Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#174


__ADS_3

Keenan pun sama, ia sedang memilih-milih baju.


"Kau butuh baju juga?" tanya Sekretaris Han.


"Iya, memang kau saja yang boleh beli baju," sahut Keenan.


Yang lain pun sedang melihat-lihat, kalau ada yang cocok mereka akan beli. Itu juga kalau tidak terlalu mahal. Sekali lagi, mereka itu harus hemat walapun gaji nya besar.


Sekretaris Han membalik. "Bagaimana kalau permainan tadi kita mainkan lagi?"


Semua orang menoleh.


"Kau mau salah satu dari kita membayar baju di toko ini?" tanya Keenan.


"Iya," sahut Sekretaris Han.


"Tidak, aku tidak setuju. Uangku hampir habis ketika membayar makanan tadi."


"Kenapa kau takut, belum tentu juga kau yang membayarnya," sahut Sekretaris Han.


"Lagi pula belum tentu namamu lagi yang keluar," komentar Sergio.


"Ya, benar," balas Jonathan. "Siapa tau kau beruntung membeli baju tanpa harus membayar."


"Huhh baiklah." Akhirnya Keenan pun menyetujui karena bepikir dirinya tidak akan lagi di suruh membayar.


Mereka pun mulai mencari-cari baju yang cocok untuk di pakai, bahkan beberapa lebih memilih membeli sepatu atau jam tangan. Harga nya lumayan mahal karena bukan toko abal-abal yang mereka datangi.


Sesi pembayaran pun di mulai, di depan kasir Sekretaris Han mengeluarkan satu gulungan kertas dan ketika di buka.


"Keenan," ucapnya membuat Keenan membulatkan mata seketika. Padahal ia tadi sudah tersenyum karena berpikir akan membeli baju gratis. Eh malah di suruh bayar dan lagi bukan hanya membayar bajunya sendiri tapi yang lain juga. Habis sudah uang Keenan.


"Coba sekali lagi, aku tidak percaya. Kenapa namaku lagi yang keluar," keluh Keenan tidak terima.


Sekretaris Han berdecak, lalu mengambil lagi satu gulungan kertas dan ketika di buka.

__ADS_1


"Keenan."


"Hei tunggu--"


"Kau ini kenapa? banyak bicara sekali, ini sudah jelas namamu. Bayarlah. Nasibmu sedang buruk hari ini," sahut Sekretaris Han sementara yang lain sedang menahan tawa nya.


Mau tak mau Keenan pun membayar semua baju yang di beli Sekretaris Han dan yang lain.


Setelah itu barulah mereka membeli baby oil barang yang di butuhkan Javier. Bukan hanya baby oil yang mereka bawa tapi beberapa mainan yang menurut mereka lucu pun mereka mengambilnya untuk Maxime dan Miwa. Jangan tanya siapa yang membayar, karena sesi pengocokan botol akan kembali di mulai.


"Aku tidak sabar, siapa yang akan membayar sekarang," ucap Nicholas dengan antusiasnya. Karena ia mengambil mobil-mobilan untuk Maxime.


"Ya aku juga tidak sabar," sahut Jonathan.


"Aku malah deg-degan," ucap Keenan seraya menghembuskan nafas. Dia sudah di suruh bayar dua kali, jangan sampai ini yang ketiga kalinya.


Perlahan Sekretaris Han membuka kertas itu dan nama yang tertulis.


"Keenan ..."


"Hei, kenapa lagi-lagi namaku!! kau bohong ya!!"


"Lihat saja sendiri." Sekretaris Han memberikan kertas itu kepada Keenan lalu keluar dari toko peralatan bayi di ikuti yang lain. Keenan tidak bisa keluar sebelum membayar semua tagihan itu.


Keenan menggeram kesal, tapi ada satu hal yang membuatnya aneh. Tulisan tangan di kertas itu jelas bukan miliknya.


Dia menulis nama dirinya sendiri di tiga kertas, ia ingat itu. Dan tulisan tangan ini sudah jelas bukan miliknya.


Tapi tetap saja Keenan membayar tagihan itu sebelum keluar.


Setelah selesai mereka kembali ke mansion, di perjalanan Keenan hanya melirik Sekretaris Han dan tiga manusia menyebalkan di belakangnya. Ia curiga tadi ia di kerjai habis-habisan oleh mereka.


Setelah sampai di mansion semua orang masuk ke dalam, sementara Keenan masih di mobil dan mengambil botol tempat menyimpan nama mereka tadi di jok tempat duduk Sekretaris Han.


Ia mengeluarkan semua gulungan kertas itu dengan cepat dan melihat nama siapa saja yang tertera di sana.

__ADS_1


Ia membulatkan mata. "KEPAR*T KAU HANNNN!!" teriaknya.


Mereka yang baru saja sampai di depan pintu mematung mendengar teriakan Keenan di dalam mobil. Mereka sempat bingung, ada apa dengan Keenan. Lalu mereka yakin Keenan sudah melihat isi botol itu dan akhirnya mereka meledakkan tawanya sangat keras lalu kabur ke kamarnya masing-masing sebelum di terkam oleh Keenan.


Bagaimana Keenan tidak marah, semua gulungan kertas itu hanya ada namanya saja tidak ada nama yang lain. Pantas saja yang keluar terus namanya sendiri.


Sekretaris Han dan yang lain sengaja menulis nama Keenan di kertas masing-masing agar mereka bebas dari target harus membayar biaya shopping tadi.


...💥💥💥...


Malam ini Sekretaris Han sedang di perjalanan untuk bertemu dengan Kara di sebuah Restaurant. Di sepanjang jalan ia hanya tersenyum mengingat bagaimana dulu ia pernah mengajari Kara bermain basket, mereka sering sekali makan bertiga bersama Javier di taman depan mansion. Sekretaris Han juga sering pulang sekolah rela jalan kaki agar berdua bersama Kara.


Gadis itu pernah menghilang begitu saja dari hidupnya dan akhirnya hari ini penantian itu terbayarkan sudah.


Sekretaris Han memarkirkan mobil nya lalu masuk ke Restaurant.


Dan Kara pun duduk berdua bersama Kakaknya, ia sudah berjanji akan memperkenalkan Sekretaris Han kepada sang Kakak.


"Kau ..."


"Kau ..."


Kedua pria itu melebarkan matanya. Sekretaris Han begitu terkejut melihat Kara duduk dengan Keenan.


"D-dia ..."


"Han, ini Kak Keenan, kakak ku."


Tubuh Sekretaris Han seakan tersengat listrik secara tiba-tiba. Mati dia, kenapa harus Keenan.


Pantas saja ketika acara Thomas dan Liana, Kara ada di sana, ternyata Kara datang ke pesta karena sang Kakak kerja dengan Xander.


B*doh sekali ia tidak menanyakan nama Kakaknya Kara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2