
Javier kali ini menunggu mereka semua di tempat makan. Ia hanya di temani oleh makanan di meja. Thomas, Philip dan sekretaris Han sibuk shopping entah apa yang mereka beli.
Athes and the geng membawa istrinya entah kemana. Karena bosan menunggu mereka semua akhirnya Javier memilih untuk makan.
Beberapa perempuan mencuri-curi pandang ke arahnya. Javier hanya acuh, ia fokus dengan kentang goreng di piring.
"Hei dia tampan sekali ya."
"Menurutmu dia sudah punya istri atau belum?"
"Sepertinya dia kesepian, aku lihat dari tadi dia hanya sendiri."
"Apa kita temani dia saja?"
"Ide bagus."
Dua perempuan itu pun datang menghampiri Javier. Javier hanya melihatnya sekilas lalu kembali mencolek saus dengan kentang goreng.
"Hallo ..."
Javier masih acuh.
"Hmmm ... Apa boleh kita kenalan?" perempuan itu mengulurkan tangan nya.
Javier mendengus lalu mengangkat tangan kanan nya, ia menunjukan jari manisnya kepada mereka. Jari manis yang di hiasi cincin pernikahan nya dengan Sky.
Dua perempuan itu hanya saling berpandangan. "Eummm ... Tapi istrimu tidak ada di sini. Jadi bagaimana kalau kita yang menemanimu saja?" mereka masih berusaha menggoda Javier.
"Pergi!"
"Atau mungkin kita bisa bertukar nomor telpon?"
"Tidak!"
"Eumm yasudah ... Tapi aku akan menyimpan kartu namaku disini." Perempuan itu menyimpan kartu namanya di atas meja.
Dan Javier segera menyentil kartu nama itu sampai terbuang ke bawah.
"Kenapa kau buang seperti itu!"
Javier diam. Ia lebih memilih menyibukkan mulutnya dengan mengunyah kentang saja.
"Hei pria tidak sopan!!"
"Kau pikir hanya kau saja pria tampan di dunia ini? Mentang-mentang tampan tidak punya sopan santun seperti itu!!"
"Dan caramu mendekati pria yang sudah menikah apa itu sopan?!" Javier kini mulai bersuara.
__ADS_1
"Aku hanya ingin berteman apa salahnya!"
"Lebih baik kau berteman dengan ini." Javier mengeluarkan pistol dan menyimpan nya di meja.
Dua perempuan itu terbelalak seketika. "K-kau? Kenapa kau punya pistol?"
Javier tidak menjawab, ia hanya tersenyum sinis ke arah mereka dengan mengangkat satu alisnya dan senyuman itu membuat dua perempuan itu pergi seketika karena merasa takut dengan senyuman Javier.
"Aku tidak akan mau bertemu dengan pria itu lagi ... Tidak ... Tidak akan!!" mereka berdua berjalan terbirit-birit keluar dari tempat makan.
Sedangkan Javier melihat arloji di tangan nya. Sudah satu jam lebih dan mereka semua belum kembali. Javier menghela nafas melihat ke kanan dan ke kiri. Tidak ada satupun anak buah nya yang muncul.
Javier menelpon sekretaris Han.
"Kau ini dimana?!"
"Di toko sepatu, Tuan."
"Apa masih lama?"
Sekretaris Han melirik Philip yang sedang mencoba sepatu.
"Masih, Tuan. Philip belum menemukan yang pas."
Javier menghembuskan nafas lalu mematikan panggilan itu. Ia pun mencoba menelpon istrinya.
"Sky, kau dimana?"
"Biarkan mereka. Lebih baik kau temani aku di--"
Tutt.
Sky mematikan ponselnya. Javier mendengus kesal.
"Akan ku bunuh kalian semua!! Kecuali istriku." Kesal Javier.
Di saat ia menunggu tiba-tiba seorang perempuan dengan pakaian sexy rambut panjang d gerai dan langkah elegan menghampiri dirinya.
Sementara itu di tempat yang lain. Thomas, Philip dan Sekretaris Han sibuk mencari sepatu.
"Philip, cepatlah! kau ini pilih yang mana?" kesal Thomas karena sedari tadi Philip terus menerus mencoba sepatu tapi tidak tahu mana yang akan dia pilih.
Philip mengangkat dua pasang sepatu pilihan nya.
"Menurutmu bagus yang mana? hitam atau abu-abu."
"Hitam," jawab Thomas.
__ADS_1
"Abu-abu," jawab Sekretaris Han.
"Jadi yang mana yang cocok?"
Thomas mendelik ke arah sekretaris Han. "Bisakah kau memilih yang sama sepertiku? kalau pilihan kita berbeda si gila itu semakin lama di toko ini!"
"Tapi menurutku abu jauh lebih bagus," jawab sekretaris Han.
"Tidak. Hitam cocok untuknya!!"
"Abu-abu, Thom!!"
"Hitam, Han!!"
"Itu jelek, Thomas!!"
"Pilihanmu yang jelek, Han. Kau tidak tahu tentang Fashion, Han!!"
"Aku tidak pernah salah memilih pistol yang bagus dan aku yakin pilihanku juga tidak salah dengan sepatu itu, Thomas!!"
"Kali ini kau salah!!" Thomas tidak mau kalah.
"Tidak!!"
"Salah!!"
"Tidak. Abu-abu bagus!!"
"Hitam!!"
Philip melihat bergantian mereka yang ribut di depannya. Padahal ia hanya bertanya perihal warna sepatu tapi Thomas dan Sekretaris Han malah berdebat dengan saling membentak.
"Ikuti pilihanku saja, Han!!"
"Aku tidak mau!!"
"Jangan menentang ku, Han!!"
"Kenapa tidak, aku tidak bekerja untukmu jadi aku berhak menentangmu!!"
"Kau mau aku tembak hah? Ikuti saja pilihanku sekretaris sial*n!!"
"Kau berani menembakku? Silahkan saja. Kau juga akan mati di tangan Javier, karena aku sekretaris pribadi nya!!"
"Kau--"
"DIAM!! teriak Philip.
__ADS_1
"Aku pilih warna merah!!" kesal Philip dan langsung membawa sepatu nya ke kasir.
Bersambung