
"Kau gila Sky!!" Liana menggebrak meja kala mendengar semua cerita Sky yang tak masuk kerja selama dua hari.
Yang Liana tahu Sky izin untuk membereskan masalah artikel cafe X dengan pemimpin De Willson group.
Dan lihatlah apa yang terjadi, bukan membereskan Sky malah menjadi istri dari pemimpin De Willson group tersebut.
"Tidak.. Tidakk.. Aku pasti bermimpi... Ya.. Aku bermimpi.." Liana mondar mandi sembari menampar pelan kedua pipinya.
"Li, ini bukan mimpi aku benar benar menjadi istrinya sekarang."
"KENAPA KAU MENERIMANYA SKY SAYANGGG!! KAU BODOH!!" teriak Liana geram.
"KENAPA KAU MEMBIARKAN SI TUA ITU MEREBUT PAKSA HIDUPMU?!"
"DIA HANYA MEMPERMAINKANMU, KAU SEHARUSNYA SADAR ITU!!"
"AKU TIDAK BISA MEMBIARKAN AYAHKU MATI!!" teriak Sky.
"SKY!! BISA SAJA INI HANYA PERMAINAN!! APA KAU PERNAH MELIHAT SURAT PERJANJIAN SI TUA ITU DAN AYAHMU? APA ISI PERJANJIAN ITU BENAR BENAR NYATA?!!"
Sky terdiam, Herry ayahnya tidak pernah menceritakan soal surat perjanjian atau hukuman yang akan ia terima dari Javier De Willson dan juga, Sky belum melihat surat perjanjian ayahnya dengan Javier. Apa benar tanda tangan ayahnya ada disurat itu atau ini semua hanya akal akalan si om tua.
***
Di sisi lain Javier dan Sekretaris Han sedang mengendarai mobil untuk pergi ke mansion kedua milik Javier.
Sebelum berangkat ia sempat ribut dengan Sky karena gadis itu bersikeras ingin pergi bekerja sementara Javier bersikeras untuk mengurung Sky di mansion utama.
Dan jangan tanya kenapa akhirnya Javier mengalah. Itu karena tatapan Sky berubah menjadi manis dan manja bahkan sampai memanggilnya Hubby di depan sekretaris Han dan juga Pak Liam. Membuat kedua sekretaris pribadinya itu melotot tak percaya.
Drrrrtttt
Suara ponsel Javier berbunyi membuat Sekretaris Han melirik ke belakang dari kaca spion.
Tertera nama Philip disana.
"Ada apa?"
"Hhhuuaaaa... Hikss.." terdengar suara menangis diseberang sana.
"Ada apa keparat!"
Sekretaris Han tersenyum miring, ah ia sudah tahu siapa yang menelpon tuannya itu. Apalagi ketika mendengar suara tangisan yang sangat jelas.
"B-bos.. Bisakah kau membantuku...hikss.."
"Tidak!"
"Ayolahh, boss.. Anakku hilang... Huaaaa..."
"Anak siapa yang kau maksud?!! Sejak kapan kau punya anak?!!"
Sekretaris Han mengernyitkan dahi, anak? Anak Philip, benarkah?
"Aku baru mengadopsinya dua hari yang lalu. Dia datang ke rumahku tengah malam jadi aku merawatnya tapi sekarang dia hilang boss... Tolong... Huaaaa.... Hikss..hiks.."
"Berikan saja ke panti asuhan!!"
"T-tidak bos.. Aku menyayangi anak ini.. Dia perempuan dan pantatnya sangat bohay bahkan p*tingnya juga sangat pink."
"Jangan bilang kau merawatnya karena dia terlihat Sexy!"
"Tentu saja." jawab Philip tanpa dosa.
__ADS_1
Javier menggeram kesal, ia tahu Philip, temannya itu memang gila ***. Walaupun tak di pungkiri dirinya juga sama, hanya saja Philip lebih parah, dalam sehari ia bisa meniduri banyak pelacur dengan godaan mautnya.
Walaupun terlihat seperti anak kecil, Philip sendiri berusia dua puluh delapan tahun. Dari kecil sikapnya memang tidak pernah berubah, menyebalkan.
"Apa kau pedofil Philip? Lepaskan anak itu atau aku akan memenggal kepalamu!! Sudah kubilang jaga nama baik Yakuza!!"
Sekretaris Han hanya menggeleng mendengar percakapan tuan dan temannya itu.
Yakuza adalah kelompok mafia yang anti membunuh dan menganggu anak kecil dan perempuan. Kalau saja ulah Philip menyebar luas, ini akan menjadi masalah besar untuk Javier.
Terkecuali perempuan pelacur, mereka perempuan yang melempar tubuhnya sendiri untuk dibayar. Jadi tidak ada paksaan dari Yakuza.
"Aku menjaga nama baik Yakuza bos. Aku hanya ingin mencari anakku yang bohay itu.."
"****!! Dimana kau sialan!!"
"Mansion ketigamu. Aku membawanya ke mansion keduamu bos tapi Carla menolak dan mengusir kami."
"Diam disitu!! Sekali saja kau sentuh anak itu, kubunuh kau Philip!!"
"Aku sudah menyentuh bok*ngnya bos. Kenyal seperti squishy hehe." Philip tertawa kecil tanpa dosa membuat Javier semakin geram.
Sejahat jahatnya Javier tidak pernah ia membunuh anak kecil atau seorang perempuan. Itu aturan yang dibuat turun temurun dari Andreas De Willson.
Kakeknya begitu menghargai dan menyukai anak kecil. Dan perempuan, semarah apapun dengan mereka, tetap biarkan mereka hidup. Itu yang Andres katakan diakhir hidupnya dulu.
"Putar balik!" pinta Javier kepada Sekretaris Han.
Sekretaris Han hanya menghela nafas menuruti Perintah tuannya.
"Aku tidak tahu siapa yang bodoh disini, kau tuan..." batin Sekretaris Han melirik ke kaca spion. "Atau Philip.." lanjutnya.
dua puluh menit kemudian mereka sampai disebuah mansion besar dengan desain gelap. Bahkan warna luarnya saja hitam pekat, mansion ini biasa di sebut mansion kematian oleh seluruh anggota Yakuza.
Bukan hanya itu, cahaya di dalam mansion juga sangat kurang, hanya ada beberapa lampu menempel di dinding menerangi mansion yang luas.
Dan jangan tanya seberapa menyeramkan mansion ini karena ada ruang bawah tanah yang hanya diterangi oleh satu lampu kecil. Disana banyak jeruji besi yang dipakai untuk mengurung mereka yang berkhianat dengan Yakuza.
Mereka pria yang berkhianat dikurung dan dibiarkan mati kelaparan. Jasadnya akan di bakar atau dibuang ke tempat terpencil.
Dan ada juga sebuah kayu menjulang tinggi dengan bercak darah disana. Kayu itu biasa dipakai untuk mengikat korban dan mencabuknya sampai tak bernyawa, bahkan darah mereka sebagian menempel di kayu itu.
"Dimana dia?" Tanya Javier kepada Thomas.
"Anaknya sudah ketemu, bos," ucap Thomas dengan tersenyum.
Thomas juga salah satu teman dekat Javier.
"Lalu?"
"Philip sedang memanjakan anaknya bos."
"****!!" Javier berlari masuk ke mansion dan berteriak memanggil Philip.
"Dia akan gila sebentar lagi," ucap Thomas memandang Javier berlari ke mansion.
"Ya. Kau benar!" jawab Sekretaris Han.
"PHILIP SIALAN DIMANA KAU?!"
"LEPASKAN ANAK ITU PHILIP!"
"DASAR PEDOFIL!!"
__ADS_1
Javier melihat pintu kamar di lantai dua terbuka. Ia segera berlari kesana dan mendapati Philip sedang merebahkan diri dikasur.
Ia segera menarik kerah baju Philip.
"Dimana anak itu?!!" geram Javier.
"T-toilet bos."
"Apa kau sudah----Argh sialan!!"
BUGH
Javier memukul keras Philip.
"Hei kenapa memukulku bos?"
Javier acuh ia segera berlari mendekati kamar mandi. Menggerak gerakan knop pintu tapi terkunci dan alhasil ia mendobraknya.
BRAKH
"Ngokk...Ngokk...Ngokk..."
Sebuah anak babi bersuara karena kaget dengan dobrakan pintu.
"Ngokk..Ngokk..Ngokk.."
Javier mematung tak percaya, tubuhnya terasa membeku. Ia memutar balik mobil demi sampai ke mansion ini hanya untuk melihat seekor anak babi, benarkah? Pantas saja Carla menolak Philip membawa anaknya ke mansion kedua.
"J-jangan bilang.. Anakmu..."
"Sshh.." Philip mendesis menahan sakit karena bibirnya terluka oleh pukulan Javier.
"Ya bos. Itu anakku yang bohay itu," ucap Philip seraya berjalan ke arah Javier.
Sekretaris Han datang diikuti Thomas, ia berdiri disamping Javier yang masing mematung. Sekretaris Han tidak kaget, ia sudah tahu ini bukan hal serius.
"Han," panggil Javier.
"Ya tuan?"
"Bisakah kau mewakili ku memukul si keparat itu."
Sekretaris Han menahan tawa. "Baik tuan!!
"Ehh tu-tunggu.." Philip berjalan mundur selangkah demi selangkah tapi.
BUGH.
Sebuah pukulan dari sekretaris Han melayang di pipi kanannya
"Aarrghh---shitt!!" Thomas hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala.
Tingkah mereka semua tidak mencerminkan seorang mafia yang kasar dan dingin. Tapi mafia yang bodoh dan tol*l.
Javier pergi dari kamar itu menabrak tubuh Thomas dengan kesal.
"HEY BOS TIDAK MAU KENALAN DENGAN ANAKKU.. NAMANYA MOMO.." teriak Philip seraya memegang bibirnya yang masih berdarah.
Sekretaris Han pun ikut menyusul tuannya selepas melayangkan gelenggan kepala untuk tingkah gila Philip.
Philip menggendong Momo dari kamar mandi.
"Momo.. Lihatlah papimu ini," Philip menunjuk luka diwajahnya memperlihatkan kepada Momo dengan muka sendu. Thomas juga pergi selepas menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan coment ya😘