
Ke esokan harinya Sky seperti biasa pergi bekerja sementara Javier pergi ke mansion ketiga bersama Sekretaris Han. Thomas dan Philip sudah ada disana.
Hari ini sesuai rencana, Javier akan menghukum Athes dan kawan kawan. Sebelumnya Javier dan Sky berdebat tentang hukuman apa yang akan di berikan Javier kepada Athes dan yang lain.
Javier hanya menjawab Athes dan yang lain akan di beri hukuman membersihkan kamar mandi mansion ketiga miliknya. Identitas Javier sebagai seorang mafia belum tercium oleh Sky Alexander itulah mengapa Sky percaya jika Athes dan yang lain hanya akan di beri hukuman membersihkan kamar mandi.
"MASUK!" teriak Javier.
Ia berdiri sebuah Aula besar dengan desain hitam, dibelakangnya sekretaris Han, Thomas dan juga Philip sudah siap menonton acara hukuman Athes dan yang lain.
Athes dan yang lain saling dorong di ambang pintu.
"Kau saja dulu, Jon. Kau dalang dari semua masalah ini."
"Diamlah jangan terus menyalahkan ku!"
"Athes kau paling tua. Kau saja yang lebih dulu mati. Biar aku menyusul nanti."
"Aku masih ingin hidup bod*h!"
Javier membidikkan pistol ke arah mereka membuat mereka terbelalak seketika.
"Masuk atau aku tembak sekarang!"
"I-Iya tuan."
Mereka akhirnya masuk dan berdiri berhadapan dengan Javier.
"Sudah lama aku tidak melihat darah," ucap Thomas tersenyum sinis.
"Potong lenganmu sendiri dan kau akan melihat darah kotor itu keluar," pekik Philip.
"Ssstt!" Sekretaris Han melirik tajam ke arah mereka agar diam.
"Berani sekali kalian makan bersama istriku!" Javier berkata dengan nada amarah di dalamnya.
"Apa katanya? istriku? Carla saja tidak pernah di panggil istriku. Ya kan, Han?" Philip melirik ke arah Han.
"Sekali lagi kau bicara. Pistol ku bersarang tepat di kerongkongan mu!" ucap sekretaris Han penuh penekanan.
"M-maaf tuan. I-ini ide Jo-Jonathan," jawab Aiden.
Jonathan membulatkan mata ke arah Aiden, kurang ajar teman nya ini malah jujur.
"JONATHAN!"
Jonathan beralih memandang Javier yang sedang murka di hadapannya.
"I-iya tuan?"
"Kemari!"
"Kemari aku bilang!"
Jonathan melangkah perlahan mendekati Javier.
"Mati aku!" batinnya.
Setelah jarak mereka beberapa cm Javier melempar pistol ke arah Jonathan. Jonathan segera menangkap pistol itu dengan gelagapan.
"Aku ingin kau menembak apel."
"Hah?"
"Yang berada di atas kepala temanmu."
__ADS_1
Ucapan Javier berhasil membuat Athes, Sergio, Samuel, Aiden dan Nicholas mendongak kaget dengan tatapan tak biasa. Tatapan terkejut setengah mati.
Apel di atas kepala mereka harus di tembak Jonathan? Bagaimana kalau kepala mereka yang tertembak.
"Han." Javier memanggil Han.
Sekretaris Han yang mengerti langsung mengambil Apel yang tersedia di meja tak jauh dari sana.
Ia mengambil lima Apel utuh dan berjalan mendekati Athes.
"T-tuan." Sergio merengek layaknya anak kecil memandang Sekretaris Han yang menyimpan apel di atas kepalanya.
"Tegakkan tubuhmu atau kau akan tertembak."
"T-tuan apa tidak ada hukuman yang lain?" Jonathan menatap Javier penuh harap setelah melihat ketakutan di wajah teman temannya.
"Bukan kah kau pemegang senatapan terbaik di antara teman temanmu? Bukan kah senapan yang kau main kan selalu tepat sasaran?"
"Itu hanya berlaku untuk lawan tuan, bukan teman."
"Maka anggap lah temanmu itu lawanmu. Dunia bisa berputar kapan saja. Teman bisa jadi lawan begitu pula sebaliknya."
"T-tapi tuan-"
Javier langsung memutar tubuh Jonathan agar menghadap teman temannya.
Terlihat Athes dan yang lain berdiri sejajar tanpa jarak. Mereka berdiri berdempetan dengan wajah takut tapi berusaha tenang.
Sengaja mereka berdiri berdempetan, langkah Pertama Jonathan harus menembak Athes yang disampingnya ada Nicholas. Jika Jonathan gagal menembak apel di kepala Athes maka Nicholas lah yang akan menjadi korban karena posisi mereka berdekatan.
"Tembak mereka tanpa jeda," pinta Javier.
"Sekarang."
Jonathan masih diam dengan tangan kanan memegang pistol.
Perlahan Jonathan mengangkat pistolnya. Dengan tangan yang gemetar.
"Kegugupanmu bisa membunuh temanmu!" Ucap Javier yang melihat tangan Jonathan gemetar.
Jonathan menghela nafas dengan wajah berkaca kaca, ini akan menjadi penyesalan paling besar yang akan ia dapatkan jika salah satu temannya mati.
"M-maafkan aku," ucap Jonathan pelan. Dan.
DOR
DOR
DOR
DOR
DOR
...💥💥💥...
"Aku pulang dulu ya Li."
"Kau tidak di jemput oleh suami tampan dan kaya rayamu itu?"
"Cih, aku tidak mau. Aku mau pulang ke rumah ayah dulu."
"Kenapa kau masuk ke kandang singa ketika di rumahmu ada macan?" Liana terkekeh pelan.
Sky sudah menceritakan bagaimana sikap Javier kepada Liana itulah mengapa gadis itu berani berkata macan untuk suami sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Aku ingin melihat keadaan singa singa itu sekarang hahaha."
"Sudah lah Li aku pulang dulu ya. Bye."
Sky berjalan menghampiri Taxi yang sudah menunggu nya.
"Jangan lupa beri singa itu daging yang banyak agar jinak!" Liana berteriak yang disambut acungan jempol dari Sky.
Di saat hari pernikahan dirinya dan Javier Sky memang sudah lama tidak bertemu dengan ayahnya apalagi Ayah dan ibu tirinya itu tidak di undang oleh Javier.
Awalnya Sky memang kesal sampai tak mau bertemu dengan ayahnya, tapi bagaimanapun Herry tetaplah Ayahnya. Memutuskan silaturahmi dengan orang tua sendiri tidak baik bukan.
Sky sampai di halaman rumah lamanya. Ia menghela nafas sebelum masuk, menyiapkan energi untuk beradu mulut dengan Ibu tiri dan adik perempuannya.
tok tok tok
"Sebentar!" teriak Aleza dari dalam sana.
Pintu terbuka, Aleza membulatkan mata melihat Sky berdiri di hadapannya dengan tersenyum.
"K-kau."
"Mamaaa.."
"Mamaaa."
"Maaaa."
Aleza terus berteriak memanggil Elsa.
"Ada apa sih?" Elsa berjalan dengan mengibaskan tangan bekas mencuci piring dan tidak lupa celemek melekat di tubuhnya.
"Hai mama. Lama tidak bertemu." Sky berbicara dengan santai.
"K-kau."
Elsa menghela nafas kasar. "Untuk apa kau kesini hah?"
"Aku datang untuk mengunjungi kalian. Dan membawakan ini." Sky memperlihatkan tentengan di tangannya. Ada cake dan juga buah buahan.
Bukankah Liana bilang Singa harus di beri makan agar jinak, Sky benar benar melakukannya tapi dua singa betina di depannya ini tidak bisa makan daging mentah.
"Aku tidak butuh makanan darimu!"
"Ya, mentang mentang menikah dengan orang kaya kau merendahkan kami tidak punya makanan di rumah ini hah?" ketus Aleza.
"Aku kasian melihat mama, sepertinya kuku bersih mama jadi kotor karena mencuci piring." Sky melihat kuku Elsa yang tak seperti biasanya. Kuku perawatan nya itu seakan hilang sekarang.
Elsa langsung menyembunyikan tangannya ke belakang.
"Pergilah jika kau datang hanya untuk menghina ku. Kau hanya anak yang sudah di jual oleh ayahmu sendiri."
Ucapan Elsa membuat Sky menghela nafas, kalimat anak yang dijual begitu menusuk hatinya. Walaupun itu memang kenyataan di tambah lagi Herry tidak pernah menelpon keadaan Sky selama menjadi istri Javier, itu membuat Sky semakin sakit.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...