
Selepas dari makam Ataric mereka pergi ke desa X untuk menemui Hanna. Ada dua mobil yang pergi ke desa X.
Mobil pertama Javier dan Sky, mobil kedua Sekretaris Han, Thomas dan Philip.
Jalan menuju desa X begitu jauh dari perkotaan, sepertinya ini desa terpencil yang jarang di ketahui banyak orang.
Di sepanjang jalan Javier hanya memikirkan apa Rumah Sakit Jiwa yang ada di desa X itu juga milik Ayahnya.
Dan untuk apa Ataric membangun Rumah Sakit Jiwa di desa terpencil seperti ini. Setahu dirinya Ataric tidak pernah membangun RSJ.
Sudah tiga jam mereka di perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah gerbang berwarna coklat.
Dua satpam datang menghampiri mobil Javier dan mengetuk jendela mobil.
Javier pun membuka nya.
"Maaf, bisa tunjukan identitas anda Tuan?"
Javier pun mengambil kartu nama dari dompetnya dan memberikan nya kepada mereka.
Mereka seketika saling menoleh dan membulatkan mata ketika melihat identitas pria di depan nya.
"Maaf kami tidak tahu kalau anda Tuan Javier, silahkan masuk," ucapnya seraya membungkukan badan sopan.
"Kalian mengenalku?" tanya Javier.
"Iya, Tuan."
Javier tidak mau banyak bertanya lagi, ia kembali melajukan mobilnya masuk ke halaman Rumah Sakit.
Sky hanya mengedarkan pandangan nya dengan sesekali menghela nafas, ia akan bertemu dengan perempuan yang hampir membunuhnya sekarang. Jujur saja, ia sedikit ketakutan.
Setelah parkir, Javier tidak langsung keluar. Ia menoleh ke arah Sky yang terlihat ketakutan.
Javier mengenggam tangan istrinya seraya tersenyum.
"Aku di sini, tidak perlu takut," ucap Javier yang membuat Sky tersenyum tipis dan menganggukan kepala.
Mereka pun keluar dari mobil. Philip tak henti memandang RSJ yang besar ini. Bagaimana bisa Ataric membangun RSJ di desa terpencil seperti ini.
"Jav, kau benar-benar tidak tahu kalau Ayahmu membangun RSJ di sini?" tanya Philip.
"Aku tidak tahu, belum tentu juga ini milik Ayahku. Kita harus bertemu dengan orang yang menjaga RSJ ini," sahut Javier.
__ADS_1
"Permisi, Tuan." Seorang pria paruh baya menghampiri mereka.
"Ya?"
"Anda Tuan Javier?"
Javier mengangguk. Pria itu tersenyum.
"Perkenalkan saya Mr Hugo. Saya yang menjaga Rumah Sakit Jiwa ini." pria itu pun membungkukan badan ke arah Javier.
Mr Hugo di beritahu oleh dua satpam di depan kalau anak dari Ataric De Willson datang ke tempat ini.
"Aku tidak mau basa-basi lagi, aku sedang mencari Hanna. Perempuan yang di bawa ke sini oleh Ayahku."
"Hanna?" tanya Mr Hugo seraya menaikkan satu alisnya.
Javier membuka galeri di ponselnya dan menunjukan foto Hanna kepada Mr Hugo.
"Ah, iya Tuan. Dia ada di sini."
"Apa dia benar-benar gila?" tanya Sekretaris Han.
"Dia di paksa masuk ke sini oleh Tuan Ataric karena banyak membunuh orang-orang yang tidak ada hubungan nya dengan penyerangan Yakuza. Dia perempuan gangguan jiwa, dia suka membunuh dan selalu merasa puas ketika melihat darah dari korban."
Mungkin orang-orang akan berfikir kalau Hanna sama dengan Javier dan yang lain karena suka membunuh. Tapi sebenarnya berbeda, Javier berani membunuh jika ada orang lain yang mengusiknya saja, apalagi menganggu istrinya.
Lebih tepatnya Hanna seorang psychopath yang sekarang depresi karena di kurung.
"Sejak kapan bangunan ini ada?" tanya Javier.
"Sudah lama, Tuan. Bahkan sebelum anda lahir bangunan ini sudah ada. Tuan Ataric membuat bangunan ini khusus untuk menyekap para pelayan wanita yang membuat kesalahan besar dan memeriksa apa mereka kemungkinan gangguan jiwa atau tidak.
"Aku ingin bertemu dengan Hanna," ucap Javier.
Mr Hugo menoleh ke arah Sky.
"Dia istriku."
Mr Hugo melebarkan matanya, sejak kapan anak dari Tuan nya ini menikah.
Mr Hugo membungkukan badan ke arah Sky dengan sopan yang di balas senyuman oleh gadis itu.
Mereka semua pun berjalan ke sebuah lorong dari bangunan itu. Rumah Sakit Jiwa ini sangat bersih dan terawat walaupun usianya sudah puluhan tahun.
__ADS_1
Salut dengan Ayahnya bisa membangun Rumah Sakit Jiwa di desa terpencil dengan kualitas yang tidak main-main. Besar dan juga bersih.
Mereka sampai di salah satu ruangan yang ada di pojokan, ruangan ini terlihat terpisah dari yang lain.
"Ini tidak seperti RSJ," ucap Thomas.
"Ya, ini seperti hotel," sahut Philip.
Mr Hugo mengetuk pintu ruangan itu. Dari jendela Sky bisa melihat seorang perempuan dengan rambut berantakan sedang duduk membelakanginya.
Ia menghela nafas, apa perempuan itu benar-benar yang hampir membunuhnya saat kecil.
Seorang Dokter keluar dari ruangan itu.
"Dia Tuan Javier," ucap Mr Hugo kepada Dokter itu.
Pria itu melebarkan mata lalu membungkukan badan dengan cepat ke arah Javier.
"Selamat datang, Tuan. Perkenalkan saya Adam, saya psikiater di Rumah sakit ini."
Javier mengangguk pelan. Pria itu menanyakan keadaan Hanna dan Dokter Adam bilang kalau kondisi Hanna tidak seburuk dulu, dia sekarang lebih tenang walaupun masih sering mengamuk meminta di keluarkan dan selalu berteriak ingin membunuh.
Di sela-sela percakapan mereka Sky terus memperhatikan Hanna dengan jantung berdebar. Siapa yang bisa tenang bertemu dengan pelaku yang hampir membunuhnya.
Kepala Hanna perlahan-lahan bergerak mendengar suara obrolan orang-orang di luar ruangan nya.
Melihat kepala Hanna yang bergerak ke arah nya Sky menghela nafas, ketakutan nya semakin bertambah dan.
Deg.
"Aaaaaaa ..." Jantung Sky seakan meloncat seketika. Ia mencengkram kuat tangan suaminya dengan tubuh gemetar. Ia memalingkan wajahnya dari ruangan itu agar tidak melihat Hanna.
Sementara itu Hanna tertawa keras.
"HAHAHAHA."
Gerakan kepala Hanna yang tadinya pelan tiba-tiba bergerak cepat menatap Sky dengan mata melotot, wajahnya pucat dan ada lingkar hitam di bawah mata nya. Apalagi melihat rambutnya berantakan membuat Sky semakin takut. Kenapa Hanna begitu menyeramkan.
"Sayang ... jangan takut, aku di sini." Javier memeluk istrinya.
"HAHAHAHA."
Dari dalam ruangan Hanna terus tertawa keras mendengar jeritan Sky. Dan tawa Hanna terdengar begitu menyeramkan.
__ADS_1
Bahkan Philip saja sampai bergidik ngeri, andai saja di boleh kan menembak, sudah dia tembak si gila Hanna agar berhenti tertawa.
Bersambung