
Mereka semua duduk bersama. Athes and the geng menahan tawa nya kala melihat Javier berubah menjadi badut. Ah se cinta itu kah Tuan nya kepada Sky sampai menuruti keinginan gadis itu.
Javier menatap tajam mereka semua yang membuat mereka akhirnya menunduk.
"Tidak bisakah kalian semua pergi?!" kesal Javier.
"Biarkan saja, By. Seru kalau lebih banyak orang seperti ini," sahut Sky.
Javier hanya menggelengkan kepala nya. Ponselnya tiba-tiba berdering, Javier meminta Sky mengangkat panggilan itu.
"Tempelkan ke telingaku sayang," pinta Javier. Dan Sky pun menuruti.
"Ada apa?"
"Kau dimana?" tanya Sekretaris Han yang sekarang ada di mansion.
"Mau apa?" tanya Javier balik.
"Bukan nya menjawab malah bertanya."
"Ada hal penting. Kau dimana?"
"Nanti saja membahasnya."
"Oh, kau di taman rupa nya."
"Tau dari mana kau?!"
"Jam tangan mu." Sekretaris Han tahu ketika melihat alat pelacak di jam tangan yang di berikan Thomas.
"Aku tidak menekan jam tanganku sial*n!!"
"Itu otomatis kepar*t!!"
"Sudah ... aku kesana sekarang."
Javier mendengus kasar. Apa-apaan ini, kenapa jadi banyak orang yang menganggu dirinya dan Sky sekarang.
"Ini. Fotokan kami." Sky memberikan camera kepada Jonathan.
Sky pun mendekati Javier memeluk si badut Teddy itu dan tersenyum ke arah camera.
"Satu."
"Dua."
"Tiga."
Cekrek
"Lagi ... lagi ..." pinta Sky.
Kali ini gadis itu membulatkan mulutnya dan Javier hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
Cekrek
"Boleh tidak kami berfoto dengan Tuan Javier?" pinta Aiden.
"Boleh."
"Tidak."
Sky menjawab boleh sedangkan Javier menjawab tidak.
"Ayolah, by. Kita foto bersama, oke." rengek Sky.
Javier menghela nafas. Sabar, sabar.
Mereka pun akhirnya berfoto dan di fotokan oleh pengunjung yang lain.
"Yeaayyy bagusss ..." Sky melihat hasil fotonya yang menurutnya bagus.
"By, sekarang giliran aku."
"Apa?" tanya Javier.
"Aku mau pakai kostum badut itu."
"Tidak. Aku saja, kau akan kegerahan memakai nya nanti."
"Ayolah, By ..." Sky merengek mengerucutkan bibirnya.
"Sayang di sini tidak ada AC."
"Apa itu?" tanya Sky.
"Angin gelebug," jawab Sergio yang kemudian di sambut tawaan dari yang lain.
Hanya Javier yang tidak tertawa karena tidak mengerti maksudnya apa.
"By cepet ..." Sky kembali merengek.
Akhirnya suaminya pun luluh dan membuka kostum badut nya membantu Sky memakai nya.
Sky menggerak-gerakan kedua tangan nya senang, walaupun kepalanya hampir tenggelam karena ukuran kostum badut yang terlalu besar. Jelas saja itu di buat untuk tinggi badan Javier bukan Sky.
Javier menahan tawa nya, Sky terlihat sangat lucu. Pipi besarnya terlihat semakin menggembul karena kepalanya yang hampir tenggelam di dalam kostum badut.
Sky berusaha bangun, ia ingin berdiri dan berjalan mengelilingi taman tapi kostum badut nya terlalu berat untuknya yang membuat Sky akhirnya tersungkur ke belakang.
"By tolong ..." teriaknya seraya menggerak-gerakkan kakinya.
"Hahahah."
Tawa itu muncul bukan dari Athes and the geng saja tapi sebelum Javier menolong istrinya ia juga ikut tertawa dulu.
Javier membantu Sky duduk kembali, Sky menekuk wajahnya kala yang lain menertawakan nya.
__ADS_1
"Tuan Javier juga ikut tertawa," ujar Nicholas.
Javier berdecak menatap kesal Nicholas.
"Tidak sayang, aku tidak tertawa." Javier mengelus rambut istrinya.
"Aku mau berdiri," pinta Sky lagi.
"Kau sudah jatuh masih mau berdiri juga," pekik Javier.
"Mau kemana hm?" tanya Javier.
"Aku ingin jalan-jalan saja. Cepat bantu, By ..."
Javier akhirnya membantu Sky berdiri. Tepat ketika Sky berhasil berdiri Sekretaris Han datang menghampiri mereka.
"Javier," panggilnya.
"Ada apa?"
"Soal Hanna," ucap Sekretaris Han.
Ekspresi Javier tiba-tiba serius menatap Sekretaris Han.
Sekretaris Han pun duduk bersama mereka. Athes and the geng menoleh satu sama lain. Siapa Hanna, tidak ada yang mengenalnya di antara mereka.
Javier ikut duduk di tikar sampai melupakan Sky yang sudah berjalan menjauhi mereka semua. Gadis itu berjalan perlahan menghampiri pedagang ice cream di taman.
Gadis itu berjalan kesusahan sampai harus mengatur nafasnya beberapa kali karena berat dengan kostum badut yang ia pakai.
"Hanna ada di Rumah Sakit Jiwa," ucap Sekretaris Han.
"Tapi aku tidak tahu Rumah Sakit Jiwa yang mana," lanjut Sekretaris Han.
"Kau tahu darimana?" tanya Javier.
"Aku tidak sengaja bertemu dengan Dini, teman nya. Dini bilang Hanna ada di Rumah Sakit Jiwa karena Ayahmu mengirimnya ke sana."
"Saat itu Hanna menelpon Dini untuk terakhir kalinya dan memberitahukan kalau dia ada di Rumah Sakit Jiwa, tapi tidak memberitahu rumah sakit jiwa yang mana."
Javier menatap Athes and the geng. "Kalian ..."
"Ya, Tuan?"
"Telusuri setiap rumah sakit jiwa yang ada di kota ini. Jika Hanna masih belum di temukan telusuri Rumah Sakit Jiwa yang ada di luar kota sekalipun. Minta data Hanna kepada Han."
"Siap, Tuan."
Sementara itu Sky sedang di ganggu oleh beberapa pria. Ice cream yang ia beli di rebut, mereka mencolek wajah Sky, gadis itu berusaha menghindar.
Mereka berusaha memegang tubuh Sky, Sky berteriak marah tapi mereka malah memainkan gadis itu dengan mendorong nya kesana-kemari. Tubuh Sky yang memakai kostum badut besar jatuh beberapa kali.
Teriakan nya tidak terlalu terdengar oleh yang lain karena Sky jauh dari mereka. Gadis itu menghampiri pedagang ice cream yang ada di ujung taman.
__ADS_1
Bersambung