepala Sky.
...💥💥💥...
Sore hari Javier berdiri di atas altar di aula mansion yang luas. Sementara itu empat puluh sembilan orang anak buah nya berdiri di depan nya.
Mereka adalah anak buah Yakuza yang terpilih menyerang markas mudork malam ini.
Pria itu berbicara dengan raut wajah serius dan tegas.
"Dengarkan aku ... malam ini kita sedikit kesulitan karena tidak ada cctv di markas mudork."
"Penyerangan di bagi menjadi dua kelompok. Kelompok Pertama dua puluh lima orang ikut denganku masuk ke markas. Dua puluh lima orang yang tersisa berjaga di luar markas dan hanya boleh masuk ketika aku atau Han memberi sinyal merah ke jam tangan Thomas. Mengerti?"
__ADS_1
"Mengerti, Tuan!!" jawab empat puluh sembilan orang di depan nya.
"Dan ..." Javier menggantung kalimatnya. Ia mengedarkan pandangan nya ke semua anak buah yang berkumpul saat ini.
Javier menghela nafas. "Dan kembali lah dengan selamat ..."
Sontak semua orang saling beradu pandang dengan bingung. Kenapa tiba-tiba Javier mengeluarkan kalimat itu seolah-oleh mengkhawatirkan nyawa mereka semua.
Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dulu Javier selalu bilang, bekerja dengannya harus siap mati.
"Ada apa dengan Tuan Javier, sampai membuatku terharu huhh ..." Jonathan pura-pura menghapus air mata, padahal dia tidak menangis.
"Apa kau tidak merasa penyerangan kali ini membuat kita gugup?" ucap Samuel.
"Itu karena kalimat Tuan Javier," sahut Sergio.
"Sejak kapan Tuan Javier berharap kita pulang selamat," lanjut Sergio.
Thomas, Sekretaris Han dan Philip juga tak kalah berbisik.
"Sepertinya dia kebanyakan bergaul dengan Sky," ujar Thomas.
"Tentu saja, dia kan istrinya," sahut Sekretaris Han.
"Ternyata Sky bisa melembutkan hati batu seperti Javier," pekik Philip.
"Dia berharap kita semua pulang dengan selamat, bukan kah itu aneh. Sepertinya mereka saling mengirim virus ketika bercinta. Javier mengirim virus jahatnya ke tubuh Sky sampai mampu membuat Sky menyeret Zivania dengan kasar."
"Dan Sky mengirim virus kebaikan ke tubuh Javier sampai membuat si kepar*t itu mempunyai sedikit kelembutan di hatinya," lanjut Philip.
"Aku setuju denganmu, Philip," sahut Thomas.
"Aku juga," pekik Sekretaris Han.
Sementara itu Javier kembali berbicara.
"Keamanan diri yang paling penting. Pakai baju anti peluru kalian."
__ADS_1
"Siap, Tuan," jawab mereka semua.
Bersambung