Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#162


__ADS_3

Setelah pertengkaran hebat itu kini suasana menjadi canggung. Keduanya duduk di sofa dengan tv menyala, Sky memegang gelas di tangan nya sementara Javier hanya fokus dengan tv.


Mereka sudah saling mengeluarkan unek-uneknya satu sama lain. Setidaknya itu membuat mereka sedikit tenang.


"Ini sudah sangat malam, tidurlah."


Sky mengangguk "I-iya."


Javier tersenyum tipis mengelus kepala Sky dengan lembut. Ini kali pertama lagi setelah sekian lama pria itu tidak pernah mengelus kepala Sky seperti biasanya.


Sky masuk ke dalam selimut sementara Javier masih duduk di sofa kamar Sky.


Sesekali Javier mencoba melihat ke arah gadis itu. Memastikan kalau istrinya benar-benar tidur.


Ia beranjak menarik selimut Sky sampai ke dada nya. Javier mengelus kepala Sky lalu turun mengelus perut Sky dengan tersenyum.


Ia kembali ke sofa, niat awal untuk tidur tapi malah mendengar suara orang berbisik di luar kamarnya.


Alhasil Javier beranjak dan menempelkan daun telinga nya di pintu.


"Hening ..."


"Bertengkarnya sudah selesai?" tanya Keenan.


"Ah tidak seru ..." sahut Sekretaris Han.


"Kau kenapa ikut menguping Xander?" tanya Sekretaris Han.


"Aku ingin memastikan putriku baik-baik saja," sahut Xander.


"Kalian kenapa malah menguping juga?" tanya Xander.


"Aku penasaran," pekik Keenan.


"Mencari bahan gibahan," sahut Sekretaris Han.


"Menyebalkan!!" hardik Xander.


"Kau juga menyebalkan, kau lah yang membuat mereka berpisah," ucap Sekretaris Han.


"Javier lah yang tidak mencintai putriku dengan baik."


"Sudahlah, aku tidak mau menjadi gila seperti kalian," ucap Xander.


"JAVIER ... KEENAN DAN HAN MENGUPING!!"


BRAKH.


Xander langsung lari ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras setelah mengadukan ulah dua Sekretaris itu. Dan kebetulan kamar Xander bersebelahan dengan kamar Sky, jadi Xander mudah untuk kabur.

__ADS_1


Sekretaris Han dan Keenan hanya bisa membulatkan mata dan seketika Javier membuka pintu dan memasang tampang datar.


"Kenapa kalian di sini?" tanya nya.


"Aku sedang mencari ..." Sekretaris Han mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang bisa di jadikan alasan.


"Ini ... asbak," sahutnya mengambil asbak di meja lalu turun ke bawah dan meninggalkan Keenan yang kebingungan mencari alasan.


"Kau?" tanya Javier.


"A-anu ..."


"Siapa itu?" tanya Sky yang terbangun.


Javier menoleh ke dalam kamar, Sky sudah duduk di ranjang.


"Lihat ... kau membangunkan istri dan anak-anakku."


Sial, padahal yang menguping bukan hanya dia saja. Tapi dia sendirian yang di salahkan.


"Apa itu Keenan?" tanya Sky lagi.


"Iya," sahut Javier.


"Suruh dia masuk sebentar."


"Keenan, tolong bereskan berkas-berkas penting di meja. Susun yang rapih dan pisahkan apa saja yang harus aku tanda tangani besok."


Keenan menghela nafas. "Baik ..."


Padahal ini jam istrihat dan sudah sangat malam, bukan nya tidur malah di suruh beres-beres.


Ia hendak berjalan keluar tapi ucapan Javier menghentikan langkahnya.


"Sekalian, punyaku ada di meja ruang tamu. Bereskan juga."


Keenan mendengus dengan tangan mengepal. Lalu membalik ke arah Javier.


"Maaf ... aku bukan Sekretarismu."


"Punyaku hanya sedikit, Han pasti tidak tidur di sini. Aku tidak bisa menyuruh dia," sahut Javier.


Keenan tersenyum. "Tuan Javier yang terhormat ... sekali lagi aku bilang, aku bukan Sekretarismu dan aku tidak bekerja untukmu."


"Bereskan saja Keenan," titah Sky yang membuat Keenan melotot kaget ke arah Sky.


Apa-apaan ini, tidak adil sekali. Menguping bertiga tapi yang di hukum malah dia sendirian.


Javier tersenyum puas ke arah Keenan. Keenan berdecak, tidak bisa membantah kalau Sky sudah menyuruhnya.

__ADS_1


Javier pun menutup pintu dan kembali ke sofa.


"Javier ..." panggil Sky.


Javier menoleh.


Gadis itu menepuk-nepuk ranjang di sampingnya. "Tidur di sini saja."


"A-apa?" Javier tidak salah dengarkan, istrinya mengajaknya tidur bersama lagi.


"Tidur di sini," ucap Sky kembali.


Javier mengangguk dan berjalan perlahan menghampiri istrinya.


Ia masuk ke dalam selimut berdua bersama Sky. Keduanya tidur terlentang. Canggung, hanya itu yang mereka rasakan sekarang.


Javier dan Sky hanya menatap langit-langit kamarnya saja. Tidak tahu mau bicara apa dan tidak ada yang berani memulai.


Sampai akhirnya Sky mendesis memegang perutnya.


"Kenapa?" tanya Javier panik.


"T-tidak ... mereka suka sekali menendang akhir-akhir ini."


Mungkin si kembar sedang membantu Ayah dan Ibunya agar tidak saling diam seperti itu.


"Benarkah?" tanya Javier seraya mengelus perut Sky.


"Bagaimana rasanya hamil?" tanya Javier yang mulai menemukan topik pembicaraan setelah tendangan si kembar.


"Menyenangkan ... aku tidak merasa kesepian lagi semenjak mereka ada di perutku. Aku suka saat mereka bergerak di dalam perut. Geli tapi aku suka itu," sahut Sky seraya terkekeh.


"Mungkin mereka tidak sabar ingin keluar dan melihatmu," ucap Javier.


"Ya, aku juga tidak sabar melihat mereka ..."


"Oh iya, Ayahmu ... sebaiknya kau peringati dia agar jauh dari Han dan Keenan. Aku tidak yakin dia masih waras kalau bergabung dengan mereka," ucap Javier.


Sky terkekeh mendengar ucapan Javier. "Kau ini kenapa? Daddy memang seperti itu, suka bercanda. Dan kebetulan Kak Han-Han dan Keenan mempunyai sikap yang sama dengan Dad, jadi tidak masalah."


"Huhh ... kau tidak tau saja, dulu Han sedingin apa. Sampai akhirnya dia jadi sedikit gila setelah bergabung dengan Athes dan yang lain. Aku tidak tau apa yang mereka lakukan di belakangku ... mereka pasti sering membicarakanku diam-diam."


"Kau tidak boleh berpikir negatif tentang mereka," sahut Sky.


"Ah baiklah, aku menurut denganmu saja."


Keduanya tersenyum dan berakhir dengan Javier mencium perut Sky.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2