
Pagi harinya Kara berjalan ke kemar empat bocil itu, ia menggetuk pintu kamar mereka.
"Pagi ..." teriak Kara.
"Maxime ... Arsen ... Miwa ... Tessa ..." Kara memanggil mereka satu persatu menunggu di buka kan pintu, tapi nyatanya di dalam kamar terdengar hening, tidak ada suara mereka sama sekali dan itu membuat Kara khawatir.
Ia pun membuka pintu kamarnya lalu terlonjak kaget melihat suasana kamar yang sangat berantakan. Mainan berserakan dimana-mana, bantal, guling dan selimut ada di bawah dan kasur mereka sudah tidak ada seprei nya lagi.
Seingatnya semalam tidak ada gempa, kenapa berantakan sekali.
"Sayang ..." Kara pun berteriak dan keluar dari kamar mereka, ia begitu panik melihat ke empat anak kecil itu tidak ada di kamar. Kara mencari Sekretaris Han dan yang lain.
Di saat bersamaan Philip membawa mangkuk pelastik yang berisi makanan Momo, pagi ini ia berjalan menghampiri kandang Momo di taman, berjalan seraya bersiul santai.
"Momo makan ..." teriaknya ketika hampir sampai di kandang Momo.
Ia pun membuka pintu kandang Momo dan matanya membulat kala Momo tidak ada di dalam sana.
Philip begitu panik. Celengak-celinguk mencari Momo seraya terus berteriak memanggil hewan peliharaan nya itu.
Ia pun menghampiri para penjaga di depan tapi tidak ada yang tahu kemana lepasnya binatang itu.
*
"MAXIME ..." teriak Athes kala empat bocil itu membuat kegaduhan di ruang bawah tanah dengan membawa Momo ke ruangan itu dan melepaskan nya di sana.
Para pelayan berteriak, ada yang berteriak karena takut dengan Momo, ada yang berteriak karena Jijik dengan kehadiran binatang itu dan yang paling banyak mereka berteriak karena banyak perabotan yang hancur.
Ke empat bocil itu berlari sesuka hatinya menabrak beberapa hiasan yang terpajang di sana seraya tertawa.
"Coco belenti ..." teriak Maxime yang baru saja menamai Momo dengan Coco.
"ARSEN ... MAXIME ... STOP ..." teriak Jonathan seraya berlari berusaha menangkap ke empat bocil itu, tapi sayangnya Jonathan kesulitan karena harus menghindar dari pecahan beling yang di sebabkan oleh Maxime dan yang lain.
Tessa masih berlari dan berlari, ketika ia melihat guci pajangan di sana dengan cepat Tessa mendorongnya sampai.
PRANGGG
"Aaaaaa ..." Semua orang menjerit sampai menutup telinga mereka karena kaget.
Momo terus berlari seraya bersuara, ada tali tambang yang melilit leherya. Maxime pasti mengikat Momo dan menariknya ke ruang bawah tanah.
"COCO ..." teriak Arsen.
"STOP COCO ..." Maxime pun ikut berteriak kala Momo berlari masuk ke bawah meja.
__ADS_1
"MAX TUNGGU ..." kini Miwa yang berteriak karena lari paling belakang.
Momo berada di bawah meja dengan tubuh gemetar ketakutan melihat empat bocil yang mengerumuni nya.
Perlahan Maxime dan Arsen berusaha masuk ke bawah meja itu dan tubuh Momo semakin ketakutan.
Tessa dan Miwa pun melakukan hal yang sama, membuat Momo di kerumuni oleh mereka berempat.
Baru saja tangan Maxime terulur untuk mengambil tali Momo tiba-tiba tubuhnya di tarik keluar oleh Aiden.
Tubuh Arsen di tarik oleh Jonathan, tubuh Miwa di tarik oleh Athes dan Tessa di tarik oleh Sergio.
Aiden mengangkat tubuh Maxime setinggi mungkin seraya berdecak sembari menggelengkan kepala melihat tingkah si kecil ini.
"Tulun ... tulunkan aku ..." Maxime meronta-ronta meminta di lepaskan.
Arsen di peluk erat dari belakang oleh Jonathan.
"Huhh ... lepaskan aku uncle!" teriaknya dengan menekuk wajahnya.
Begitupula dengan Tessa dan Miwa, dua perempuan kecil itu di peluk dari belakang oleh Athes dan Sergio.
"Aku akan memberitau Ayahmu, Maxime," ucap Aiden.
Sementara itu Miwa mengigit tangan Athes dengan keras.
"Arrkkhh ..." Pelukan Athes pun terlepas, alhasil Miwa berhasil kabur.
Tessa melakukan hal yang sama seperti Miwa dan berhasil terlepas dari Sergio.
Arsen menyikut wajah Jonathan sampai pria itu meringis kesakitan memegang mata nya, karena Arsen berhasil menyikut mata Jonathan.
Dan yang terakhir, Maxime yang tubuhnya di angkat tinggi oleh Aiden menendang hidung Aiden sampai Aiden menurunkan Maxime seraya memegang hidungnya.
"DASAR KAU BOCIL!!" teriak mereka bersamaan.
Miwa berhasil keluar lebih dulu melewati garasi mobil, ia berlari ke halaman mansion. Para penjaga yang tadinya ada di halaman mansion menghilang karena di suruh mencari Momo oleh Philip.
Miwa berlari mendekati gerbang mansion kala melihat seorang pria dengan jubah hitam serta kupluk dan masker menutupi wajahnya berdiri tak jauh dari gerbang.
"Hai ..." sapa Miwa, tangan nya masuk ke sela-sela gerbang untuk melambaikan tangan.
Pria itu mendekati Miwa. "Hai cantik," sahutnya seraya melambaikan tangan juga.
"Uncle siapa?"
__ADS_1
Pria itu menyunggingkan senyumnya. "Uncle jual permen. Kau mau?"
"Permen?"
Pria itu mengangguk.
"Mau uncle mau ..." ucap Miwa seraya berjingkrak senang.
"Tunggu sebentar ya, uncle ambil dulu."
Pria itu pun mengeluarkan permen dari saku nya, sebelum memberikan nya kepada Miwa pria itu membuka permen nya dulu.
"Ini ... makanlah sekarang."
"Yeaaayy ... aku suka pelmen, uncle."
"Ya, uncle juga suka melihatmu makan permen," sahut pria itu pelan.
Ketika Miwa hendak memakan permen nya tiba-tiba Maxime menepis permen dari tangan Miwa.
"NOOOOO ..." teriak Maxime.
"Itu pelmen Miwa," ucap Miwa dengan cemberut.
"Hey, boy. Kau sangat tampan," ucap pria itu kepada Maxime.
"Aku tau," sahut Maxime dengan angkuh mendelik ke arah pria itu dengan dahi mengkerut. Maxime menatap tajam pria itu.
"Huuuu ... pelmen Miwa .... Huuuuaaaa." Miwa menangis keras karena permen nya di jatuhkan oleh Maxime.
"Tidak apa. Uncle punya yang baru untukmu."
Pria itu hendak memberikan permen yang baru tapi lagi-lagi Maxime menepisnya.
"Adikku tidak makan pelmen dali olang lain, uncle olang jahat ya?" ucap Maxime menatap tidak suka pria itu.
Pria itu tersenyum kecut. "Insting mu sangat bagus ternyata," batin pria itu.
"MAXIME ... MIWA ..." teriak Javier panik melihat Maxime berbicara dengan orang asing dan Miwa yang menangis.
Javier, Sekretaris Han, Thomas beserta istri mereka segera berlari menghampiri Maxime dan Miwa ke dekat gerbang dengan wajah panik mereka.
Pria itu pun segera berlari ketika mendengar suara Javier.
Bersambung
__ADS_1