Menikahi Mafia Kejam

Menikahi Mafia Kejam
#118


__ADS_3

Sky kecil membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa remuk dan lemas.


Awalnya pandangan nya buram, semuanya tidak jelas. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sampai akhirnya pandangan nya kembali jelas.


"Ibu ..." lirih Sky kecil seraya mengedarkan pandangan nya.


"Ibu ..." panggilnya lagi.


Nafasnya berdebar, tubuh nya gemetar ketakutan, apalagi mengingat perempuan yang menusuknya.


Air mata keluar membasahi pipi gembul Sky kecil. Ibunya meninggal karena mobilnya di rusak oleh seorang perempuan dan Sky harus memberitahu Herry soal itu.


Tapi tubuh kecilnya sulit bergerak. Sakit, hanya itu yang ia rasakan. Sky kecil hanya bisa menangis dan menangis karena rasa sakit kehilangan Ibunya dan juga rasa sakit dari tubuhnya.


"Hanna sedang di hukum di Rumah Sakit Jiwa di desa X. Jangan menangis lagi anak kecil, Paman akan mencari tahu kenapa dia membunuh Ibumu."


Sky menoleh, melebarkan matanya dengan sedikit ketakutan. Siapa paman yang ada di depan nya ini sekarang.


Ataric tersenyum. "Jangan takut, aku tidak akan membunuhmu anak kecil."


"P-paman ... siapa?"


"Aku yang menyelamatkan mu," sahut Ataric.


Ataric ikut duduk di ranjang rumah sakit, tersenyum ke arah Sky seraya menoel pipi gembul Sky.


"Kau menyimpan lebih banyak lemak di pipi dari pada di tubuhmu anak kecil."


"Jangan panggil aku anak kecil paman, aku Sky ..."


"Sky?" tanya Ataric seraya menaikkan satu alisnya.


"Langit?"


Sky mengangguk.


Ataric tersenyum. "Nama yang unik."


"Oke langit, kau harus makan dulu ya." Ataric membawa bubur di meja.


Sky kecil spontan menutup mulutnya melihat banyak sayuran di atas bubur itu. Wortel walaupun sehat Sky tetap tidak suka.


"Kau kenapa?" tanya Ataric.


Sky menggeleng seraya menatap sayuran di sana.

__ADS_1


Ataris menghembuskan nafas. "Kau tidak suka sayuran?"


Sky menjawab dengan gelenggan kepala membuat Ataric mendengus.


"Hei langit, sedang sakit harus banyak makan sayur."


Sky menggeleng lagi.


"Sedikit ... sedikit saja ..." Ataric terus membujuk seraya berusaha memasukan bubur yang ada sayuran nya kepada Sky kecil.


Sky berusaha menolak tapi mulut kecil nya akhirnya terbuka.


Ataric tersenyum melihat gadis kecil di depan nya berhasil makan sayuran itu tapi sedetik kemudian Sky melepeh nya membuat Ataric menghela nafas.


"Kau ini ... melepeh sayuran seperti itu. Aku jadi ingat seseorang yang hobby sekali melepeh sayuran seperti mu."


"Ibu ..." lirih Sky.


Gadis itu menangis tersedu-sedu membuat Ataric kebingungan.


"Kau kenapa lagi langit? apa karena aku memaksamu makan sayur? oke ... oke ..." Ataric menyimpan bubur kembali di meja.


"Lihat ... aku tidak akan menyumpal mulut kecilmu dengan sayuran itu lagi, oke." Ataric mengangkat kedua tangan nya.


"Apa ini karena Ibumu?"


Sky mengangguk.


"Aku berjanji ... aku akan mencaritahu kenapa tante itu membunuh Ibumu. Tapi kau harus makan dulu, oke."


Sky masih saja menangis, Ataric mendekati nya mengelus rambut Sky kecil yang panjang.


Ataric tidak tega anak sekecil ini harus di tinggalkan Ibunya.


Ini semua karena Hanna, dia harus cepat-cepat menemui mantan pelayan wanita nya itu.


Ataric belum sempat menginterogasi Hanna karena sibuk di Rumah Sakit menjaga Sky. Salah satu penjaga nya sedang mencari Ayah Sky tapi sampai pagi ini Ayah dari anak kecil ini belum juga datang.


"Apa Ayahmu sangat sibuk Langit sampai tidak datang."


"Papah kerja ...," sahut Sky.


Ataric menggeleng pelan, mana ada Ayah yang kerja sampai melupakan anaknya yang berada di Rumah Sakit. Apalagi istrinya baru meninggal, bukan kah seorang Ayah seharusnya datang dan khawatir melihat anaknya sekarang.


...💥💥💥...

__ADS_1


Siang hari Ataric kembali ke Rumah Sakit setelah menginterogasi Hanna. Ia menatap nanar tubuh kecil yang sedang terbaring lemah tak berdaya itu.


Ataric sudah berjanji akan mencari tahu siapa yang membunuh Ibu Sky. Tapi setelah ia tahu kebenaran nya, ia memilih merahasiakan dalang dari pembunuhan itu.


Sky memang berusia enam tahun, tapi Ataric bisa melihat gadis kecil itu cukup pintar memahami sesuatu.


Ataric berjalan menghampiri Sky, duduk di ranjang rumah sakit lalu mengelus lembut rambutnya. Sky terlihat tertidur pulas.


"Aku harap ketika kau dewasa, kau bahagia Langit," gumam Ataric.


Ponsel berdering di saku celana Ataric. Ia melihat panggilan dari anaknya, Javier.


"Ada apa, Jav?"


"Kau dimana Dad?" tanya Javier yang saat itu berusia enam belas tahun.


"Di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?"


"Langit ..."


"Jangan bercanda, Dad."


"Dad serius, namanya memang Langit," sahut Ataric.


"Huhh ... titip salam kepada perempuan itu, jelek sekali namanya."


"Hei dia enam tahun. Kau bilang nama dia jelek, kau mau dia menangis."


"Ohhh ... anak kecil rupanya. Baiklah lupakan si Langit, aku ingin memberitahu mu kalau aku peringkat pertama lagi di sekolah."


"Lalu?"


"Berikan aku hadiah," sahut Javier di telpon.


"Kau mau apa?"


"Tidak banyak, aku hanya ingin pesawat."


"HEII!!" Teriak Ataric.


Tidak habis pikir dengan anak semata wayang nya ini. Dia selalu bekerja keras untuk nilai nya tapi ketika hasilnya memuaskan permintaan nya juga tidak main-main.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2