Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#Athes and the geng (Flashback 04)


__ADS_3

Mereka semua berkumpul di ruang bawah tanah tempat dimana markas Yakuza berada, bukan hanya Athes and the geng saja, ada Philip dan juga Keenan di sana.


Philip dan Keenan lebih sering berkumpul dengan Athes and the geng sekarang di saat Javier, Thomas dan Sekretaris Han sudah sibuk dengan keluarga kecilnya masing-masing.


Jonathan hanya melamun dengan sesekali meneguk kasar botol alcohol di tangan nya, semua orang hanya saling melirik satu sama lain heran dengan sikap Jonathan.


Dulu pria itu mabuk karena di tinggalkan Ara, sekarang mau mabuk lagi karena Ara kembali.


"Cukup, Jon." Sergio yang di samping Jonathan hendak mengambil botol itu tapi di tepis oleh Jonathan.


Sergio mendesis kesal dengan sikap pria ini.


"Jangan mabuk lagi karena seorang perempuan, Jonathan. Aku takut kau salah memeluk seseorang lagi seperti beberapa tahun yang lalu. Masih mending yang kau peluk itu perempuan lagi, seperti Sky. Bagaimana kalau kau mabuk dan memeluk ku!!" ucap Aiden memeluk dirinya sendiri seraya bergidik jijik membayangkan dirinya di peluk oleh Jonathan.


"Masih mending kalau cuman di peluk, bagaimana kalau sampai di ci*m!" sambung Nicholas yang di sambut tawaan meledek dari yang lain.


Mereka benar-benar sedang meledek melihat kondisi Jonathan sekarang.


PRANGG


Jonathan melempar botol alcohol nya sampai terhempas ke lantai menjadi serpihan beling kecil.


Semua orang terlonjak kaget, tapi kemudian mereka di buat bingung dengan racauan Jonathan yang tidak jelas di tengah-tengah mabuknya. Wajar, bukan satu botol yang pria itu minum, melainkan sampai habis lima botol.


"Ohhh Araaa ... Araaku ... kenapa kau kembali di saat yang tidak tepat ... huuuuu Araaa ..."


Mereka saling melirik satu sama lain. Bingung, hanya itu yang ada di pikiran mereka. Kenapa seolah-olah Jonathan tidak terima dengan kedatangan Ara. Kenapa pria itu bilang Ara datang di saat yang tidak tepat.


Sergio berdehem, ia tahu cara menggali sesuatu dalam dirinya Jonathan. Sangat mudah ketika pria itu sedang mabuk.


"Kau masih mencintai Ara, benar?" tanya Sergio.


Dalam tangisnya Jonathan mengangguk.


"Tapi di sisi lain kau menemukan pengganti Ara, benar?" tanya Sergio lagi.


Dan lagi-lagi Jonathan mengangguk. Membuat semua orang melebarkan matanya. Pintar sekali pria ini menyembunyikan gadis lain selain Ara bahkan mereka sampai tidak tahu kalau sebelum Ara datang Jonathan sudah mempunyai pengganti gadis itu.


"Pertanyaanku, kau akan kembali bersama Ara atau tetap bersama kekasihmu itu?"

__ADS_1


Jonathan menggeleng. "Aku tidak tau ..."


Nicholas keluar dari markas kala ponselnya berdering. Nicholas mengangkat panggilan itu ketika di luar markas.


"Hallo sayang ..." seru Nicholas seraya tersenyum.


*


Sementara itu di balkon Ara sedang mengajak bermain Maxime, Miwa, Tessa dan Arsen.


Maxime sedang bermain mobil-mobilan di lantai dan Arsen sedang memegang robot kecil kesukaan nya.


Sementara Miwa dan Tessa sedang main masak-masakan di atas meja.


Ara yang duduk di kursi hanya melamun mencerna ucapan Jonathan. Ya, ia tahu ini salahnya karena memilih pria lain dan memutuskan hubungan dengan Jonathan beberapa tahun yang lalu.


Ara pikir, selamanya ia tidak akan lagi bertemu dengan Jonathan. Nyatanya disini, ia tinggal bersama dan kemungkinan akan bertemu setiap hari.


"Kak Ara, mau pakai cabe gak?" tanya Miwa.


Hening, Ara masih melamun.


"Atau kak Ara mau pakai kecap?" Tessa ikut bertanya dengan menatap Ara.


"Kak Ara ihhh."


Miwa yang tidak sabaran akhirnya mengguncang kaki Ara membuat gadis itu terlonjak kaget.


"Eh, iya."


Ia pun segera menarik tubuhnya dari sandaran sofa lalu sedikit membungkuk untuk melihat hasil masakan dua bocil itu.


"Eum kalian buat apa?" tanya Ara.


"Nasi goleng," sahut Tessa.


"Oh iya ... eumm sepertinya lezat. Kakak mau dong di bikinin."


"Pakai cabe gak?" tanya Miwa.

__ADS_1


"Pakai, yang banyak ya."


Dengan semangat kedua bocil itu pun mengangguk lalu memasak nasi goreng mainan di atas meja dan Ara kembali melamun.


Ara menggulir ponsel di tangan nya memperhatikan Jonathan yang sudah sangat berubah.


"Bukan hanya fisik mu yang berubah, perasaanmu juga, Jonathan."


Ara tersenyum getir seakan sedang meratapi penyesalan yang di buat oleh dirinya sendiri.


Di mata Ara Jonathan adalah pria yang dingin, terbukti saat ia mengobrol dengan Jonathan tadi. Pria itu hanya menjawab sesekali pertanyaan darinya saja.


Tapi bagi Athes dan yang lain tidak ada yang berubah dengan Jonathan. Pria itu masih pria yang selalu membuat heboh mansion Javier.


Seperti sekarang, Jonathan seperti orang gila memeluk beberapa pelayan perempuan di ruang bawah tanah.


Para pelayan perempuan menjerit dan menjauh mencari perlindungan kepada para pelayan pria atau bersembunyi di belakang tubuh Athes dan yang lain.


"Jon ... Jon ... cukup Jon ..." Aiden berusaha menahan Jonathan agar tidak lagi mencari mangsa agar bisa di peluk tapi Jonathan memberontak.


Yang lain hanya menggeleng melihat Jonathan berjalan sempoyongan dengan mata setengah terbuka dan wajah merah nya.


Kedua tangan nya terbuka lebar seakan meminta pelukan.


"Tidak ada cara lain, kita panggil saja Ara ke sini," ujar Samuel.


"Tidak perlu!" potong Javier yang membawa ember di tangan nya lalu.


BYURR


Ia menyiram tubuh Jonathan membuat semua orang terbelalak kaget. Ia melempar ember nya begitu saja.


Kemudian Javier memegang pundak Jonathan kuat lalu satu tangan nya lagi menepuk-nepuk pipi Jonathan.


"Sadar sial*n!! jangan melecehk*n para pelayan wanita di mansionku!!" sentak Javier kesal dengan terus menepuk-nepuk pipi Jonathan lalu.


Hooeekkkk


Jonathan muntah, di dada Javier. Dan ini masalah besar untuk Jonathan. Semua orang bergidik jijik melihat muntahan Jonathan di baju Javier. Bahkan bola mata Javier pun membulat sempurna.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2