Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#40


__ADS_3

Jonathan masih menemani Sky, gadis itu terduduk dengan memeluk lututnya. Sesekali bahu nya meloncat kaget kala suara tembakan masih saja belum berhenti.


Tiba tiba suara langkah kaki membuat keduanya mendongak. Dari lantai tiga ada seseorang yang sedang menaiki tangga darurat ke lantai empat, tempat dimana Jonathan dan Sky menunggu Sergio datang.


Kata Thomas mereka tidak boleh kemana mana karena Sergio sedang melawan musuh di lantai tiga.


"S-siapa itu?" tanya Sky gemetar.


"Tenang nyonya... jangan takut." Jonathan berbicara pelan.


Ia pun berdiri, mengeluarkan senapan di balik jas nya. Membidikkan nya ke anak tangga dibawah.


"Berani datang artinya berani mati!!" ucap Jonathan dengan lantang.


Jonathan masih belum tahu siapa yang menghampirnya, hal yang membuat dia gugup sekarang karena ia di percaya untuk menjaga istri tuan nya.


Ah seandai nya Jonathan sendirian sudah pasti ia akan turun ke lantai bawah lebih dulu.


"Berhenti!!" ucap Jonathan kala suara langkah kaki semakin mendekat.


"BERHENTI ATAU AKU TEMBAK!!" Jonathan mulai menarik pelatuknya di belakangnya Sky memilih menelungkupkan wajahnya dengan perasaan takut.


Dan yang datang ternyata.


Javier.


"Turunkan senjatamu bocah!!" ucapnya menatap tajam Jonathan dengan peluh di wajahnya.


"T-tuan..."


Mendengar suara Javier, Sky langsung berdiri.


"Javier..." Sky berlari menghampiri Javier. Pria itu segera menangkap Sky membawanya ke pelukan.


"Kau baik baik saja hm?" tanya Javier seraya mengelus lembut rambut istrinya.


"Kenapa kau masih disini? Bantu teman banci mu dibawah sana." kata Javier melayangkan tatapan horror untuk Jonathan.


Teman banci? Jonathan sempat mengerutkan dahinya, siapa teman yang di maksud tuannya.


"Baik tuan." Jonathan pun berlari meninggalkan suami istri itu.


"Kita tidak bisa disini terus Sky. Ikut aku." Javier menggenggam tangan Sky tapi Sky menahannya.


"Aku tidak mau... aku takut. Mereka semua bawa pistol."


Javier mengacungkan pistol yang ia simpan di balik jas nya. "Aku juga bawa Sky," ucapnya seraya menarik ujung bibir nya tersenyum.


Sky membulat, tadi ia lihat Javier menusuk pria asing sekarang suaminya juga membawa pistol . huh...


"Ta-tapi..."


Javier melepas jas nya, memakai kan ke tubuh Sky lalu merentangkan kedua tangannya.


"Kemari lah." Sky menaikkan satu alisnya tidak mengerti.


Javier mendengus. "Kau ini..." Javier langsung menggendong Sky dari depan.


Gadis itu seperti anak koala yang di gendong ibunya sekarang.


"Peluk aku yang erat, kalau tidak kau akan jatuh."


Sky pun memeluk leher Javier lebih erat seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu.Sementara dari depan kakinya di silangkan ke pinggang Javier.


Javier memeluk Sky, membawanya ke lantai tiga. Mereka harus pergi ke lantai empat, hanya satu lift membuat mereka harus bergelut dulu dengan para pria asing itu. Huh... andai saja pintu darurat bisa dibuka mereka tidak akan kesusahan.


Javier keluar dari pintu darurat seraya melirik ke kenan dan ke kiri.


"Lewat kanan," ucap Thomas di earphone.

__ADS_1


Javier pun berjalan dengan Sky di gendongannya lewat lorong kanan. Ia memeluk Sky dengan kedua tangan memegang pistol.


"Hati hati.. masih banyak yang belum terbunuh." ucap Thomas kembali.


Thomas masih setia mengintai pergerakan mereka lewat cctv, disampingnya Philip sedang sibuk makan kacang.


Merasa ada yang janggal, Thomas memperbesar layar laptop nya. Ia melihat ada seorang wanita hamil di lorong hotel.


"Apa dia salah satu tamu di hotel itu?" tanya Philip.


"ku rasa bukan. Seharusnya dia berlari ketakutan seperti yang lain. Dan keluar dari hotel itu."


Gerak gerik wanita itu begitu mencurigakan. Ia berjalan dengan menutup mulutnya seraya menunduk. Ketika pria asing yang menjadi musuh Javier berjalan melewati wanita itu. Dengan cepat wanita itu berbalik dan menembaki mereka tepat di kepalanya.


Thomas dan Philip memandang satu sama lain dengan wajah penuh keterkejutan. Siapa dia? siapa wanita itu?


Thomas akhirnya memperbesar layar. Wanita itu membuka tangan yang menutupi mulutnya memandang mayat musuhnya dengan tersenyum puas.


Dan ternyata wanita itu... Sergio.


Jangan tanya seberapa kesal Thomas dan Philip sekarang. Mereka menggeram kesal sampai membuat tangannya mengepal.


Sudah Aiden yang berubah menjadi tukang bubur sekarang Sergio berubah menjadi wanita Hamil.


...💥💥💥...


Javier berhasil membawa Sky ke lantai empat setelah melewati banyak rintangan. Ia menembak musuh dengan Sky masih di gendongannya.


Javier hampir saja tertembak seandainya Jonathan tidak lebih dulu menembak musuh dari belakang.


Javier membawa Sky ke salah satu kamar di lantai empat.


"Tidurlah... Aku akan membangunkan mu ketika pak Liam sudah datang."


Javier hendak pergi tapi Sky menarik tangan suaminya itu.


"Mau kemana?"


Sky mengangguk dan melepaskan genggaman nya.


Beberapa menit kemudian Javier keluar dengan hanya menggunakan celana jeans hitam saja. Ia mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


Sky melihat wajah suaminya itu tanpa berkedip, mengapa rasanya aura suaminya setelah mandi berbeda dari biasanya.


Javier menyunggingkan senyum ke arah Sky. "Kau kenapa? terpesona hm?"


Sky langsung membuang muka dengan malu membuat Javier terkekeh. Ia menghampiri istrinya di atas ranjang.


Sky sedikit menggeser tubuhnya, ia mengusap ngusap ceruk lehernya sendiri, entah kenapa hatinya berdebar kala Javier berada disampingnya sekarang.


Javier memeluk Sky dari samping seraya memandang istrinya yang masih membuang muka ke arah lain.


Diam diam pria itu tersenyum gemas melihat Sky yang salah tingkah.


"Tadi kau ketakutan dan terus memanggil namaku... sekarang malah diam seperti ini padahal aku sudah disampingmu."


Javier mempererat pelukannya sementara Sky terus bergerak tidak nyaman.


Pria itu langsung melepaskan pelukan nya melihat Sky yang terus bergerak. "Kau ini kenapa? Seperti cacing kepanasan!"


Sky masih diam.


"Sky apa aku harus keluar dari kamar ini agar kau merengek memanggil namaku seperti tadi?!"


Sky masih saja diam, jujur saja Sky tidak nyaman karena hatinya berdebar tanpa sebab tidak seperti biasanya.


Javier dan Sky selalu berdebat tentang hal hal kecil, gadis itu selalu cerewet dan tidak mau kalah ketika berbicara dengan Javier. Tapi sekarang, ia bungkam tanpa sepatah kata.


Javier mendengus kesal ia beranjak dari ranjang tapi seketika Sky menggenggam kembali tangan Javier.

__ADS_1


"Jangan pergi."


Javier tersenyum tapi ketika ia membalik ia pura pura kesal lagi.


"Kenapa? Kau saja tidak mau berbicara denganku!" ucapnya datar.


"A-aku... aku tidak tau harus berbicara apa."


Javier menaikkan satu alisnya dengan menyunggingkan senyuman.


Ia kembali duduk dan kembali memeluk Sky.


"Kenapa kau jadi seperti ini hm? Kau jadi pendiam? Tidak lagi jadi istri pembangkang seperti biasanya."


Tidak mungkin aku bilang, aku sedang mencoba membuka hati.


"Huh... kau malah diam lagi."Javier menarik wajah Sky dengan jari telunjuknya.


Kini wajah mereka sangat dekat, keduanya saling memandang satu sama lain.


Tidak pernah Sky memandang wajah suaminya sedekat ini.


Kalau di lihat lihat dia tampan juga. Tidak seperti om om tua menyebalkan.


Bulu matanya juga lentik. Bagaimana bisa pria seperti dia mempunyai mata sebagus itu.


Hidungnya mancung, tidak seperti hidungku.


Sky beralih menatap bibir Javier. Terdapat luka disana.


"Bibirmu?"


"Kena pukulan pria itu," jawab Javier.


"Kau tidak mau mengobati suamimu?"


"Tapi disini tidak ada obatnya."


"Ada," jawab Javier.


"Benarkah? kalau begitu aku akan mencarinya." Sky hendak beranjak dari ranjang tapi Javier dengan cepat menarik leher belakang Sky dan mencium bibir istrinya itu.


"Itu obatnya," kata Javier dengan senyuman.


Sky tak mampu bersuara, ia hanya mematung sesaat dengan ekspresi kaget.


Ini bukan kali pertama Javier menciumnya, tapi ini kali pertama jantungnya berdetak lebih cepat setelah di cium Javier.


"Sky sepertinya ini belum sembuh." Javier menunjuk bibirnya.


"La-lalu?"


Javier memiringkan wajahnya mendekati Sky sampai akhirnya ciuman itu kembali terulang. Lebih lama dan lebih dalam.


Di tengah tengah ciumannya Javier mendengar suara Thomas dan Philip di earphone.


Kedua temannya itu sedang menggosipkan dirinya dan lebih parahnya lagi Javier di jadikan taruhan.


"Aku akan memberikan mu mobil seandainya tebakanku benar, Javier pasti sedang berciuman dengan Sky," ujar Philip.


"Itu sudah pasti!! Tidak perlu mengajakku taruhan hal yang sudah jelas!" jawab Thomas.


"Setelah berciuman apalagi? menurutmu Javier bisa menahan birahi nya terhadap Sky?"


"Kau pikir dia kucing? Birahi itu untuk hewan bod*h. Untuk manusia namanya n*fsu!"


Javier enggan melepaskan ciumannya bersama Sky, apalagi ini ciuman terlama dari pada yang sebelum sebelumya. Dan lagi, Sky tidak menolak atau membrontak sekarang.


Alhasil, Javier melepas earphone di telinga nya dan melempar ke sembarang arah.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2