
Hari terus berjalan maju, selama dua bulan Sky melewati masa-masa kehamilan nya bersama Javier. Walaupun tidak dari awal ia di temani suaminya, setidaknya ia bersyukur kisahnya tak sama dengan orang lain yang melahirkan tanpa seorang suami.
Keduanya berhasil meredam ego masing-masing demi menyambut kelahiran si buah hati.
Javier sangat memanjakan Sky selama dua bulan terakhir ini, dari mulai gadis itu bangun tidur sampai tidur kembali Javier dengan senang hati melayani Ibu dari anak-anaknya ini.
Tak apa, setidaknya ia bisa menebus kesalahan dirinya yang tidak bisa menemani kehamilan Sky selama tujuh bulan. Bahkan mereka yang awalnya canggung kini kembali lengket satu sama lain.
Masalah selalu ada dalam sebuah rumah tangga, bukan. Dan akhirnya mereka berhasil melewati nya dengan baik lalu kembali bersama seperti dulu.
Ketakutan Sky membesarkan si kembar sendirian kini hilang sudah. Sekarang, si kembar akan lahir di temani oleh Ayah dan suami nya.
Usia kandungan Sky sudah menginjak sembilan bulan sekarang. Gadis itu sedang duduk santai di ranjang seraya menyesap segelas susu.
Tetapi yang lain, sibuk bukan kepalang. Javier, Xander, Sekretaris Han dan Keenan sedang membereskan baju apa saja yang akan di bawa ke Rumah Sakit nanti. Padahal Sky sudah bilang, satu atau dua baju sudah cukup.
Tapi mereka semua malah memasukan hampir sepuluh baju ke dalam tas yang akan di bawa.
"Ini bagus." Keenan memperlihatkan baju pilihan nya.
"Tidak, itu jelek," sahut Javier.
"Kalau jelek kenapa kau membeli nya," gumam Keenan seraya meletakan kembali baju itu.
"Ini bagaimana?" Xander memperlihatkan jumper bayi dengan model lebah.
"Anakku baru lahir sudah jadi lebah, Kakek macam apa kau ini!"
"Kalau ini?" tanya Sekretaris Han.
"Spiderman? kau mau anakku langsung merayap seperti laba-laba!!"
Keenan, Sekretaris Han dan Xander hanya bisa menggelengkan kepala seraya menghembuskan nafas. Dari tadi Javier selalu mengomel lebih dari seorang perempuan.
"By ..." panggil Sky.
"Iya sayang? kenapa?" Javier segera menghampiri istrinya. "Apa ada yang sakit?" tanya nya seraya mengelus perut Sky dengan panik.
Silahkan saja katakan Javier lebay, tapi yang pasti selama Sky menginjak usia kandungan yang ke sembilan bulan, pria itu sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap satu sampai dua jam sekali ia terbangun untuk memastikan Sky dan si kembar baik-baik saja.
Sky menggeleng pelan dengan tersenyum tipis. "Tidak, by ... tapi aku minta jangan terlalu panik, kalau kau panik seperti ini aku semakin takut. Dan lagi, baju yang kau pilih itu untuk anak kita ketika usianya empat-lima bulan. Bawa saja ukuran untuk bayi kecil, cukup dua oke."
"Lihat, dia saja yang terlalu lebay," ujar Keenan pelan.
"Dia gugup sial*n!!" pekik Xander. "Aku juga tidak kalah gugup, putriku akan melahirkan."
"Sudah jangan banyak bicara lagi," potong Sekretaris Han. "Cepat masukan lagi baju-baju ini sebelum dia kembali mengomel."
"Ini salahmu, Xander. Kenapa kau tidak mempunyai pelayan wanita ... lihatlah, pekerjaan membereskan baju harus kita yang membereskan," kata Keenan dengan mencebikkan bibirnya kesal.
"Aku tidak keberatan membereskan baju cucuku."
Dan tiba-tiba suara bel berbunyi dengan keras.
"Siapa itu, Dad?" tanya Sky.
"Tidak tau, Dad kebawah dulu."
Xander pun turun ke bawah untuk membuka pintu. Suara bel kembali berbunyi.
"Sebentar ..." teriak Xander menuruni anak tangga.
Dan ketika membuka pintu ia di kagetkan oleh delapan pria yang tersenyum ke arahnya dengan beberapa dari mereka memegang balon warna biru dan pink. Dan lagi, mereka membawa kado di tangan nya.
Dua pria tampak berotot dengan brewok tipis di wajahnya, mereka adalah Thomas dan Philip.
__ADS_1
Dan sisanya, enam pria tampak biasa saja. Seperti masih muda dan seperti anak kuliahan.
"Siapa kalian?" tanya Xander. "Mau minta sumbangan?"
Jonathan berdecak. "Sudah rapih seperti ini di anggap minta sumbangan."
Xander mencoba meneliti wajah Philip dan Thomas.
"Kau ... sepertinya aku kenal."
"Aku Thomas."
"Aku Philip."
"Kau teman Javier?"
Thomas dan Philip mengangguk.
"Lalu yang ini?" tanya Xander menunjuk Athes and the geng.
"Kami anak buah Javier, Tuan. Kita kan pernah bertemu di bandara," Kata Aiden.
"Aku lupa," sahut Xander.
"Wajar lupa dia kan sudah tua," bisik Jonathan kepada Aiden.
Xander mengerutkan dahi nya menatap heran keenam pria di depan nya ini. Tubuhnya kurus tidak ada otot sama sekali, masih mending Keenan tubuhnya sedikit kekar.
Dan lagi, keenam pria ini wajahnya bersih seperti anak muda yang sedang kuliah saja. Ia sangat tidak percaya kalau mereka anak buah Javier.
"Kau yakin anak buah Yakuza?"
Mereka mengangguk.
"Yakuza itu kelompok mafia atau perkumpulan anak kuliahan," gumam Xander.
"Yasudah masuk saja."
Athes and the geng menyeringai senang seketika. Mereka berenam langsung masuk dengan cepat sampai menubruk tubuh Xander saking senangnya bertemu dengan Sky.
Xander sampai oleng, untung saja ia bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Xander berdecak menatap keenam pria yang sedang berlari ke atas.
"KEPAR*T!!" teriak Xander.
Thomas dan Philip hanya bisa menahan tawa nya.
"SKY ..."
"SKY ..."
"SKKKYYY ..."
Sky yang sedang makan buah menoleh ke arah pintu. Begitupula dengan Javier, Sekretaris Han dan Keenan.
"Itu seperti suara ..." Sky menggantung kalimatnya dan kemudian keenam pria itu menerobos masuk ke kamarnya di ikuti Xander, Thomas dan Philip dari belakang.
"SKKKYYY!!" teriak mereka begitu antusias.
Sky pun melebarkan matanya senang. "Kalian ..."
Mereka berenam berlari menghampiri Sky dengan melentangkan tangan nya hendak memeluk tapi dengan cepat Ayah si kembar menghalau nya dari depan.
"Stop!!"
__ADS_1
Mereka berenam berhenti seketika. Javier menggelengkan kepala. Untuk apa mereka bawa balon.
"Javier apa benar mereka anak buahmu?" tanya Xander yang masih tidak percaya.
Javier mengangguk dan Xander tidak tahu lagi harus berkata apa, ia hanya bisa menggeleng.
"Anak buah kampungan," pekik Keenan yang risih dengan tingkah mereka seperti anak kecil.
"HEIII!!" teriak mereka berenam menatap tajam Keenan.
Mereka bukan tidak tahu Keenan, mereka sangat tahu. Sekretaris Han sering membahas Sekretaris pribadi Sky ini di grup Mafia gila.
"Apa?" tanya Keenan dengan sinis.
Mereka saling melayangkan pukulan di udara, saling geram satu sama lain dengan tatapan meledek.
"Tidak bisakah kelahiran anakku di sambut orang-orang waras saja?" tanya Javier yang sudah sangat-amat lelah melihat sikap mereka semua.
"Oh jadi ini, si idiot yang di maksud, Han." kata Philip dengan tatapan meremehkan Keenan.
"Apa kau bilang?" teriak Keenan tidak terima.
Xander, Javier, Sky, Thomas dan Sekretaris Han setia menonton saja.
"I-di-ot," ulang Philip.
"Dasar keturunan set*n semua kalian ini!!" Keenan pun berdiri menatap kesal mereka semua, menarik baju di pergelangan tangan nya, ia sudah siap menonjok wajah mereka satu persatu.
"Kemari kau!!" Keena menjetikkan jari-jemarinya.
"Apa?!!"
"Apa?? kau pikir kami takut?!!"
"Cih, idiot!!"
"Ini wilayah Antraxs." Keenan berusaha memperingati. "Yakuza silahkan keluar!!"
Sekretaris Han berdiri dan menarik kerah belakang baju Keenan seperti sedang menyeret anak kucing.
"Idiot kau harus keluar!!" ucap Sekretaris Han.
"Hei ... kepar*t lepaskan aku!!"
"Han set*n lepaskan aku!!"
"Hhuuuuu tidak bisa melawan huuuuu ..." Athes and the geng meneriaki Keenan meremehkan kemampuan pria itu.
"Huuuuu Antraxs lemah huuuuu ..."
"Siapa yang kalian bilang lemah?!" tanya Xander si pemimpin Antraxs dengan dingin nya menatap wajah keenam pria itu.
"K-kami ... ya, kami yang lemah hehehe permisi."
Mereka membungkukan badan di depan Xander dan ikut menyusul Keenan yang di bawa Sekretaris Han.
Mereka pergi dengan balon di tangan mereka. Xander dan Javier saking pusingnya mengurusi mereka hanya bisa diam. Philip dan Thomas juga ikut menyusul mereka.
"Kalau Ataric masih hidup, dia pasti tertawa keras melihat kau salah memilih anak buah!!" ucap Xander kepada Javier.
"Kau juga salah memilih Sekretaris pribadi untuk istriku. Kenapa harus Keenan yang dalam hal bela diri saja dia kurang," pekik Javier.
Sky, ah apa yang bisa ia lakukan. Gadis itu sedari tadi hanya bisa mengelus perutnya sembari menonton saja.
Bersambung
__ADS_1