
Javier mengerjap kan mata, sebagian tubuhnya terasa sakit. Balkon mansion begitu berantakan karena kejadian dirinya yang kembali mengingat orang tuanya.
Selalu seperti itu setiap kali mengingat kedua orang tuanya, Javier akan minum sampai tak sadarkan diri.
Tapi kali ini, ia ingat bukan alkohol yang membuatnya tak sadarkan diri. Tapi karena pelukan Sky yang membuatnya hatinya nyaman dan akhirnya tertidur.
Javier mendongak melihat wajah Sky Alexander yang tertidur pulas. Ia tersenyum lalu mengelus lembut pipi istrinya.
Sesekali memainkan pipi gembul istrinya itu, ia terkekeh karena Sky masih saja tidur walaupun Javier terus menoel noel pipinya.
"Tidur seperti orang mati," gumam Javier.
Cup
Javier mencium kening Sky, lalu menggendong tubu istrinya ala bridal ke kamar.
Baru keluar dari balkon Sekretaris Han sudah berdiri disana, entah jam berapa sekretaris nya itu bangun padahal ini masih sangat pagi.
"Selamat pagi," ucap Sekretaris Han.
"Kenapa kau ada disini?"
Apa kau tidak sadar dari semalam aku disini menjadi pelampiasan otak gila mu lagi.
"Memberitahu mu kalau hari ini Carla akan datang untuk membahas pernikahan mu dan dia."
Javier menghela nafas, Sky masih di dalam gendongannya.
"Suruh tunggu dibawah."
"Baik, tuan."
Javier menidurkan Sky di ranjang dan menyelimuti tubuh gadis itu, ia duduk di samping Sky seraya menatap dalam wajah istrinya.
"Kau milikku!!" ucapnya lalu mengelus rambut Sky dan pergi meninggalkan gadis itu untuk membersihkan diri.
Carla dan sekretaris Han sudah berada di ruang keluarga. Carla duduk dengan menumpangkan satu kakinya dan tangan bersedekap dada.
Sekretaris Han duduk dengan tenang menunggu Javier.
Tak lama kemudian Javier pun datang, Carla yang melihat Javier langsung menghampiri pria itu.
"Morning sayang."
Ia hendak memeluk Javier tapi Javier segera mendorongnya menjauh dan duduk di sofa.
"Cepatlah, aku ingin semuanya cepat selesai."
Carla mendengus lalu kembali duduk.
"Aku tidak ingin cerai," ucap Carla tanpa basa basi.
"Yang aku butuhkan surat perceraian, bukan omong kosong mu," pekik Javier mendelik ke arah Carla.
"Kau tidak bisa seperti itu, Jav!"
"Dari awal pernikahanmu dan tuan Javier hanya pernikahan bisnis yang di setujui oleh dua perusahaan. Kalau kau ingin protes, protes lah kepada ayahmu sendiri." ungkap Sekretaris Han.
"Berani sekali kau berbicara kurang ajar terhadap istri tuanmu!"
"Berapa?" tanya Javier melirik ke arah Carla.
Carla menaikkan satu alisnya. "Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Berapa banyak uang yang kau mau untuk perceraian ini. Kau tidak mau bercerai karena sudah terbiasa hidup kaya, bukan."
"Kau takut hidup melarat setelah bercerai denganku, bukan?" lanjut Javier.
"Aku mencintaimu, Jav. Bukan karena itu!!"
Carla memang mencintai Javier tapi tidak full, ketakutan akan hidup melarat setelah bercerai dengan Javier jauh lebih mendominasi.
Ayahnya memang kaya, tapi pelit. Ia tidak bisa menghabiskan uang untuk membeli tas, pakaian dan yang lain karena ayahnya membatasi keperluan nya. Berbeda dengan Javier yang begitu royal.
Bohong kalau Carla tidak mau dengan Javier, ia begitu tampan tapi tetap saja ia lebih membutuhkan uang. Jika ada yang lebih kaya dari Javier sudah pasti dengan cepat ia menyetujui perceraian nya dengan Javier.
"Jav, aku--"
Javier menghela nafas mengeluarkan cek di dalam dompetnya dan memberikannya kepada Carla. Ia benar benar ingin dengan cepat mengakhiri hubungannya.
Perlahan tangan Carla terulur mengambil cek di meja dan matanya membulat kala melihat angka di yang tertulis disana. Oh ia benar benar menjadi orang kaya jika bercerai dengan Javier.
Carla tidak bisa langsung mengangguk dengan hanya melihat cek itu. Ia berusaha mempertahankan harga dirinya.
Ia berdehem sesaat lalu kembali melihat ke arah Javier setelah menyimpan kembali cek itu di atas meja.
"Aku tidak mau ini, aku tetap ingin menjadi istrimu."
Cih, dasar gengsi.
"Baiklah. Karena aku mempunya dua istri maka kebutuhan kalian di bagi dua." Javier tersenyum sinis setelahnya.
Di bagi dua? pasti tidak sebesar yang ada di cek itu bukan.
Carla menghela nafas, menempelkan punggungnya di sofa dengan lemas. Dia sedang berakting menjadi istri paling menderita.
"Baiklah, kita bercerai saja. Lagi pula aku tidak pernah mendapatkan perhatian layaknya seorang istri... huh... Di anggap pun tidak pernah, tidur satu kamar pun tidak pernah... Kehadiranku... hanya di anggap patung di hidupmu, Jav." Ia berkata seolah olah menjadi istri Javier begitu menderita dan menyakitkan.
Ia memilih bangkit dari duduknya dan meninggalkan mereka berdua.
"Apa aku harus mencarikanmu sutradara, Car?" ungkap Javier menahan senyumnya.
Sial!!"
Carla mengepalkan tangannya diam diam dengan kesal.
"Satu lagi, cek itu bisa kau dapatkan setelah melakukan tugas terakhirmu."
Carla menatap Javier. "Tugas apa?"
"Aku harus datang ke pesta O'Brien grup. Aku membutuhkan mu untuk menemaniku. Setelah itu kita resmi bercerai."
"Mengapa harus aku? Kenapa tidak istri mu itu yang kau bawa."
"Menurut lah atau kau tidak akan mendapatkan apapun dari perceraian ini!"
Carla kembali mendengus. "Baiklah!!"
Javier pun berdiri meninggalkan Carla, ia menaiki anak tangga, melihat Sky dan Sekretaris Han berbincang. Javier pun menghampiri mereka.
Sekretaris Han pergi dari sana membiarkan Javier berdua dengan Sky.
"Kau sudah bangun hm?" Ia mengusap anak rambut Sky yang menghalangi keningnya.
Sky hanya mengangguk.
"Kita sarapan." Javier menggenggam tangan Sky untuk membawanya sarapan tapi Sky menahannya.
__ADS_1
"Aku sudah tahu soal isi dari surat perjanjian yang kau ubah."
Javier membalik dan tersenyum. "Baguslah. Aku jadi tidak perlu menjelaskan apapun, bukan."
Sky tampak heran mengapa Javier bisa sesantai itu.
Sky mendengus melepaskan genggaman Javier dengan kasar lalu turun ke bawah.
Javier hanya terkekeh melihat Sky seperti itu. Dan mengikuti langkah istrinya.
"Selamat pagi Tuan, nyonya." Sapa Pak Liam dan Bibi Gail.
"Pagi," jawab Sky dengan tersenyum sementara Javier hanya mengangguk dengan sapaan Pak Liam dan Bibi Gail.
Sky pun duduk di meja makan bersama Javier di depannya.
Sky terdiam mengingat perkataan sekretaris Han yang menyuruhnya membuka hati untuk Javier, apa ia harus melakukannya? Javier pernah bilang kalau ia akan menjadi istrinya... untuk selamanya.
Itu artinya Sky harus belajar menerima Javier di hidupnya bukan.
Sky menghela nafas sementara Javier hendak mengambil roti tapi Sky segera menepisnya.
"Biar aku saja."
Pak Liam dan Bibi Gail saling menatap satu sama lain melihat tingkah Sky di pagi hari yang berbeda dari kemarin, jelas jelas Pak Liam melihat mereka bertengkar kemarin.
Javier mengerutkan dahinya menatap Sky, kenapa tiba tiba ia mau melayani dirinya.
Ada tiga selai disana, selai mana yang dia mau ya. Apa coklat atau strawberry atau...
Sky berusaha mengingat ngingat sesuatu dan.
Oh iya, Pak Liam bilang dia suka Cherry.
Dengan semangat Sky mengambil selai berwarna merah. Tapi Javier juga mengambil selai warna merah di wadah yang lain dan meletakan nya di depan Sky.
"Itu strawberry, aku ingin cherry."
"Bukanlah ini Cherry?" Sky mengacungkan selai di tangannya.
"Itu strawberry, warna nya berbeda. Cherry lebih gelap dari itu."
"O-oh."
Sky pun mengolesi roti dengan selai Cherry dan memberikannya kepada Javier.
Makan roti di pagi hari tidak membuatku kenyang. Aku ingin nasi goreng tapi kenapa tidak ada...
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...